PELAKOR BERAKSI I

1023 Kata
Natasha yang mengurung diri seharian di dalam kamar karena terlalu malu dengan peringatan ayah Ducan, mengadu pada Ducan ketika pulang ke rumah. "Sayang, kamu tidak akan percaya jika mendengarnya, aku tidak menyangka ternyata Sena bisa sejahat itu kepadaku." Tangan Ducan berhenti ketika berusaha melepas jasnya. "Sena?" "Dia mengambil alih pekerjaan yang kamu berikan dan mulai angkuh kepadaku di depan ayah mertua." Ducan duduk di samping tempat tidur dan mendecak marah. "Wanita itu benar-benar tidak bisa dididik dengan baik, bagaimana bisa memperlakukan kamu seperti itu? Apa sih maunya dia setelah mempermalukan aku?" Natasha terisak sedih. "Sayang, sekarang ayah mertua sudah membela Sena karena kena pengaruh. Apakah kamu tidak bisa membantuku?" Ducan menepuk pelan pundak Natasha. "Tenang saja, aku akan membuat Sena membayar mahal semua dan menghancurkan persiapannya sehingga-" Natasha menggeleng sedih. "Tidak, tidak perlu. Aku bicara kepadamu untuk mencari teman bicara, aku masih canggung di rumah ini dan posisiku juga tidak terlalu bagus." "Apakah Sena berkomentar macam-macam lagi kepadamu?" Tanya Ducan dengan curiga. Natasha menggeleng lagi. "Tidak, semuanya kesalahan aku. Aku yang terlalu berharap banyak, tolong jangan marah pada Sena." "Aku tidak akan marah jika dia tidak menyentuh kamu." Natasha bersorak bahagia di dalam hati lalu memeluk erat sang suami. "Terima kasih sudah membela aku, aku akan bersabar dan membantu Sena. Biar bagaimanapun ini ulang tahun ayah kandung kamu." Ducan menghela napas dan balas pelukan Natasha. "Seandainya Sena memiliki sifat yang sama dengan kamu seperti sekarang ini-" Natasha justru tidak suka jika Sena memiliki sifat yang sama dengan dirinya. "Sebagai suami, aku tetap harus menegurnya. Dia tidak boleh terlalu culas, setidaknya membagi tempat untuk kamu dan anak kita." Natasha jadi tidak sabar melihat Ducan menegur Sena. "Jangan terlalu keras ya, mungkin dia berusaha melakukan yang terbaik demi kamu." Ducan tertawa mengejek. Sayang, Natasha harus menelan rasa kecewa karena Ducan harus berangkat pagi-pagi ke kantor. Natasha cepat-cepat kembali ke kamar sebelum bertemu dengan ayah Ducan, dia tidak mau mengambil resiko dibenci lagi. Tidak lama Natasha masuk kamar, ayah Ducan keluar dan bertemu kepala pelayan untuk melapor. "Tuan muda sudah berangkat di pagi hari." Ayah Ducan mengangguk singkat lalu pergi bersama Adrian, meninggalkan Sena yang masih berdiri di depan pintu. Kepala pelayan berdiri di belakang Sena dan meminta nasehat. "Saya sudah menerima proposal dari anda dan tuan besar setuju, kita akan mengadakan pesta di ruangan ini, masalah makanan akan disediakan catering langganan kita." Sena mengangguk setuju. "Oke, seperti biasa. Tahun ini juga tidak perlu bertema, ayah sakit dan tidak bisa mengadakan pesta terlalu lama dan mewah, masalah hadiah- taruh di tempat seperti biasa dan sehari setelahnya kirimkan bingkisan terima kasih." "Bagaimana dengan barang-barang yang baru dikirim hari ini? Apakah anda mau cek nanti?" Sena mengedarkan pandangan ke meja antik, gelas dan berbagai ornamen lain untuk kebutuhan pesta ayah mertuanya. "Cepat sekali datang, padahal aku pesan kemarin siang." "Datangnya sore, nyonya. Sudah saya bayar semua." "Nanti aku cek, biarkan saja di sana. Apakah ayah mertua bertanya mengenai barang-barang ini?" "Tidak, beliau langsung berangkat kerja dan tidak sempat melihat sekeliling." "Ah, begitu. Oke, aku berangkat kerja dulu, kalau ada masalah, bisa hubungi aku." "Baik, nyonya." "Kakak! Kakak Sena sibuk?" Sena mengenal suara menyebalkan ini, sepupu yang selingkuh dengan Ducan. Sella. Sella memeluk erat Sena. "Kakak, bagaimana kondisi sekarang? Aku mendengar kakak sudah lebih baik. Oh, ya. Aku minta maaf karena sebelumnya tidak bisa bertemu kakak. Ducan menyuruhku pulang supaya tidak mengganggu." Sena meneruskan di dalam hati. Lalu kalian melakukan hubungan intim di perpustakaan. "Kakak tidak marah padaku 'kan? Jangan marah ya, aku minta maaf sudah teledor." Sella menunjukan wajah sedih di depan Sena. Tinggi badan Sena seratus enam puluh lima sentimeter, sementara tinggi Sella hanya seratus lima puluh delapan sentimeter, lebih mungil dan juga memiliki sifat manja. Salah satu wanita favorit Ducan. "Aku tidak masalah jika kamu tidak datang, aku justru terganggu jika kamu terus-terusan datang." Jawab Sena dengan raut wajah datar lalu melepas pelukan Sella dengan lembut. "Aku harus bekerja hari ini, kamu pulanglah- tidak ada apa pun di rumah ini." "Bolehkah aku istirahat sebentar di kamar kakak? Aku lelah karena perjalanan jauh." Pinta Sella dengan nada manja. Sena ingin menolak dan mengusir Sella tapi tidak ingin menimbulkan kecurigaan dari Ducan, lalu mendapat ide dan bicara ke kepala pelayan. "Berikan ruang tamu pada Sella, pastikan dia keluar sebelum sore hari." "KAKAK!" Jerit Sella yang tidak setuju. "Kenapa kakak ingin mengusir aku?" "Aku harus mempersiapkan sesuatu dan kamu tidak boleh mengganggu." Sella cemberut begitu mendengar alasan Sena. Sena keluar rumah tanpa bicara lagi ke Sella. Sella mengeluh ke kepala pelayan. "Tidak bisakah aku tidur di kamar kakak?" "Nyonya mengunci kamarnya dan tidak ada yang boleh masuk ke dalam, meskipun hanya pelayan. Ada kamar di lantai satu, anda bisa menggunakannya untuk istirahat sampai pulang sebelum sore." Sella kesal tapi masih berjalan mengikuti kepala pelayan. Natasha yang baru keluar dari kamarnya, menuruni tangga sambil membawa gelas dan melihat Sella menuju ruang tamu. Natasha tahu siapa Sella, wanita itu pernah tidur dengan Ducan saat dirinya bekerja. "Kenapa kamu ada di sini?" Tegurnya. Sella menoleh lalu melihat Natasha berjalan menghampirinya, dia ingat wanita ini. Sekretaris yang selingkuh dengan kakak iparnya. "Aku ingin mengunjungi kakak sepupuku, tidak boleh?" Natasha tertawa hambar. "Kamu memang wanita tidak tahu malu, selingkuh dengan suami kakak sepupu sendiri lalu terang-terangan berkunjung ke rumah." "Setidaknya aku jauh lebih baik daripada sekretaris miskin yang ingin memanjat kekayaan dengan membuka pahanya. Apakah uang yang dikirim Ducan kurang sehingga kamu harus menemaninya tidur sampai jam segini? Oh, iya. Aku lupa kalau Ducan terlalu sibuk menghadapi wanita liar seperti kamu!" Natasha menampar pipi Sella sekuat tenaga. PLAK! Sella terkejut, tangan kirinya menyentuh pipi yang ditampar. "Kamu- berani menampar aku?" Kepala pelayan hanya berdiri diam mengawasi mereka berdua, tidak mau ikut campur memisahkan wanita selingkuhan tuan mudanya. Sella menjerit lalu menjambak rambut Natasha sekuat tenaga. Natasha membalasnya. "Dasar tidak tahu diri! Sudah beruntung sepupu kamu menikah dengan pewaris keluarga Emrick dan sekarang kamu ingin menghancurkannya?!" Teriak Natasha. Sella tertawa mencemooh. "Memang kamu siapa bisa bicara seperti itu padaku? Bukannya kamu sama? Selingkuhan Ducan dan rela jual diri untuk uang bos!" Natasha dan Sella sama-sama tidak mau melepaskan genggaman mereka. Kepala pelayan baru bereaksi ketika mereka sudah berjalan jauh dan menuju arah barang-barang pesanan Sena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN