"Semua pasti kembali kepada-Nya."
???
"Pa."
Merasa ada yang memanggilnya, Ben menoleh ke sumber suara. Benar saja, anak semata wayangnya sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan dan wajah kusutnya. Echa berdiri di ambang pintu ruang kerja Ben. Ben menutup laptopnya, mengarahkan semua perhatiannya pada Echa.
"Ada apa, Sayang?" Ben mengernyit bingung saat tiba-tiba Echa menunjuk hatinya.
"Kata Papa, kanker Echa udah sembuh, 'kan?" Mata Echa mulai berkaca-kaca, air matanya mendesak untuk keluar dari sarangnya. Sekuat tenaga dia mencoba menahannya.
"Iya, Sayang. Kenapa nanya gitu?" Ben berjalan mendekati putrinya yang masih berdiri di ambang pintu.
"Kalau suatu saat Echa meninggal karena ini gimana?" Echa masih setia menunjuk hatinya.
"Kamu ngomong apaan, sih? Nggak baik ngomong begitu! Emangnya ada apa? Lagi pula ini udah malam, ngapain belum tidur? Nggak capek? Kamu 'kan baru pulang dari Bandung." Ben merangkul bahu putrinya.
"Tadi di Pasar Malam, Echa masuk ke tenda peramal. Tahu apa yang peramal itu bilang?" Echa menatap dalam Ben. Ben mengangkat alisnya sebagai jawaban dari pertanyaan Echa.
"Echa bakalan mati karena penyakit hati. Pasti yang peramal itu omongin kanker hati Echa 'kan, Pa?" Echa menunduk. Dia tak mau kehilangan Papanya. Dia masih ingin berada di dunia ini.
Ben tertawa. "Sejak kapan kamu percaya yang namanya ramalan?" Ben menarik dagu Echa agar menatapnya.
"Echa cuma takut, takut kalau yang dibilang Madam Rica itu bakalan terjadi." Echa menghela napas lelah.
Ben berdehem. Dia sedang mencari kata-kata yang tepat untuk Echa. "Yang dibilang Madam itu benar."
Seketika wajah Echa memanas.
"Kamu akan mati, begitu juga Papa dan semua makhluk ciptaan Tuhan. Tapiii, cara meninggalnya itu cuma Tuhan yang tahu. Apalagi kapan dan di mananya juga cuma Tuhan yang tahu," dibelainya pipi Echa penuh kasih sayang, "Papa harap kamu nggak masukin ke hati perkataan Madam Rica. Anggap angin lalu." Dia tersenyum, mengecup kening Echa dalam.
"Udah malem, tidur sana. Besok kamu sekolah, 'kan? Jangan sampai telat lagi. Kamu mau kena omel Miss Glen lagi?"
Echa terkekeh, mencubit lengan pria paruh baya di hadapannya. "Nggak usah ngeledekin Echa, deh, Pa!" Echa berbalik arah menuju kamarnya, meninggalkan pria paruh baya yang sedang memikirkan perkataan putrinya.
"Eh, Pa," Echa yang sudah keluar dari ruang kerja Ben masuk lagi, "besok pas pulang sekolah Echa mau ngomongin hal penting sama Papa. Tapi, Echa pulangnya agak sorean soalnya mau main dulu."
"Iya, Cha. Makanya sekarang tidur sana."
"Siap, deh! Good Night, Papa ganteng!!" Echa memberi hormat lalu berlari menuju kamarnya di lantai 2.
Ben tertawa lirih. Semua orang pasti meninggal. Namun, dia belum menata diri untuk siap jika suatu hari nanti Echa akan mendahuluinya.
???
"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh."
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh."
"Saya, sebagai Ketua OSIS SMA Pranata akan mengumumkan bahwa, pendaftaran sebagai anggota baru OSIS SMA Pranata akan dilaksanakan pada hari ini. Nanti kakak-kakak OSIS akan membagikan formulir pendaftaran bagi kalian yang berminat. Satu lagi, setelah ini akan ada penyuluhan Ekstrakurikuler dari para Ketua, Wakil, dan Sekretaris setiap Ekskul. Yang pada intinya mewajibkan, kalian kelas 10 untuk mengikuti Ekskul minimal 1. Kalau tidak, kalian akan mengikuti tim Adiwiyata SMA kita."
"Ah ..., nggak asyik! Masa wajib, sih, Kak?"
"Gue banyak acara! Nggak minat ikut begituan!"
"Tapi mending ikut ekskul sih daripada ikut tim adiwiyata! Mungutin sampah mulu!"
"Ikut OSIS aja! Ada Babang Jiwa!"
"Ahh, bentar lagi dia juga longsor jabatan."
"Udah-udah. Tinggal ikut susah amat. Ntar lu pada milih yang paling diminati aja! Itung-itung cuci mata."
Jiwa berdehem, membuat semua adik kelasnya berhenti bicara dan memusatkan perhatiannya pada Jiwa.
"Sekian yang bisa saya sampaikan. Kurang lebihnya mohon maaf. Karena setelah ini masih ada penyuluhan dari kakak-kakak ekskul dan OSIS, saya harap kalian tidak ada yang meninggalkan aula. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatu," Jiwa menyudahi pidatonya yang langsung disambut tepuk tangan oleh seluruh anak kelas 10.
"Cha, lo mau ikut apa?" Maora menyenggol lengan Echa.
"Echa, sih, pengennya OSIS sama Musik. Kamu apa Mao?"
"Gue OSIS juga, ah."
"Alah, basi lo! Palingan juga mau modusin si mantan." Kyana menonyor jidat Maora.
"Ish, apaan, sih, lo? Gue nggak modus, ya!" Maora yang tak terima mencubit lengan Kyana.
"Aduh! Kok keras banget yang nyubit?" Kyana menatap tajam Maora.
"Suka-suka guelah. Makanya, nggak usah ngegodain gue." Maora mendengus kesal.
"Gue godain orang juga milih-milih kali. Nggak sudi gue godain lo." Kyana membuang mukanya ke arah Echa.
"Sutt, berisik!" Echa menatap kesal Maora dan Kyana yang tak kunjung mengantupkan mulutnya. Yang ditatap hanya bisa nyengir kuda.
"Kamu mau masuk apa, Kyan?"
Kyana mengedikkan bahu. "Kayaknya, sih, gue mau teater aja."
"Wah! Cocok, tuh, sama lo yang suka drama," cemooh Maora. Dia menatap Kyana dengan tatapan meremehkan.
"Heh, kambing congek! Yang penuh drama itu gue apa elo?" tanya Kyana naik pitam.
"Elolah! Siapa lagi?" Maora memusatkan perhatiannya pada ponselnya.
"Kalau nggak drama pasti ngaku kalau masih suka mantan."
Pletakk
"Songong ya lo?" Maora menjitak jidat Kyana.
"Yeu, itu 'kan kenyataan."
"Sekali lagi Echa denger kalian ribut, Echa panggil Alvaro sama Aldi buat ke sini," Echa menutup kupingnya.
Mendengar ancaman Echa yang bisa membuat Maora dan Kyana dicap sebagai fansnya Alvaro dan Aldi, yang pada intinya bisa membuat mereka dipandang rendah, Maora dan Kyana sontak menunduk lesu. Mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Nah, gitu dong dari tadi."
Maora mencibir.
Sekitar satu jam, acara penyuluhan ekstrakurikuler berlangsung dengan baik. Sekarang adalah saat di mana formulir akan dibagikan kakak-kakak pengurus OSIS dan pengurus ekstrakurikuler.
"Makasih, Kak." Echa menarik kedua sudut bibirnya saat Jiwa memberinya formulir pendaftaran keanggotaan OSIS.
Jiwa menganggukkan kepalanya, tak lupa senyuman menawannya. "Khusus buat elo, formulirnya kasih ke gue, ya? Jangan ke Tasya."
"Loh, kenapa, Ji?" Echa menatap manik mata Jiwa lekat, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan menatap wajah tampan Jiwa seperti saat ini.
"Modus dikit nggak apa, 'kan?" Jiwa menaik turunkan alisnya, seringaian aneh terukir di bibirnya.
"Nggak usah aneh-aneh, deh, Ji!" Echa mencubit lengan Jiwa dengan pipi bersemu.
"Auw! Mainnya cubit-cubitan ni ya ...." Kembali, seringai aneh muncul di bibir Jiwa. Entah kenapa, melihat seringai Jiwa bisa berefek pada jantungnya yang berdetak kencang dan pipi yang makin panas.
Damage-nya bukan maen.
"Udah, ah, godainnya. Echa mau ke kakak-kakak ekskul musik. Dadah, Jiwa." Echa melambaikan tangannya. Tak lupa sebuah senyuman.
Jiwa membalas lambaian tangan Echa.
"Ekskul musik?" Seketika, dia mengingat sesuatu. Dan lagi-lagi, untuk yang kesekian kalianya, seringai aneh muncul di bibirnya.
???
Raga menatap gadis di hadapannya dengan datar. Entah kenapa dia masih kesal karena kemarin, sewaktu pulang dari Bandung, sepanjang perjalanan Echa asyik mengobrol dengan Jiwa dan tak menghiraukannya yang sudah sebelas dua belas dengan setan. Jika ada laki-laki dan perempuan berduaan maka yang ketiga adalah? Setan. Raga persis seperti itu
"Mau apa?" tanyanya tanpa menatap Echa yang menunduk sambil memainkan kakinya di bawah sana.
"Formulirnya?" Echa mendongak, menatap manik mata Raga dengan tampang melas. Kedua tangannya perlahan terangkat, menadah.
Raga tertawa sinis. Echa tahu lelaki itu sedang mode pelit.
"Nih, formulirnya."
Suara itu. Echa membalikkan badannya dan mendapati Jiwa yang sedang mengulurkan sebuah formulir bergambar gitar. Mata Echa berbinar.
"Jiwa ikut?" tanyanya antusias.
Jiwa mengangguk. Tak lupa senyum khasnya yang adem seadem minum es di tengah padang pasir.
Echa menghela napas lega. Dia menerima formulir itu dengan senang hati. "Makasih, ya."
"Kembali kasih."
"Kenapa lo keliatan seneng banget gitu, Cupu?" Raga menatap Echa sinis.
Echa melirik Raga sinis. "Ya, bersyukurlah ternyata ada Kakkel ganteng di ekskul musik. Mana baik lagi," jawabnya asal.
Raga mendengus kesal. "Lo pikir gue nggak ganteng gitu?"
Echa tersenyum miring. "Kalau menurut Echa, sih, nggak ganteng, nggak tahu deh kalau cewek-cewek katarak yang suka ngejar kamu itu."
Pletakk
"Raga!" Echa mengerucutkan bibir sebal. Dia mengusap jidatnya yang disentil oleh Raga.
"Lo sembarangan ngemeng, ya? Asal lo tahu! Gue lebih lebih lebih sangat lebih tampan dari Jiwa!" Raga melipat tangan di depan d**a.
Echa memutar bola matanya malas. "Biasanya yang lebih lebih itu malah jelek." Echa mengibaskan rambutnya. Dia memilih berlalu dari hadapan Raga dan Jiwa. Dia tidak mau meladeni omong kosong Raga yang selalu berhasil membuatnya kesal.
"Bye!"
"Sejak kapan lo PD banget gitu?" Jiwa menyipitkan matanya, menatap Raga penuh dengan tatapan mengintimindasi
Raga melirik Jiwa sinis. "Apa peduli lo?!" Raga meninggalkan Jiwa yang sekarang sedang menertawakan kelakuan adiknya. Adiknya yang mulai menganggapnya ada walau masih dengan sikap tak acuhnya.
???
Echa mengusap pelipisnya yang penuh keringat. Dia menatap laki-laki yang membelenggunya dengan perkataannya sendiri "menemaninya sepulang sekolah". Dilihatnya Raga yang sedang asyik bermain bola oren dengan teman-temannya. Hari ini Echa diharuskan menunggu Raga yang sedang latihan untuk turnamen empat hari yang akan datang. Tepat sehari sebelum Raga mengikuti turnamen itu, perjanjiannya selesai. Dan Echa suka itu!
"SEMANGAT, RAGA!!!"
"Kak Raga! Kejar terus bolanya!"
"Pepet, Ga! Pepet terus, Raga!!"
Ini sudah waktunya pulang sekolah. Namun, tribun lapangan basket SMA Pranata sebelah barat hampir penuh dengan spesies perempuan yang menyorakkan nama Raga. Mereka ada yang kelas 10 sepertinya, kelas 11 seperti Raga, bahkan kakak kelasnya.
Entah kenapa kuping Echa panas mendengarnya, apalagi mendengar kakak kelas XII yang duduk tepat di sampingnya. Dia berjingkrak-jingkrak sambil membentangkan sebuah spanduk bergambar wajahnya dan wajah Raga yang dikolase. Di bagian atasnya bertuliskan "AYANG RAGA SEMANGAT!!"
Gila, nih, orang, batin Echa. Rata-rata, begini sorakannya,
"AYANG RAGA!! SEMANGAT!!"
"AUW! NGAPAIN LO, NO?! JANGAN SENGGOL-SENGGOL RAGANYA!"
"BANGUN LAGI SAYANG!"
"BANGUN, BANGUN!"
"AYANG RAGA CEMUNGUT!!"
"CEMUNGUT!"
"SEMANGAT! SEMANGAT!!"
"SEMU— GOLLLLLLL!!!! AYANG RAGA EMANG TERTHEBESTLAHH!!!"
Ingin menutup telinga, Echa merasa tidak enak karena dia kakak kelas. Kelas 12 pula. Kalau dia diam saja kupingnya pengang. Echa serba salahkan!
Lagian, ini 'kan cuma la-ti-han! Ngapain tribunnya sampai mau penuh kayak gini?!
Echa menghembuskan napas kasar. Satu jam telah berlalu. Banyak sekali gadis yang mengerumuni Raga. Memberinya minuman dingin atau modus mengelap wajah Raga yang dibanjiri keringat. Namun, jelas saja Raga menolaknya.
Kayak nggak tahu Raga aja judesnya kayak apa.
Raga berjalan menghampiri Echa yang duduk di tribun paling atas. Gadis itu sedang menatap kakinya yang ia goyang-goyangkan. Jangan ditanya lagi apa yang para fans Raga lakukan saat tau Raga meninggalkan mereka untuk seorang anak kelas 10, Echa. Mereka mendumal kesal dan serempak melemparkan asal minuman dan sapu tangan yang mereka bawa ke lantai. Tapi tenang saja, teman-teman Raga sudah siaga untuk memunguti minuman dan sapu tangan yang tidak bersalah itu.
Echa mengerjap-ngerjapkan matanya saat tak ada angin tak ada hujan, Raga menodongkan tangannya di depan wajah Echa.
"Apa?" tanya Echa dengan dagu terangkat.
"Lo nggak mau ngasih gue minuman, cokelat atau makanan apa gitu?"
Echa mengerutkan keningnya.
"Nggak mau ngelapin keringet gue?"
Echa berdecak kesal. "Kamu kira Echa kayak mereka? Hello? Echa masih punya harga di-" ucapan Echa terpotong karena dengan tiba-tiba Raga menarik tangan kanannya untuk mengelap pelipisnya yang berkeringat. Dengan jarak sedekat ini? Apa kabar jantung Echa?
Echa tertegun. Matanya menatap Mata Raga yang menatapnya lekat. Pelipisnya sekarang saja jadi ikut berkeringat. "Nggak usah banyak bacod! Ikutin aja apa yang gue suruh dan gue mau! Jangan ngebantah!"
"Ish, ya nggak bisalah! Siapa kamu ngatur-ngatur Echa? Perjanjiannya aja cuma disuruh nemenin!" Echa menepis tangan Raga yang memegang tangannya untuk mengelap pelipis lelaki itu.
"Manusia yang punya dua mata, satu hidung, dan satu mulut." Raga melangkah pergi. Namun, Echa bisa mendengar dia bergumam.
"Mungkin, calon ayah dari anak-anak lo."
Echa mendelik. "Ngomong apa kamu barusan?!" Dia berlari menyamai langkah Raga yang lebar.
Raga menatap sinis Echa. "Gue bilang ikutin gue! Dasar b***k!"
"Enggak, kayaknya tadi bukan itu, deh."
"Apa?!" nyolot Raga.
Echa mendengus. "Dasar Kakek Lampir nyebelin!" umpatnya yang mendapat timpukan botol di kepala.