"Kejujuran yang menyakitkan jauh lebih baik daripada kebohongan yang menghanyutkan kita perlahan pada kematian rasa kepercayaan."
???
Echa mencengkeram ujung jaket yang dikenakan Raga dengan sangat erat. "Kita mau ke mana, sih?! Dari tadi muter-muter terus! Emangnya kamu nggak capek habis latihan?!" Echa mengeraskan suaranya yang hampir tertelan bisingnya deru motor Raga yang membelah jalan raya kota Jakarta di sore hari yang mulai padat karena banyaknya pekerja kantoran dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing.
"Ini hukuman karena lo nggak ngasih minum ke gue tadi!"
Aneh, itu yang dia pikirkan tentang Raga. Hanya karena dia tidak ikut-ikutan menjadi seperti fans fanatik Raga, dia harus dihukum?
"Jangan salahin Echalah! Bukannya tadi banyak banget fans yang nempel-nempel kamu?! Kenapa nggak diterima? Kenapa harus Echa?!" sewot Echa.
" .... "
"Ih, kok malah diem, sih?!"
" .... "
"Raga?!" Echa menaruh dagunya di pundak Raga, hal itu membuat badan Raga merinding seketika. Desiran aneh melanda dadanya. Dia berdehem, menetralkan gemuruh di dadanya.
"Apa?" tanyanya ketus.
"Jangan kenceng-kenceng bawa motornya. Echa kecil kalau terbang gimana?!"
Raga menahan senyuman yang sudah akan terbit di wajahnya. "Mana ada angin yang pengen nerbangin lo? Nggak level kali."
Echa mendengus kesal. "Raga?!" Raga hanya menyahutinya dengan deheman.
"Jiwa itu baik, ya?" pertanyaan Echa membuat Raga terbatuk.
"Biasa aja. Baikan juga gue." Raga memelankan laju motornya.
"Ada satu hal yang harus kamu tahu." Echa menormalkan suaranya.
"Apaan?"
"Jiwa itu ganteng jiwanya, dia baik hati, pintar, keseluruhan hatinya bersih, suci, murni, lembut. Bikin Echa suka sama dia. Bukan cuma Echa sih, semua orang pasti bilang kaya gitu. Dia ganteng lagi wajahnya." Echa melebih-lebihkan.
Raga menajamkan tatapan matanya. Dia sudah akan protes namun ucapan Echa selanjutnya membuat hatinya menghangat.
"Tapi sayang, gantengan kamu. Raga kamu itu sempurna. Matanya tajam, hidungnya mancung, bibirnya seksi. Badannya atletis. Kulitnya bersih bersinar sekinclong matahari."
Baru saja terbang, tiba-tiba jatuh sedalam-dalamnya ke dalam lautan terdalam dan tergelap. "Tapi Echa nggak suka sama kamu. Kaku, sewot, sadis, dingin, kasar, nggak peka, nggak perhatian, dan ..., nggak punya hati!" Echa melingkarkan tangannya di pinggang Raga, menelungkupkan wajahnya di pungung Raga. Mencium wangi parfum Raga dalam-dalam. Seperti mengenal wangi itu.
"Bodo amat yang penting gue ganteng."
"Sejak kapan kamu sombong gitu, PD banget lagi." Echa terkekeh geli.
"Itu 'kan emang kenyataannya. Gue ganteng dan akan terus ganteng."
"Nanti kalau udah jadi kakek-kakek juga jelek. Keriput, ubanan, mrosot semua otot-ototnya." Echa tertawa. Dia jadi membayangkan bagaimana rupa Raga saat sudah tua nanti.
"Alah apaan. Nanti lo juga pasti tetep bilang gue ganteng." Raga membelokkan motornya ke kanan di perempatan.
"Emang kita bakal ketemu lagi?"
"Ya kali lo jadi jodoh-"
"Jiwa! Iya Echa tahu kok kalo Echa cocok sama Jiwa hohoho."
Raga mendengus kesal. Bibirnya merapat.
"Kita mau ke mana, sih? Jangan malem-malem, ya? Echa mau ngobrolin hal di Bandung sama Papa."
Echa mengeratkan pelukannya di perut Raga. Raga mengerang. Echa seperti ingin membunuhnya.
"Lo kira gue bantal guling?" sewotnya. Kentara sekali dia tidak suka di peluk Echa dari belakang seperti itu, padahal Raga seperti itu karena merasa gerah.
Echa melepas pelukannya. "Kita mau ke mana?" Dia mengulangi pertanyaan yang belum dijawab Raga tadi dengan nada kesal.
"Makam Papa."
Echa terdiam. Papa Raga udah meninggal? Batinnya. Echa membisu. Tak ada percakapan lagi sampai mereka berdua sampai di sebuah pemakaman yang tak jauh dari rumah Raga dan Jiwa. Mata Echa menatap sekelilingnya, luas.
Raga berjongkok di sebuah makam bertuliskan "Gardapati Mahaprana" di batu nisannya. Pemakaman ini sekarang cukup ramai walau mulai menjelang malam. Jadi, Echa tidak merasa takut. Pasalnya, Echa pernah melihat mbak kunti. Sejak itu, dia jadi parnoan. Ah, ralat. Bukan sejak itu, tetapi sejak dulu Echa parnoan. Penakut.
Gadis itu ikut berjongkok. Matanya memandang mata Raga yang menatap lurus ke batu nisan dengan tatapan sendu.
"Assalamualaikum, Pa." Suara berat Raga membuat Echa menyipitkan matanya, mencari adakah air bening yang keluar dari mata Raga, tapi nihil.
"Lima hari lagi Raga ikut turnamen. Doain Raga ya di atas sana. Raga akan buktiin lagi ke Papa kalo Raga bener-bener laki." Setetes air bening keluar dari mata Raga, ingat hanya setetes. Echa menatap melas lelaki itu. Mau nangis aja susah. Pasti nyesek.
"Raga udah ngelanggar janji lagi. 'Anak laki nggak boleh cengeng' tapi nyatanya?" Raga tersenyum tipis. Dia mengusap kasar pipinya.
"Sapa bokap gue, Cha," pinta Raga. Dia menatap Echa sekilas.
Echa tersenyum lebar. "Assalamualaikum, Om ganteng."
"Telat salamnya," ketus Raga. Echa mendengus kesal. Kenapa Raga selalu membuat dia kelihatan salah?
"Nama aku Echa, Om. Temen Raga"
"Raga emang cengeng, Om. Raga itu nggak laki, Jiwa yang keliatan laki banget." Echa terkekeh saat Raga menatapnya tajam.
"Tapi anak Om gentleman kok, Echa suka." Echa tersenyum hangat sambil menatap nisan Papa Raga, Garda. Tangannya mengusap lembut nisan itu.
Raga mematung. "Coba ulangi lagi."
Echa mengeryit bingung. "Apanya?"
"Ucapan lo."
Echa berpikir. "Raga emang cengeng."
"Bukan yang itu, satunya lagi."
"Ohh. Raga itu nggak laki, Jiwa yang keliatan laki banget."
Raga mendegus kesal. "Bukan yang itu, satunya lagi!" Suaranya meninggi membuat Echa terkejut.
Gadis itu menggaruk tengkuknya. "Tapi..., anak Om gentleman?"
Raga mengerang kesal. "Tau, ah, gelap," ketus Raga.
Echa tersenyum lebar. "Itu tahu kalau udah gelap, yuk pulang udah mau malem," ajak Echa dengan semangat 45. Raga hanya bisa beristigfar sebanyak-banyaknya dalam hati dan secepatnya mengirim doa. Setelah itu, mereka beranjak dari sana dengan Raga yang membawa segumpal rasa kesal.
Echa suka ....
Echa ....
Suka.
???
Meja makan dengan piring-piring kosong yang masih tersisa di sana itu sekarang atmosfernya berubah menjadi serius, padahal tiga menit yang lalu masih terdengar candaan receh ayah dan anak itu.
"Kamu mau ngomongin apa, Sayang?" Ben membuka suara.
Echa berdehem, menetralkan gejolak dadanya. "Waktu Echa di Bandung, Echa pergi ke rumah pohon."
"Terus, apa masalahnya?" Ben melipat tangan di atas meja makan. Matanya menatap lurus anaknya yang ada di seberangnya.
Echa memainkan jari jemarinya. Dia tak berani menatap Ben sekarang. "Ada yang Papa sembunyiin lagi dari Echa?"
"Nggak ada," jawab Ben cepat.
"Pa...." Echa mendesah kecil.
"Apa, Echa? Papa emang nggak nyembunyiin apa-apa dari kamu."
"Kenapa di rumah pohon itu ada nama 'Aren'?"
Ben terkekeh. "Dunia itu luas. Bandung juga nggak kecil. Nama Aren pasti banyak yang punya, nggak cuma kamu."
Echa mendengus kesal. "Bukannya Papa orang Bandung? Siapa tahu kita pernah ke sana?"
"Bisa jadi."
"Terus masa lalu Echa sama anak kecil laki-laki?"
Ben berdehem, tenggorokannya tiba-tiba kering. Dia meraih air putih di depannya lalu meminumnya setengah. Matanya tak bisa diam, seperti sedang mencari jawaban yang tepat. "Nggak tahu, dulu emang ada anak cowok yang sering main sama kamu. Papa nggak tahu namanya."
Echa menyipitkan matanya. "Papa nggak lagi bohongin Echa, 'kan?"
Ben menggeleng. Namun, tampak ragu. Hal itu membuat Echa curiga.
"Papa, please. Echa udah gede. Nggak usah pakai acara rahasia-rahasiaan." Echa menatap Ben tegas. Ben terdiam.
Sebuah ide terlintas di pikirannya. "Kalau gitu Papa kasih Echa alamat rumah nenek di Bandung aja."
Ben masih diam. Hatinya kini dirundung gelisah dan bimbang. Dia dilema. "Nggak bisa."
Echa menatap Ben dengan tatapan meminta penjelasan. "Kenapa?"
Ben menghela napas kasar. "Nggak baik buat kita."
"Itu artinya Papa punya rahasia." Echa berdiri dari duduknya, mendekati Ben, menggenggam tangan Papanya, salah satu orang yang benar-benar mencintainya.
"Kasih tahu Echa apa yang Papa sembunyiin selama ini."
"Nggak ada."
"Pa .... Please ...." Mata Echa berkaca-kaca.
Ben menggeleng.
"Pa, Echa bakal terima semuanya kalau itu bakal nyakitin Echa."
"Sekali nggak ada ya nggak ada." Ben melepas gengaman Echa, bangkit dari duduknya.
"Papa bohong. Ayolah, Pa ...."
"Nggak ada Echa!" Suara Ben meninggi.
"Paaaa," rengek Echa. Dia kembali menggengam tangan Ben, genggaman tangannya makin erat.
Napas Ben memburu, otaknya sekarang dipenuhi memori masa lalu yang sudah dia coba lupakan. Ralat, bukan lupakan, tetapi dia simpan dan tak akan dia buka saat dia tidak siap.
"Pa .... Please ...." Dan suara Echa makin mengingatkannya akan semua.
Ben menggebrak meja makan. Matanya menatap nyalang Echa. Pertama kalinya Echa melihat Papanya semarah ini "Sekali enggak, ya, enggak Echa!! Ini demi kebaikan kita berdua! Harusnya kamu tahu itu!"
Echa menatap Ben dengan tatapan tidak percaya. "Echa cuma tanya kenapa."
"Karena ini akan merusak segalanya! Berhenti tanya-tanya Papa tentang hal itu! Papa nggak suka!!" Ben mengeraskan volume suaranya. Matanya menghujam Echa dengan tatapannya yang tajam.
"Inget itu!" Suaranya menggema.
Echa jadi berpikir. Kenapa Papanya bisa sampai semarah ini? Apa dia salah jika ingin tahu masa lalunya yang sepertinya indah? Echa bahkan seperti tak kenal sosok yang ada di hadapannya ini. Biasanya sosok itu terlihat tenang, berwibawa, dan hangat. Tapi sekarang?
"Papa jahat!" Echa berlari ke kamarnya dengan derai air mata. Dia menutup pintu hingga berdebam.
Ben meraup wajahnya kasar, mengerang kesal. "Papa harap kamu mengerti!" teriak Ben. Pria itu mengepalkan tangannya erat sebelum pergi ke ruang kerjanya.