Ada Apa Dengan Reyhan?

1324 Kata
HARI Kamis kelabu. Queen tidak bisa berkonsentrasi di semua kelas. Setiap jam ia khawatir akan berpa-pasan dengan Reyhan di lorong ketika pindah kelas, kemudian kecewa karena itu tidak terjadi. Ketika sekolah usai Queen lelah karena merasa waswas seharian. Malam itu seharusnya ia berlatih untuk The Battle of the Bands, tapi Queen justru mondar-mandir dengan lesu menunggu telepon berdering. Jumat pagi Queen kecapekan sehingga tidak mendengar alarm berbunyi. Ketika sadar hanya punya waktu lima menit untuk berpakaian, sarapan, dan berangkat ke sekolah, ia kembali terjatuh ke bantal, terlalu letih untuk bergerak. Mom mengetuk pintu kamar Queen ketika hari sudah siang. la membawa segelas jus jeruk dan secangkir kopi. "Kau sedang mengumpuikan kekuatan untuk tampil di The Battle of the Bands nanti malam, ya? tanya Mrs. Chandler sambil duduk di ujung tempat tidur Queen. "Atau hanya kepingin membolos saja?" Queen menelentang dan menatap langit-langit. "Nggak tahu, gumamnya. "Kayaknya aku sedang menunggu sampai hal ini selesai." "Selesai apanya?" tanya Mom sambil menyodorkan gelas jus kepada Queen. "Kesalahpahaman dengan Reyhan," jawab Queen. la memegang gelas jus tapi tidak meminumnya. la malah terus menatap langit-langit. "Kok bisa sih sesyatu yang awalnya sangat indah berbalik menjadi sangat buruk?" Mom menyibak poni Queen dan tersenyum. "Aku menanyakan hal yang sama pada diriku sendiri dua puluh kali sehari di bisnis real estate yang kujalani. Tapi tunggulah, keadaan akan berbalik dan semua akan beres." "Janji?" Queen mengangkat kepala dan menghirup jusnya. Mom mengangguk. "Ingat gedung jelek di Erie Avenue yang selalu kukeluhkan itu? Kupikir tadinya aku akan terjebak selamanya dengan urusan ini. Tapi tiba-tiba keadaan berubah." Oh ya?" gumam Queen, berusaha terlihat tertarik. Mom bisa mengobrol berjam-jam tentang bisnis real estate. "Tadi pagi Mr. Mulins, pemilik gedung itu, meneleponku. Dia sangar senang sampai susah berkata-kata," kata Mrs. Chandler sambil meniup-niup kopi panasnya. Ternyata pelukis-pelukis liar itu telah melukis gambar yang cukup indah di sisi gedung." Queen tersedak jus jeruk. "Maksud Mom Art Attack?" katanya sambil terbatuk-batuk dan menyeka mulut. Mrs. Chandler menjentikkan jari-jarinya dan menunjuk Queen. "Betul sekali. Tnibune mengirim juru foto ke gedung jelek itu, dan sekarang kami sudah menerima telepon dari beberapa pembeli yang tertarik." Queen memaksa dirinya duduk. "Wah, cepat sekali! Berapa lama sih waktu yang dibutuhkan untuk membuat lukisan dinding?" Mom mengangkat bahu. "Aku nggak tahu. Jika banyak orang bahu-membahu menggunakan kuas karet dan cat, mungkin bisa beberapa hari atau bahkan satu malam saja. Menurutku, tergantung dari besarnya gambar. Nah, lukisan itu membuat gedung jelek itu tampak seperti gedung dengan pintu yang terbuka sedikit. Seolah-olah kau bisa mengintip isi gedung lewat pintu itu." Queen memasang telinga. "Apa yang Mom lihat di dalam?" tanyanya. "Nggak tahu. Aku belum melihatnya." Mrs. Chandler menyeruput kopinya lagi. "Tapi aku berencana akan ke sana nanti. Kau harus melihatnya. Di dekat sekolahmu kok, di belakang Signature Hill. Kemungkinan mereka masih mengerjakannya sekarang ini. Mr. Mullins bilang sepertinya dia melihat beberapa seniman membawa ember cat dekat gedungnya itu pagi ini." "Pagi ini" Kata-kata Mom bikin Queen bersemangat. Ia melempar selimut dan melompat dari tempat tidur. Otaknya berputar keras. Mungkin Reyhan masih di sana. Mungkin kali ini mereka bisa benar-benar bicara. Mungkin, setelah beberapa hari berlalu, kemarahan Reyhan sudah surut. Mungkin sekarang ia mau mendengarkan Queen. Banyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi. "Wah!" kata Mom, tertawa sambil melangkan mundur agar tidak menghalangi Queen. "Ceritaku benar-benar membuatmu bersemangat, ya!" Satu jam kemudian Queen sudah berada di jalan menuju Erie Avenue. Sebenarnya bisa lebih cepat, tapi Queen memutuskan untuk mandi dulu, merias wajahnya, dan mengenakan baju yang ia pakai Rabu lalu saat Reyhan tidak muncul. Ketika Queen sudah dekat ia melihat wanita berambut putih mengenakan celana pendek biru, kaus polo putih, dan topi lebar di bagian depan, sedang berjaga-jaga di jalan. "Vivian!" Queen bersembunyi di belakang pompa bensin sambil mempertimbangkan segala kemungkinan. Pensiunan kolonel angkatan darat itu masih berjaga-jaga. Artinya, Art Attack masih beraksi. Haruskah Queen bertanya kepada Vivian "Apakah Reyhan ada di sana? Bagaimana kalau Vivian bersikap dingin seperti Mrs. Lockhart di telepon tempo hari?" Queen tak yakin bisa menerima hal itu. la membungkuk ke depan untuk melihat keadaan di jalan. Mungkin ia bisa berjalan di balik mobil-mobil yang diparkir menuju tempat pembuatan lukisan dinding, bersembunyi sampai cukup dekat, setelah itu ia bisa berlari masuk. Tapi ternyata tidak terlalu banyak mobil yang diparkir, artinya ada beberapa tempat yang terbuka di antara mobil-mobil tersebut, dan ia bisa terlihat. "Aku bisa melihat kau di sana!" suara Vivian terdengar lantang dari seberang jalan. Queen melompat dan menyandarkan punggungnya. la menahan napas dan mencoba tidak bersuara. "Mereka memberiku tugas menjaga karena aku pelukis yang payah," sambung Vivian. "Tapi aku serius menjalankan tugasku. Dan aku penjaga yang lumayan bagus." Queen tidak tahu harus berbuat apa: Berdiri dan berpura-pura tidak bersembunyi? Jangan! Masa dia kalah secepat itu? Baru saja Queen hendak lari ketika Vivian berseru, "Boleh saja kau melarikan diri, tapi aku sudah melihatmu." Queen tetap mendekam di tempat. Akhirnya ia berkata lirih, "Apakah Reyhan ada di sana? Aku kepingin bertemu dia. Walaupun dia tidak mau bertemu denganku." "Tidak ada. Anak itu sudah pulang." "Oh." Queen berdiri pelan-pelan dan menatap Vivian. "Kalau begitu aku pergi juga." "Tidak boleh," kata Vivian sambil berdiri dengan kaki terbuka lebar dan tangan bersidekap seperti sersan pelatih kemiliteran. "Tidak sebelum kau melihat lukisan dinding kami." "Aku mau," kata Queen sambil keluar dari persembunyiannya. "Reyhan seniman hebat, kepribadiannya pun luar biasa. Maukah Anda mengatakan itu pada nya?" la menunduk dan berkata sedih, "Mungkin dia terlalu membenciku sehingga tidak mau mendengarnya langsung dariku." Vivian tidak menjawab. la menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat apakah ada pelancong di dekat mereka, kemudian berkata, "Ikuti aku." Vivian mengajak Queen berjalan zigzag menuju gudang. "Harus hati-hati sekali," bisiknya parau. "Masyarakat kelihatannya menyukai lukisan kami, tapi polisi tidak." DI mana George, Dolly, dan yang lain tanya Queen sambil melihat ke sekitar jalan. "Kami menyelesaikan lukisan hari ini. Mereka sedang memuat barang ke dalam mobil van," kata Vivian ketika mereka mendekati gudang. Queen bisa mencium bau cat baru. "Kau datang tepat waktu," tambah Vivian. "Kalau terlambat lima menit saja, kau tidak akan bertemu kami." Vivian terus bicara tapi Queen tidak mendengarkan. la terlalu asyik melihat lukisan dinding itu. lbunya benar: Gedung itu dilukis menjadi lumbung padi tua. Pintu lumbung terlihat terkuak, memperilihatkan sedikit apa yang ada di dalamnya. Dan gambar yang dilukis di belakang pintu benar-benar mengejutkan! Gambar itu adalah lika-liku sebuah hutan. Di hutan itu seorang gadis sedang duduk di bangku, sama seperti patung kecil di belakang pondok di Bramble Lane. Ada sosok lain berlutut di depannya. Mereka adalah Snow White dan Doc-tapi dalam versi berbeda. Snow White yang ini memiliki mata berwarna hijau berkilau dan rambut merah keunguan, persis Queen. Si gadis dalam lukisan tersenyum sedih ke arah anak laki-Haki berambut gelap yang memakai topi. Rasa cinta terpancar dari mata anak laki-Haki itu ketika ia menatap si gadis cantik. "Mereka bilang sebuah lukisan bisa melukiskan lebih dari ribuan kata," kata Vivian pelan. "Nah, kau masih mengira Reyhan membencimu?" Queen tak bisa bicara. Untuk kedua kali minggu ini air mata mengaburkan pandangannya. la menggerak-gerakkan tangannyo ai uaara, mencoba membuat dirinya tenang kembali. Lalu ia bertanya, Bisakah aku meminjam kuas dan cat?" Vivian menunjuk perlengkapan lukis yang ditaruh di balik gedung, tertutup terpal. "Silakan. Tapi lukisan sudah selesai." Queen mengangguk. "Aku tahu. Tapi aku punya pesan untuk Reyhan. Dan aku harus menulisnya dengan hurut-hurut besar dan tebal supaya ia memercayaiku." Vivan mendorong topinya ke belakang dan mengawasi wajah Queen dengan penuh perhatian. "Baiklah," akhirnya ia berkata. "Aku akan bilang pada yang lain pekerjaan di sini sudah selesai. Dan aku akan meninggalkan kau sendirian untuk menulis pesanmu itu." Queen tahu sekali apa yang harus Ia tulis. Ia mengambil kaleng berisi cat warna merah, memasukkan kuas besar ke dalamnya, lalu mulai menulis surat cintanya untuk Reyhan. Hanya perlu lima belas menit untuk menulis pesannya di dinding yang masih bersih. Setelah selesai Queen menaruh kembali kaleng cat dan kuas ke balik terpal. la berhenti untuk melihat sekali lagi dan berdoa dalam hati semoga Reyhan melihat tulisannya. Tulisan itu besar-besar dan penuh hiasan, tapi pesannya jelas: SNOW WHITE MENCINTAI DOC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN