26. Berduka Cita

1032 Kata
"Ini sebuah kabar buruk atau kabar bahagia untukku?" ??? Empat gadis dan dua lelaki yang baru saja turun dari dalam sebuah mobil itu berlari tergesa menuju ke dalam rumah sakit. Di wajah mereka terpatri dengan jelas kecemasan dan ketakutan. Echa menghapus air mata yang mengalir melewati pipinya. Gadis itu terus menarik lengan Raga masuk ke dalam sana. Keenamnya berhenti melangkah tatkala sampai di depan ruang UGD. Gadis itu luruh dalam pelukan Raga, berharap lelaki yang tengah ia peluk sekarang itu adalah Ben. Maora, Kyana, Nathalie, dan Jiwa hanya bisa diam menyaksikan betapa rapuhnya Echa sekarang. "Kenapa bisa kayak gini? Kenapa juga dokter belum keluar? Echa mau meluk papa buat yang terakhir kalinya," kata Echa terisak. Maora yang dilontari pertanyaan oleh Echa hanya bisa mengusap bahu gadis itu. Dia sedang memilah dan memilih kata-kata yang akan dia lontarkan sebagai jawaban. "Tadi gue sama Kyana ada di tempat kejadian waktu Om Ben kecelakaan, kita habis beli buku. Kita sama warga sekitar langsung bawa Om Ben ke rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit, dokter Angga langsung ngajuin diri buat menangani om Ben. Habis itu, om Ben dinyatakan meninggal dunia, tapi lo tahu 'kan kalau dokter Angga care banget sama keluarga lo, makanya dia masih kerjasama sama dokter lain buat bikin jantung om Ben berdetak lagi." Echa mengeratkan pelukannya. "Walau katanya..., itu mustahil." Dia makin terisak. Gadis itu masih setia memukul-mukul d**a Raga merasakan sesak di dadanya sendiri, hingga seorang pria berkepala 4 keluar dari ruangan UGD membuat keenam siswa itu mengarahkan pandangan mereka pada dokter itu. "Alhamdulillah, Tuhan masih menginginkan Pak Ben mengurus putrinya." Semua yang ada di sana saling tatap, begitu pula Echa. Gadis itu lantas berdiri dan melangkah mendekati Dokter Angga. "Papa-" "Setelah kami berusaha sekuat tenaga, jantung Pak Ben kembali berdetak walau masih sangat lemah." Dokter Angga mengusap lembut puncak kepala Echa. Dokter yang dulu pernah menangani penyakit Echa itu tampak semringah sekarang, tidak seperti beberapa jam yang lalu. Betapa bahagianya Echa sekarang. Gadis itu masih menyisakan senyuman di paras cantiknya. "Boleh Echa liat papa?" Dokter Angga mengangguk kecil. "Mungkin dia akan segera bangun jika kamu yang menjenguknya." Echa dengan senyum yang masih terukir di wajahnya mengusap air matanya dengan kasar. Dia melangkah dengan mantap menuju ruangan bercat putih itu. Namun, baru saja dia memegang handle pintu, perkataan Dokter Angga membuat sekujur tubuhnya kaku. "Tapi, Cha.... Karena benturan keras di kepalanya, kemungkinan besar Pak Ben mengalami amnesia." ??? Digenggamnya tangan besar milik Ben dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mengusap-usap pipi Ben penuh rasa sakit. Setidaknya, dia tidak kehilangan satu-satunya sosok ayah dalam hidupnya. Jangan sekarang, itu yang Echa inginkan. Echa belum siap. "Non Echa makan, ya?" Mbok Inem menepuk pelan bahu Echa yang mulai bergerak naik turun, menandakan gadis itu tengah menangis, lagi. Echa menggeleng lemah. "Nanti aja, Mbok." "Mbok masak sop kesukaan Non Echa lho." Echa masih menggeleng. Gadis itu tidak ingin melepaskan tatapannya dari Ben. Mbok Inem pasrah. Dia meletakkan tempat makan Echa di atas nakas. "Kalau gitu Mbok pulang sebentar, ya? Mau ngambilin baju-baju Non sama bapak." "Hem..., hati-hati, Mbok." Mbok Inem mengangguk dan meninggalkan ruang VIP itu. Meninggalkan Kyana dan maora yang sibuk memakan masakan buatan Mbok Inem, meninggalkan Raga yang tertidur dengan posisi duduk, dan meninggalkan Jiwa bahkan Nathalie yang terdiam sejak tadi. Jiwa berdehem pelan. Lelaki itu mau tak mau perlahan mendekati Echa. "Lo makan deh, Cha. Dari tadi siang belum makan, 'kan?" Kali ini Echa mau menggerakkan kepalanya. Gadis dengan rambut awut-awutan itu menatap tajam Jiwa. "Apa peduli Jiwa? Mending Jiwa pulang, anterin Nathalie sekalian. Ini udah jam 9 malam." Echa melirik Nathalie yang tengah menatapnya iba. Jiwa menghela napas lelah. Matanya terus menatap lurus tepat di dalam manik mata Echa. Lelaki itu semakin berjalan mendekat. "Ma-" "Mau Echa makan, mau Echa nggak makan. Apa urusanya sama Jiwa? Urusin aja Nathalienya!" Jiwa terperanjat. Lelaki itu kembali membujuk Echa. "Makan, Cha. Ntar lo jadi ikutan sakit." Echa tertawa sumbang. "Sakit? Sekali lagi. Apa peduli Jiwa?! Jiwa bukan siapa-siapa Echa! Ga usah sok akrab!" Jiwa membuang napas kasar. Lelaki itu memegang kedua bahu Echa dengan erat. "Gue pe-" Plakk "Ini yang pengin Echa lakuin dari kemarin! Kamu pikir hati Echa terbuat dari apa, ha?! Besi??" Suara tamparan itu membuat semua pasang mata menatap ke arah Echa dan Jiwa. Echa menatap nyalang jiwa. "Mau ngasih Echa harapan lagi? Mau ngasih Echa perhatian kecil yang bisa bikin Echa baper? Basi tahu nggak!" "Echa pikir, Jiwa beda. Bisa megang ucapan Jiwa. Jiwa bilang suka ke Echa tapi apa?! Apa, ha?! Besoknya Jiwa jadian sama dia!" Echa menunjuk wajah Nathalie dengan telunjuknya. Gadis dengan balutan jaket hitam Jiwa itu menggigit bibir bawahnya. Echa tersenyum tipis. Dia berusaha mengatur napasnya yang memburu dan mencoba membuat dirinya senormal mungkin. "Mending Jiwa sama Nathalie pulang aja. Maora sama Kyana juga. Ini udah malem. Besok udah nggak libur, 'kan? LDK-nya juga udah selesai." Hening menguasai ruangan beratmosfer canggung itu. Semuanya, bahkan Raga. Tak ada yang ingin bergerak atau membuka mulut. "Makasih udah ngater Echa ke sini. Kalian bisa pulang sekarang." ??? Semilir angin menerpa wajah pias lelaki yang tengah menatap langit malam tanpa satu bintang di atas sana. Langit malam kala itu sangat mendeskripsikan hatinya. Lelaki itu mengacak rambutnya frustrasi. Haruskah dia merasa lega sekarang? Haruskah dia melukis sebuah senyum kebahagiaan? Nyatanya, dia sendiri tidak akan pernah bisa melakukannya. Mau Tuhan mengambil seluruh ingatan sosok pria paruh baya itu, atau bahkan mengambil nyawanya sekali pun, rasa penyesalan dan ketakutannya tak akan pernah bisa menghilang begitu saja. Dia menyesal pernah menjadi alasan sosok pria paruh baya itu mendekam di rumah sakit jiwa. Dia menyesal telah menjadi alasan anak gadis sosok pria paruh baya itu meregang nyawa. Dia takut jika suatu saat semua hal yang dia tutupi akan menguap ke permukaan. Dia takut, gadis dengan senyum menyenangkan itu akan memandangnya penuh kebencian sekalipun ingatan itu belum juga pulih. Haruskah dia bahagia sekarang? Penghalang besarnya mengalami amnesia. Sang pemilik jalan rahasia yang akan menuntun kalian pada pusaran masa lalu, kini sedang terbaring tak berdaya dan telah kehilangan ingatannya. Apakah dia harus kembali? Iya! Dia harus memperbaiki semua kesalahannya. Sekali lagi, lelaki itu mengacak rambutnya. Dia juga ingin kembali. Namun, apakah dia sanggup? Apakah dia sanggup mengambil resiko yang begitu berat? Mau nggak mau, lo harus mau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN