"Tidak semua tokoh dalam cerita hadir sejak awal. Ada kalanya di tengah-tengah cerita muncul seorang tokoh yang tak terduga. Jadi berhati-hatilah saat membaca."
???
Echa berlari kecil menuruni anak tangga. Matanya sibuk mencari sosok Ben yang entah pergi ke mana sejak sarapan tadi. "Mbok, papa di mana, ya?" tanya Echa pada Mbok Inem yang tengah menyapu ruang tamu.
Mbok Inem tersenyum hangat menyambut Echa. "Bapak lagi pergi ke supermarket. Katanya mau beli permen buat Non Echa."
Echa terkekeh geli. Matanya tak sengaja melihat sebuah mobil yang tengah berhenti tepat di depan gerbang. Tak berselang lama suara klakson membuat Echa mendengus kesal. "Mbok, Echa mau main sama temen. Nanti Mbok tolong kasih tau papa, ya?"
Mbok Inem mengernyit bingung. "Temennya nggak dipersilakan masuk dulu?"
Echa mengangkat kedua bahunya. "Dia tadi bilang nggak mau masuk. Echa disuruh langsung keluar pas denger suara klakson."
Gantian sekaranglah Mbok Inem yang terkekeh. "Cowok pasti, ya, Non?"
Echa memicikkan mata.
"Makanya si ganteng malu ketemu bapak mertua."
Echa mendengus geli. Mbok Inem selalu bisa menggodanya. Terdengar kembali bunyi klakson dari mobil Raga tak sabaran. Echa hanya bisa menggerutu sambil menyalami Mbok Inem. "Hati-hati, Non Echa!"
"Iya, Mbok!"
Echa berlari kecil. Menyapa Pak Tejo yang tengah membukakan gerbang untuknya. Dia membuka pintu mobil samping pengemudi dan masuk ke dalam. Ditatapnya Raga dengan tatapan intimidasi. "Beneran nggak mau masuk dulu?"
Raga menatap Echa sekilas. Dia berdehem, berusaha menghalau rasa gugup yang menggerayanginya. "Nggak. Keburu macet jalannya."
"Malu sama papa Echa?"
Raga menggeleng mantap.
"Papa lagi ke supermarket. Nggak mau minum dulu?"
Raga menyipitkan matanya. "Nggak mau."
"Ya, udah."
Raga menghidupkan mesin mobilnya dan perlahan mobil itu melaju dengan suasana hening yang tercipta di antara keduanya.
???
Echa mematap sekelilingnya dengan dahi mengernyit. "Kita mau apa ke sini?"
Mendengar pertanyaan Echa, Raga lantas membalikkan badannya. Membuat Echa menubruk badan tegap itu. Echa mengusap-usap dahinya yang terbentur d**a Raga. Ia mendongak, tersenyum kikuk karena tahu pertanyaan yang ia lontarkan sama sekali tidak bermanfaat. Memangnya apa yang akan kita lakukan ke perpustakaan daerah jika bukan untuk membaca atau meminjam buku? Ya, Echa akui dia salah jika bertanya seperti itu pada Raga.
Raga mendengus kesal. "Besok kita LDK, jadi gue mau belajar."
Echa mengangguk, lalu menyusul Raga yang berjalan dengan langkah lebar menuju rak bagian timur.
"Jiwa bilang apa aja sama lo tentang LDK ini?" Raga tampak sibuk mencari buku-buku yang dia perlukan di rak bertuliskan "300-565".
Echa memijat pelipisnya, mencoba mengingat perkataan Jiwa saat di UKS beberapa hari yang lalu. "Ah, iya!" Echa berteriak nyaring saat berhasil mengingat perkataan Jiwa, membuat banyak orang yang tengah membaca anteng menatap Echa tajam. Echa merapatkan kedua telapak tangan di depan d**a "Maaf".
"Makanya nggak usah berisik."
Echa mendengus kesal. "Iya-iya."
"Si Jiwa bilang apa?" ulang Raga.
"Jiwa bilang acara pertama biasanya pembukaan, terus ada sambutan-sambutan. Acara kedua ada seminar OSIS SMA kita. Kakak-kakak OSIS-nya bakal lebih memperkenalkan dengan detail apa itu OSIS dan tugas-tugasnya. Acara ketiga, bakal ada tanya jawab. Habis itu apa, ya...? Oh, iya! Game! Dan habis game Echa nggak tau. Kenapa nggak nanya ke Jiwa sendiri aja? Bukannya kalian serumah?"
Raga mengerjapkan matanya. Dia menggaruk pipinya yang tidak gatal. Sial, dia salah fokus!
"Raga ngelamun? Ada masalah lagi?" Echa memicikkan matanya.
Raga mendorong wajah Echa yang makin lama makin dekat dengan wajahnya. Dia menatap Echa dengan tajam. "Gue. Nggak. Pernah. Mau. Ngomong. Sama. Si tuyul."
Echa mencibir. Nggak mau ngomong? Kita lihat aja, batin Echa berusaha menahan diri untuk tidak berteriak di telinga Raga jika besok pasti Raga dan Jiwa akan banyak terlibat komunikasi!
Echa kembali melangkah gontai mengikuti Raga yang duduk di kursi dekat jendela raksasa. Echa duduk tepat di depan Raga.
Tiba-tiba rasa kantuk menyerang. Kenapa bisa dia mengantuk? Apa karena melihat Raga membaca buku yang tebalnya enam centi meter? Atau karena dia kekenyangan? Ini baru jam sembilan! Dan Echa ngantuk?!
Echa menguap.
Raga mengernyit bingung. Heran karena Echa mendadak membisu. Dia menahan diri agar tidak tertawa sekecil apa pun. Di depannya, Echa menyangga dagu dengan tangan kanan. Mata Echa tampak sayup-sayup, pertengahan terbuka dan tertutup. Gadis itu amat lucu.
Eh?
Apa tadi? Sadar apa yang ia pikirkan saat ini tentang Echa membuat Raga berdehem. Dengan pro-kontra di batinnya, Raga memantapkan tekat berpindah tempat duduk menjadi tepat di sebelah kanan Echa. Raga memandang Echa yang setengah sadar memandang ke depan dengan tatapan kosong. Beberapa menit yang lalu Echa masih bisa berbicara panjang lebar. Lihatlah sekarang, gadis itu benar-benar terlelap.
Raga mengangkat tangannya hendak menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Echa. Namun, dia urungkan karena tiba-tiba sebuah ide terlintas di otaknya. Raga mengeluarkan ponselnya. Dia tersenyum miring tatkala sudah berhasil mengambil gambar Echa yang tengah tertidur pulas.
Bukannya kembali membaca buku bacaannya, Raga malah fokus menatap wajah Echa yang terlihat lebih cantik saat tidur. Aura kalemnya jadi lebih kelihatan. Raga tersenyum tipis. Sekarang, tangannya benar-benar mengusap rambut Echa penuh kasih.
"Gue pengin jujur sebenernya sama lo, tapi gue takut. Gue takut lo bakal benci sama gue selamanya."
"...."
"Maaf...."
"Aku kangen kamu, Ga."
Raga mematung.
???
Echa terlonjak kaget saat tiba-tiba kedua pipinya ditarik. Dia menatap Raga penuh kekesalan. "Ih, kok dibagunin, sih, Ga? Echa lagi mimpiin Jiwa."
Raga melirik Echa sekilas. Masa bodoh dengan mimpi Echa. Dia beranjak dari duduknya, menaruh kembali buku yang tadi dia baca ke tempat semula. Echa mau tidak mau mengikuti ke mana Raga pergi.
"Rencana kita gimana, nih?"
Echa menoleh, menatap Raga dengan alis terangkat.
Raga menghela napas lelah. "Kadang di LDK OSIS juga ada jerit malamnya."
Wajah Echa memucat. Matanya menatap Raga dengan raut wajah ketakutan yang bisa membuat Raga terkekeh geli.
"Gini aja, kalau semisal itu beregu, lo harus sama gue. Jangan sampai lo pingsan. Masa iya calon OSIS penakut, ntar yang ada kita kalah taruhan karena nggak kepilih jadi anggota OSIS."
Echa mendengus kesal. "Ya-in, terserah kamu aja, Ga."
Echa termenung kala dia mendengar tawa renyah Raga, Raga tertawa. Dan baginya ini bukan sekedar hal langka, tapi pemandangan yang menyejukkan mata.
"BTW muka lo lucu kalau pucet."
Plakk
"Lo berani mukul gue?!" Raga menatap tajam Echa. Echa hanya menjulurkan lidahnya.
"Raga!"
Echa menolehkan kepalanya pada suara perempuan yang sangat asing di telinganya. Dia bisa melihat dengan jelas, perempuan cantik dengan balutan dress selutut berwarna peach itu berlari dari arah pintu perpustakaan.
"Aku nyari kamu ke mana-mana. Eh, tahunya ada di sini." Gadis itu menggandeng lengan Raga begitu saja, membuat Echa mengernyit bingung.
Pacar Raga?
"Lepas, Ren. Ntar pacar lo liat." Raga melepas tangan gadis itu perlahan, sedangkan gadis itu menekuk mukanya. Detik berikutnya pandangannya terarah pada Echa. Echa tersenyum ramah dan menjaga jarak dengan Raga karena memang jarak keduanya sangat dekat.
"Lo siapa?" tanya gadis itu dengan dagu terangkat, sombong. Itulah satu sifat yang Echa tangkap dari gadis ini.
"Nama aku Fa-"
"Dia Echa."
Gadis dengan balutan dress selutut itu memicingkan matanya. "Muka lo familier. Apa kita pernah ketemu?"
Echa menggeleng.
"Gue Lauren."
Deg
Lauren, gadis yang membuat Raga babak belur dua kali. Echa meringis. "Kayaknya emang belum pernah ketemu deh, tapi Echa sering denger nama kamu dari dia." Echa menunjuk Raga dengan jari telunjuknya.
Wajah Lauren bersemu merah. Matanya menatap Raga dengan binar kagum. "Ternyata kamu sering nyeritain aku ke temen kamu?"
Raga mendengus kesal. "PD banget lo, dasar, ayam," cibir Raga tanpa mau repot-repot menatap Lauren.
Lauren hanya mendengus kesal dan mencibir.
"Yuk, Cha, kita pulang. Kamu belum makan siang, 'kan?"
Eh? Apa?
Echa hanya bisa melongo saat Raga menggenggam jemarinya sangat erat dan menariknya melewati Lauren begitu saja. Entah setan apa yang merasukinya, pipinya tiba-tiba memanas.
"Raga! Aku pulang sama siapa?" Lauren menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
Raga berhenti yang otomatis Echa ikut menghentikan langkahnya. Mereka berbalik. "Lo bisa sampai di sini sendiri, kenapa pulangnya enggak?"
"Aku bilangin ya ke mama kamu!" Lauren menatap Echa sinis sambil berjalan mendekat, menepis genggaman Raga pada Echa.
Echa menggigit bibir bawah. Ini sebenernya ada apa?!!
"Lo bisa nggak? Sehari aja nggak ganggu gue? Gue punya masa depan gue sendiri, jadi elo atau pun mama nggak berhak ngatur-ngatur gue. Jadi stop! Stop ngusik gue Lauren!" Raga marah, Echa tahu itu. Rahangnya mengeras, tatapannya menajam. Leuren terlihat beringsut dan mundur beberapa langkah.
"Mau lo bilang ke mama atau ke seluruh orang di dunia pun, gue tetep milih Echa."
Eh? Apa kata Raga?