Natasha tidak suka melihat pekerjaan Sena sukses, disaat mengantarkan Ducan berangkat kerja di pagi hari, dia memikirkan cara untuk menghancurkannya.
Lalu dia teringat dengan Sella.
Natasha bertanya pada Ducan. "Sayang, aku boleh pinjam handphone kamu?"
Ducan mengabaikan pertanyaan Natasha dan langsung masuk ke dalam mobil begitu sopir membuka pintu untuk dirinya.
Natasha terkejut dengan sikap Ducan dan ingin marah tapi tidak bisa melampiaskannya.
Natasha yakin, sikap dingin Ducan karena ulah si Sena sialan itu. Dia harus cepat-cepat mencari orang itu dan kerja sama. Masalahnya bagaimana dia bisa menghubungi orang itu?
Tiba-tiba Natasha teringat cerita Ducan mengenai Sena yang berusaha melukai dirinya lalu pingsan dan pelayan menghubungi sepupu Sena untuk bantu merawat Sena.
Natasha pergi mencari kepala pelayan setelah Sena, ayah Ducan dan sekretarisnya sudah berangkat kerja.
Natasha melihat kepala pelayan sedang di dapur, memberikan arahan ke chef dan pelayan lain. Setelah selesai, Natasha bergegas menemui kepala pelayan.
Kepala pelayan terkejut ketika jalannya dihalangi Natasha. "Oh, ada yang bisa saya bantu?"
"Apakah kamu punya nomor telepon sepupu Sena yang waktu itu datang?"
"Untuk apa?" Tanya kepala pelayan dengan tatapan curiga.
Natasha ingin menjawab kepala pelayan tidak perlu ikut campur tapi, jika dia melakukan itu bukankah akan menimbulkan kecurigaan lain?
"Aku ingin minta maaf padanya."
"Minta maaf?"
"Ducan memarahi aku habis-habisan semalam dan menyuruh aku minta maaf kepada dia, Ducan takut ayahnya semakin marah dan salah paham."
Kepala pelayan menatap tidak percaya Natasha. "Nona, anda bisa tanyakan ke nyonya mengenai hal ini. Saya tidak berhak memberikan telepon ke nona."
"Sena membenciku, kamu lihat sendiri kemarin dia diam karena aku mengacaukan rencananya. Aku hanya ingin bertemu sepupu Sena supaya kami bisa minta maaf bersamaan."
Kepala pelayan menghela napas. "Saya info ke nyonya dulu, saya tidak mau kejadian sebelumnya terulang kembali."
Natasha menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan. "Apakah dia pemilik rumah ini sehingga kamu harus selalu minta izin? Dia hanya wanita yang dijual keluarganya untuk masuk ke keluarga kaya. Kenapa aku harus menunggu izin darinya?"
Kepala pelayan menjawab dengan tenang. "Nyonya adalah menantu rumah ini, jika tuan besar dan tuan muda tidak ada, nyonya yang berkuasa. Meskipun anda dibawa ke rumah ini sebagai teman tempat tidur tuan muda, tetap nyonya lebih berkuasa dari anda."
Senyum Natasha hilang, digantikan dengan perasaan jengkel. "Tidak perlu, aku jadi tidak mood. Kebaikan hatiku jadi sia-sia."
Kepala pelayan menaikan dua alis lalu berjalan melewati Natasha.
Natasha menatap punggung kepala pelayan dengan jengkel. "Sekarang apa yang harus aku lakukan?" gumamnya.
Salah satu pelayan berjalan mendekati Natasha. "Nona."
Natasha balik badan dan mengerutkan kening begitu mencium bau rempah-rempah muncul dari pelayan.
"Saya punya nomor handphone sepupu nyonya besar."
Kedua mata Natasha berbinar. "Kamu punya? Bisa berikan padaku?"
"Saya akan memberikannya jika anda berikan saya uang."
"Apa? Kamu ingin menjual nomor itu?"
"Tidak, saya ingin membantu anda tapi saya juga butuh uang. Apakah anda mau?"
Natasha merenung sebentar lalu setuju. "Baik, aku akan berikan uang. Ikut aku ke kamar."
Pelayan menatap khawatir dapur lalu menggeleng dan memberikan nomor handphonenya ke Natasha di secarik kertas bon belanja yang tidak terpakai. "Anda hubungi saya di sini, saya akan memberikannya jika anda mengirim uangnya ke saya. Tapi tolong jangan beritahu ke siapa pun mengenai hal ini, saya ingin kerja."
"Oke, baik." Natasha menyeringai.
Pelayan itu kembali ke dapur.
Natasha melihat nomor di secarik kertas yang diberikan pelayan. "Ternyata Tuhan masih sayang aku."
------------
Siang hari, Natasha mengundang Sella ke kafe di tengah kota, dekat dengan rumah sakit kandungan supaya tidak menimbulkan curiga.
Sella duduk berhadapan dengan Natasha dan memesan makanan serta minuman termahal di kafe itu.
Raut wajah Natasha berubah masam. Sejak tidak diizinkan kerja dan bisa tinggal di kediaman Emrick, Natasha tidak mendapat uang banyak, Ducan pun hanya memberikan uang sedikit, tidak sebanyak sebelumnya.
Natasha harus merelakan sebagian uangnya supaya Sella bisa diajak kerja sama dengan baik.
"Ada apa? Kenapa kamu berani mengajakku? Apakah kamu tidak takut aku menyakiti kamu?" Tanya Sella.
"Aku tahu kamu pernah tidur dengan Ducan."
Sella tertawa mengejek.
"Aku tidak peduli, pada kenyataannya aku juga selingkuh dengan Ducan. Sekarang kita dicap jelek oleh banyak orang."
"Lalu?"
"Aku ingin mengajak kamu gencatan senjata dan kerja sama."
"Kerja sama?"
"Kerja sama menghancurkan Sena. Apakah kamu tidak tertarik?"
"Berani sekali kamu mengajak aku kerja sama, padahal aku sepupunya."
"Aku ingin Sena jatuh, tidak peduli aku atau kamu yang nantinya menjadi istri sah- bisa dibicarakan nanti."
"Bagaimana dengan anak kamu?" Tanya Sella sambil melirik perutnya yang masih rata.
Natasha membelai perutnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Tidak masalah selama aku mendapatkan banyak uang, kita bisa kerja sama. Aku juga sudah menyerah mengenai masalah pewaris."
Sebenarnya itu hanya kebohongan Natasha, dia masih berharap anaknya menjadi penerus Ducan.
Sella memikirkannya lalu mengangguk. "Oke, aku setuju. Kita kerja sama, aku juga malas melihat wanita pengganggu dan jelek di samping kakak ipar."
"Benarkah?" Tanya Natasha dengan mata berbinar dan tersenyum bahagia. Sella adalah sepupu Sena, dia pasti paham semua kelemahan saudara sepupunya dengan baik. "Apa yang akan kamu lakukan?"
Sella menjentikkan jari seolah yang dilakukannya itu mudah. "Aku hanya perlu menghancurkan nama baiknya, sebentar lagi pesta ulang tahun ayah mertua kakak sepupu. Kamu pasti ingin menggantikannya, bukan?"
Natasha mengangguk antusias, ingin menunjukkan pada Ducan dan ayahnya bahwa dia mampu menjadi pendamping sekaligus ibu dari seorang pewaris, namun dia tidak berani mengutarakannya di depan Sella.
"Sebentar lagi kamu bisa lihat sendiri, kejutan yang aku berikan tapi, kamu harus benar-benar berjanji untuk bisa kerja sama dengan baik." Sella mengeluarkan buku agenda dan mendorongnya ke arah Natasha. "Tulis surat perjanjian bahwa kamu tidak akan berkhianat."
Natasha menerimanya dengan senang hati. "Akan aku lakukan, tenang saja."
Sella tersenyum puas, Natasha sudah masuk ke dalam perangkapnya.
Pelayan yang memberikan nomor teleponnya ke Natasha adalah mata-mata Sella, dia tahu dengan pasti seekor pelakor ingin menghancurkan kedudukan istri sah dengan berbagai cara, termasuk menghubungi sepupu istri sah sendiri.
Orang serakah selalu terperangkap dengan jebakan yang dia buat sendiri, tidak peduli seberapa tinggi dia hebat.
Yah, dimulai dengan memesan menu mahal saat dia memiliki uang terbatas, lalu pelan-pelan aku menghancurkan semuanya. Batin Sella sambil minum jus dengan puas karena dirinya sangat cerdas dan mampu menginjak orang-orang macam Natasha.