"Tenang saja. Tanpa diatur-atur, aku sudah pandai berjalan mundur."
???
"Bau ketek gue sebegitu enaknya ya sampai nggak gerak gitu? Padahal 'kan dari kemarin sore kita belum mandi."
Echa mendorong Raga dengan kesal. Pipi gadis itu memerah karena menahan malu.
Raga si*lan!
Dengan sisa tenaganya, dia kembali berjalan menjauh, tidak mau sampai Raga melihat ia merona. Karena dipeluk Raga ternyata bisa membuat lututnya lemas, langkah gadis itu jadi sedikit terganggu.
Echa terus berjalan lurus sambil mengoceh sendiri. Meruntuki dirinya yang menikmati kehangatan yang Raga salurkan tadi sampai-sampai Echa tidak menyadari jika Raga berjalan di belakangnya. Lekaki itu tersenyum tipis. Sadar dengan keanehannya, dia menepuk pipi keras.
"Itu bibir nggak capek ngoceh mulu?"
Echa mematung. Raga mengikutinya? Detik selanjutnya, dia kembali melangkah. Tak ingin semakin membuat mood-nya hancur hanya dengan menatap Raga atau bahkan mendengarkan ocehan lelaki itu.
Walau akhir-akhir ini, dia sering memikirkannya. Memikirkan perubahan sikap Raga padanya, yang terkadang bersikap manis. Namun, tetap saja mau manis mau pahit, Raga itu menyebalkan! Bisa merusak suasana atau mood-nya kapan saja! Lagi pula, yang dia inginkan sekarang adalah Jiwa, bukan Raga. Dan entah apa yang membuat langkah Echa menuju UKS, tak memikirkan resiko akan kelakuannya itu. Dia bahkan menepis cekalan tangan Raga dengan kasar.
"Jangan ganggu mereka." Suara bernada rendah itu mampu menusuk tepat di hatinya.
Ganggu?
"Echa nggak akan ngeganggu mereka. Lagian, siapa dulu yang datang di hidup Jiwa? Echa salah gitu kalau cuma mau ketemu? Nanyain kabarnya?" Echa mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh.
Raga membuang napas kasar. "Jiwa udah sama Nathalie, mereka butuh waktu buat berdua. Lagian, lo lupa? Jiwa udah nolak lo, nolak waktu lo ngajak dia makan siang. Apa itu nggak cukup buat nyadarin diri lo kalau dia udah nggak mau sama lo? Lo nggak malu?" Raga maju selangkah, menipiskan jarak di antara keduanya.
"Emang apa salahnya buat nyoba?! Echa cuma mau tahu apa alasan Jiwa tiba-tiba dingin sama Echa, apa alasan Jiwa ngehindar dari Echa. Dia bilang dia suka sama Echa, tapi besoknya? Dia jadian sama Nathalie, Jiwa pasti punya alasan buat ngelakuin itu!"
Raga terkekeh. Lelaki itu menyunggingkan senyum meremehkan. "Apa kata lo? Alasan? Lo kira orang jatuh cinta itu butuh alasan? Bisa aja Jiwa cuma main-main sama lo!"
Echa melangkah maju, begitu juga Raga. Echa menatap Raga dengan tajam, sedangkan Raga tampak santai walau hatinya bergemuruh.
"Echa cuma butuh penjelasan dari Jiwa, bukan Raga," katanya menohok Raga. Gadis itu berbalik dan melangkah menjauh. Namun, lagi-lagi Raga menahan lengannya.
"Lo beneran nggak malu? Udah biarin aja dia sama Nathalie, apa susahnya sih ngerelain?"
Echa tertawa sumbang. "Apa susahnya ngerelain? Ini masalah perasaan, Ga. Kamu pikir Echa sebegitu mudahnya ngehapus perasaan Echa buat Jiwa? Setelah semua perlakuan manis dan pernyataan sukanya?"
"Dia lebih milih Nathalie, sadar nggak, sih?!"
"Echa tahu! Echa sadar! Echa cuma mau tahu alasannya, Ga! Alasan!"
Raga meraup wajahnya dengan tangan kanan. Lelaki itu kehilangan kata-katanya. "Dia nggak-"
"Udah deh, Ga! Echa mau ketemu Jiwa! Nggak usah ikut campur urusan Echa! Raga nggak tahu apa-apa! Jadi, nggak usah ikut-ikut!" Echa menajamkan matanya.
Rahang Raga mengeras. Lelaki itu mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Echa yang melihat perubahan raut wajah Raga menjadi tidak bersahabat, buru-buru berjalan memasuki UKS.
Dia kira Raga akan mengikutinya, tapi ternyata Raga malah melangkah berlawanan arah dengannya.
Ah, bodo amat!
Saat dia sudah berada di depan pintu UKS dan hendak menyapa, dia dibuat mati kutu. Jiwa menatapnya, sangat tajam.
???
"Kak Raga!" Maora tergopoh-gopoh mendekati Raga. Raga yang mendengar Maora memanggilnya pun menghentikan langkahnya. Raga menatap Maora yang tengah mengatur napasnya sampil membungkuk di hadapannya.
Raga berdecak kesal. "Lo mau ngomong apa? Buruan, gue lagi nggak mood nih ngomong sama orang," ketus Raga dengan wajah juteknya.
Maora yang mendapari perlakuan Raga sesewot itu memutar bola mata malas. "Gue bukan orang, gue bidadari, ya! Camkan!"
Raga menajamkan matanya. Lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Intinya aja bisa nggak? Nggak usah basa-basi."
Maora mendengus kesal. Gadis itu menyelipkan helaian rambut yang menutupi pandangannya ke belakang telinga. "Echa mana?"
Raga mengerjapkan matanya. Dia menatap Maora dari atas sampai bawah. "Bukannya sekolah libur ya karena acara LDK OSIS? Lo ngapain di sini?" Raga malah melempar sebuah pertanyaan pada Maora.
Maora menggeram. Sepertinya, Raga sedang tidak mau memulai percakapan tentang Echa. "Malah nanya balik. Gue nanya, Echa-nya di mana?" Maora menegakkan badannya, celingak-celinguk mencari keberadaan sahabatnya itu.
"Lagi nemuin Jiwa."
"Di?"
Raga membuang napas kasar. "UKS."
Maora menarik tangan Raga begitu saja, menyeret lelaki itu menuju UKS SMA Pranata. Raga menepis tangan Maora yang berani menyentuhnya. "Mau lo apa, sih?!" Nada suara Raga meninggi. Setelah kejadian tadi, dia jadi malas berurusan dengan Echa atau bahkan Jiwa.
Maora menatap Raga dengan wajah tegang. "Ini penting!"
Maora kembali menarik Raga menuju UKS, gadis itu tak menghiraukan ocehan Raga bahkan menahan tangan yang terus memberontak dalam pegangannya.
"Lo apa-apaan, sih?!"
"Udah ikutin aja! Ntar lo nyesel."
Mata gadis itu mendapati Echa yang diam mematung di depan pintu UKS. Dengan sekali tarikan, Echa sudah menghadap sepenuhnya pada Maora.
Betapa terkejutnya Maora mendapati wajah Echa yang pucat pasi. Tangannya bahkan gemetar hebat. Maora mengusap air mata di pipi Echa yang entah sejak kapan gadis itu keluarkan.
Maora menatap nyalang Jiwa yang tengah menyuapi Nathalie. "Lo apain Echa, Kak?!" Maora tak habis pikir, apa isi otak Jiwa sampai sebegitu kejamnya mengungkapkan bahwa dia menyukai Echa, tetapi keesokan harinya Jiwa resmi jadian dengan Nathalie? Dan sekarang apa? Jiwa lagi-lagi membuat Echa menangis.
Jiwa hanya menatap Maora tanpa minat. "Tanya aja sendiri, nggak gue apa-apain."
Maora memegang kedua bahu Echa, menatap Echa dengan dalam. "Lo diapain sama Kak Jiwa?"
Echa menggeleng. Gadis itu membekap mulutnya sendiri, tak ingin isakannya terdengar.
Maora menatap Raga di sampingnya yang diam saja, lalu beberapa detik selanjutnya, tatapan Maora kembali pada Echa. "Jawab jujur, Cha! Lo diapain Kak Jiwa, ha?!"
Bahu Echa semakin terguncang. Gadis itu semakin terisak. Dia menaruh kepalanya di bahu Maora, tampak tidak ada tenaga hanya untuk mengangkat kepalanya. Sangat putus asa.
"M-Mao...."
"Iya? Lo diapain sama dia? Jawab jujur!"
Echa menggeleng. "Papa nggak bener-bener meninggal 'kan, Mao?"