TIDAK TAHU MALU

1039 Kata
Sena tidak kembali ke kamar, melainkan pergi ke taman belakang rumah. Melihat bintang bersinar di langit. "Nyonya." Sena terkejut lalu memutar kepala. "Oh, hallo." "Kita bertemu lagi." "Ya." Jawab Sena lalu kembali menatap bintang. "Masalah tuan, apakah anda benar-benar tidak marah?" "Tidak." "Saya yang melapor, termasuk provokasi selingkuhan tuan terhadap anda." Sena menatap Adrian dengan bingung. "Kenapa?" "Saya tidak tega melihat anda sedih." "Aku sedih? Apakah aku terlihat sedih saat itu?" Adrian menjawab jujur. "Tidak." "Lalu kenapa kamu mengatakan hal itu?" "Karena saya ingin membuat tuan besar tahu semua perbuatan tuan selama ini." "Pasti ada yang lain 'kan? Kamu pasti punya hal lain 'kan?" Adrian hanya bisa menunjukan senyum terbaiknya. "Nyonya, kenapa anda menyembunyikan semuanya sendirian?" "Apa?" "Ketika tuan melakukan kesalahan, seharusnya sebagai istri- anda menegurnya. Kenapa anda hanya diam saja?" Kedua tangan Sena mengepal erat, mengigit lidahnya supaya tidak ada kata terlarang muncul. Dulu aku bunuh diri demi Ducan! "Apakah perkataan aku akan didengar semua orang?" "Tentu saja, tuan besar akan membuat tindakan kepada tuan Ducan. Biar bagaimana pun anda adalah istri sah beliau." "Tapi, meskipun ayah mertua terlihat membela aku- dia pasti menutup kesalahan putranya sendiri." "Saya tidak membantah mengenai hal itu, nyonya." "Jadi, lebih baik aku menahan semuanya. Aku tidak mau semua berakhir kacau." "Nyonya, apakah anda tidak mencintai tuan?" "Aku mencintainya, dia pria pertama yang menyentuhku." "Menyentuh? Ah! Saya mengerti." "Bukan arti menyentuh seperti itu, kami belum pernah melakukan hubungan suami istri." Entah kenapa Sena merasa harus berkata jujur terhadap Adrian. "Dia lebih memilih bersama wanita lain, daripada aku." Adrian tidak membahasnya lagi. "Nyonya, bagaimana jika anda terjun di dunia bisnis? Supaya tuan besar melihat kegunaan anda, maafkan saya jika berkata kasar." Sena tertawa canggung. "Oh, aku sudah biasa." "Nah, bagaimana jika anda mengumpulkan data lalu berikan kepada saya, setelah saya setuju. Anda bisa memberikannya kepada tuan besar." "Kenapa-" "Apakah anda tidak bosan di rumah tanpa melakukan apa pun?" Tentu saja Sena merasa bosan dan tidak mungkin mengungkapkannya secara terang-terangan. "Melihat diamnya anda, saya anggap- anda juga bosan." "Kenapa kamu membantuku? Padahal kita tidak saling mengenal." Adrian melipat kedua tangan di belakang, menatap lurus Sena. "Apakah saya terlihat tidak bisa dipercaya?" "Tidak, bukan itu. Hanya saja aneh, tiba-tiba ada yang datang untuk membantu aku- lagipula ayah mertua juga tidak mungkin setuju." "Kenapa?" "Ayah mertua masih memiliki pemikiran kuno, seorang istri harus di rumah dan merawat rumah tanpa harus bekerja di luar, wanita yang melakukan pekerjaan di luar- bukan wanita baik-baik." Adrian tertawa terbahak-bahak. "Apakah itu yang ada di pikiran anda?" "Apalagi?" "Siapa yang bicara seperti itu kepada anda? Para pelayan atau tuan Ducan?" Sena menutup mata dengan kesal dan menjawabnya. "Ducan." "Saya luruskan. Tuan besar sebenarnya tidak masalah jika seorang wanita bekerja di luar, tapi jangan sampai melupakan suami dan anak." "Benarkah?" "Sepertinya tuan Ducan ingin menipu anda ketika mengetahui latar belakang pendidikan anda." Sena tertawa muram. Fakta yang menyakitkan tapi itulah kebenarannya. "Saya yakin tuan besar akan terpengaruh dengan rayuan tuan Ducan, karena itu anda sebaiknya mempersiapkan diri. Nyonya." Sena menatap curiga Adrian. "Kenapa aku harus percaya kepadamu?" tanyanya. "Karena anda membutuhkan saya, nyonya. Saya tunggu sampai besok sore, anda lihat saja dalam waktu dekat, mungkin wanita itu dibiarkan tinggal di sini karena mengandung cucu pertama tuan besar." Sena melupakan bagian itu. ------------- Tidak perlu menunggu waktu dekat yang dimaksud Adrian. Ayah Ducan meminta berkumpul di pagi hari untuk sarapan bersama. Sena bisa melihat Ducan dan wanita itu duduk bersebelahan di sisi kanan pemimpin sementara Sena harus duduk di sisi kiri. Saat pelayan menurunkan sarapan dari nampan, ayah Ducan mulai bicara. "Wanita ini akan melahirkan dan pergi dari rumah ini." Wanita itu terbelalak ketika mendengar keputusan ayah Ducan, bukan ini yang ingin didengarnya. Ducan menepuk tangan wanita itu untuk menenangkannya. "Ayah, sebentar lagi ada pertemuan keluarga. Apakah ayah yakin membawa wanita ini bersama Ducan?" tanya Sena. "Kamu iri?" sarkas Ducan. "Apakah aku terlihat iri pada suami yang hebat ini?" tanya Sena. "Sebentar lagi ada pertemuan keluarga untuk merayakan hari ulang tahun ayah. Apakah kamu yakin membawa dia? Jika kamu ingin membawa dia, aku tidak akan hadir." "Sena!" bentak Ducan. "Semakin hari kamu semakin keras kepala! Harusnya kamu bisa patuh terhadap suami." "Menekankan kata suami untuk perselingkuhan?" tanya Sena. "Jangan lupa, kamu dijual keluarga sendiri untuk menjadi istri aku, Sena." Sena menatap dingin Ducan. Jika dirinya yang dulu, mungkin akan menangis dan melukai diri sendiri karena tidak bisa menjadi istri yang baik. Sekarang dia marah dengan pria yang mengaku sebagai suami hanya saat marah. Wanita itu bersikap manis dan bertindak sebagai penengah dengan menunjukan raut wajah sedih. "Saya minta maaf telah mengganggu hubungan nyonya dengan tuan selama ini, mungkin tidak sepantasnya saya ada di sini." "Baguslah jika kamu sadar diri," sahut ayah Ducan. "Ayah!" Teriak Ducan yang tidak percaya. "Dia hamil anakku sementara Sena tidak bisa hamil sampai sekarang." Sena tersenyum untuk menahan amarahnya. Bagaimana bisa aku hamil sementara kamu keluyuran ke berbagai tempat, sekarang pun aku tidak sudi tidur denganmu yang celap celup sembarangan! Ducan merasa menang dan mengejek Sena. "Nah, bagaimana bisa menjadi istri yang sempurna jika tidak bisa hamil? Kekasihku saja bisa langsung hamil, itu berarti kamunya yang bermasalah." "Ducan. Apakah kamu lupa sebelum menikah kita sudah melakukan tes kesuburan bersama? Bahkan sebelum ayah menjadikan aku istri kamu, aku dites juga. Sekarang kamu ingin mempertanyakan keputusan ayah dan pengadilan?" Ducan terkejut dan melirik ayahnya dengan gugup. Ayah Ducan melirik tajam putranya, tidak senang dengan kalimat Sena. "Yang dikatakan Sena benar, kamu mempertanyakan keputusan ayah?" "Tidak, ayah. Aku tidak bermaksud seperti itu." Ducan menggeleng panik lalu menatap tajam Sena. "Aku tidak pernah menyebut ayah dan pengadilan, kenapa kamu malah menyebut mereka? Aku hanya mempertanyakan kamu yang mandul." Kedua mata Sena membulat. "Aku mandul? Ho- tuan Ducan, apakah kamu tidak tahu arti dari tes kesuburan? Jika kamu mempertanyakan kenapa aku tidak bisa hamil, kenapa kamu tidak bertanya pada diri sendiri yang tidak bisa memuaskan aku?" "Hah?" Apa salahnya berbohong? Jika Ducan bisa berbohong di depan ayah, tentu saja dirinya bisa melakukan hal yang sama. "Ducan, selama kamu melakukannya denganku. Aku tidak pernah merasa puas, mungkin itu salah satu faktornya. Wanita ini hanya membutuhkan harta kamu sehingga bersedia memalsukan reaksi, mungkin." Sena menikmati perseteruan ini. "Bisa juga memang dia mudah cepat puas, aku dengar tipe wanita yang seperti itu sudah melakukan banyak. Yah, siapa tahu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN