Jurig 1 - Pipisku Mau Keluar!
“ADUUUH. Ini berapa lama lagi baru sampai, Aa? Tos bade kaborosotan!” (Udah mau bocor!) Gala menjerit sekuat tenaga. Dia sedari tadi mencari posisi nyaman di jok kala motor melaju melewati lapangan kuburan yang luas.
“Ini udah mau sampai, A. Tunggu sebentar.” Dahi pengendara itu berkerut mencari-cari titik lokasi di ponselnya, sebelum menoleh dan berkata, “Maaf, ya. Baru daftar jadi ojol beberapa hari ini.”
Gala berdecak geram setengah mati. Namun, seorang bocah di depan kuburan memberi jeda sejenak. Wajah pucatnya menatap Gala intens, tapi cowok itu tak lagi peduli. Dia tak kuasa menahan sesuatu yang mendesak di ujung sana, apalagi sejumlah lubang bertebaran yang mengempaskan motor membuatnya nyaris mati suri.
“Lalaunan, A!” (Pelan-pelan, A!) Gala berteriak kencang. “Allahu Akbar! Pipisku mau keluar! Cari minimarket terdekaaat!”
Begitulah, Gala menghabiskan setengah hari memutari jalan yang sama. Bahkan dia sudah tak punya tenaga menggulirkan bola mata yang sudah terbalik ke atas di sepanjang jalan.
“A, ini ada GoMart. Emang mau ngapa--”
“Mau fashion show!” Dengkusan kesal terdengar kala Gala meloncat turun dan menghambur ke dalam minimarket yang memiliki paduan warna merah-hijau-kuning. “Ya pipis, lah! Mau apa lagi?” tanyanya dengan suara mau menangis.
***
“Hatur nuhun!” ujar Gala ketus. Cowok itu merengut saat berdiri di belakang tantenya. Mereka baru sampai ke tujuan kala matahari nyaris di atas kepala.
“Gala, kenapa kayak gitu bicaranya?” Dicolek lengan Gala sembunyi-sembunyi, merasa tak enak terhadap ojol yang sepertinya kesulitan mengantar Gala ke sini. Terik mentari menjelang siang pasti menimbulkan gerah selama perjalanan.
“Gara-gara aa ini, anuku masih ngeganjel padahal udah setor tadi di GoMart.” Gala memancangkan tatapan menilai.
Lilis menggeleng-geleng tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan dari bibir keponakannya. “Makasih udah nganter ponakan Ibu kemari, ya, Jang (Nak dalam bahasa Sunda).”
“Sawangsulna, Bu.” (Sama-sama, Bu.) Kekehan rikuh terdengar. “Kalau begitu saya izin pamit dulu, ya.”
Lilis tersenyum memandangi kepergian sopir ojol tersebut. “Ya udah. Gala, masuk, yuk!” Wanita itu mengelus perutnya yang membesar sembari menuntun Gala ke dalam.
Gala masih menganjurkan bibir ke depan ketika dua cangkir teh hangat dan biskuit terhidang di meja. Lilis hanya bisa menarik kedua sudut bibir mengamati tingkah keponakannya.
“Jadi,” Lilis menarik napas panjang sembari duduk di samping Bayu, bocah yang merupakan anak sulungnya, “Alo (panggilan untuk keponakan) beneran masuk SMANSATAS? Katanya kudu lihat nilai UN SMP, rapor, sama ujian harian, ‘kan? Pinter pisan kamu.”
Pujian Lilis membuat Gala selintas melupakan kejadian menyebalkan tadi. Cowok itu teringat masa-masa ujiannya. Bisa dibilang, dia paling lemah di pelajaran Matematika. Ada empat puluh soal, tapi yang mampu dikerjakan bisa dihitung satu tangan. Sisanya baca Al-Fatihah, kalau tidak, menghitung kancing baju.
Alhasil, bermodalkan paha yang indah, Gala menulis sontekan kala UN Matematika berlangsung. Sialnya, dia tetap tak menemukan jawaban. Berteriak putus asa seperti sakit jiwa hanya membuat orang menatap kasihan, jadi Gala bergaya sok bahagia ketika keluar kelas melewati lautan manusia. Biar dikira pintar, padahal aslinya jeblok.
“Ah, nggak sepinter itu, kok, Bi.” Gala mengambil biskuit dari piring. Mencelupkan beberapa kali ke teh dan memakannya. “Kalau tentang Matematika, aku cuma bisa cap-cip-cup kembang kempes.”
“Kamu terlalu merendah.” Bibir Lilis merekah. “Bayu, kamu juga harus kayak mamangmu ini. Pinter. Nggak boleh males terus, ya?”
Bocah yang sedang menghabiskan biskuit mengangguk pelan.
Gala berdiri, mencubitnya gemas. “Aduh, imut banget, sih. Pengin Mang cekek.”
Tiba-tiba, raut wajah Bayu berubah, membuat Gala sendiri menjadi salah tingkah. “Ibu, pulang, yuk. Bayu tiba-tiba merinding.” Ekspresinya berubah. Bocah itu menepuk tangan menyingkirkan remah yang menempel dan berjalan menduduki anak tangga.
“Kunaon?” (Kenapa?) “Ada jurig di sini?” Lilis mengerutkan alis.
Gala nyaris tersedak biskuitnya. “E-eh? Maksudnya gimana? Aku bukan hantu.” Senyum cowok itu melebar canggung menampakkan deretan giginya.
Lilis tertawa. “Bukan kamu, tapi Bayu emang dari dulu udah bisa ngerasain keberadaan makhluk halus.”
Gala hanya bisa membuka mulutnya sedikit.
Wanita itu menghela napas. “Bibi terpaksa pergi. Nggak papa, ‘kan? Mending pergi dulu sebelum Bayu ngelihat mereka, bisa repot nanti. Ya?” Ia manggut-manggut penuh maksud dan bergerak keluar.
Gala kebingungan. “O-oke, Bi. Nggak papa. Mangga.”
Ada sesuatu mengaduk perut, tapi ditahannya segera agar tak naik ke atas. Bulu kuduknya meremang. “Oleh-oleh gimana, Bi? Truk yang ngangkut barang Gala belum dateng. Nggak mau sekalian?” Dia mengeluarkan jurus terakhir untuk menahan Lilis pergi.
“Nggak usah, nggak masalah, kok.” Lilis bersiap membawa barang-barangnya pulang.
***
Gala menyusul mereka ke bawah dan berhenti di ambang pintu. “Kapan baru balik, Bi? Kosnya sepi banget. Cuma aku sendiri di sini satu bulan sebelum masuk sekolah,” gerutunya.
Debas terdengar. “Kamu sendiri, ‘kan, tahu rumah Bibi ada di Ciamis, deket rumahmu.” Lilis mengelus punggung Gala sejenak.
Gala memasang tampang memelas.
“Nggak usah khawatir. Secepatnya, deh, Bibi kembali. Oh iya, jangan lupa telepon bapakmu; bilang kalau kamu udah sampe ke sini, ya. Bibi pamit dulu. Yuk, Bayu.” Wanita itu menggamit Bayu, memberi kode untuk berpamitan pada Gala.
“Pergi dulu, Mang.”
Gala melambai singkat dengan kecewa, dia memandangi punggung Lilis yang semakin kecil termakan jarak. Ketika dirasa cukup jauh, dia seketika masuk ke dalam indekos dan berlari ke sana-kemari. Membanting kepala ke dinding beberapa kali dan meringkuk di pojokan. Wajahnya berkeringat dingin.
“Kenapa ninggalin orang abis ngomong ada hantu, Biii! Jahat amaaat!” Gala mengacak rambutnya tak peduli modelnya akan berantakan. Dia kemudian merosotkan tubuh di depan pintu indekos sambil mengeluarkan ponsel dari saku.
Gala menutup matanya. “Aku kan jadi takut. Gimana tidurnya nanti? Tega amat, sih, si--astagfirullah! Anak siapa kamu?” Gala terperanjat ketika membuka mata dan mendapati kepala tuyul, eh, bocah berada di depan pandangan. “Untung nggak refleks nabok.”
“Aku nggak tahu Mamah ada di mana.” Bocah itu tampak sedih. “Aku boleh masuk sini nggak, A? Takut diculik.”
“Nanti Aa malah dituduh penculikan anak gimana? Cari korban lain aja, sana.” Gala mengibas-ngibas tangannya.
“Aa takut hantu, ‘kan?”
Gala terbelalak mendengar pertanyaan itu. “Tahu dari mana?”
“Tadi Aa teriak-teriak kayak habis keguguran,” jawabnya datar. “Aku indigo, bisa ngerasain keberadaan mereka. Jadi, biarin aku masuk dan aku bakal jagain Aa sementara sambil nungguin mamahku datang. Aa setuju?”
Yang bocil siapa, yang dijagain siapa? Gala mengomel dalam hati. Namun, matanya bergerak ke kanan seiring ide melintas di kepala. “Ya udah, deh. Tapi, pas mamahmu dateng, kamu harus jelasin kalau Aa nggak ngapa-ngapain kamu. Ngartos?” (Paham?)
Bocah itu mengangguk.
“Namamu siapa?”
“Wira.”
Gala memicingkan netra cokelatnya. Dia mengelus dagu dengan telunjuk dan ibu jari. “Kayaknya kita pernah ketemu, deh. Di kuburan tadi pagi? Kamu liatin Aa kayak tatapan kanibal itu, ‘kan? Kamu ditinggalin di sana, toh?”
Lagi-lagi Wira mengangguk lirih. “Aa boleh SMS ke nomor Mamah?” Bocah itu menatap benda persegi di genggaman Gala.
“Oh, boleh, boleh. Berapa nomornya?”
Wira menyebutkan deretan nomor yang langsung diketik Gala untuk disimpan ke kontak. Cowok itu kemudian mengirim pesan kepada penerima bahwa Wira bersamanya. Dia tak lupa menyertakan alamat dan namanya sendiri.
Selamat siang, Bu. Namaku Gala.
Anak Ibu yang namanya Wira lagi sama aku. Katanya ditinggalin. Miris amat hidupnya, hehe. Kalau masih mau anaknya, dateng ke Kos Amorasa aja, ya, Bu. Terima kasih.
“Udah.” Layar ponsel Gala pun menggelap. “Kok bisa sampe anak sendiri dilupain, ya? Nggak habis pikir.”
Wira mengedikkan bahu. “Nah, sambil nunggu Mamah, kita main dulu, yuk, A!” Tak disangka-sangka, Wira mendadak merebut ponsel Gala. Dia pun berlari ke dalam rumah sambil cekikikan.
“Eh, tunggu! Balikin HP-ku!” Gala bangkit dan mengejar.[]