24. Jelangkung

1077 Kata
"Datang tak diundang, pulang tak diantar; orang jatuh cinta." ??? Echa mengerjapkan matanya. Perlahan, dia mencoba menyesuaikan diri dengan gelapnya ruangan. Gadis itu mengamati sekeliling. Tikar-tikar di sampingnya sudah banyak yang kosong. Lampu juga masih dimatikan. Dari jendela terlihat bahwa di luar sana masih gelap gulita. Samar-samar, dia mendengar langkah kaki seseorang seperti mendekat ke kelasnya itu, kelas yang dijadikan para calon OSIS untuk tidur. Seketika tubuhnya menegang. Apa ini saatnya? Saatnya jerit malam? Wajah itu memucat bersamaan pintu terbuka dan masuklah seorang siswi yang memakai rompi OSIS. Echa mencoba memejamkan matanya, pura-pura tertidur. Namun ternyata, kakak OSIS itu berusaha membangunkannya. "Cha, bangun. Sekarang giliran kamu." Echa masih berusaha memejamkan matanya. Tidur, Cha, tidur! "Aku tahu kamu udah bangun, Cha, ayo." Perlahan, Echa kembali membuka mata. Didapatinya sosok Tasya yang pernah menghukumnya sewaktu MOS. "Kamu kumpulin dulu nyawanya, aku mau bangunin si Naila." Echa mengangguk sekilas. Rasa takut seketika menyergapnya. Positif thinking, Cha! Nggak ada hantu! Palingan kakak OSIS yang kurang kerjaan nyamar-nyamar nggak jelas mau nakutin kamu! "Kalian berdua ikut aku." Echa menatap Naila yang sudah berdiri sambil mengucek-ucek matanya. Ketiga gadis itu keluar dari kelas. Echa masih setia menatap horor koridor di hadapannya. "Kalian jalan ke sana. Jangan nengok ke belakang. Kalau udah sampai di pertigaan, belok kanan. Di sana ada clue." Glekk Echa menelan ludah kasar. Otaknya kini berputar mencari cara untuk menunda gilirannya. "Em..., Kak Tasya, perut Echa sakit, nih. Aduh," ucap Echa sambil meringis sakit dan memegangi perutnya. Tasya hanya menatap datar Echa. "Jalan atau aku-" "Iya, Kak, iya!" Echa menarik tangan Naila untuk berjalan bersisihan menelusuri gelapnya lorong kelas atas. "Jangan berisik." Echa hanya memutar bola mata malas dan terus berjalan. Semilir angin malam makin memperkuat suasana horor, begitu pula decitan jendela lab yang dibiarkan terbuka. Suara itu memenuhi koridor atas. Yang Echa tahu, malam ini tentu biasa saja seperti malam-malam biasanya. Berhubung para kakak OSIS telah membentuk cemistri untuk acara jerit malam ini, maka hanya suara barang jatuh di sebelah kanan Echa sudah bisa membuatnya menegang dan..., pingsan. "Ya ampun, Echa! Ponsel gue jatuh aja lo pingsan?!" ??? Samar-samar Echa mendengar rintihan orang kesakitan. Gadis itu menjadi enggan membuka matanya. Dia masih memejamkan mata sambil meremas ujung baju yang dia kenakan. Samar-samar pula bau bunga melati memenuhi indra penciumannya. "Bangun...." Bulu kuduknya meremang. Gadis itu tak mampu lagi menahan peluh yang membasahi wajahnya. Merasa ada yang memegang bahunya, Echa terlonjak kaget. Dia bertambah ketakutan tatkala melihat seorang perempuan berambut panjang yang sedang memegangi pundaknya menyeringai. Echa meronta, menendang-nendang ke segala arah. Sampai dia tak sengaja menendang perut kuntilanak itu. "Aw, perut gue!" Saat mendengar si kuntilanak berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya, Echa terdiam. Benar juga, dia sedang jerit malam. Kenapa dia harus takut? Echa melemas. Sekarang dia harus bertanggung jawab karena sudah membuat salah satu kakak kelasnya kesakitan. Walau bukan salahnya sepenuhnya. Sudah tahu ia pingsan, baru bangun sudah ditakuti. Bagimana dia bisa berpikir? Echa melihat Jiwa yang berlari ke arah Salsa, kakak OSIS yang menyamar menjadi kuntilanak tadi. "Apanya yang sakit?" Suara yang ingin Echa dengar beberapa hari ini akhirnya bisa dia dengar juga. Jiwa tampak khawatir dengan temannya itu. "Nggak, nggak ada. Udah ilang sakitnya." Salsa menatap Echa dengan senyum