"Dari curiga, bisa jadi kejadian nyata."
???
Tangan yang sejak dua hari lalu tidak bergerak sama sekali itu perlahan bergerak.
Echa yang menyaksikan hal itu tentu saja menangis haru. Gadis itu langsung memencet tombol di dekat brankar untuk memanggil Dokter Angga. Raga yang baru saja keluar dari toilet mematung di tempat, menyaksikan interaksi anak dan ayah yang baru sadarkan diri itu.
"Akhirnya Papa bangun." Echa memeluk Ben dengan erat. Ben yang sudah bisa melihat jelas wajah putrinya hanya diam dan menatap kosong sekitar. Echa yang menyadari akan hal itu menjadi terisak pilu. Dia ingat sekarang, Ben mungkin benar-benar hilang ingatan.
Belum selesai Echa berdebat dengan pikirannya, Dokter Angga datang dengan asistennya. Dokter Angga meminta agar Echa keluar ruangan terlebih dahulu karena dia akan memeriksa keadaan Ben. Echa menurut, dia keluar ruangan sambil membekap mulutnya sendiri agar isakannya tidak terdengar.
Raga berjalan mendekati Echa. Ditariknya bahu Echa, merapatkan gadis itu dengan dirinya. Echa yang ditarik Raga hanya bisa menatap wajah lelaki itu dengan sisa isakan di bibirnya.
"Bokap lo nggak akan kenapa-napa, tenang aja."
Echa tersenyum tipis, "Dia kenapa-kenapa, Ga. Dia nggak inget Echa."
"Tahu dari mana?"
Echa menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangisnya yang kembali, "Papa kayak orang linglung pas liat Echa."
Raga tersenyum tipis. Tangan kirinya masih bertengger di bahu Echa, sedangkan tangan kanannya perlahan naik ke puncak kepala gadis itu, mengusapnya lembut. "Cuma sementara, Cha."
Sungguh. Echa rasa ada yang aneh dengan Raga. Lelaki itu berubah 180 derajat dari Raga yang acuh tak acuh padanya. Lelaki itu bahkan bisa membuat d**a Echa kembang kempis dan sekujur tubuhnya memanas. Jangan lupakan pipinya yang merona, Echa tahu itu.
Dia memegang tangan Raga yang masih mengusap kepalanya. Diturunkannya tangan itu dan berkata, "Emang sementara, tapi Echa nggak tahu bisa bikin Papa pulih atau enggak."
"Bisa."
"Echa nggak yakin."
"Kan ada gue."
Echa mendongak. Menatap Raga yang sedang menatapnya.
"Gue bakal bantu lo."
"Echa."
Echa mengalihkan perhatiannya pada Dokter Angga yang tersenyum ke arahnya bersama sang asisten. Kedua orang itu baru saja keluar dari dalam.
"Mari, ikut ke ruangan saya. Saya akan menjelaskan dengan detail tentang kondisi Pak Ben di sana. Biar asisten saya yang menjaga Pak Ben untuk sementara waktu."
Raga menatap Echa yang sedang mengusap kasar air mata dipipinya. Lelaki itu menggenggam jemari Echa dan menarik gadis itu untuk berjalan di sampingnya.
Setelah sampai di ruang Dokter Angga. Dokter Angga mempersilakan Echa dan raga duduk lalu dia membuka suara setelah beberapa detik hening, "Menurut hasil pemeriksaan saya barusan, Pak Ben mengalami kerusakan pada bagian sistem limbik yang ada di otaknya.
"Bagian ini berperan dalam mengatur ingatan dan emosi seseorang. Dalam kata lain, diagnosis saya sebelumnya benar, pak Ben mengalami amnesia.
"Tapi tenang, alhamdulillah sifatnya sementara." Dokter Angga menatap Echa yang menahan napasnya. Jelas sekali gadis itu tampak tidak terima dengan keadaan yang ada. Dokter Angga tahu pasti Echa masih memikirkan reaksi Ben saat melihatnya tadi.
"Jadi? Apa yang harus kita lakukan?" Bahkan Echa tak bisa membuka mulutnya. Dia kelu. Alhasil, Raga yang bertanya.
Dokter Angga tersenyum hangat. "Pak Ben akan diberikan terapi okulasi. Terapi ini dilakukan agar pak Ben bisa mengenal informasi baru serta membantunya untuk bisa memanfaatkan ingatan yang masih ada. Nanti saya akan memberikan resep obat dan biar Raga yang mengambilkannya ke tempat pengambilan obat."
Raga mengangguk mantap. "Apa papa Echa masih harus menginap, Dok?"
"Iya. Untuk memulihkan keadaannya yang belum fit. Dan..., asisten saya akan memindahkan Pak Ben ke ruang rawat."
"Dok?"
Suara lirih itu membuat Dokter Angga maupun Raga menatap Echa. "Gimana cara balikin ingatan papa?"
"Pertanyaan yang saya tunggu sejak tadi." Dokter Angga mengusap bahu Echa perlahan.
"Obat dan supplement yang akan saya berikan hanya untuk mencegah terjadinya kerusakan sistem saraf yang lebih parah. Jadi, untuk memulihkan ingatan pak Ben, itu butuh banyak kerja keras juga kesabaran. Kalian harus bisa menunjukkan hal-hal yang menarik perhatian pak Ben dalam artian hal yang pak Ben suka lakukan dulu. Mungkin, dia akan teringat pada kebiasaannya itu."
"Kayak ngopi di teras rumah?"
Dokter Angga mengangguk mantap. "Tapi jangan terlalu dipaksakan, karena bisa berakibat fatal pada sarafnya."
Echa tersenyum tipis, "Makasih, Dok. Echa paham."
"Kamu juga pernah amnesia, Echa."
Echa mendongak, menatap raut serius dalam wajah dokter muda itu. "Ada beberapa ingatan yang belum sepenuhnya pulih, padahal kecelakaanmu dulu sudah berlalu sembilan tahun.
"Jadi, saya tahu kamu paham maksud saya. Ingatan itu terkadang bisa muncul dengan sendirinya juga terpendam tak bisa naik kembali lagi kepermukaan. Seperti kamu sekarang ini."
Echa bergeming.
"Jangan menekan, jangan memaksa, jangan terlalu mengebu-ngebu saat menceritakan sesuatu sampai membuat Pak Ben bingung."
"Iya, Dok, tapi...."
"Iya? Ada apa?"
"Kata Dokter tadi, ingatan Echa belum pulih sepenuhnya, 'kan?"
Dokter Angga mengangguk.
"Berarti..., Echa bisa dong mulihin ingatan Echa juga kayak papa? Dengan cara ngelakuin sesuatu yang dulu Echa suka?"
Dokter Angga terdiam. Menelan ludahnya kasar.
"Dok?" Echa mengernyit, "Dokter Angga? Dokter kenapa bengong?"
"A-Ah, iya. Iya, kamu bisa, Cha."
???
Sepuluh menit sudah Echa dan Raga berdiri di depan ruang rawat Ben. Raga masih mencoba meyakinkan Echa tentang keraguan gadis itu untuk masuk ke dalam. Echa takut, takut jika Ben tak mau menerimanya.
"Ayolah, Cha. Gue tahu lo kangen bokap lo."
Echa menggeleng sekali lagi, "Bentar, Ga. Kasih Echa waktu buat nyiapin diri."
Raga menghela napas lelah. Lelaki itu akhirnya memilih duduk di ruang tunggu di seberangnya. Raga menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Echa jadi ingat, lelaki itu tidak tidur semalaman. Dan lihatlah, Raga benar-benar seperti mayat hidup. Bahkan dia lupa jika Raga belum sarapan. Seharusnya Echa tidak egois.
Echa menatap Raga dengan ekor matanya. Gadis itu perlahan mendekat dan menarik tangan Raga agar dia berdiri. "Echa siap."
Raga mengerjapkan matanya bingung.
Echa mendengus. "Echa siapppp."
Raga mengacungkan jempolnya. "Bagus, ayo."
Mereka akhirnya masuk ke dalam sana. Dilihatnya Ben sedang menatap kosong langit-langit kamar, lalu mata hitam sepekat milik Echa itu menatap mereka. Menatap Raga, lalu anak gadisnya. Ben tampak tak ingin melepas kontak mata dengan Echa. Pria itu bahkan mengabaikan Raga yang berada di samping Echa.
"Pa...," rintih Echa sambil berjalan mendekati brankar Ben.
Tak ada jawaban.
"Echa kangen...." Echa memeluk Ben dengan erat. Tak ada penolakan atau balasan. Hal itu membuat Echa melepas pelukannya.
"Pa, ngomong sesuatu, Echa takut." Gadis itu sampai menggit bibir bawahnya. Dia menahan isak tangisnya.
Ben masih diam, menatap dalam Echa. Echa maupun Raga tidak tahu, tidak tahu apa yang sedang Ben pikirkan sekarang.
Namun, sebuah nama yang terlontar setelahnya, adalah nama yang membuat kedua anak remaja itu mematung di tempat.
"Aren, jangan pergi, ya."
Echa mencelos. Matanya berkaca-kaca saat Ben tersenyum lembut padanya. Seakan ada palu besar menghantamnya, bersamaan dengan itu kepalanya berdenyut nyeri.
Echa tidak tahu apa yang terjadi. Semuanya gelap gulita. Dia hanya bisa mendengar suara Raga yang memanggil-manggil namanya, lalu perlahan kesadarannya pun menghilang.
"Aren, jangan pergi.... Papa sayang Aren."
"Nenek juga sayang Aren. Di sini kita selalu nungguin kamu."
"Mama tahu, Aren lagi mau main, ya? Eeh, bentar! Jangan pergi dulu! Nanti Papa marah, Sayang!"
"Aren!"