"Aku terbang, aku bahagia, dan aku tak tahu kapan sayapku patah dan kapan bahagiaku lenyap."
???
"Echa!"
Echa memutar tumitnya 180 derajat. Dia terpaku saat melihat siapa yang memanggilnya, Jiwa. Lelaki itu berlari kecil ke arahnya sambil menebar senyum hangat seperti biasa. Echa masih terdiam di tempat sampai tangan kanan Jiwa mendarat di puncak kepala Echa, mengusap-usapnya lembut.
"Kok malah ngelamun?" tanyanya sambil terkekeh geli melihat wajah Echa yang menegang.
Echa tersipu malu. Dia menurunkan tangan Jiwa yang masih bertengger di kepalanya. Dia mendongak, tersenyum ramah lalu bertanya, "Jiwa mau apa ke rumah Echa?"
"Mau ngasih ini." Jiwa mengulurkan sebuah buku dengan judul "OSIS" dan Echa langsung tahu maksudnya apa. Jiwa memberikannya buku itu agar dia bisa belajar untuk besok. Dan Echa yakin, Jiwa begitu mengharapkan dia lolos dalam seleksi ini. Maka dari itu, dia harus bekerja keras, bukan hanya karena tantangan dari Rian, tapi juga karena Jiwa.
"Masuk dulu, yuk, Ji." Echa menarik lengan Jiwa, membawa lelaki itu masuk ke rumahnya. Jiwa mengangguk, membiarkan tangannya ditarik Echa.
"Tadi habis dari mana?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Jiwa, padahal Jiwa melihat dengan jelas tadi Raga dan Echa pergi ke perpustakaan daerah, karena memang Jiwa mengikuti mereka.
"Dari perpustakaan daerah sama Raga." Echa mendaratkan pantatnya di sofa yang terletak tepat di samping Jiwa.
"Non sama Aden mau minum apa?"
"Eh? Mbok inem? Terserah Mbok aja, tapi Jiwa sukanya yang manis-manis," jawab Echa tanpa mau repot-repot menanyai Jiwa ingin minum apa.
"Oh, iya, Non. Sebentar ya, Non, Den?"
"Iya Mbok, nggak usah juga nggak apa-apa kok sebenernya, saya baru aja minum."
Mbok Inem hanya tersenyum lalu melangkah pergi.
"Elo sok tahu banget sih, Cha?" Jiwa tertawa renyah sampai matanya menyipit.
Echa mengeryitkan dahi. "Sok tahu kenapa?"
"Jiwa suka apa aja yang manis-manis, bukannya itu elo?"
Echa ikut tertawa, dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Iya itu Echa, tapi Echa yakin Jiwa juga gitu, buktinya Jiwa suka Echa hahaha, Echa 'kan manis."
"PD banget." Jiwa mencubit kedua pipi Echa gemas.
"Nggak! Echa bercanda! Lepas!" Echa menepis tangan Jiwa yang mencubit pipinya, itu benar-benar sakit.
"Tapi iya, sih, emang bener."
Echa mengerjapkan matanya. Dia menatap Jiwa sambil melongo. "Iya apanya?"
"Iya kalau Jiwa ini suka sama Echa."
???
"Echa! Basah!"
Echa melepas tawanya. "Ya iyalah basah, orang ini air!"
"Awas lo, ya!"
"Awas apaan? Wlekk." Echa berlari ke sana sini sambil terus menyemprotkan air di selang ke Jiwa, hingga....
"Jiwa, jangan!!!" Echa merebut selang air yang tadi Jiwa rebut darinya, tetapi tidak berhasil.
"Jangan!!" Echa menutupi tubuhnya hanya dengan kedua tangannya. Hal itu jelas masih bisa membuat bajunya basah oleh semprotan air dari Jiwa.
Jiwa tertawa lepas. Baginya pemandangan ini sangat langka. Dia memang jarang ke rumah Echa, berdua dengan Echa, atau mengerjai gadis mungil itu. "Gantianlah, kamu 'kan tadi udah nyiram aku," kayanya dengan santai.
Echa menyipitkan matanya. "Aku? Kamu?"
Jiwa mengangguk mantap. Senyum hangat kembali terlukis di paras tampannya. "Iya aku-kamu. Biar keliatan lebih deket." Dan hal itu. Ah, ralat. Bukan cuma hal itu, semua hal yang Jiwa katakan selalu berhasil membuatnya tersipu, berhasil membuat hatinya berbunga-bunga.
"Cie yang salting," goda Jiwa dengan seringai aneh di bibirnya. Jiwa memang tidak ada pantas-pantasnya jika menyeringai seperti itu. Malah terkesan lucu.
Echa memukul d**a Jiwa dengan kesal. "Nggak usah ke-PD-an! Jiwa jelek!"
"Dih?" Jiwa tergelak.
"Pacar kamu, Cha?"
Echa menoleh. "Eh, Papa?
Jiwa ikut menoleh.
"Awas selangnya! Aduh! Jas saya basah!"
???
Echa menatap buku di tangannya dengan senyum malu-malu. Sedari tadi tak ada isi buku itu yang bisa ke kepalanya, yang ada saat dia membaca setiap katanya dia akan terus terulang-ulang dengan perkataan Jiwa "Iya kalo Jiwa ini suka Echa," Dan hal itu jelas membuat pipinya memanas. Terlebih lagi setelah Ben pulang tadi, Papanya itu terus mengintrogasi Echa dan Jiwa. Ben juga terus mendesak Jiwa mengatakan jika mereka memang mempunyai hubungan spesial. Dan lagi-lagi, hal itu membuat ia tersipu malu. Namun, beda lagi saat ia mengingat wajah Papanya saat Jiwa tak sengaja mengarahkan selang ke tubuh Papanya. Karenanya, baju Ben basah kuyup.
Lamunan Echa terganggu oleh bunyi notifikasi dari ponsel. Echa menatap ponselnya yang menampilkan notifikasi pesan dari Raga. Raga ganggu!
Kakek Lampir
Bsk gue jemput.
Anda
Oke
Setelah membalas pesan singkat dari Raga, dia kembali fokus pada buku yang diberi Jiwa tadi. Iya fokus, fokus menatap buku dan sesekali menciumi bau parfum Jiwa yang amat sangat melekat pada buku itu. Mungkin, Jiwa menyemprotkan parfum dulu pada buku itu sebelum diberikan kepada Echa.
Saat Echa teringat suatu hal, dia langsung meraih ponselnya lagi. Ditatapnya beranda percakapannya dengan Jiwa. Kenapa Jiwa belum mengabarinya? Bukankah lelaki itu bilang bahwa dia akan menceritakan sesuatu pada Echa? Tapi nyatanya ini sudah jam sepuluh malam, dan sejak pukul tiga sore tadi Jiwa belum mengiriminya satu pesan pun.
Jiwa tidak melupakannya, 'kan?
Echa mendengus kesal. Sepertinya, Jiwa lupa.
???
Jiwa memegang rahangnya yang nyeri. Tatapannya terus jatuh pada gelang di genggamannya dan juga layar ponselnya. Otaknya terus berputar mencari solusi masalah yang sedang dia hadapi. Namun, lama-lama dia malah merasa menjadi orang bodoh karena tak bisa mencari jalan keluar.
Jiwa mengerang kesal. Dia melempar ponselnya dengan kesal ke atas sofa. Tatapannya kini berganti pada segelas air putih di hadapannya. Dia lantas mengambil gelas itu dan menegak isinya sampai tandas.
"Gue harus gimana?" gumamnya putus asa. Tatapan Jiwa kosong. Dia benci saat-saat seperti ini. Saat dimana dia benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Eh, bukan cuma terlihat, tapi dia memang bodoh soal cinta.
Jiwa mengacak rambutnya frustrasi, gerakannya itu membuat ia tak sengaja menyentuh luka di pelipisnya. Dia meringis sakit. Kenapa nasibnya seperti ini?
Si*lan!!
Jiwa menatap layar ponselnya entah untuk kali ke berapa. Dia terus memutar otak, hingga tidak ada pilihan lain. Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi w******p lalu mencari sebuah kontak. Saat ditemukannya, dia membuka kolom percakapan dan mengetikkan sesuatu. Sesuatu yang akan merubah segalanya.
Ya, gue mau. Sebenernya gue juga suka sama lo. Udah dari dulu, tapi gue malu buat bilang hal ini ke elo.