tipisnya. "Ini bukan sepenuhnya salah dia. Tadi Didit udah bilang jangan langsung nakutin dia kalau sadarkan diri, tapi guenya yang udah terlalu seneng ada mangsa baru, hehe. Maaf, ya, Dek." Echa tersenyum kikuk. "Echa yang maaf. Maaf, ya, Kak." Gadis itu menundukkan kepalanya. Tampak malu pada Jiwa dan Salsa. "Iya, nggak apa." Echa nyengir. "Jalan keluar kelas, belok kanan." Echa mengerjapkan matanya. Jiwa bicara padanya? Echa menunjuk dirinya. Jiwa menghembuskan napas kasar. "Iya." Perlahan, Echa bangkit dari duduknya. Dia mengamati sekitarnya. Oh, s**t! Tadi dia pingsan dan ditaruh di sebuah kelas?! Tak mau berlama-lama, Echa berjalan keluar dengan ragu. Saat sudah berada di ambang pintu. Echa menoleh. "Nailanya mana, ya, Kak?" Kedua kakak kelasnya itu tampak saling tatap. "Jalan," ucap Jiwa dan Salsa bersamaan. Echa mendengus kesal, tapi mau tidak mau dia kembali berjalan. Mengikuti titah Jiwa. Keluar kelas, belok kanan. Dan di sana, dia bisa melihat ada 4 orang anggota OSIS memakai jaket dengan lilin di tangan masing-masing. Echa mendekat. "Kamu yang namanya Echa?" tanya Radega, cowok yang memegang sebuah kardus. Echa mengangguk. "Naila ada di pos selanjutnya, dia nungguin kamu." Sekarang Echa menatap sosok gadis cantik berjilbab, Safira. Echa lagi-lagi mengangguk. "Ambil." Dirga mengambil alih kardus di tangan Radega dan disodorkan pada Echa. Dengan canggung, Echa mengambil salah satu gulungan kertas kecil di dalam kardus. Saat sudah mendapatkannya, gadis itu membukanya. "Datang tak diundang, pulang tak diantar." Echa menegang. Clue itu membuat bayangan jelangkung dan arwah-arwah penasaran berkeliaran di kepalanya. Rasanya, ingin menggerakkan kaki saja dia tak mampu. "Silakan ke pos selanjutnya." Echa nyengir kuda. "Bentar, Kak. Kaki Echa gemeteran." ??? Pagi telah tiba. Lapangan SMA Pranata di penuhi calon anggota OSIS. Mereka memencar mencari tempat duduk yang nyaman untuk sarapan. Di tangan masing-masing, sudah ada sepiring nasi beserta lauk pauk juga segelas teh hangat. Echa tampak tidak nafsu makan. Gadis itu hanya mengaduk-aduk makanannya, membuat Raga yang duduk di sampingnya gemas sendiri. "Dosa apa sih nasinya dianggurin gitu." Suara ketus Raga memecah keheningan di antara keduanya. Echa menatap Raga sekilas, hanya sekilas. Karena selanjutnya, kedua mata Echa kembali menatap lurus ke depan. Ke arah Jiwa yang tengah menyuapi Nathalie di dalam UKS. Sangat jelas di matanya, Jiwa tampak bahagia. Tidak sepertinya yang kusut lahir dan batin. Raga mengikuti arah pandang Echa. Lelaki yang sudah menghabiskan semua isi piringnya itu membuang napas kasar. "Mau lo liatin sampai mata lo lumutan, gue jamin, tuh, bocah nggak akan mau repot-repot jalan ke arah lo dan nyuapin lo!" Echa mendengus kesal. Dia mengusap kupingnya yang pengang. Gadis itu menaruh piring yang masih terisi penuh di tangannya ke depan Raga. Dia lantas berdiri hendak berjalan menjauhi Raga. Namun, baru dua langkah berjalan, sebuah tangan menariknya membuat dia berbalik dan menubruk d**a seseorang, d**a Raga. Tangan itu beralih melingkar di pinggang Echa. Menyalurkan sensasi aneh yang menjalar dari perut hingga d**a keduanya. Raga menegang. Hembusan napas Echa yang menerpa dadanya membuat dia harus menahan napas. Dia grogi! Raga merasa, akhir-akhir ini ada yang aneh dengan dirinya. Echa terdiam, sama sekali tidak bisa berkutik. Wangi tubuh yang Raga semakin membuat Echa tak ingin mengurai, memberontak, atau mendorong lelaki itu. Jika boleh jujur, ini sangat nyaman! Bahkan, bisa mengalihkan seluruh beban pikirannya tadi. Raga berdehem. "Bau ketek gue sebegitu enaknya ya sampai nggak gerak gitu? Padahal 'kan dari kemarin sore kita belum mandi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN