Solo Or Band

2145 Kata
HARI Rabu jam empat sore Queen berdiri di depan kaca jendela ruang tamu dan mengawasi mobil-mobil lalu lalang di depan rumahnya. Mobil van Reyhan tidak kelihatan, tapi Queen tidak khawatir. Karena sudah tahu bagaimana Reyhan, Queen yakin cowok itu akan muncul dengan naik sepeda, atau dengan mobil golf. Mengingat Reyhan membuat Queen tersenyum. Bersama Reyhan hidup terasa sangat menggairahkan. Mereka belum bertemu atau bicara lagi sejak kencan makan siang hari Senin lalu, tapi Queen yakin Reyhan akan membawa bunga atau balon untuknya. Queen berdiri bertumpu di satu kaki, kemudian pindah ke kaki lain dengan tidak sabar. la menarik jam tangan yang talinya sudah rusak itu dari ransel dan melihat waktu. Reyhan bilang akan sampai pukul empat, sementara saat itu sudah pukul 16.30. 'Mom!" teriak Queen ke arah dapur. Mom sedang meneliti daftar baru real estate MLS untuk bulan September. "Jam tanganku kecepatan. Sekarang jam berapa sih?" Seperti biasa ibunya tidak menjawab. la terlalu asyik dengan pekerjaannya. Suara April yang terdengar, "Tepatnya 16.35. Kapan sih kaubeli jam baru? Punyamu itu sudah rusak sejak kaujatuhkan ke bak mandi." Queen memutar bola matanya. Menanyakan hal sederhana seperti "Jam berapa sekarang? merupakan kesempatan bagi April untuk menasihati. "Terima kasih, Miss Sempurna," seru Queen. "Kembali," jawab April. Ia bahkan tidak membalas istilah Miss Sempurna yang dilontarkan Queen. Mungkin bagi April panggilan seperti itu bagus. Queen melangkah berputar-putar. Nick duduk di sofa, seperti biasa sedang belajar sambil menggunakan earphone. "Duduk, Queen," akhirnya ia berteriak. "Kau membuatku pusing." Queen mengangkat sebelah edrphone Nick dan bertanya, "Tadi Reyhan meneleponku nggak?" 'Nggak." jawab Nick. "Bukan Reyhan yang menelepon, tapi Ana. Dia bilang akan menelepon lagi atau langsung datang." Queen menaruh satu tangan di pinggul. "Kok kau nggak bilang?" "Kau nggak tanya." Nick menekan earphone ke Telinganya dan kembali menggoyang-goyangkan kepala mengikuti suara musik. Queen mengembuskan napas kesal lewat mulut yang membuatnya teringat untuk menambah lipgloss sedikit. la pergi ke kamar, melihat bayangan nya di cermin lorong untuk kesejuta kali. Mungkin bajunya tidak pantas. Terakhir kali bertemu orang-orang Hyde Park Manor ia mengenakan celana terusan. Hari ini ia ingin menunjukkan sisi feminimnya dengan memakai atasan hitam, celana merah ketat dipadu rok longgar seperti yang biasa dipakai pemandu sorak, kaus kaki hitam yang juga longgar menutupi Doc Martens-nya. Rambutnya yang lurus dan berwarna merah keunguan tergerai melewati bahu. la menatap bayangannya dengan serius. "Hmm.. apakah dandanannya terlalu feminim untuk Art Attack? Lagi pula, rencananya mereka akan pergi melukis, bukan untuk pertunjukan fashion." 'April!" Queen membongkar lemari bajunya, mencari jaket yang pantas. la melempar baju-baju dari dasar lemari ke tempat tidur. "Jam berapa sekarang?" Teriakan Queen tidak membuat April terlompat. "17.05, dan terus berjalan," teriak April dari meja belajarnya. "Lima?" Queen berhenti melempar-lempar baju. "Reyhan terlambat satu jam. Ini terlalu aneh." la melangkahi tumpukan baju di lantai dan pergi ke dapur. "Mom! Mom menerima telepon dari Reyhan hari ini?" tanya Queen, tangannya menutup halaman buku real estate yang sedang dibaca Mom untuk mendapat perhatian. Kit Chandler melihat dari balik kacamata baca yang bertengger di ujung hidungnya. "Reyhan? Si bandar slapjack?" "Ya!" sembur Queen kesal. "Reyhan yang itu. Memangnya ada Reyhan lain?" "Nggak." Mom menggeleng. "Nggak pernah. Hari ini atau kemarin-kemarin." Queen bersandar di kulkas. Reyhan nggak pernah menelepon? Sekali lagi aneh. la tidak melihat Reyhan di sekolah, dan cowok itu juga tidak meneleponnya. Ada apa sih? Mereka asyik-asyik saja saat makan siang Senin lalu. Memang sih, Ana bersikap agak kasar waktu mereka kembali dari makan siang, tapi toh dia sudah minta maaf. Dan ketika mereka berpisah Reyhan berkata, "Sampai ketemu hari Rabu, atau sebelumnya." Mom melepas kacamata dan menatap putrinya. "Ada masalah?" Queen menggeleng pelan. "Aku nggak yakin." la mengangkat gagang telepon dapur. "Tapi aku akan mencari tahu." Queen menelepon bagian IntormasiI untuk menanyakan nomor telepon Reyhan, kemudian cepat-cepat memutarnya. Setelah beberapa kali dering, suara wanita menjawab. "Halo, ini Queen Chandler," kata Queen. "Ya, aku tahu," wanita itu menjawab. "Aku punya mesin pendeteksi nomor telepon." Queen tidak bisa menahan tawa. lbu dan anak sama saja. "Reyhan ada? tanya Queen. "Kami seharusnya bertemu hari ini. Kami ada... hmm... kencan." "Kurasa kencannya dibatalkan," ibu Reyhan menjawab kaku. "Reyhan sedang pergi dengan George dan yang lain." Queen bingung. "Tapi seharusnya aku pergi dengannya... maksudku, dengan mereka." "Kurasa tidak," jawab Mrs. Lockhart. "Oke... bisakah Anda sampaikan pada Reyhan bahwa aku menelepon?" "Nanti kuusampaikan." lbu Reyhan menutup telepon tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Queen masih memegang gagang telepon saat ia berbalik menghadap ibunya. "Ada yang aneh. Tapi aku nggak tahu apa." "Tok-tok! Ada siapa di rumah?" teriak seseorang dari depan rumah. Sebelum Queen atau ibunya sempat menjawab, Ana masuk ke dapur. la memakai jins ketat dan bot hak tinggi. Kemudian Ana berbicara panjang-lebar. "Tadi aku dari mal dan ada diskon tiga puluh persen untuk semua produk di fashion Express, terus kupikir, Hei, si Queen bisa beli baju keren untuk acara The Battle of the Bands, jadi.. karena itu aku datang. Siap untuk kembali ke sana dan belanja sampai mati!" Setelah menatap Ana lama, Queen berkata, "Aku nggak kepingin belanja." "Kencannya baru saja dibatalkan," Mom menjelaskan. "Mom!" Queen terenyak, kemudian membanting gagang telepon. "Aku nggak bilang begitu. Aku hanya bilang ada yang aneh, itu saja." "Berarti kau punya kencan yang aku tidak tahu." Ana bersidekap dan menghampiri Queen. "Joe yang mengabaikanmu?" Queen menyeringai. "Joe? Yang benar saja kau." Mrs. Chandler memasang kembali kacamatanya dan meraih daftar real estate MLS. "Reyhan penjahat nya. Dia seharusnya sudah sampai di sini satu jam yang lalu." Ana memiringkan kepala. "Reyhan? Kau ada kencan dengan Reyhan?" "Ya!" teriak Queen kesal. "Memangnya kenapa?" Ana menggeleng. "Ya ampun, berani betul dia mengajak kau kencan setelah pembicaraan kami Senin lalu." Mata Queen membeldik ngeri. "Ana! Kau bilang apa padanya?" "Aku bilang yang sebenarnya tentang surat yang salah kirim," kata Ana sambil mengangkat bahu. "Aku tahu kau nggak bakal berani mengatakannya. Aku kasihan padanya. Kau seperti membohongi dia." "Ya... Tuhan..." Queen mengempaskan tubuhnya ke kursi dapur. "Apa?" Ana bingung. "Bukankah itu yang kau mau? Supaya dia tahuu cerita sebenarnya?" "Bukan!" jawab Queen. "ltu maumu." la menopangkepala dengan kedua tangannya. "Aku ttidak menyangka kau bisa melakukan hal seperti itu tanpa bilang dulu padaku. Kasihan Reyhan." Rasa percaya diri Ana menguap. "A...aku pikir tadinya aku membantumu. Joe memintamu bergabung dengan bandnya, sementara Reyhan mendorong-dorong supaya kau tampil solo" "Aku memang akan tampil solo," potong Queen. "itu keputusanku. Bukan keputusanmu. Seperti memilih cowok untuk menjadi pacarku, itu juga keputusanku." Setiap kali Queen menyebut kata "ku", ia memukul meja dengan tinjunya. "Queen nggak pernah bilang dia suka pada Reyhan," Ana mencoba memberi penjelasan kepada Mrs. Chandler. "Aku.. aku pikir dia suka pada Joe, jadi..." Suaranya menghilang. dan ia duduk terkulai di sebelah kursi Queen. "Oke. Aku sudah membuat kekacauan. Kekacauan besar." "Apa yang harus kulakukan sekarang erang" Queen. Mrs. Chandler berdiri dan menuang secangkir kopi untuk dirinya sendiri. "Aku tidak tahu tentang surat, atau anak cowok bernama Joe, tapi aku tahu hal terbaik adalah bicara terus terang." "Betul!" Ana mendorong bahu Queen dengan bersemangat. "Telepon Reyhan dan bilang aku hanya mengarang cerita supaya bisa membuatmu pergi dengan Joe." "Ana" kata Queen sambil memukul tangan temannya itu. "Kau nggak punya otak, ya? Kau sudah bilang yang sebenarnya kepada Reyhan dan sekarang kau mau aku berbohong lagi padanya?" "Oke. Kau benar." Ana menghampiri telepon. "Aku akan meneleponnya dan menjelaskan seluruh masalahrnya." Queen berdiri. "Jangan, seharusnya aku yang melakukan itu." Ana menyorongkan gagang telepon. "Lakukanlah." Queen mengambil gagang telepon dari tangan Ana dan mengembalikannya di tempat semula. "Aku sudah mehelepon Reyhan. Dia nggak ada. Mendengar suara ibunya tadi, kurasa dia nggak kepingin ngomong denganku lagi." Mrs. Chandler menyeruput kopinya. "Yah, kau masih punya satu pilihan lagi," katanya. "Cari Reyhan. Lebih baik memberi penjelasan langsung." Ana sudah siap di pintu. "Aku akan mengantarmu. Aku yang membuat kekacauan ini, dan aku akan membereskannya." Queen ragu-ragu. "Mudah-mudahan kau tahu sekarang ini aku kepingin mencekikmu. Walaupun setengah dari masalah ini adalah salahku..." "Hah," kata Ana, menggerak-gerakkan kepala."Aku nggak t***l, ya. Aku, tahu kau nggak punya mobil, dan satu-satunya cara supaya kau bisa mencari Reyhan adalah jika aku mengantarmu atau kakakmu meminjamkan Jeep nya." Queen tahu ia tidak mungkin meminjam Jeep Nick. Nick ada kuliah. Mobil Mom di bengkel. la tidak punya pilihan lain kecuali pergi dengan Ana. Queen menyambar tas, lalu mendahului Ana berjalan sepanjang lorong rumah menuju pintu depan. Sambil melangkah Queen berkata, "Kalau Reyhan Lockhart menelepon rumah ini, beritahu dia nomor HP-ku dan bilang untuk segera meneleponku. Dengar semuanya?" April menjawab dari kamarnya di ujung lorong. "Dengar." Queen dan Ana mencari Reyhan sepanjang Sore. Setelah mengunjungi Hyde Park Manor yang tampak benar-benar sepi, mereka mampir di toko obat di pusat kota. Lukisan dinding selesai Senin kemarin Queen tahu kelompok Reyhan telah memilih gedung baru untuk Art Attack selanjutnya tapi ia tidak tahu gedung yang mana. la juga tahu gedung yang dipilih mungkin menghadap ke Hyde Park Manor, tapi gedung seperti itu banyak. Satu-satunya hal baik yang terjadi selama pencarian itu adalah Ana jadi lebih bisa menghargai Reyhan. "Kalau dia yang merancang lukisan dinding itu," katanya kepada Queen setelah mereka melewati empat dinding penuh lukisan, "berarti cowok ini seniman yang seksi." Queen bercerita kepada Ana saat bertemu Reyhan pertama kali, dan mereka berjalan di gang kecil kemudian pergi ke Bramble Lane. Queen juga menceritakan tentang piknik mereka di Swedenburg Park, bertemu teman-teman Reyhan dari Hyde Park Manor. Ana sangat senang mendengar cerita sepeda tandem. "Manis banget!" katanya sambil mengangguk-angguk. Queen menyandarkan kepala di kursi mobil sambil menceritakan makan siang mereka yang romantis. Senin lalu di atap gedung Hyde Park Manor sambil menikmati pemandangan Sungai Ohio dan kota Wheaton. "Reyhan menyenangkan," katanya. "Dan selalu spontan. Dia berbeda." Ana mengangguk. "Benar. Dia lain dari yang Iain." Queen mengangkat kepala sehingga Ana cepat-cepat menambahkan, "Artinya bagus. Dia tidak takut menjalin hubungan, tidak seperti pembual-pembual di Wheaton High. Coba pacarku seperti dia." "Kip bagaimana?" tanya Queen, teringat bagainmana mereka berdansa di Atomic Caté. "Kalian kelihatannya benar-benar saling menyukai." Ana memutar bola matanya. "Aku benar-benar sudah melupakannya. Sesaat dia serius, tapi detik berikutnya dia mengabaikanku ketika kami bertemu di lorong." "Terus kelas CAD-mu bagaimana?" tanya Queen. "Kukira dia selalu menyediakan kursi untukmu di sana." Biarpun dia menyediakan semua kursí untukku, aku nggak peduli," jawab Ana marah. "Aku mau keluar dari kelas itu. Aku sudah mengganti jadwal kemarin. Aku mengambil kelas Figure Drawing lagi, tempat yang cocok untukku." Ana memutari kawasan pabrik beberapa kali lagi, kemudian mereka menyusuri jalur dekat pintu masuk jalan bebas hambatan. Tapi Reyhan atau orang-orang tua dari Hyde Park-tetap tidak kelihatan di mana pun. Sore beranjak malam. Queen mengajak Ana pulang. "Mereka mungkin sudah pulang ke Hyde Park Manor." Ana mempercepat laju mobil. "Kalau begitu kau harus ke sana." la berputar balik di tengah-tengah Calumet Avenue dan mengarahkan mobilnya ke Hyde Park. Sesampainya di Hyde Park Manor mereka duduk di mobil dan mengawasi gedung batu besar itu. Lampu di kamar-kamar sudah dihidupkan. Mereka bisa melihat siluet orang-orang bergerak ke sana kemari di beberapa kamar. Queen menatap gedung menakjubkan itu. "Aku nggak bisa," katanya pelan. "Aku nggak bisa masuk ke sana menghadapi Miss Perkins, Dolly, dan yang lain. Reyhan mungkin bisa nmemaafkanku, tapi mereka tidak." Ana mencari-cari HP di dalam tas, kemudian menyodorkannya pada Queen. "Kau tahu harus melakukan apa." Queen mengambil HP itu, keluar dari mobil, dan berdiri di halaman rumput di depan Manor. Queen menatap jendela-jendela di lantai tiga. la tahu di sanalah Reyhan tinggal. Lampu menyala di balik dua jendela yang menghadap ke jalan. Sebelum kehilangan nyali, Queen menekan nomor telepon Reyhan. Setelah tiga deringan seseorang mengoangkat telepon. Ternyata Reyhan. Queen bicara tiada henti, "Reyhan, ini aku, Queen. Tolong, jangan tutup teleponnya! Aku sedang berdiri di luar gedungmu. Ana memberitahuku tentang percakapan kalian, dan memang benar surat itu Salah alamat. Tapi ternyata yang terjadi sebaliknya, aku mengirim surat ke orang yang tepat. Walaupun awalnya aku tidak tahu, tapi sekarang aku tahu itu, dan yah... maafkan aku atas segala kekacauan ini." Ketika sedang bicara Queen melihat gerakan di kamar lantai tiga. Kemudian Reyhan dengan telepon menempel di telinga mendekat ke jendela dan memandang ke bawah, ke arah Queen. "Kau lihat, kan?" kata Queen ke bayangan Reyhan di jendela. "Aku di sini. Untuk menjelaskan, dan untuk memberitahumu ini tidak seperti yang kaupikirkan." "Aku tahu," jawab Reyhan tenang. "Ana sudah bilang padaku." "Bukan, bukan, bukan!" Queen menggeleng kuat-kuat supaya Reyhan bisa melihatnya. "Lupakan surat itu. Itu basi. maafkan aku untuk semuanya." "maafkan aku juga," kata Reyhan. "Terima kasih kau mau datang untuk meminta maaf. Aku menghargainya." Telepon ditutup. Queen tidak bergerak, masih menatap jendela dan mendengarkan kesunyian. Sesaat Reyhan mengawasinya darn jendela. Kemudian ia berbalik dan menjauh. Mata Queen kabur oleh air mata. la tak bisa menjelaskan kepada Reyhan apa yang terjadi, karena dirinya sendiri pun sulit untuk mengerti. Selama tiga tahun Joe-lah cowok impiannya. Kemudian Reyhann muncul, dan dalam waktu singkat perasaannya berubah. Queen menatap jendela, berharap Reyhan kembali.Tapi keinginannya tidak terkabul. Akhirnya ia menyerah dan kembali ke mobil. "Habis sudah," katanya setengah berbisik. "Dia nggak bakal pernah memaafkanku." Kali ini Ana kehilangan kata-kata. la memasukkan persneling, kemudian keduanya pulang dalam kesunyian yang menekan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN