"Mati. Yang saya lihat di sini, sebentar lagi kamu akan mati."
???
"Ini bukan tempat orang pacaran." Suara Jiwa menyadarkan Echa dan Raga. Echa langsung memundurkan tubuhnya. Dia kembali duduk ke tempat asalnya. Sudah dipastikan, pipinya memerah. Untungnya ini malam, berkas merah itu jadi tersamarkan.
"Apaan, sih, lo?" Raga menatap Jiwa sinis. Jiwa terkekeh geli. Satu hal yang baru Echa ketahui, sikap dingin dan galak Raga selalu menutupi kegugupan atau salah tingkahnya.
"Wah .... Selesai, deh." Echa menggembungkan pipi sebal. Pasalnya, biang lala itu sudah berhenti dan kini giliran pengunjung lainnya.
"Kita cari yang lebih asyik." Tanpa meminta persetujuan, Jiwa menggandeng tangan Echa. Menuntun gadis itu keluar dari biang lala.
"Mau yang mana?" tanya Jiwa mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mata Echa juga ikut meneliti setiap inci pasar malam itu. Tidak ada yang berhasil menarik perhatiannya. Saat dia berbalik, matanya langsung disuguhi sebuah wahana rumah sakit hantu.
"Ke situ, yuk, Ji?" Mata Echa berbinar sambil menunjuk rumah sakit hantu yang di depannya banyak sekali orang mengantre.
"Emang lo berani?" Raga yang sudah gatal ingin bicara karena sedari tadi menjadi kambing congek itu akhirnya buka suara. Setahunya, Echa penakut.
"Beranilah!"
"Masa?"
"Jangan ngeremehin Echa! Kita liat aja nanti!" Echa berkacak pingang. Menarik lengan Jiwa menuju rumah sakit hantu itu.
"Gue nggak digandeng?" gumaman Raga terdengar jelas di kuping Echa. Tanpa mengulur waktu, Echa menggenggam tangan hangat milik Raga dan menariknya pelan. Ada yang aneh dalam diri Echa saat menggenggam tangan itu. Rasanya, sesuatu yang hilang dalam hidupnya bertahun-tahun yang lalu telah kembali. Rasa hangat yang sama, pada orang yang ... entah sama atau berbeda.
Sekitar dua puluh menit mereka mengantre. Yang jelas, Jiwa dan Raga sudah membujuk Echa agar memilih wahana lain. Mereka takut nanti Echa pingsan di dalam. Namun, sifat kekanakan dan keras kepalanya keluar. Raga dan Jiwa menyerah. Suara teriakan orang-orang dari dalam sana juga tidak berhasil membuat Echa mengurungkan niat baiknya.
Akhirnya, tibalah saat Echa, Jiwa, Raga, dan tiga pengunjung lainnya dipersilakan masuk.
Saat menginjakkan kaki ke dalam, yang pertama kali terlihat hanya dinding-dinding hitam dan kain putih yang ada di tembok. Pencahayaannya remang-remang. Hal itu membuat Echa menggenggam tangan kiri Raga dan tangan kanan Jiwa. Posisinya, Echa berada di tengah-tengah kedua lelaki itu. Raga di sebelah kanannya dan Jiwa di sebelah kirinya.
Sepuluh langkah kemudian, mulai terdengar suara-suara menyeramkan, tangisan, rintihan, pekikan, orang tertawa, dan lolongan serigala. Echa menatap Raga sekilas. Mata laki-laki itu sekarang menyorot ke depan dengan dingin dan tajam, entah karena apa. Dan Jiwa, lelaki satu itu terlihat biasa saja.
Raga nggak takut, 'kan?
Mereka masuk lebih dalam lagi. Terlihat robot-robot hantu yang berpakaian seperti perawat, doktor, pasien, petugas kebersihan, dan mayat. Mereka memang robot, tetapi bisa bergerak. Jika diperhatikan, akan tampak seperti hantu pada umumnya. Muncul sudah rasa takut Echa kepermukaan. Ditambah, lorongnya semakin sempit. Hanya cukup untuk dua orang saja. Makin dekatlah Echa dengan robot-robot menyeramkan itu.
Echa memejamkan mata erat. Entah siapa yang dia peluk dari samping. Yang jelas, dia berjalan sambil merem.
Saat dia penasaran dan mengintip, terpampanglah kuntilanak, pocong, suster ngesot, dan hantu lainnya yang berada di samping kirinya. Refleks, dia memekik.
"HUAAAAA APAAN ITU!!!! TOLONG!!!!" Echa berjingkrak-jingrak sambil mengeratkan pelukannya pada laki-laki di sebelah kanannya.
Dia kembali mengintip. Taju apa yang dia lihat? Kini bukan robot, melainkan manusia yang di make up seperti hantu sungguhan. Wajahnya sangat dekat dengan dan tepat berada di sisinya.
Echa melompat. Dia melendoti orang di sampingnya. "Huaaaa!! Echa takut!"
"Hihihihihi." Hantu jadi-jadian itu malah tertawa.
Echa bergidik. Makin erat pegangannya. Orang yang dilendoti kewalahan. "Echa tuntut kalian semua atas dasar pelecehan nama baik! Kalian malu-maluin Echa!"
"Pergi!! Huaaa tolongin Echa!!"
"Mau gue gendong aja?" Suara itu. Dia tahu, itu suara Raga.
Ini mendesak! Echa tidak bisa memikirkan hal lain. Dia mengangguk. Dalam hitungan detik, badannya melayang. Hangat. Wangi tubuh Raga menelusup ke indra penciumannya tanpa permisi. Raga menggendongnya ala bridal style. Apa ini? Batin Echa. Kenapa jantungnya berdetak dengan cepat?
Secara spontan, Echa melingkarkan tangannya di leher Raga. Menelusupkan kepalanya ke d**a Raga. "Echa takut .... Hiks .... Seremmmmm. Serem bangettt. Hiks." Bahkan, dia sampai menangis. Raga tersenyum. Jujur saja, ada seorang pegawai yang menjadi kuntilanak sempat sesak napas melihat senyum Raga. Walau remang-remang, ketampanannya tetap terlihat. Malah, bertambah. Mata wanita itu memang canggih.
"Raga buruan! Itu suara nggak bisa dikecilin apa? Keras banget gitu, pamer ketawa? Echa juga bisa .... Hihihihihihihi," Raga terkekeh geli tanpa suara. Gadis di gendongannya ini tak pernah berubah.
Sedangkan Jiwa di belakang tersenyum tipis. Ada rasa lega dalam hatinya. Adik satu-satunya bisa tersenyum lagi, bisa tertawa lagi, dan itu semua dilakukan Raga dengan tulus, bukan paksaan.
Mereka berhasil keluar dari sana. Helaan napas lega terdengar dari Echa. "Gaaaa. Tanggung jawab. Kaki Echa lemes. Raga gendong Echa sambil jalan-jalan, ya?" Echa memasang puppy eyesnya. Tidak ingin turun.
Sial.
"Lo punya kaki masih utuh, 'kan?" sewot Raga. Dia berusaha menurunkan Echa. Namun, nihil. Echa masih setia menggantung di dekapan Raga, bahkan tambah erat.
"Pleaseeeee. Hiks, kaki Echa lemes."
Oke, Raga merasa tak tega, dan tentunya dia untung banyak.
"Hm."
"Nah, gitu, dong!!" Echa memekik kesenangan.
"Ji, lo denger nggak? Tadi sebelum masuk rumah hantu itu ada yang bilang kalau dia berani, siapa takut! Gitu, lo denger nggak, sih?" Raga menatap pehuh tanya pada Jiwa.
"Denger, yang ngomong bidadari cantik," gombal Jiwa membuat pipi Echa merona.
"Bilangnya berani, tadi apaan jerit-jerit kayak mau lahiran. Pakai acara minta gendong lagi," sindir Raga.
Echa yang merasa disindir memukul d**a Raga kesal. "Raga yang nawarin!"
"Tapi lo mau!"
"Kepepet!"
"Sama aja 'kan lo mau."
"Diem, Raga!"
"Lo berani bentak gue?" Raga menatap sengit Echa.
"Nggak usah ngeledekin, deh," sungut Echa.
"Biar, wlek." Raga menjulurkan lidahnya.
"Ih, Raga nyebelin!"
"Berasa jadi kambing congek." Jiwa memainkan ponselnya.
"Apaan sih lo?! Sewot mulu." Raga menatap sinis Jiwa.
"Heh, yang sewot siapa? Ngaca!" Jiwa menodongkan ponselnya tepat di depan wajah Raga.
"Elo yang sewot! Apaan, nih, hp! Pamer banget! Gue juga punya!" Raga menatap tajam Jiwa.
"Stop! Kok malah pada berantem, sih? Kita ke sana!" Echa menunjuk sebuah tenda berwarna hitam dengan hiasan merah, tenda peramal.
"Lo percaya begituan?" tanya Jiwa mengangkat alisnya.
Echa menggeleng. "Iseng aja. Kayak pas bintang jatuh. Yuk, Ga."
Menghela napas. Dia melangkah pasti, berjalan ke tenda peramal dengan menggendong Echa. Lelaki itu terlihat biasa saja menerima tatapan aneh dari pengunjung lainnya.
Harusnya yang malu Echa.
"Turun," pinta Echa pada Raga. Tanpa banyak bicara, Raga menurunkannya.
"Kalian berdua diem di sini. Jangan ke mana-mana."
Raga dan Jiwa menganguk bersamaan.
Perlahan, tapi pasti, Echa melangkah masuk. Dilihatnya wanita paruh baya mengenakan pakaian serba hitam duduk manis dan menyambutnya dengan senyum ramah.
"Hai, Echa," sapanya.
"Ha-hai?" balas Echa kikuk. Dari mana wanita itu tahu namanya Echa?
"Madam Rica," kata peramal itu memperkenalkan diri.
"Oh, i-iya, Madam Rica."
Madam Rica menunjuk kursi di hadapnnya, Echa langsung mematuhinya. Mendudukkan diri di sana.
"Kamu mau saya ramal apanya?"
"Maksudnya?" tanya Echa yang tiba-tiba lemot.
"Kepribadian? Keuangan? Umur? Keluarga? Sekolah? Jodoh?"
"Ummm," Echa berpikir, "apa aja."
"Mana tangan kananmu."
Echa langsung mengulurkan tangan kanannya.
Terlihat Madam Rica yang sedang menerawang apa yang ada dalam garis tangan Echa. Wajah kaget Madam Rica membuat perasaan Echa mendadak tak enak.
"Kenapa, Madam?"
"Mati."
Satu kata itu berhasil membuat Echa menegang. Tangannya bergetar.
"Yang saya lihat di sini, sebentar lagi kamu akan mati."
"Ma-mati? M-mati bener-bener mati??" wajah Echa pucat pasi.
Madam menerawang kembali. "Iya. Karena penyakit hati."
Rasanya, kepala Echa seperti dihantam palu berukuran besar. Mudah sekali Madam berkata jika dia akan mati. Dan karena penyakit hati katanya??
Tanpa mendengarkan penjelasan Madam, Echa meninggalkan uang 100 ribu di atas meja. Dia menyambar tas yang sempat dia letakkan dan berlari keluar dari tenda terkutuk itu.
"Tunggu dulu!" Madam Rica bangkit. Hendak meraih lengan Echa, tetapi gadis itu sudah berlari menjauh. Echa tidak mendengarkannya.
Gadis itu berlari secepat kilat menuju tempat Jiwa dan Raga menunggunya. Dia menghamburkan diri pada pelukan seseorang tanpa melihat siapa orang itu. Air matanya luruh. Echa mengeratkan pelukannya.
"Pulang ke Jakarta sekarang .... Hiks, Echa nggak mau di sini ...."
"Kenapa lagi?" Suara lembut itu ..., itu bukan suara Raga. Kenapa dia jadi berharap bahwa orang itu Raga?!
Echa menggeleng. "Pulang sekarang juga. Nyeritainnya nanti aja."
Jiwa mengiyakan. Lelaki itu merangkul bahu Echa dan menuntunnya ke dalam mobil.
Raga yang masih terpaku di tempat hanya bisa membuang napas kasar dan mengekor.