Kayla menceritakan kisah hiduonya sampau suaranya bergetar dan menitikkan air mata. Kayla menceritakan semua perbuatan Rian tentang perselingkuhannya, kebohongannya dan terjebak di dunia prostitusi karena ulah adik iparnya, Renata.
Kayla tidak perduli. Apakah Hakam percaya atau tidak denganya. Dia menceritakan semuanya dengan menitikkan air mata, dan meluapkan semua kepenatan hatinya.
Hakam menyerahkan tisu pada perempuan itu, dia merasa iba dengan apa yang di alami Kayla, "Apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Hakam sambil memainkan kuasnya.
"Menjadi orang sukses dan kaya." Kayla tertawa getir. "Dengan begitu aku bisa membalas mereka." Balas Kayla sambil menghisap air matanya di pipi.
"Kalau begitu berusaha lah dengan keras, Kayla."
Mungkin akan butuh ribuan hari bahkan belasan tahun untuk membalas sakit hatinya itu pada keluarga Rian. Tapi, Kayla tidak menyerah, dia akan lakukan apapun itu demi kebahagiannya dan anaknya.
****
"Gisel, setelah kamu menikah dengan Rian, aku harap kamu tidak tinggal di rumahku." Tegas Galaksi saat berada di ruang keluarga. Saat ini ia sedang berkunjung ke rumah peninggalan orang tuanya, dimana di huni oleh pamannya Johan dan Gisel.
Galaksi lebih memilih tinggal di Apartemennya yang lain, ia tidak ingin mengingat-ingat kenangan bersama orang tuanya dulu.
"Kok gitu sih, Gal?" Gisel mendecak kesal. "Kamu memang menyebalkan." Sungut Gisel lagi.
"Kamu tinggal saja di apartemenmu. Karena kamu sudah memiliki suami. Aku juga tidak akan memberimu lagi uang jajan bulanan." Ujar Galaksi, karena selama ini ia juga yang membiayayi kehidupan Gisel.
"Galaksi, ih...." rengek Gisel di samping papanya itu.
"Papa juga setuju. Biar Rian bisa menunjukan tanggung jawabnya dan bersemangat untuk bekerja. Kalau dia serius, dia pasti akan bertahan denganmu." Jelas Johan.
"Kenapa papa jadi ikut-ikutan Galaksi, sih?"
"Calon suamimu perlu di uji, Gisel" Galaksi menatap tajam pada sepupunya itu. "Kalau perlu di uji sekarang."
"Tidak bisa, aku memgandung anaknya." Ungkap Gisel dengan kesal.
"Apa?" Johan mendelik, ia kaget dengan ungkapan sang anak semata wayangnya.
"Aku hamil, pa. Cucumu." Tegas Gisel lagi.
"Ya Tuhan, bahkan Rian belum resmi bercerai, Gisel." Johan marah, namun semua telah terjadi.
"Laki-laki kan boleh memiliki istri lebih dari satu." Jawab Gisel santai.
Galaksi tidak perduli dengan perdebatan keluarga itu, ia leboh memilih meninggalkan anak dan ayah itu. Ia menaiki motornya dan menggunakan helm dan menujj ke kos Kayla. Alamat yang ia dapat dari Niko. Jalan menuju kos Kayla sangatlah sempit, terlihat bangunan kos-kosan yang kecil dan pintu terbuat dari kayu yang hampir kropos. Galaksi mengetuk pintunya, namun tak ada jawaban.
"Kamu pasti pelanggan Kayla?" Tanya seorang ibu yang melintas dan melihat Galaksi berada di hadapan pintu kos bekas Kayla.
"Pelanggan? Maksudnya apa?" Tanya Galaksi tidak mengerti.
"Jangan pura-pura tidak tahu, Kayla kan wanita panggilan. Kamu pasti butuh jasanya. Tapi sayang, dia sudah pergi."
Galaksi menatap pintu kayu itu 'Kemana Kayla pergi?' Batin Galaksi
"Kayla di usur." Ibu Naomi yang keluar dari dalam rumahnya melihat lelaki do depan pintu kos Kayla. "Kasihan sekali dia, di selingkuhi, dan di fitnah." Ujar bu Naomi, salah satu tetangga yang masih baik padanya.
"Ibu tahu kemana Kayla pindah?" Tanya Galaksi.
"Ibu tidak tahu, nak." jawan Ibu Naomi yang menatap wajah Galaksi.
Ada rasa penyesalan dalam benak Galaksi. Ingin mencari tahu kebenarannya, namun ia tidak tahu harus kemana. Ingin menghubungi Kayla, tapi nomor ponselnya pun Galaksi tak punya.
Galaksi melajukan motornya ke rumah Galvin. Sudah lama ia tak berkunjung ke rumah adik satu-satunya itu.
Ia sampai di sebuah rumah yang bernuansa bangunan lama dari kayu dengan warna yang hampir memudar. Ada beberapa pepohonan di samping rumah, dan rumput hias yang sengaja di tata rapi di samping rumah adiknya itu. Galaksi melintas dari samping rumah, biasa Galvin akan sering duduk di taman belakang.
"Hei... " sapa Galaksi saat melihat adiknya sedang melukis.
Galvin yang mendengar melihat ke arah suara dan merapikan alat lukisnya, "tumben ke sini? Kesasar ya?" tanya Galvin sambil tertawa.
"Iya, aku tersesat." Jawab Galaksi sambil melepas jaket kulit yang ia kenakan saat berkendara tadi. "Kau melukis apa?" tanya Galaksi.
Galvin menepis tangan Galaksi, ia tidak ingin hasil lukisannya yang belum jadi terlihat oleh abangnya.
"Belum jadi, jangan di sentuh."
"Lukisan cewek?" Galaksi menaikan satu alisnya dan tersenyum pada adiknya.
"Iya, bidadari tanpa sayap."
"Pasti cantik." ujar Galaksi menggoda sang adik. Akhirnya sang adik bisa membuka hatinya.
"Iya, cantik, sekaligus rapuh dan penuh luka." Jawab Galvin pelan.
"Maksudnya?"
"Sudahlah, tidak penting. Mau apa kau kemari?" tanya Galvin to the poin.
"Ayolah, cerita padaku. Apa mungkin adik tersayangku sedang jatuh cinta?" goda Galaksi kembali.
"Tidak ada rumus cinta dalam diriku. Sudahlah, kau mengganggu konsetrasiku saja." Galvin merasa terganggu dengan kehadiran abangnya. Bukan tak ingin di kunjungi, namun ia tidak ingin terlalu bergantung pada orang lain. Ia tahu hidupnya tak akan lama lagi.
"Ayolah, sampai kapan kau akan seperti? Ceritalah padaku, siapa wanita itu yang sudah meluluhkan hati adikku ini?" Galaksi tertawa dan memeluk sang adik. Ada rasa rindu yang mendalam pada adiknya, namun sang adik selalu menghindar jika di ajak tinggal bersama. Ia tahu Galvin hanya tidak ingin larut dalam kesedihan kepergian orang tuanya.