Ducan berhasil menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan sang ayah satu hari sebelumnya, dengan wajah lelah dia masuk ke dalam rumah lalu tanpa sengaja bertemu dengan Sena yang akan menaiki tangga.
Ducan menjadi kesal begitu melihat wajah santai Sena. "Kamu senang?"
Sena yang sudah di tengah tangga, balik badan lalu melihat Ducan yang masih berdiri di bawah tangga.
Ducan tertawa mengejek. "Ayah selalu bela kamu dan bahkan proyek ulang tahun ayah diambil dari tangan Natasha."
Ducan tahu masalah ulang tahun ayahnya, Sena sebagai menantu selalu membuat acara untuk ulang tahun ayah Ducan selama tiga tahun pernikahan, dia juga tidak peduli wanita yang sudah dibeli ayahnya melakukan sesuatu di rumah.
Sena masih menatap Ducan dengan dingin.
Ducan tertawa mencemooh. "Apakah kamu bisu? Kamu sudah bisa menjilat ayahku dan juga berhasil mendapatkan simpatinya sehingga Natasha tidak punya tempat di rumah ini.
"Kamu juga berhasil buat aku menjadi suami tidak bertanggung jawab. Kerja di gudang? Apakah hanya itu sebatas kemampuan kamu? Mau sampai kapan kamu menghina aku? Seharusnya kamu diam saja seperti biasanya di rumah dan tidak melakukan apa pun."
Jika Sena di masa lalu, dia akan menangis dan tersinggung dengan ucapan Ducan lalu melukai dirinya seperti biasa tapi sekarang berbeda, Sena ingin melanjutkan hidupnya dengan baik.
Mood Sena juga buruk, karena terlalu lelah dan harus memikirkan ulang bahan-bahan yang bisa dipakai tanpa harus mengeluarkan uang tambahan lagi.
Menuntut Ducan dan Natasha untuk ganti rugi? Mereka pasti tidak akan mau dan balas menghina dirinya karena barang-barang diletakan sembarangan.
"Apakah aku seperti anak kecil?" Gumam Sena.
Ducan mendengar gumaman Sena dan bertanya. "Apa?"
Sena mengabaikan pertanyaan Ducan lalu naik ke atas, hari ini terlalu malas untuk berdebat.
Ducan ingin memarahi Sena lagi lalu teringat ulah Natasha, dia mengacak rambutnya dengan marah.
Sena mendiamkan Ducan sementara Sella bingung karena tidak bisa pergi ke rumah Sena lagi.
Sella mondar mandir di ruang tamu sambil menggigit kuku jari jempolnya dengan panik. Saudara sepupunya sudah bekerja sekarang sehingga dirinya tidak punya kesempatan untuk berkunjung, telepon pun dimatikan tidak seperti biasanya, keluarga Sena? Bahkan keluarganya pun tidak bisa menghubungi sepupunya lagi.
Langkah apa yang harus dilakukan Sella supaya bisa datang ke rumah itu lagi?
"Gara-gara sekretaris sialan itu, aku jadi tidak punya kesempatan lagi datang ke rumah Emrick. Menikah siri? Hah! Apa bagusnya menikah siri? Hamil? Wanita itu pasti mengancam kakak ipar untuk menikahinya. Aku harus melakukan sesuatu supaya bisa kembali ke rumah itu lagi."
Di ruang kerja ayah Ducan. Adrian melaporkan soal pekerjaan Ducan dan lain-lain.
Ayah Ducan mengerutkan kening lalu melempar proposal yang diajukan Ducan ke tempat sampah. "Hasil akhirnya dia hanya ingin pergi ke luar negeri dan bersenang-senang, mau sampai kapan dia bisa belajar banyak dan sungguh-sungguh mengurus perusahaan?"
Adrian hanya diam mendengarkan keluhan atasannya.
"Aku juga tidak mengerti apa yang ada di pikiran istri siri Ducan, menghancurkan barang-barang tanpa meminta maaf kepada Sena ataupun aku dan hanya merengek kepada Ducan, Ducan juga tidak mengatakan apa pun kepadaku."
"Tuan besar, tolong kontrol emosi anda. Jangan marah untuk hal seperti ini, nyonya sudah mengatasi dengan baik."
"Aku kehilangan banyak uang setelah apa yang dilakukan istri kesayangan Ducan, masukan ke akun utang anak itu. Aku ingin dia belajar membayar dan tidak mengandalkan uang keluarga atau perusahaan." Keluh ayah Ducan. "Apakah kamu bisa melihat bagaimana kekacauan yang dia buat? Sepertinya aku menyesal telah mengambil anak itu dari panti asuhan, dia sudah terkontaminasi dengan pikiran orang-orang miskin."
"Di sana mereka masih anak kecil dan tidak tahu apa pun tentang uang, yang mereka tahu hanya tidak memiliki keluarga. Tolong bersikap bijak, tuan besar."
Ayah Ducan mengangguk puas. "Inilah yang aku suka dari kamu, selalu koreksi kata-kataku yang salah dan tanpa ragu menegur sekaligus mengingatkan, berbeda dengan putra yang menjadi anak penurut supaya mengamankan posisinya sebagai pewaris."
"Anda terlalu berlebihan dalam menganalisa, tuan besar. Saya tetap sekretaris yang berusaha bekerja sebaik mungkin."
"Begitu."
Adrian hanya menunjukan senyum terbaiknya.
"Bagaimana kondisi nenek kamu? Sehat?"
"Ya, terima kasih sudah bertanya."
"Aku sudah menganggap kamu sebagai keluarga, bukan hal yang aneh bertanya."
Senyum Adrian masih belum hilang, meskipun di dalam hatinya ada perasaan kesal. Dia bertanya-tanya, tuan besar menganggap dirinya keluarga sebagai apa? Anak? Tidak mungkin pria yang memiliki harga diri tinggi dan mengagungkan darah keturunan asli, menganggap orang lain sebagai anaknya meskipun hanya sebatas lelucon.
"Apakah kamu tidak suka?" Tanya ayah Ducan tanpa menatap Adrian, matanya masih melihat dokumen lain yang diberikan Adrian.
"Saya merasa tidak pantas, anda percaya kepada saya, sudah cukup."
Tangan ayah Ducan berhenti bergerak saat akan membalik halaman dokumen lalu mengangkat kepala dan menatap lurus Adrian. "Hanya sebatas itu? Apakah kamu berusaha menjilat aku?"
"Tidak, tuan besar. Tolong, jangan salah paham."
Ayah Ducan tidak percaya. "Alasan kenapa aku benci orang miskin adalah mereka tidak tahu batasan, bermimpi hal indah tapi tidak pernah berusaha dan hanya menjilat demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka miskin karena keadaan? Aku akan tertawa.
"Mereka miskin karena jalan yang mereka pilih sendiri. Mereka malas berpikir dan melakukan usaha, jika mereka tidak miskin, mereka tidak akan menyebut diri sendiri miskin."
Adrian jadi tidak mengerti. "Apa hubungannya orang miskin dengan anak-anak panti asuhan? Anak-anak yang tinggal di sana tidak beruntung memiliki orang tua, dan pastinya bukan jalan yang mereka pilih sendiri. Meskipun anda tidak suka panti asuhan, bukan anak-anak yang tumbuh di sana."
Ayah Ducan bersandar di kursi dan menatap serius Adrian. "Kamu selalu paham dengan apa yang aku maksud, berbeda dengan Ducan yang tidak memiliki otak dan hanya merengek, investasi yang aku berikan jadi terlihat tidak berguna."
"Tuan besar."
"Pertama kali aku datang ke panti asuhan, para pengurus panti menunjukan anak-anak dan menjual cerita sedih, supaya aku memberikan sumbangan kepada mereka. Mereka bahkan tidak tahu karakter masing-masing anak.
"Tanpa mereka sadari telah membuat anak-anak panti menjadi punya sifat posesif terhadap apa yang mereka miliki, sama dengan anak lain yang tidak memiliki kasih sayang orang tua. Tidak hanya posesif, mereka juga memiliki sifat menginginkan barang milik orang lain."
Suasana kantor menjadi hening.
Adrian berusaha mengatur napas lalu tersenyum. "Tuan besar, saya memang tidak tumbuh bersama orang tua tapi saya juga sadar diri."
"Ah, senang mendengarnya."