KOMPENSASI

1009 Kata
Kekasih Ducan, Natasha. Membalas perkataan Sena. "Aku tidak pernah berselingkuh dengan siapa pun, aku selalu bersama Ducan. Jika kamu tidak bisa memiliki anak, jangan menuduh aku sembarangan!" "Tidak suka menuduh kalian sembarangan tapi kalian sendiri yang suka menuduh orang lain, aku adalah istri sah Ducan." Sahut Sena dengan santai. Ayah Ducan mengangguk setuju. Ducan dan Natasha yang melihat reaksi ayah Ducan, merasa tidak senang. "Sena, berpikirlah dengan jernih. Natasha tidak pernah kemanapun selain di sisiku sementara aku juga tidak bisa jauh darinya." "Ah, bukankah waktu itu kamu sedang menepuk p****t salah satu pelayan muda? Kepala pelayan terpaksa mengusirnya." Sena mengangkat kedua bahu dengan santai. Ducan berdiri dan menunjuk Sena dengan marah. "JADI KAMU PELAKUNYA?!" Natasha menatap Ducan dengan waspada. "Sayang?" Ducan tersadar dan salah tingkah. "Ah, tidak. Hanya iseng, kami sudah lama berteman jadi-" Ducan menjelaskan dengan gugup. "Lihat, kan. Kamu bahkan hanya pasrah menerima penjelasan Ducan." Ejek Sena ke Natasha. Natasha menatap Sena dengan marah. "Kamu-" Ayah Ducan berdehem dan menegur Natasha. "Ducan, istri siri kamu seharusnya menghormati Sena sebagai istri sah. Jika memang ingin tinggal di tempat ini sampai anaknya lahir." Sena tertawa mengejek Natasha dan Ducan. "Nah, menantu." Panggil ayah Ducan ke Sena, sengaja menyebutnya supaya putra dan selingkuhannya menjadi sadar diri dengan keberadaan Sena. "Apa yang Sena inginkan?" "Saya?" Sena menunjuk dirinya sendiri. Terkejut mendengar pertanyaan mertuanya, baru kali ini mendengar ucapan murah hati ayah mertuanya. Tidak, bukan baru kali ini tapi mungkin di kehidupan ini. "Ya, apa yang Sena inginkan sebagai kompensasi karena Ducan melukai perasaan istri. Lupakan tentang perceraian, aku tidak pernah setuju." "AYAH!" teriak Ducan. "Aku tidak pernah mencintai Sena, bagaimana bisa ayah melakukan ini kepadaku?" Ayah Ducan menatap tajam putranya. "Di dunia ini, tidak semua hal sesuai dengan keinginan kamu, Ducan." Raut wajah Natasha memucat. Kenapa malah Sena yang diberikan kompensasi? Dia mandul dan tidak pernah melakukan apa pun sementara aku hamil anak Ducan, harusnya aku yang diberikan kompensasi. Batinnya. Sena melirik Natasha yang keringat dingin karena menahan amarah. "Hm, apakah tidak berlebihan memberikan saya kompensasi mengingat ada dua orang yang tidak setuju dengan pendapat ayah." Ayah Ducan menatap tajam Ducan daj selingkuhannya. "Siapa yang tidak setuju dengan pendapatku?" Ducan dan Natasha tidak berani berkomentar. Ducan menyenggol tangan Natasha untuk bicara. Natasha yang sudah lama ikut Ducan, paham apa yang dia inginkan. Minta kompensasi juga! Natasha beranikan diri untuk bicara. "Tu- tuan." Natasha masih tidak berani menyebut ayah Ducan, ayah. "Ba- bagaimana dengan saya?" tanya Natasha dengan gugup. Kedua mata ayah Ducan menyipit. "Hm?" "Sa- saya hamil anak Ducan, cucu pertama anda. Seharusnya anda juga memberikan kompensasi kepada saya dan Ducan. Tidak, maksud kami- hadiah." Sena bersandar di kursi dengan santai dan menggoyangkan gelas di atas meja dengan satu tangan. "Apakah ayah menghamili kamu, Natasha?" Natasha menoleh dengan cepat. "Ducan anak tuan besar, wajar jika aku minta hadiah." Sena menghela napas. "Terkadang aku penasaran, bagaimana Ducan bisa mendapatkan sekretaris seperti ini. Hanya memikirkan s**********n atasannya." "YANG SOPAN KALAU BICARA, SENA! AKU SUAMI KAMU! INILAH SEBABNYA AKU BENCI DENGANMU, SELALU MEMBANGKANG!" Bentak Ducan sambil menggebrak meja makan. "Ducan, apa yang dikatakan istri kamu benar. Sekretaris profesional tidak pernah mengajak tidur atasannya." Tegur ayah Ducan. Natasha menutup mulut dengan tangan dan terbata-bata. "Sa... saya... tidak pernah... mengajak tuan... tidur..." Ducan membela Natasha dan menunjukkan kebodohannya. "Benar apa yang dikatakannya, akulah yang mendekati dia. Dia tidak salah apapun." Sena dan ayah Ducan bisa melihat bagaimana pasangan bodoh ini saling membela dengan statement kebodohan lainnya. Ayah Ducan memutuskan tidak melanjutkan perkataan Ducan, mengulangi pertanyaannya ke Sena. "Jadi, apa yang kamu inginkan?" Sena bertanya balik ke ayah mertuanya. "Bolehkah saya bekerja?" "Apa?" tanya ayah Ducan tidak mengerti. "Saya ingin bekerja dan mendapatkan uang sendiri, ayah juga tahu kalau pengeluaran rumah selama ini ayah yang pegang. Saya hanya ingin membantu sedikit." Ayah Ducan terharu, andaikan otak Ducan ada setengah seperti milik Sena. Dia pasti tidak akan segan melakukan apa pun untuk putra satu-satunya. "Tidak, kamu tidak perlu memikirkan pengeluaran rumah." Ducan mengangguk setuju. "Benar, Sena. Apakah kamu bodoh? Ayah adalah kepala keluarga jadi sudah seharusnya mengurus pengeluaran rumah." Sena menatap ayah mertuanya dengan cemas. "Ayah, Sena juga ingin bekerja tanpa meminta uang sepeser pun dari ayah ataupun Ducan." "Sena-" "Ducan adalah suami Sena tapi ayah juga bisa melihat aliran dana dia selama ini lari kemana saja." Sena melirik tajam Ducan dan Natasha. "Natasha saja boleh bekerja sebagai sekretaris, kenapa menantu ayah tidak boleh?" Ducan mengejek Sena. "Natasha kuliah di jurusan sekretaris, jadi wajar dia tidak boleh menyiakan perjuangan selama ini." "Suami, aku lulusan akunting. Aku memang tidak punya pengalaman banyak, tapi aku tidak bodoh." Balas Sena. Ducan menatap Sena dengan marah. "Kamu tidak boleh bekerja." "Sena boleh bekerja." Ayah Ducan mengambil keputusan. "Ducan mengizinkan istri sirinya untuk bekerja, kenapa Sena tidak boleh?" "Bu- bukankah ayah tidak suka melihat seorang istri bekerja? Harusnya dia mengurus aku atau ayah di rumah." "Aku bisa mengurus diri sendiri sementara kamu sudah diurus wanita lain, apakah kamu ingin membuat Sena mati bosan?" tanya ayah Ducan dengan santai. "Lalu dia mau bekerja di mana? Perusahaan kita tidak ada buka lowongan pekerjaan sampai tahun depan." Ducan menjadi panik, Sena tidak boleh bekerja di kantor milik Emrick dan menggantikan posisi dirinya. "Mengenai itu, Adrian sudah memberikan rekomendasi tempat bekerja Sena." Jawab ayah Ducan. "Ayah, kalau begitu- kenapa di awal tidak setuju?" tanya Sena yang penasaran. "Aku hanya ingin melihat reaksi Ducan, seperti yang aku harapkan. Tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, semuanya aku serahkan pada Adrian. Dia akan menjaga kamu dengan baik." Sena mengangguk. "Terima kasih." Pekerjaan apa pun akan kujalankan dengan baik. Batin Sena. Ayah Ducan menepuk tangan Sena. Natasha bertanya ke ayah Ducan. "Tuan, bagaimana dengan saya? Saya juga akan diberikan kompensasi supaya adil?" Ayah Ducan mengerutkan kening tidak senang. "Kenapa meminta kepadaku? Harusnya kamu minta ke Ducan, aku tidak pernah menyentuh wanita murahan." Kepala Natasha menunduk ketakutan. "Ba- baik, ayah." "Sena, beritahu ayah jika ada kendala atau apapun yang kamu butuhkan. Selama menikah dengan putra ayah, kamu sudah menjadi anak ayah." Sena mengangguk bahagia. "Terima kasih banyak, ayah." Natasha dan Ducan menatap iri Sena dan berteriak di dalam hati. Wanita tidak tahu diri!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN