PERINGATAN KERAS II

1007 Kata
"Sena, kamu juga salah karena tidak meletakan petugas keamanan di tempat seperti itu, sehingga membuat dua ekor kecoak menghancurkan barang-barangku." Tegur ayah Ducan ke Sena. Sena mengangguk paham. "Iya, ayah. Minta maaf saja tidak cukup, tapi saya tidak punya cukup banyak uang untuk menggantinya." "Kenapa kamu harus menggantinya? Bukankah kamu punya suami?" Kedua mata Ducan terbelalak lalu menjerit kecil. "Ayah!" "Ducan, kamu bisa menanggung beban Natasha tapi tidak bisa menanggung Sena? Padahal yang membuat kerugian adalah Sena. Apa yang kamu pikirkan?" Tanya ayah Ducan. Ducan terdiam. "Kamu menanggung kerugian sesuka hati, apakah kamu masih belum paham arti dari tanggung jawab?" Ducan tidak berani membalas perkataan ayahnya. "Lebih baik aku makan di kamar, daripada melihat orang bodoh yang menyakitkan mata." Ayah Ducan memutuskan membawa makanan ke dalam kamar karena tidak terlalu mood makan di ruang makan dan diinstruksikan ke kepala pelayan. Kepala pelayan menyuruh pelayan membersihkan meja ayah Ducan sementara dirinya membantu dorong kursi roda tuannya. Pelayan yang membereskan peralatan makan menjelaskan pada Sena setelah Ducan dan Natasha juga masuk ke dalam kamar setelah mendapat peringatan keras. "Nyonya." "Ya?" "Ini pesan dari kepala pelayan, katanya tuan besar jika mengalami stres pasti selalu makan steak, dan karena sudah berumur, dokter jadi membatasi makanan beliau dan chef mengakali makanan yang sesuai." Sena melihat piring ayah mertuanya di atas kereta dorong makan, dia baru menyadari sekarang- steak yang dipotong ayah mertua kecil-kecil, lebih kecil dari potongan yang biasa. Ternyata dipotong bukan karena selera, tapi lebih ke emosional. Sena tersenyum. "Sampaikan pesanku ke kepala pelayan, terima kasih banyak, aku akan mengingatnya." Pelayan membungkuk rendah lalu pergi bersama kereta dorong makanan. Sena menghela napas dan menghabiskan makanannya. ------------- "Orang kaya lama tidak akan pernah menunjukan emosi di depan umum, bagi mereka, marah ataupun menangis di depan umum merupakan hal yang memalukan dan tidak sesuai dengan citra. Mereka juga khawatir hal itu mempengaruhi citra perusahaan mereka. Lebih sederhananya seperti pemilik restoran membuat kesalahan terhadap pelanggan setianya, lalu diunggah ke media sosial dan netizen marah lalu menyebar luaskan bahwa restoran tersebut tidak worth it untuk mereka. "Sama halnya dengan perusahaan, mereka pasti membutuhkan investor dan kita tidak tahu apa saja syarat mereka untuk meletakan uangnya di tempat kita. Jadi, secara turun temurun keluarga Emrick selalu menjaga sikapnya, entah kenapa tuan muda sekarang bersikap sebaliknya." Sena mendengarkan penjelasan dari Adrian di taman, keesokan harinya di sore hari setelah menceritakan masalah semalam. "Tuan besar hanya anak tunggal, tidak punya siapa pun untuk berbagi keluhan. Beliau tidak akan pernah percaya pada siapa pun, maka dari itu, di saat marah atau pikiran kusut, beliau pilih makan steak." "Begitu ya." Sena mengangguk paham. "Aku salah karena terlalu ikut campur urusan ayah, seharusnya aku tidak bertanya seperti itu." Adrian menuang teh untuk Sena lalu meletakkannya di meja Sena. "Nyonya, kenapa anda tidak bertanya kenapa tuan besar marah kepada tuan muda?" Sena meminum teh yang masih hangat. "Hm?" "Apakah nyonya tidak penasaran, jawaban yang saya berikan?" Sena tersenyum kecil lalu menggeleng singkat. "Tidak, aku sudah paham apa yang dimaksud ayah. Kita memang tidak boleh ikut campur urusan orang lain, namun jika hal itu untuk peduli terhadap orang yang lebih tua, keluarga ataupun teman, tidak akan ada masalah. Lalu Ducan terlalu jelas menunjukan tidak bisa membedakannya dengan baik saat mempertanyakan mood ayah, tidak semua orang mau menerima pertanyaan itu." Adrian terpana dengan jawaban Sena lalu tersenyum. "Anda memang cerdas." Sena menggeleng lemah. "Aku tidak cerdas, buktinya tidak bisa melawan keinginan orang tua ataupun suami sendiri. Aku hanya sedikit peka tentang hal ini." "Ah, begitu." Angguk Adrian. "Manusia dilahirkan memiliki emosi, aku bisa mengerti perasaan ayah." Sena mengingat semua masa lalu kelamnya sebelum hidup kembali. "Di masa lalu aku terlalu emosional dan tidak bisa mengontrolnya dengan baik, ayah sangat hebat." Adrian ingin mengatakan sesuatu lalu terdiam ketika mata Sena mengamati taman dengan memasang senyum cantik. Tanpa sadar, Adrian bergumam kecil. "Sayang sekali." "Hm?" Sena menoleh ke Adrian. Adrian tersenyum. "Tidak." Sena kembali menikmati teh buatan Adrian, Adrian melakukan hal yang sama. Sayang sekali, wanita secantik dia menikah dengan Ducan. Batin Adrian. Pagi hari, Adrian sedikit membantu kekacauan yang dibuat Natasha dan Sella dengan mengganti barang-barang yang dibutuhkan Sena. Sena berkacak pinggang. "Aku sudah bilang ke ayah mertua, tidak perlu melakukan hal ini. Aku tidak ingin merepotkan beliau." Di pagi hari, Sena dikejutkan dengan banyaknya peti barang yang datang. Rupanya sekitar jam empat pagi, barang-barang itu tiba ke rumah dan dibantu dengan para pelayan shift malam. "Bukan anda yang mengacaukannya, jadi tuan besar tidak akan mempermasalahkannya selama anda menerima kebaikan beliau." Sena menghela napas, lalu tanpa sengaja melihat Ducan yang sedang menatap dirinya sambil menuruni tangga bersama Natasha. Natasha melihat peti besar berjejer dan menghitungnya di dalam hati. "Ada lima puluh peti, untuk apa? Apakah ini hadiah ayah untuk kamu, sayang?" Ducan tidak menjawab dan hanya menatap lurus Sena lalu melihat sekretaris ayahnya di samping Sena. "Apakah pekerjaan sekretaris memang harus datang di pagi hari?" "Saya selalu datang pagi untuk menjemput tuan besar." Jawab Adrian. Ducan tersenyum sinis. "Di masa depan, saat bisnis keluarga Emrick sudah jatuh ke tangan aku- aku pastikan kamu tidak perlu susah payah seperti ini. Aku akan mengingat kebaikan kamu." Sena mengerutkan kening dan bicara di dalam hati. Apakah Ducan berniat mengusir Adrian? Jika Ducan bisa mengusir sekretaris handal ayahnya, itu berarti dia juga bisa mengusir dirinya. Sena harus bertindak hati-hati terhadap Ducan. "Aku tidak akan mengganggu keintiman kalian berdua, silahkan dilanjut." Ducan berjalan melewati Sena dengan diikuti Natasha. Sena tertawa miris setelah Ducan keluar dari rumah. "Apa maksud perkataannya itu? Padahal yang menegur dia adalah ayah. Menuduh aku selingkuh dengan sekretaris ayah? Dia memang gila!" "Abaikan saja perkataan tuan muda." Sahut Adrian. Sena menatap Adrian. "Kamu tidak marah dengan perkataannya? Dia jelas-jelas menghina kamu, kalau aku tidak masalah karena sudah terbiasa menghadapi orang gila seperti dia." "Nyonya, tuan muda tidak bisa melampiaskan kemarahannya setelah ditegur tuan besar. Jadi dia melampiaskannya kepada kita, anda tidak perlu memikirkan perkataan yang tidak penting, sebentar lagi anda harus berangkat kerja, jadi selesaikan yang di sini dulu." Sena menghela napas lalu menuruti nasehat Adrian. "Kamu benar, tidak seharusnya aku terpancing perkataan dia. Maafkan aku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN