"Aku tidak mungkin bertindak jika kamu tidak memancing."
???
Echa menarik langkah kakinya dengan berat hati. Tadinya dia tidak ingin sekolah karena semalaman menangis. Lihatlah! Tuhan memberinya hadiah, mata bengkak dan ada bulatan hitam yang sedikit samar di matanya. Kalau hari ini tidak ada ulangan Kimia, dia tidak akan mau menginjakkan kaki di sekolah seperti saat ini. Bahkan, dia harus pergi ke sekolah pagi-pagi agar tidak ada yang melihat mata pandanya.
Dia berjalan gontai ke kelasnya. Sesekali membuang napas dengan kesal. Papanya tadi pagi bahkan tidak menyapanya seperti biasa, keluar kamar saja tidak, apalagi menyapa? Hello? Echa di sini nggak tahu apa-apa, apa dia salah jika hanya bertanya? Kenapa jadi dia yang dianggurin?
"Heh, Cupu. Mata lo kenapa?"
Echa memegangi dadanya. Dia benar-benar kaget. Matanya menatap tajam Raga yang bersandar di samping pintu kelasnya. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana. Matanya menatap lurus mata sembab Echa.
Echa menggelengkan kepalanya. Dia sedang enggan bicara, enggan berdebat, bahkan enggan berhadapan dengan menatap Raga. Baru saja mengangkat kaki untuk melangkah, Raga menghalangi jalannya. Direntangkannya kedua tangan untuk menutupi jalan masuk kelas Echa. Jarak mereka sangat dekat sekarang. Untung sepi, kalau enggak?
Echa menggerakkan kakinya ke kanan, Raga mengikutinya. Echa ke kiri, Raga mengikutinya. Tatapan Echa semakin tajam, mukanya bertambah kusut. Bibirnya semakin maju. "Raga minggir dong," suruh Echa datar, wajahnya masih lecek, bahkan tambah lecek sekarang.
"Gue cuma mau ngomong. Nanti pulang sekolah, lo ke rumah gue, ya?" Echa hanya bergumam. Raga tersenyum tipis, menaruh lagi tangannya ke dalam saku, minggir agar tidak menghalangi jalan Echa, menatap punggung Echa yang memasuki kelasnya dengan malas-malasan, lalu berjalan menuju kelasnya. Dia sudah terlalu lama berdiri di sana seperti maneken.
Raga melihat kelasnya yang masih kosong melompong. Lelaki itu mengambil ponselnya, membuka aplikasi w******p, untuk mengabari teman-temannya.
Anda
Nyet
Devino Ariswara
Paan?
Anda
Lo pd lupa ya?
Arian Denaga
Astagfirullahaladzim?
Eneng lupa bwang, maapkan hayati
Otw bos kuh?
Devino Ariswara
2
Anda
Buru sebarin infonya!
Arian Danega
Siap laksanakan?
Devino Ariswara
2
Arian Danega
Paan lu nyet ikut-ikutan gua mulu @DevinoAriswara
Devino Ariswara
Opo to? Smng omong opo?
Arian Danega
Lu ngmng apaan sih, No? Gua gak bsa basa jawa, anjrit.
Devino Ariswara
Bodo amat.
Arian Danega
Awas lu ya! Gua gak traktir di kantin lagi!
Devino Ariswara
Gue bakar CD lo.
Arian Danega
Ampun Vin✌gua tau bahasa lu yg skrng?
Devino Ariswara
Y
Arian Danega
?
Anda
BURUAN!
Arian Danega
Santai, tancap gas?
Devino Ariswara
2
Arian Danega
Emng asem lu, No.
Anda
Tiga menit, nggak nyampe awas aja
Devino Ariswara
Iya, Ga. Iyaaaaa. Allah hu akbarrr
Raga melangkahkan kakinya keluar kelas, menuju gudang bawah tanah. Berhubung SMA Pranata milik orang tuanya, Raga pernah meminta ruang khusus di bawah tanah sebagai tempat khusus tambahan belajar kepada Mamanya, dan malah ia jadikan markas dengan teman-temannya.
Bukan hanya Vino dan Rian, tapi anggota geng Batam. Pencetus nama geng tersebut tak lain dan tak bukan si Rian. Batam itu singkatan dari "Barisan Tampan" taulah otak-otakannya si Rian memang rada miring. Geng itu terkenal dengan aksi tawurannya.
Masih ingat sewaktu Raga dikejar motor sport yang pengendaranya Leon dan pada akhirnya ada aksi pengeroyokan? Waktu itu Raga sedang boncengin Echa? Nah, si Leon itu ketua geng Tiger, anak-anak SMA Garuda. Geng itulah musuh terbesar geng Batam. Apa yang akan dilakukan mereka semua di markas? Jelaslah menyiapkan strategi pertempuran dengan geng Tiger.
Raga duduk dengan santai di kursi kebesarannya. Kursi yang menghadap langsung sofa-sofa hitam yang mengelilingi sebuah karpet bulu berwarna abu-abu. Matanya terus menatap pintu masuk, jaga-jaga kalau ada yang iseng mengagetinya. Biasanya, hanya Rian yang berani menjailinya.
Terdengar suara pintu yang terbuka, Raga menegakkan badannya, menatap Reza yang melangkah mendekatinya perlahan.
"Eh, udah dari tadi, Ga?"
"Menurut lo?" Raga mendesis.
Reza tertawa. "Rencana kita kali ini apa, Ga?" tanyanya to the point.
Raga menumpu dagunya. "p*********n besar-besaran."
???
Echa mengetuk-ngetuk meja kantin dengan jari-jemarinya. Dia sedang berpikir keras, apa yang Ben sembunyikan dari dia? Pandangan Echa kosong, tetapi tangannya masih saja mengetuk-ngetuk meja kantin seirama pikirannya yang berkelana. Dia sampai tidak sadar jika Raga sudah duduk di hadapannya.
"Pacar lu kenapa, Ga?" tanya Rian sambil memperhatikan mulut Echa yang komat-kamit. Raga menggedikkan bahu tak acuh. Dia menarik mangkok bakso di hadapan Echa yang tersisa setengah, bakso milik Echa. Dimakannya tanpa memandang Echa dan tak menghiraukan kicauan Rian di sebelahnya.
"Dia kenapa, Kyan?" tanya Rian pada Kyana yang duduk di hadapannya. Kenapa mereka jadi akrab? Karena kalian pasti tahu bahwa Raga pernah menyuruh Echa selalu menemani Raga saat di kantin beberapa hari yang lalu.
Kyana menatap Rian sekilas, kakak kelas berotak kosong itu selalu menerornya akhir-akhir ini dengan gombalan receh yang tidak bermutu. Ini semua karena Echa yang memberikan nomor ponsel Kyana kepada Rian seenak jidatnya. "Nggak tahu, dari tadi pagi udah kayak gitu." Kyana kembali meminum es tehnya.
"Setahu gue dia semalem nangis, tahu, deh, kenapa. Nggak mau cerita anaknya," celetuk Maora yang sedang memakan sebatang cokelat. Matanya sesekali melirik Vino yang meminum jus alpukat dengan rambut berantakan. Damn, he is so hot! pekik Maora di dalam hati.
"Woy! kembarannya Lucinta Luna!" teriak Rian di depan wajah Echa. Echa tersentak kaget, badannya reflek mundur, hampir saja dia terjengkang jika kursinya tidak dipegangi Kyana. Banyak pasang mata yang menatap mereka saat ini.
"Astagfirullahaladzim.... Sejak kapan ada setan di sini, Kyan?" Echa mengatur detak jantungnya yang masih memburu.
"Wah.... Parah pacar lu, Ga. Masa ngatain gua setan!" Rian menatap Raga penuh kekesalan.
"Pacar gue? Dia? Dih, amit-amit." Raga masih asyik memakan bakso Echa. Echa hanya menanggapinya dengan mendengus kesal sambil memutar bola mata malas.
Bakso Echa di mana, ya? Perasaan tadi masih sisa setengah " Echa menatap mangkok-mangkok bakso Kyana, Maora, Raga, Vino, dan Rian bergantian.
Raga menusuk baksonya dengan garpu. Disodorkannya pada Echa tepat di depan mulut gadis itu. "Baksonya tinggal satu, buka mulut lo."
Entah kenapa pipinya tiba-tiba menghangat. Kyana menatap mereka dengan senyum tipis, Maora menatap mereka sambil gigit bibir bawah, pipinya ikut-ikutan memerah, Vino tersenyum tipis, sedangkan Rian senyum-senyum seperti orang gila.
"Ck, lama lu, Cha! Tinggal hap lalu di tangkap! Gitu aja susah. Kasian si bos udah gercep malah disia-sia,"celetuk Rian yang mendapat pelototan Raga dan Vino.
"Buruan! Pegel tangan gue!" bentak Raga yang masih setia menyodorkan bakso. Dengan ragu-ragu Echa memajukan wajahnya, memakan bakso itu, menerima suapan Raga. Seketika suasana hati Echa awkward. Namun, tidak dengan Maora yang tiba-tiba berteriak...
"Aaaa, so sweet!!"
"Lebay," cibir Raga.
"Bodo amat!"
"Lu mau?" Rian menyodorkan baksonya tepat di depan bibir Maora.
"Ogah!"
Echa tertawa.
Setelah itu mereka kembali ke aktivitas masing-masing. Suara Rian yang mendominasi. Raga suka bingung, kapan baterai Rian habis?
"Kyan, Kyan, Kyan.... Lo liat kak Vino, deh. Ganteng bangetttt," bisik Maora kepada Kyana. Tangannya meremas-remas roknya, mengendalikan nafsunya untuk mencubit kedua belah pipi Vino gemas.
Kyana bergumam. Matanya masih terfokus pada Echa yang nampak tak bersemangat.
"Lo suruh dia jangan pose kek gitu deh, bisa mati gue di sini, kehilangan oksigen. Dan jangan biarin dia senyum, bisa diabetes tingkat akut gue...." Maora kembali berbisik, sesekali melirik Vino.
"Kak Vino," panggil Kyana memotong pembicaraan Raga, Rian, dan Vino yang asyik mengobrol.
"Apa?" tanya Vino.
Maora menginjak-injak kaki Kyana.
Sialan! Si Kyana serius?!
Gawat! Bisa malu dia kalau Kyana benar-benar mengadu pada Vino! Dia masih menjawil-jawil paha Kyana. Tapi Kyana? Malah tersenyum smirk. Dia tahu betul siapa itu Kyana. Dia adalah perempuan yang tidak pernah main-main dengan ucapannya. Lalu bagaimana nasibnya jika Kyana bilang pada Vino? Pasalnya, Vino itu tipe cowok yang tidak suka dirusuhi, semisal dia tahu ada perempuan yang suka sama dia, dia akan menghindar dari perempuan itu. Beda dengan Rian yang akan meladeni.
Matilah kau, Mao.
Kyana mencondongkan badannya ke Maora, berbisik tepat di telinga Maora. "Gue akan balas dendam. Lo udah bikin gue malu di depan Aldi kemarin."
Dan sekarang Maora yakin seyakin yakinnya bahwa dia akan tamat.
"Apa?" tanya Vino lagi karena Kyana masih enggan membuka mulut.
Maora memejamkan mata erat-erat. Masih setia kakinya menyenggol-nyenggol sepatu Kyana. Siapa tahu Kyana berubah pikiran.
Badannya panas dingin saat Kyana berdehem. Dia sudah menyiapkan diri jika tiba-tiba kakak kelasnya itu menjauhinya.
"Seleksi Ekskul Teater kapan ya, Kak?"
???
"Jadi? Echa ke sini cuma karena disuruh nemenin kamu belajar? Perasaan Maora bilang kamu nggak pernah belajar, sejak kapan kamu rajin begini?" Echa menatap Raga lekat, kepalanya masih setia dia sangga dengan tangan kanan.
"Siapa Maora tahu segalanya tentang gue?" Raga balas menatap Echa sekilas lalu kembali fokus pada buku matematika di hadapannya. Dia mengetuk-ngetukkan bolpoin di pelipisnya.
"Dia itu stalker sejati, pengumpul informasi yang super canggih!" jawab Echa bersemangat sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Raga mengangkat bahu. Dia menutup buku Matematikanya, tatapannya tertuju pada Echa sekarang. "Tadi pagi lo kenapa?"
Echa terdiam, acungan jempolnya perlahan turun. Dia kembali menyangga dagunya. Pandangannya menyendu. "Papa marah besar waktu Echa tanya tentang Bandung dan anak laki-laki waktu itu," jawabnya lirih.
Sekarang Raga yang terdiam. "Emang lo tanya apa aja?"
Dan ceritanya pun mengalir begitu saja dari bibir mungil Echa. "Emang salah kalau Echa cuma nanya 'kenapa?' Echa 'kan nggak tahu apa-apa."
"Mungkin itu terlalu menyakitkan," ucap Raga lirih.
Echa menatap Raga dengan sebelah alis tetangkat. "Harus banget ya disembunyiin?"
Raga menghela napas kasar. Pikirannya sekarang sedang berkecambuk, berantakan. "Ya 'kan udah gue bilang, mungkin itu terlalu menyakitkan."
Echa menatap Raga lekat. Raga yang berada di sampingnya sekarang merasa sangat gugup. Pandangannya beralih-alih dari satu benda ke benda lainnya.
Tak disangka-sangka, Echa menenggelamkan dirinya pada d**a Raga. Mata Raga membulat, detak jantungnya berdetak tak karuan, desiran aneh kembali merambat dari perut ke dadanya, napasnya tercekat, semburat merah muda terpampang di pipinya. Satu kata yang mendeskripsikan dirinya sekarang, kikuk.
Dengan ragu-ragu, dia membalas pelukan Echa. Dan pada saat itulah tangis Echa pecah.
"Hiks. Echa cuma takut kalau Papa bakalan marah terus sama Echa. Echa takut Echa nggak akan pernah tahu sesuatu yang indah di masa lalu Echa. Echa takut, hiks, semua ada hubungannya sama-" Echa menggantungkan ucapannya.
"Sama apa?"
Bahu Echa berguncang. Tangisannya makin menjadi. "Echa takut .... Echa takut semua itu ada hubungannya sama mama Echa."
Echa merasakan badan Raga yang menegang. Pelukan Raga semakin Erat. "Waktu Echa kelas 2 SMP, Echa pernah nemuin foto mama Echa, tapi di foto itu Echa liat, hiks, mama Echa gendong Echa waktu bayi." Echa sesenggukan, bahunya bergetar hebat.
"Padahal setahu Echa, mama Echa meninggal waktu ngelahirin Echa ...."
Dan sekarang, Raga makin merasa bahwa dia adalah manusia paling berdosa di muka bumi ini.
"Mungkin dia orang lain, Cha ..., mungkin."