"Bisakah kamu selalu bersikap seperti ini? Tersenyum di setiap detiknya, menghadirkan gelenyar aneh dan dejavu?"
???
"Raga suka nasi uduk?"
Perlahan, Raga menurunkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia menurunkannya sebatas d**a. Ada rasa senang dan malu saat mendapati Echa telah duduk di sampingnya sambil menenteng dua bungkusan dalam sekantung plastik.
"Lo ngapain di sini?" Raga menatap Echa yang sekarang duduk di atas ranjang.
"Katanya suruh beli sesuatu? Ya, udah. Echa beli nasi uduk." Echa memperlihatkan nasi itu dengan senyum lebar di bibirnya.
Rasa sakit itu, rasa malu, rasa khawatir, rasa bersalah menyelimuti Raga. Echa tidak marah? Setelah semua yang dia lakukan tadi? Bahkan kemarin-kemarin?
Saat mulutnya terbuka karena ingin bertanya, Echa langsung memasukkan sesuap nasi ke mulut Raga. Raga tersentak kaget, dia keselek. Dengan raut wajah panik, Echa membuka tutup botol air mineral dan disodorkan pada Raga yang wajahnya sudah memerah.
Raga menerimanya dan langsung meminum air tersebut. "Maaf," cicit Echa sambil menundukkan kepalanya. Dalam hati, kenapa dia jadi kalem begini?
Raga mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Dengan satu tarikan napas, kedua telapak tangan Echa telah berada dalam kurungan telapak tangannya. Echa mendongak, matanya bertubrukan langsung dengan mata Raga.
Raga yang kentara sekali sedang merasa bersalah. "Gue yang minta maaf udah kasar sama lo," ucap Raga lirih. Dia melepas genggaman tangannya secepat mungkin saat sadar dengan apa yang telah dia lakukan.
Echa mengamati wajah Raga yang bersemu merah. Ingin rasanya ia tergelak tawa atau mengabadikan momen di mana Raga bisa merona, tetapi Echa tahu ini bukan waktunya untuk bercanda.
Echa tersenyum simpul. "Udah Echa maafin kok. Echa 'kan pemaaf. Nggak kayak Raga, cuma nabrak aja ada acara hukuman-hukuman gaje."
Raga menonyor jidat Echa. "Bodo amat!"
Echa menatap Raga lembut sambil menyuapinya. Bolehkah Echa jujur? Kenapa setiap menatap wajah atau mata Raga lama, Echa selalu merasa dejavu? Merasa tak asing?
"Raga lagi marahan ya sama mama Raga?" Echa menatap Raga dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebenarnya, bukan ini yang mau Echa tanyakan! Tapi kenapa malah pertanyaan itu yang terlontar?
Raga terdiam. Pandangannya menyusuri setiap inci ruangan serba putih itu. Dia berdehem, menghilangkan sekat ditenggorokannya. "Kita udah biasa kayak gitu."
Echa mengeryitkan dahinya. "Kalian punya masalah apa emangnya?"
Raga melirik Echa sejenak. Batinnya sedang berperang. Apakah dia akan menceritakan semuanya pada Echa? Sejujurnya, Raga ingin berbagi, tetapi ada dorongan lain pula yang menyuruh dia bungkam.
Echa tersenyum tipis. Diusapnya punggung tangan Raga. Raga berjengit. "Nggak usah cerita nggak apa kok, Ga. Echa nggak maksa."
Raga menggenggam tangan Echa yang mengusap punggung tangannya. "Lo pernah bilangkan ke gue?" Raga mengambil piring di tangan Echa dan meletakkannya di nakas.
Echa mengerutkan keningnya bingung. Raga terkekeh geli. "Gue sama Jiwa beda." Raga mengacak puncak kepala Echa lembut.
Echa tertegun. Kenapa jantungnya jadi berdebar-debar? Terasa lebih cepat dari batas normal dan seperti orang habis maraton? Kenapa dari perut naik ke dadanya berasa ada desiran aneh? Pernahkah dia bilang jika Raga bersikap manis ia sering kali merona? Pernahkah Echa berkata jika ia kagum pada senyum Raga?
Echa membuang muka. Jangan sampai Raga menyadarinya. "Bi-bisa diulang? Nggak kedengeran," tanyanya gugup.
Mata Raga menyipit. "Gue sama Jiwa beda?"
Saat mendengar nama "Jiwa" disebut, Echa mengangguk antusias. Baginya, setiap pembahasan yang menjurus ke Jiwa pasti akan membuatnya bersemangat dan menghilangkan rasa gugupnya.
Raga tersenyum tipis. Pandangannya menerawang entah kemana. "Papa sama mama selalu beda-bedain gue."
Echa mematap Raga sambil terkekeh. "Dulu Echa sama almarhumah kakak Echa juga digituin."
"Nggak sesimple itu, Cha."
"Why?"
"Jiwa pinter, gue enggak."
"Itu 'kan dulu," Echa mengeratkan genggaman Raga, "sekarang 'kan Raga udah pinter. Yah, walau bandel, sih."
Raga berdecak kesal. "Sampai sekarang gue pinter pun mama masih gitu."
"Mungkin beliau punya tujuan yang nggak bakal Raga tau," tebak Echa.
"Mama pernah selingkuh," aku Raga.
Echa mengerjap-ngerjapkan matanya.
Mama Raga selingkuh?
"Walau cuma beberapa bulan itu tetep ngena di hati bokap. Dan lihat, Cha! Bokap gue udah meninggal. Mama udah bikin orang yang gue sayang kecewa."
Echa menatap Raga prihatin. "Dia udah minta maaf 'kan?"
Raga mengangguk sekilas. "Tetep aja hati gue masih nggak ikhlas."
"Terus kenapa kamu jadi benci banget sama Jiwa?" Echa memalingkan wajahnya. Kenapa dia ingin tahu segala hal tentang Jiwa? Echa melirik Raga, dilihatnya Raga tengah menatapnya, menatap tepat di manik matanya.
Hening. Keduanya hanya saling tatap. Tak ada yang membuka suara. Bahkan, Raga yang ditanya pun hanya menatap Echa serius dan..., dalam.
"Emm.... Ka-kalau boleh tahu kenapa, Ga?" Echa benar-benar merasa gugup.
"Karena Jiwa selalu nyuri apa yang seharusnya jadi milik gue," jawab Raga langsung. Tatapannya menajam, menusuk sampai terasa di hati Echa. Kenapa tatapan itu kembali hadir? Apa karena Echa? Atau karena Raga tengah mengingat Jiwa?
Echa menautkan alisnya. "Yang Jiwa ambil?"
Raga mengangguk. Tatapannya tak pernah lepas dari Echa. "Ya."
"Contohnya?"
" .... "
Echa mengernyit karena Raga tak kunjung menjawab. Dia hendak berkata, tetapi Raga mendahuluinya.
"Elo."
Echa membatu.
"Contohnya elo."
???
"AHAYYY!! GUE MENANG!! HAHAHAHA." Rian menepuk-nepuk dadanya. Dia merasa bangga pada apa yang telah dia lakukan. Lima pasang mata lainnya hanya melirik Rian dengan malas-malasan.
Kenapa dari banyaknya pemain harus Rian yang menang? Apa kabar pada nasib ke lima orang lainnya? Rian gila, mereka tahu itu, dan apakah mereka akan sanggup menerima tantangan atau pertanyaan dari Rian?
Mereka berenam sedang bermain TOD. Di sini yang ditunjuk panahlah yang akan memberi tantangan atau pertanyaan. Dan naas, Rianlah orangnya!
"No, lu mau apaan?" Rian mengarahkan jari telunjuknya pada wajah Vino yang berubah masam dengan jumawa.
Vino melirik Rian sekilas. Kenapa harus Rian? Tidak bisakah Tuhan menakdirkan orang yang lebih waras dari Rian saja yang menang?
"Gue ... truth." Vino meyakinkan diri untuk itu. Tidak akan pernah dia memilih dare ketika Rianlah pemberi pertanyaan atau tantangan. Bisa mati muda Vino jika memilih dare. Pernah, Rian menyuruh pemain TOD menggosok balsem ke matanya, parahnya lagi disuruh nabok p****t emaknya. Rian memang kurang waras!
Rian berdecak kesal. "Gak asyik lu, Vin!"
Tapi wajah Rian seketika berubah cerah kembali, membuat ke lima orang lainnya menatap Rian was-was, apalagi Vino. "Gua punya satu pertanyaan buat lu."
Vino menghela napas kasar. Semoga pilihannya tidak salah. "Ya emang peraturannya cuma satu!"
"Hehe, iya-ya." Rian hanya cengengesan sambil melirik-lirik Kyana yang tampak asuik dengan ponsel Echa.
"Buruan, apa pertanyaannya?"
"Nyante, Bos.... Jangan kaget, ya?"
Vino hanya menggumam kesal.
"Lu lagi suka sama siapa?"
Seketika semua mata tertuju pada wajah Vino yang memucat. Kyana yang asyik memainkan ponsel Echa langsung dimatikannya. Echa yang sedang minum langsung menaruh gelas ke atas nakas. Maora yang tampak bete langsung berubah sangat-sangat antusias. Bahkan, Raga yang tengah berdoa kepada Tuhan agar Rian tak berbuat macam-macam pun langsung terfokus pada wajah Vino. Mampus lo, Vin! Mampus! M-A-M-P-U-S! Mampus!
Vino terlihat gelagapan. Digaruknya leher yang tidak gatal. Matanya berpindah dari satu objek ke objek lainnya. "Gue...." Vino tampak sekali sedang berpikir.
"Gua hitung sampai 5, kalau lu nggak jawab, gua posting semua aib lu di i********:!"
Vino mendelik, ditatapnya Rian dengan tajam.
"Udah buruan! Pala gue udah sumpek liat kalian semua di ruang inap gue!" Raga menatap Rian dan Vino bergantian.
"Tinggal jawab apa susahnya sih, Kak? Kita nggak bakal bocorin kok." Echa akhirnya angkat suara. Pikirannya sudah capek mencari jawaban yang sama dengan Vino.
"Gue suka sama...." Vino menunduk, tidak mau menatap salah satu di antara temannya.
"Aldira."
"Ah! Udah! Kita lanjut! Vino nggak asyik! Masa nggak cinlok sama Kyana?! Atau si Maomao?! Ganti!"
Vino mendungus kesal, tetapi batinnya bersorak-sorai karena bisa mengelabui si kutil a.k.a Rian dan yang lainnya. Bisa dilihat wajah Kyana yang tadinya kepo jadi b aja, wajah Echa yang antusias jadi datar, wajah Maora ambyar, wajah Raga jadi masam. Ya, Vino tahu jika Raga tak suka dibohongi. Lagipula Vino tidak membohongi Raga, karena Raga tahu semua rahasi Vino termasuk orang yang dia suka. Vino hanya membohongi Echa, Kyana, Maora, dan Rian. Hanya.
"Maora?"
Maora yang dipanggil Rian langung membulatkan tekatnya. "Da-dare?"
Rian menangguk antusias. "Cium gua."
"Apa?!" Maora mendelik kaget, sedangkan yang lainnya tertawa.
"Nggak, bercanda. Cium tangan calon suamimu ini." Rian mengulurkan tangan kanannya tepat di depan wajah Maora.
Maora memperagakan orang yang sedang muntah sambil geleng-geleng. "Ogah! Calon suami dari Hongkong?!"
"Buruan atau gua sebarin chat lu sama Alvaro semalem."
Wajah Maora memerah. Dari mana Rian dapat salinan chatnya dengan Alvaro. "Dapet dari mana lo?!"
"Dari Hongkong." Rian tergelak tawa sampai matanya menyipit.
"Iya-iya, ih! Mana tangan lo?!" Maora meraih tangan Rian dan menyalaminya seperti kita menyalami orang tua.
Cekrek
"Kak Raga!! Lo ngapain moto gue?!!"
Raga tergelak.
"Hapus nggak?!"
"Ish, Kak Raga kok kacang, sih?!"
"Udah biarin aja. Si Raga mau koleksi foto lu. Kita lanjut, gue penasaran sama si buku."
Kyana mendongak. "Maksud Kakak gue?"
Rian mengangguk, tidak menghiraukan Maora yang tengah berusaha merebut ponsel Raga.
"Gue truth."
Rian mengelus-elus dagunya, berpikir. "Elu ada rasa nggak sama Vino?"
Vino mengeplak kepala Rian keras. Apa-apaan Rian membawa-bawa namanya?!!
"Nggak usah aneh-aneh!" Suara Vino meninggi membuat Rian mengusap daun telinganya.
"Yang gua tanya si Kyana, bukan elu."
Vino memasang muka super datar. Rian nyengir.
"Gimana, Kyan?" tanya Maora antusias. Tahulah gimana Maora jika menyangkut soal beginian? 4G.
"Ada."
Lagi, semua mata tertuju pada sosok Kyana yang dibilang kutu buku oleh Rian.
"Ada rasa sebatas kakak kelas dan adik kelas."
Wajah-wajah yang tegang tiba-tiba berubah datar. Dasar Kyana!
"Auah, gelap! Kenapa jawabannya ngarang semua sih!"
"Gue udah jujur, Yan."
"Gue juga."
Rian mencibir. "Gue mau nanya duo bucin aja."
"Silakan!"
"Siapa emangnya?"
Semua mata menatap Echa dan Raga.
"Echa?" Echa menunjuk dirinya sendiri bingung.
"Gue?" Begitu pula Raga.
"Iyalah kalian berdua! Duo bucin!"
Raga menimpuk kepala Rian dengan bantal. Rian tergelak. Dia tidak menangkis sama sekali. "Canda, gantenggg. Jangan baper, Ga."
Raga mendesis. Echa melotot. Yang lain tertawa.
"Gue kasih pilihan. Harus bareng jawabnya! Kalau enggak gue bakal-"
"Iya!"
"Iya!"
Rian tertawa.
"Kompak amat," gumam Maora yang mendapat cubitan dari Echa.
"Truth or dare?"
"Dare!"
"Dare!"
Echa dan Raga saling tatap. Rian menyeringai.
"Ga, elu harus bisa ikut OSIS. Dan elu Cha, harus bisa bantu Raga kepilih jadi anggota OSIS. Kalian harus kerja sama, kalau enggak, gua akan sebarin aib kalian berdua dan akan ngelakuin sesuatu yang bikin kalian malu seumur hidup."