27. Hibur Echa

1229 Kata
"Aku sedang berada di titik rapuh. Dan aku melihat kamu. Bisa tolong aku supaya cepat sembuh?" ??? Jemari mungil itu masih menggenggam erat tangan besar kasar milik Ben. Mata Echa menatap lekat-lekat wajah Ben yang sudah mulai mengeriput. Rasanya baru kemarin dia masih melihat senyum Ben. Rasanya baru kemarin Echa masih mendengar suara berat milik ben. Namun, sekarang lelaki itu hanya terbaring di atas brankar tanpa pergerakan dari kemarin. "Echa masih kuat kok, Pa. Tapi jangan lama-lama." "Kalau Papa nggak bangun-bangun juga, Echa coret nama Papa dari kartu keluarga." Gadis itu mendengus kesal. Nyatanya, semua usaha Echa membantu Ben siuman belum berhasil. Kata Dokter Angga, Ben butuh dorongan agar lekas siuman. Tapi nyatanya? Gadis itu masih harus mencoba. Echa mengusap-usap punggung tangan Ben, berharap Ben lekas bangun dari tidurnya. "Papa udah tidur lama. Masih belum mau liat Echa senyum? Kemarin senyum Echa udah di-update." "Cha." Gadis itu mendongak. Menatap Raga yang entah sejak kapan sudah ada di sampingnya. Mata itu beralih ke bungkusan yang Raga tenteng tinggi-tinggi sejajar dengan kepala lelaki itu. "Mie ayam." Raga tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya. Echa mengerjapkan matanya yang membengkak karena menangis semalaman. Gadis itu heran, Raga terlihat sangat hangat kali ini. "Dalam rangka?" Raga mendengus kesal, menurunkan tangannya lalu menaruh mie ayam itu di atas nakas. "Dalam rangka ngisi perut lo yang belum makan sejak semalam." Lelaki itu memindahkan mie ayam dalam plastik ke mangkok yang dibawa Mbok Inem tadi pagi. Echa menggeleng lemah. "Enggak laper." Raga melipat kedua tangannya di depan d**a. "Menurut lo gue peduli gitu sama lo?" Raga terkekeh sinis. Oh tidak, dia kembali ke sifat aslinya. Menyebalkan. "Gue peduli sama bokap lo. Gimana perasaannya coba kalau bangun anaknya tinggal selidi." Echa menatap tajam Raga. Gadis itu melepas genggaman tangannya pada Ben dan mencubiti lengan Raga dengan gemas. "Nyebelin ih, Raga!! Pergi sana, pergi!" "Aw! Sakit, Cha! Lo kira gue squisi?!" Raga berlari ke sudut ruangan. Lelaki dengan seragam abu-abu yang dibalut jaket hitam itu menatap Echa penuh kengerian. "Makanya nggak usah jailin Echa! Udah tahu Echa lagi sedih. Lagian, bukannya kita kemarin musuhan?!" Gadis membentak lalu terisak pelan. Raga menarik napas dalam-dalam. Ingin rasanya dia menenggelamkan gadis itu ke dalam sungai. Apalah daya Raga yang masih punya jiwa kemanusiaan. "Ya gue tahu lo lagi sedih, makanya gue hibur." Raga perlahan mendekat, menggambil kursi di dekat sofa dan duduk di samping Echa. "Dan..., buat yang musuhan, bukannya kita udah fine fine aja?" "Fine dari mana?" "Ya..., kemarin aja lo meluk-meluk gue." Echa menatap tajam raga. "Itu beda hal ya, Echa masih marah sama Raga yang selalu ikut campur sama urusan Echa." "Gue juga marah sama lo karena bandel banget dibilangin!" Intonasi Raga mulai meninggi. "Lah, harusnya yang marah Echa aja dong, orang Echa yang merasa terbebani sama keikut campuran Raga! Kok malah Raga yang sewot, sih, sekarang!" Raga menyugar rambutnya dengan geram. Sepertinya sekarang dia harus benar-benar menurunkan egonya yang tinggi. Lagi pula, apakah Echa tidak bisa membedakan mana perhatian dan mana yang sok ikut campur? Eh? Perhatian? Raga mendengus kesal. Mengapa otak dan hatinya selalu berbeda. "Gue nggak sewot." "Ya terus apa? Ngegas?" Raga melongo. Gadis ini kenapa berubah menjadi keras kepala. "Lo lagi datang bulan, ya, Cha?" Echa memukul lengan Raga dengan keras. "Dasar m***m! Nanya-nanya kayak gitu!" Berdebat dengan Raga ternyata bisa mengalihkan perhatian Echa. Raga menarik napas dalam-dalam, sekali lagi, entah yang keberapa kali. Lelaki itu tersenyum lebar. "Pertama, gue enggak ngegas, Echa. Kedua, kayaknya lo nggak bisa bedain mana perhatian dan mana orang yang ikut campur. Ketiga, lo anteng aja kayak biasanya bisa enggak? Liat, tuh, bokap lo lagi sakit, mending sekarang lo makan terus shalat sunnah." Echa tertegun. Raga benar. Seharusnya dia tidak boleh menjadi emosian seperti ini. Seharusnya Echa mengambil air wudu dan melupakan sejenak seluruh masalahnya begitu pula melepaskan sejenak seluruh rasa kesalnya. Diamatinya wajah Raga. Lelaki itu terlihat lebih hangat dari biasanya. Raut wajahnya pun tidak sekaku kemarin di sekolah. Lelaki itu masih sama, tampan. Senyum bahkan menjadi bingkai di wajah suram itu sekarang. "Dan buat yang kemarin, gue minta maaf." Echa kembali mengerjapkan matanya. Maaf? Lelaki bebal itu meminta maaf? Ingin rasanya Echa mengabadikan momen ini, tapi sepertinya hal itu akan merusak suasana. Echa mengusap kasar air matanya. "Paling juga diulangin lagi." "Diulangin lagi apanya?" Echa memutar bola matanya malas. "Ngatur-ngatur." Raga mengepalkan tangannya gemas. Mau digigit takut bales gigit. Mau dicubiti takut gadis di hadapannya itu akan menjadi. Gadis ini benar-benar..., menyebalkan! "Tapi, oke. Bisa Echa terima." Raga sontak tersenyum lebar. "Seriously?" Echa mengangguk mantap. "Gu-" "Sebagai gantinya, suapin Echa." "Ha?" "Itu mie ayamnya mau dianggurin gitu aja?" Raga melirik mie ayam yang dia belikan untuk Echa. "Buat Echa, 'kan? Ya, udah. Ayo suapin Echa. Echa laper banget." Tabok, jangan? ??? Suasana taman belakang rumah sakit ternyata ramai juga. Banyak pasien dan perawat atau kerabat pasien sedang menikmati bunga-bunga yang bermekaran juga hawa sejuk sore hari, begitu juga Echa. "Sebentar aja, ya, Ga. Kasian papa kalau cuma sama Mbok Inem." Raga mendengus kesal. "Iya, Cha, tapi nanti. Lo dari tadi ngomongin itu mulu. Lagian ya, bokap lo bakal sedih kalau pas bangun liat wajah anaknya sembab plus suntuk kayak gini." "Emang jelek, ya?" Echa mendongak, gadis itu menatap lekat Raga. "Banget. Lo baru nyadar kalau jelek?" Echa memberenggut kesal. Dia menginjak kaki Raga dengan sengaja. "Aws! Sakit." Raga mengusap-usap jempol kakinya yang Echa injak. "Makanya, jangan berani-beraninya bilang Echa jelek. Orang Echa cantik, huh." Gadis itu melengos. "Dih, PD." Echa mengabaikan Raga. Matanya kini menatap seorang anak kecil dengan ibunya di sudut taman. "Jelek, ya, ngaku aja jelek." Tak ada sahutan. Raga menatap apa yang sedang Echa tatap. Ada gemuruh di dadanya saat tahu apa yang gadis itu tatap sampai-sampai mengabaikannya. "Kangen mama lo?" Echa tersentak kaget. Gadis itu kembali mendongak. Rasanya, dia ingin menarik Raga agar duduk di sampingnya. Dan, dia benar-benar melakukannya. "Duduk, Ga. Echa capek ngeliatin Raga berdiri gitu." Raga yang ditarik Echa nurut-nurut saja. Mata lelaki itu sibuk menyusuri wajah pias gadis di sampingnya. "Nah, gini 'kan enak yang ngeliatin." "Lo kangen sama mama lo?" Raga kembali mengulangi pertanyaannya. "Iya," Echa tersenyum tipis, "pengin aja ngerasain kayak anak itu. Mama Echa 'kan meninggal sewaktu ngelahirin Echa, jadi Echa belum pernah ngerasain digendong mama." Raga mematung. Lelaki itu menatap lurus di mana seorang anak perempuan berusia 5 tahun sedang dikepang rambutnya oleh sang ibu. "Ga." Raga mengerjapkan matanya sesaat. Sedikit terkejut karena Echa menepuk pelan pipinya. "Jangan ngelamun." Raga meringis kecil dan bertanya, "Lo sering ke makam nyokap lo?" Echa mengangguk antusias. "Iya, cuma itu tempat yang Echa bisa datengin. Kayak Raga ke makam papa Raga-lah rasanya." Raga mengangguk-anggukkan kepalanya. Lelaki itu tampak sedang berpikir sampai dahinya bergelombang. "Raga mah harusnya alhamdulillah masih punya mama." Raga menoleh, menatap Echa dengan tatapan yang sulit diartikan gadis itu. Raga tersenyum sinis. "Iya, alhamdulillah." Echa meringis. Dia rasa yang dia ucapkan barusan salah. Buktinya raut wajah Raga kini menjadi keruh. "Masih marahan, ya, sama mama Raga?" Raga mengangkat bahunya tak acuh. "Udahlah nggak usah dipikir. Hal kayak gini udah biasa." "Maaf juga udah nanya-nanya soal mama lo yang udah nggak ada." Echa tersenyum tipis. "Santai aja. Yuk, Ga, ke kamar papa." Echa berdiri dari duduknya. Dia menepuk-nepuk celana belakangnya, membersihkan debu di sana. Raga akhirnya mengalah. Echa memang seharusnya berada di samping papanya, bukan di sini. "Gimana kalau kita shalat dulu?" Echa tak jadi melangkah. "Ha? Apa?" tanyanya karena tidak mendengar ucapan Raga. "Kita shalat dulu. Gue yang ngimamin."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN