Queen menunggu di dekat telepon sepanjang sore, berharap Reyhan telah melihat pesannya dan menelepon. Tapi sia-sia. Telepon tidak berdering.
la seharusnya lebih memikirkan kompetisi The Battle of the Bands dan lagu yang akan dimainkannya, tapi Queen tidak bisa berkonsentrasi. la terlalu gelisah. Urusan dengan Reyhan berantakan!
Pukul 19.50 Mrs. Chandler memberitahu, "Kalau kau tidak berangkat sekarang lebih baik tidak usah sama sekali, karena kau akan terlambat untuk tampil."
Ketika Mom mengantarnya ke sekolah, Queen mencoba mempelajari lirik lagunya, tapi pikirannya selalu kembali kepada Reyhan. "Aku nggak bisa," erangnya sambil terkulai di kursi. "Aku benar-benar nggak bisa."
Mrs. Chandler-yang berusana mengantar Queen ke Wheaton High tanpa melanggar peraturan lalu lintas yang tertera di bukU-memberi perintah, "Lupakan urusan cowok dan fokuslah pada urusan musik. Latih suaramu! Ayo, bersenandung!"
Bersenandung membantu Queen melatih suaranya, tapi itu tidak membuat otaknya berhenti memikirkan Reyhan.
Acara kompetisi The Battle of the Bands benar-benar ramai ketika Queen sampai di gym Wheaton High. The Phreeze sudah mulai main, dan setelah mereka selesai giliran Queen yang harus tampil.
"Oke," gumam Queen sambil menaruh tas gitar di lantai dan membukanya. "Mom benar! Aku seharusnya berangkat lebih awal."
Anak-anak Side Effects bergerombol di lorong luar gym, mendengarkan permainan The Phreeze yang mengguncang atap gym dengan musik rock dinamis mereka. Mac Holloway memukul-mukul dinding
dengan tangannya, mengikuti irama pukulan pemain drum. Charlie Riddle pun tampak bersemangat, menggoyang-goyangkan kepala mengikuti musik. Joe melihat Queen, kemudian menyapanya dengan anggukan.
Manajer panggung yang memdkai headset tanpa kabel cepat-cepat menghampiri Queen. Sekilas ia membaca papan tulis kecil di tangannya. "Queen Chandler? Setelah ini giliranmu! ia berteriak meningkahi suara musik. "Kau sudah siap?"
"Aku... aku nggak tahu, Queen tergagap. la bersaha bergegas tapi tangannya gemetar tak terkendali. la menyampirkan tali gitar di bahu, kemudian meraba-raba untuk memasangkannya ke gitar Telecaster merah mengilat.
The Phreeze mengakhiri lagu dengan suara gitar listrik yang memekakkan telinga. Penonton menggila, terdengar teriakan dan siulan-siulan yang menandakan mereka menyukai grup band itu.
"Sekarang giliranmu!" manajer panggung mendesak. "Ayo, cepat.
"Oh, Tuhan!" Queen tak punya waktu untuk menyetel gitar, menyiapkan amplitier, bahkan untuk menarik napas. la tidak akan berhasil. Ini kesempatan yang sangat bagus tapi ia menghancurkannya. Memikirkan itu semakin membuat tangan Queen gemetar.
Manajer panggung memegang headse-nya dan bicara di mikrofon. "Dia belum siap. Aku akan menampilkan Side Effects." la menunjuk Joe. "Kalian maju."
"Jangan, tunggu! seru Queen. Au sudah siap
kok, sungguh."
Setelah berkonsultasi singkat dengan grupnya, Joe bergegas menghampiri Queen dan berkata, "Dengar, Queen, tawaran untuk bergabung dengan kami masih berlaku. Kita naik ke panggung dan mainkan satu lagu, kemudian aku akan memperkenalkanmu pada penonton. Kau bisa berbagi amp denganku dan memainkan lagumu. Kami akan membantumu."
Queen menatap Joe takjub. "Kau mau melakukan itu untukku? Kenapa?"
Joe mengangkat bahu. "Kami ingin menang. Jika kau bergabung dengan kami, The Phreeze nggak akan punya kesempatan."
"Ayo, cepat naik panggung, siapoa saja!" manajer panggung berkata marah.
Queen menyentuh tangan Joe. "Trims untuk kebaikan hati kalian. Tapi aku harus mencoba tampil sendiri."
Queen menyambar amplinya dan mengikuti si manajer panggung ke dalam gym. Dengan tersandung-sandung ia menuju panggung yang gelap dan bergegas menghampiri mikrofon di bagian tengah.
Queen memusatkan pendengarannya pada dawai-dawai gitar dan cepat-cepat berusaha menyetel nada ketika Mr. Cooper yang menjadi MC mengumumkan, "Kontestan berikut ini murid senior berbakat dari Wheaton High: Miss Queen Chandler. Ayo,
tunjukkan kebolehanmu!"
Cahaya lampu sorof yang menyilaukan membutakan Queen, dan sekonyong-konyong pikirannya kosong. Matanya melihat tak Derkedip. segala macamsuara menderu di telinganya. Queen sudah menyiapkan lagunya berminggu-minggu, tapi sekarang ketika ia berdiri di panggung dan di depan penonton,
otaknya malah tak bisa berpikir.
"Queen?" Mr. C berbisik dari suatu tempat di dekat tangga. "Katakan sesuatu."
Queen menggeleng. mencoba menjernihkan pikiran. Rambut merah keunguannya yang sebahu berkilat di bawah sinar lampu panggung. Ia mencoba memainkan melodi awal lagunya, tapi ketika mulai benyanyi suaranya tak terdengar.
"Di dalam hati ini, ada hasrat,
Hasrat untuk memberitahumu.
Di dalam hati ini, ada yang membara,
Ingin mengutarakan."
Queen mulai menyanyikan lirik lagunya, tapi salah menekan kunci nada. Queen tersentak seolah-olah wajahnya habis ditampar, kemudian berhenti bermain.
"M...maaf," katanya tergagap ke mikrofon. "Aku, hmm, menulis lagu ini karena aku yakin kalau kita menginginkan sesuatu atau seseorang, kita harus berusaha mendapatkannya. Jari Queen meraba-raba dawai gitar, berusaha mencari nada yang
sekarang terdengar asing di telinganya. "Sepertinya sekarang aku lupa bagaimana caranya."
Tiba-tiba suara musik terdengar dari Samping pengeras suara. Queen berputar untuk melihat dari mana sUara itu berasal. Joe berdiri di belakang Queen, memainkan melodi pembuka lagunya dengan gitar. Queen kebingungan. Apakah mereka ingin dirinya meninggalkan panggung "Kau sedang apa?
bisiknya serak.
"Temanku meminta supaya aku menyampaikan pesannya pReyhanu," Joe balas berbisik.
"Sekarang? Di sini?" tanya Queen bingung. "Temanmu yang mana?"
"Reyhan." Joe memgikuti melodi berikut lagu Queen. "Dia membaca pesanmu. Dia ingin kau tahu dia ada di sini dan siap berlari-lari di lorong sambil bersorak."
"Apa? Queen berputar menghadap penonton. Deretan remaja berdiri diam mengawasi panggung. menunggu sesuatu terjadi.
Sebuah suara yang sudah ia kenal memotong keheningan dari arah belakang penonton. "Queen! Di sini!"
Queen berusaha melihat dalam kegelapan. Ada dua sosok yang berdiri di bawah tanda pintu keluar sambil melambai-lambaikan tangan. Ana dan Andyn!
Dua cewek itu bergeser ke samping sehingga Queen bisa melihat seorang cowok berkemeja putih dengan dasi hitam dan topi sedang berdiri dil antara mereka. la tersenyum, tangannya menekan d**a, kemudian kedua tangan itu terulur ke arah Queen.
"Reyhan?" suara Queen hanya berupa biIsikan. la kembali menghadap Joe. Teman-temannya sudah bergabung. Charlie memegang bass dan Mac di belakang drum. Mereka nyengir. Dan tak lama kemudian, Queen ikut nyengir.
Tiba-tiba pikiran Queen menjadi jernih. la menghampiri mikrofon. "Aku cewek yang beruntung, ya?" katanya bercanda sambil melambaikan tangan ke arah Side Effects. "Side Effects memutuskan bergabung denganku malam ini."
Penonton tiba-tiba riuh dan menjerit-jerit senang.
"Kami punya pesan untuk kalian semua, dan juga untuk seseorang yang sangat istimewa." Queen menatap ke arah belakang gym, tepat ke mata, Reyhan. Kalau kau menginginkan sesuatu dengan amat sangat, berusahalah untuk mendapatkannya. Shoot the moon!"
Queen mengangguk ke arah Joe yang memberi tanda kepada Mac. Si pemain drum memukul entakan pembuka yang memekakkan telinga, dan Queen
mulai menyanyi
"Pegang tanganku, jangan takut
Coba gapai impianmu
Jangan dengarkan perkattaan mereka
Yang bilang kita ini hanya bermimpi
Mereka bilang belum waktunya
Mereka semua salah besar
Kau dan aku, kita akan meraih bintang.
Kita akan menggapai bulan."
Ketika mulai bermain Queen melihat semuanya: penonton bergoyang-goyang mengikuti irama musiknya; Mr. C tersenyum dan menganggk-angguk;
bahkan ibunya berdiri bangga di dekat pintu panggung.
Queen mengangkat kepala. la melihat Ana dan Andyn berpegangan tangan di dekat pintu keluar. Lima wajah baru bergabung dengan mereka: Vivian, Dolly, George dan tongkat rofannya, Miss Perkins, dan Alberto.
Reyhan, orang yang paling ia nanti-nantikan, berdiri bersama mereka. Queen menyanyikan lirik lagunya untuk Reyhan.
"Gapailah bulan, gapailah bulan,
Kau dan aku, terbang bebas, Kita akan menggapai bulan!"
Joe dan Charlie menjadi suara pendukung di bait terakhir dan suara mereka menghasilkan harmoni yang indah. Queen menyelesaikan lagunya dengan lengkingan gitar yang memekakkan telinga, kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi di udara.
la kehabisan napas dan Wajahnya mengilat karena berkeringat.
Setelah hening sesaat, ruang gym pecah oleh sorak-sorai. Siulan dan jeritan terdengar sangat keras. Sungguh tak bisa dipercaya. Ke mana pun Queen memandang tampak anak-anak yang melompat-lompat sambil menjerit-jerit.
Suara Joe terdengar keras di mikrofon: "'Satu kali lagi! Semua!
"Shoot the moon, shoot the moon!"
Penonton menyanyi bersama Joe dan Side Effects. Air mata memenuhi mata Queen saat ia melepas gitar dan melangkah ke ujung panggung. Malam itu nyaris sempurna. lephyr sUdah membuktikan dirinya adalah sahabat dan pemusik hebat. Side Effects sudah membantu mendongkrak lagunya ke
posisi luar biasa sudah pasti kelak mereka bisa bekerja sama. Tanggapan penonton pun dahsyat. Tapi masih ada satu hal yang kurang.
"Reyhan!" teriaknya ke arah cowok tampan bertopi yang sedang melangkah ke arah penonton yang bersorak-sorai.
"Queen!" Reyhan membuka tangan, dan tanpa ragu Queen melompat dari panggung ke. kerumunan penonton.
Lautan tangan menangkap dan membawanya ke satu tempat ke mana ia ingin pergi: ke pelukan Reyhan.
Queen larut dalam pelukan Reyhan. la merapatkan bibirnya ke bibir Reyhan. Ciuman Reyhan sangat lembut. "Seperti dugaanku," Reyhan bergumam. "Kita memang pasangan serasi"
"Lagi! Lagil" jerit penonton. Joe meneruskan penampilannya dengan memainkan lagu Big Trouble Ahead.
Reyhan menelusuri pipi Queen dengan bibirnya dan berbisik di telinga gadis itu, "Kurasa kau bisa menang."
"Yang aku tahu, aku sudah menang." Queen mengangkat topi Reyhan dan menatap mata cokelat
Reyhan yang hangat. "Aku dapat kau."