PERINGATAN KERAS I

1050 Kata
Adrian bertanya pada ayah Ducan. "Tuan besar, tentang kekasih tuan muda yang mengacaukan barang-barang-" Ayah Ducan menggeleng singkat. "Aku tidak akan ikut campur urusan rumah tangga anak-anak, tapi... Ducan memang sudah keterlaluan, di sini aku juga rugi. Undang mereka semua untuk makan malam, aku akan memberikan peringatan keras ke mereka bertiga." "Nyonya juga kena masalah?" "Sena ceroboh karena membiarkan barang-barang berharga di tempat seperti itu tanpa adanya pengamanan, dia juga salah." Seperti yang diduga Adrian, tuam besar selalu memiliki penilaian adil. Dia membungkuk lalu keluar dari ruang kerja ayah Ducan dan memberikan konfirmasi ke kepala pelayan. Tok! Tok! Sena buka pintu dan melihat Adrian berdiri di depan pintunya, sangat mengejutkan. "Ada apa? Apakah ada masalah dengan ayah mertua?" "Nyonya dimohon berkumpul hari ini di ruang makan." Tadinya Sena ingin minta izin lagi untuk tidak makan malam di bawah karena terlalu lelah, selain itu juga tidak ingin bertemu dengan Ducan dan kekasihnya. "Nyonya?" Sena menatap curiga Adrian. "Ayah mertua?" Adrian mengangguk singkat. "Kamu juga disuruh ayah mertua?" "Tidak, saya berinisiatif melakukannya. Mengingat akhir-akhir ini anda tidak makan malam di bawah, tuan besar juga jadi tidak berselera makan di bawah." "Ayah mertua melewatkan makan malam di bawah juga?" "Beliau makan malam di kamarnya." Sena menghela napas dengan ironis. "Berarti malam ini aku tidak bisa melewatkan makan malam lagi?" "Tuan besar melewatkan makan malam di bawah tapi makan di kamar beliau, sementara anda benar-benar melewatkan makan malam. Jika tuan besar tahu hal ini, pasti akan marah besar ke para pelayan, anda tidak mau hal ini terjadi, bukan?" Sena terpaksa tidak menolaknya. Ruang makan keluarga Emrick, para pelayan meletakan berbagai macam makanan hari ini di atas meja sementara satu orang chef menjelaskan menu yang dihidangkan ke ayah Ducan. Sena seperti biasa duduk di sisi kanan ayah mertuanya sementara Ducan duduk di sisi kiri bersama Natasha yang sudah memakai gaun pesta, berbanding terbalik dengan Sena yang hanya memakai blouse berwarna cream dan rok berwarna cokelat muda. Setelah menjelaskan secara rinci, chef dan para pelayan yang menghidangkan makanan, mundur dari ruang makan. Tinggal kepala pelayan yang berjaga di dalam dan satu pelayan kepercayaan kepala pelayan. Awalnya Sena tidak terbiasa dengan rutinitas seperti ini, setelah menjalaninya, dia mulai terbiasa. Ayah Ducan yang sedang memotong steaknya, bertanya kepada Sena. "Bagaimana perkembangan pesta?" Hari ini ayah mertua makan steak lagi? Beliau cukup tua, kenapa tidak ada yang menegurnya?. Batin Sena. "Uhm, sebelumnya- apakah ayah mertua tidak apa-apa sering makan steak?" Ayah Ducan mengangkat kepala lalu menatap Sena dengan terkejut. Ducan sontak angkat kepala dan menatap Sena sementara Natasha memberikan tatapan mengejek ke Sena. Ayah Ducan tersenyum. "Terserah apa yang ayahku makan, kamu tidak perlu ikut campur! Toh semuanya dibeli dengan uang ayah sendiri, bukan uang kamu! Apakah kamu masih belum terbiasa melihat daging mahal?" Ejek Ducan ke Sena. Natasha tidak berkomentar, namun mengangguk setuju dengan pendapat Ducan. Sena menghela napas dan mengabaikan ejekan suaminya. Ducan menatap Sena dengan perasaan kesal karena diabaikan. "Apakah kamu tidak bisa belajar ikut campur urusan orang lain? Ayah makan makanan kesukaannya, itu hak dia. Kamu tidak boleh ikut campur, makanya aku tidak terlalu suka dengan wanita yang tidak bisa bergaul, pemikirannya terlalu dangkal." Sena bertanya ke ayah mertua. "Ayah, apakah perkataan saya salah? Jika saya terlalu ikut campur dengan urusan ayah- saya tidak akan bertanya lagi." Ayah Ducan menatap Sena sekilas lalu ke Ducan. "Ducan, kenapa kamu bicara seperti itu ke Sena? Kamu pasti punya alasan, bukan?" Ducan mengangguk antusias dan merasa bangga. "Tentu saja, ayah. Ayah selalu mengajarkan aku untuk tidak terlalu ikut campur dengan urusan orang lain karena membuang waktu kita. Apa yang dilakukan Sena adalah membuang waktu kita." Suasana berubah hening, ayah Ducan menunggu jawaban lain. "Hanya itu?" tanya ayah Ducan. Ducan menatap bingung ayahnya. "Ya. Memangnya ada yang lain?" Ayah Ducan melirik sekilas Natasha, menghela napas lalu mengiris steaknya kembali. "Sena, apa alasan kamu bertanya seperti itu?" Sena merasa aneh, baru di kehidupan sekarang, mertuanya melakukan hal seperti ini. "Saya- saya hanya bertanya." Ducan tertawa. "Bertanya? Apakah kamu hanya suka menanyakan hidup orang lain?" "Ada alasan lain, Sena?" Sena menunduk dan meremas roknya dengan kedua tangan, dia merasa gugup sekaligus menyesal karena bersedia makan malam. "Saya hanya spontan bertanya karena melihat ayah mertua selalu makan steak, padahal ayah sudah tua dan harus menjaga kesehatan." "Kamu pura-pura peduli 'kan?" Tanya Ducan ke Sena. Sena menatap ayah mertuanya. "Maaf, jika saya terkesan menyinggung ayah mertua." Ayah Ducan menggeleng. "Tidak, kamu benar. Aku tidak boleh makan makanan berlemak terlalu banyak, namun aku suka sekali makan steak, terutama sensasi saat kita memotong daging. Seolah kita sedang memotong suatu hal yang mengesalkan." "Apakah ada hal yang membuat ayah kesal?" Tanya Ducan. Ayah Ducan melirik tajam putranya lalu mengelap mulut dengan napkin. "Ah, aku jadi tidak nafsu makan karena ulah anak yang terlalu ikut campur urusan orang lain!" Ducan terkejut dengan reaksi ayahnya. "Ayah, sebagai anak tentu saja aku bertanya dan khawatir. Kenapa ayah malah marah dan-" "Jika kamu bisa memakai otak, tentu paham dengan semua yang aku katakan dan memilah mana yang bisa ditanya dan mana yang tidak," kata ayah Ducan. "Selanjutnya, aku tidak ingin mendengar berita mengenai kelakuan selingkuhan kamu, Ducan." Kedua mata Ducan mengerjap bingung lalu menoleh ke Natasha sekilas. "Apakah ayah bertanya mengenai barang-barang yang dihancurkan Natasha? Aku minta maaf, ayah. Aku akan mengganti semua kerugian yang ayah keluarkan." "Bagus, jika kamu sudah mengerti. Semua sudah ditaruh ke akun hutang kamu. Besok pagi, Adrian mengirim semua kerugian yang sudah diserahkan Sena dan kamu bisa mencicilnya dengan gaji, setiap bulan. Adrian juga akan membahasnya dengan departemen keuangan setelah mendapat persetujuan dari kamu." Mulut Ducan menganga lebar. Ayahnya ternyata sangat serius, tahu gitu dia tidak akan mengucapkan hal yang berbahaya seperti mengganti kerugian. Berapa banyak uang yang harus dia ganti? Ayah Ducan juga memberikan peringatan keras ke Ducan dan Natasha. "Jangan pernah berusaha mengacaukan pestaku demi keinginan pribadi kalian! Sena sudah aku serahkan untuk mengatasinya, jangan ganggu dia!" Natasha menjelaskan ke ayah Ducan. "Tuan besar, saya tidak sengaja menghancurkannya. Sepupu Sena justru yang mengarahkan pertengkaran kami ke barang-barang berharga itu. Kenapa harus Ducan dan saya yang menggantinya?" Ayah Ducan mengerutkan kening. "Kamu juga menggantinya? Apakah kamu sedang bermimpi sekarang? Sena adalah istri sah Ducan, jadi uang yang dimiliki putraku adalah milik menantuku, bukan orang lain." Natasha terdiam. Rupanya ayah Ducan masih tidak bisa menerima kehadirannya, meskipun sudah memiliki anak yang masih di dalam kandungan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN