"Semesta, kenapa situasi ini harus hadir? Situasi di mana aku merasa dilema."
???
"Arghh."
Raga terbangun dari pingsannya. Dia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Echa yang berada di sampingnya langsung membantu Raga bersandar pada kepala ranjang.
"Gue kok bisa di sini?" Raga menatap sekeliling sambil meringis sakit. Kepalanya benar-benar pusing. Dia menatap ruangan serba putih yang di sebelah kanannya terdapat beberapa sofa yang diisi penuh oleh Rian, Vino, Reza, dan beberapa anak geng Batam yang sudah tertidur pulas. Di sofa sebelah kiri brankar, ada Maora dan Kyana yang juga tertidur dengan selimut yang membalut kedua tubuh gadis itu.
Tadi, Maora dan Kyana kekeh menemani Echa saat tahu Raga harus dirawat. Mereka takut Echa diapa-apakan. Pasalnya, di ruangan itu hanya Echalah yang berjenis kelamin perempuan.
Echa berdecak kesal. Dia menatap Raga dengan malas-malasan. "Kenapa Raga bisa di sini? Ya karena Raga sok jagoan! Pakai acara tawuran segala. Tadi pagi aja udah gebukin Jiwa."
Raga memicingkan matanya. "Mana Jiwa?"
"Maksud Raga?"
"Ck, gue tahu lo pasti ngomong ke Jiwa 'kan kalau gue tawuran?!!" Nada bicara Raga mulai meninggi, membuat Echa bingung. Memangnya salah jika dia mengabari Jiwa jika adiknya yang kurang kerjaan terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit?
Echa mengangguk samar. Hal tersebut membuat Raga membuang napas kasar. "Lo tahu apa yang udah lo lakuin?"
Echa menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak tahu apa-apa.
"Lo nambah masalah gue!" Lagi-lagi, Raga membentaknya. Kenapa cowok satu ini terlalu kaku dan tak pernah santai? Setidaknya, bicaralah baik-baik. Ini sudah pukul satu pagi. Echa saja tidak bisa tidur karena menunggu Raga siuman, tapi yang dia dapat? Semprotan obat nyamuk dari Raga.
"Ya, maaf. Echa nggak tahu. Echa kasian sama Raga. Masa iya nggak ada keluarga Raga yang disuruh ke sini. Masa iya mereka nggak dikasih tahu."
"Kasian, kasian, gue nggak butuh itu! Mana Jiwa?!" Tatapan Raga menajam. Mata elang yang selalu terlihat mengintimindasi mangsanya itu menatap Echa lurus.
"Jiwa tidur di luar," jawab Echa lirih sambil menundukkan kepalanya dalam.
Tatapan Raga melembut. Kakaknya tidur di luar? Namun, seperkian detik kemudian tatapan itu kembali seperti semula.
"Sebentar lagi gue turnamen."
Echa mendongak, menatap Raga dengan alis terangkat.
"Waktu gue turnamen, perjanjian kita selesai."
Echa mengerutkan keningnya. Kenapa Raga terlihat tidak ikhlas?
"Karena gue lagi sakit. Lo harus ada buat gue saat gue turnamen."
"Tapi-"
"Nggak ada tapi-tapian. Ini hukuman buat lo yang udah nambahin masalah gue."
"Masalah-"
"Nggak usah kepo!"
"Bukannya Raga udah tau masalah Echa? Kenapa Raga nggak mau Echa tau masalah-"
"Bodo amat. Itu elo yang cerita, gue nggak pernah minta."
Echa berdecak kesal. Bibirnya mengerucut. Raga punya telepati? Bisa baca pikiran orang? Atau cenayang?
"Gue udah berpengalaman ngadepin cewek cupu kayak lo, jadi gampanglah baca pikirannya." Senyuman mengejek terbit di bibir Raga. Hal itu membuat Echa geram. Diayunkannya kepalan tangan kanan Echa pada lengan Raga.
Bugh
"Dasar, Kakek Lampir!"
"Argh! Sakit, Cha!"
???
"Ga, makan dong. Capek ni...." Echa berdecak kesal. Matanya menatap penuh kekesalan pada Raga. Tangannya masih setia menyodorkan sesuap bubur tepat di depan bibir lelaki itu.
"Yang lain aja deh, Cha!"
"Mau makanan rumah sakit? Katanya nggak suka rasanya?" Echa masih menyodorkan sendok itu. Bubur yang dibawakan mama Raga tadi pagi. Echa sempat berpikir. Ada masalah apa mereka? Dia heran. Tadi, mama Raga hanya menitipkan bubur itu kepadanya lalu berlalu begitu saja tanpa mau repot-repot melihat keadaan anaknya.
Ah, itu bukan urusan kamu!
Echa mengupas sebuah apel yang tadi juga diberi mama Raga. "Makan apel, ya? Echa suapin."
"Nggak, Cha."
Echa membuang napas kasar. Kenapa Raga susah sekali disuruh makan?
"Kalau nggak mau apel, makan buburnya." Echa kembali menyodorkan bubur pemberian Mama Raga. Raga menatap bubur itu dengan senyum meremehkan.
"Gue makan sampah ini?"
Entahlah, Echa merasa sangat marah saat Raga mengatakan bubur buatan Mamanya sendiri adalah sampah. Masih beruntung Raga punya seorang mama yang perhatian, sedangkan Echa? Belum pernah sekalipun dia merasakan kasih sayang seorang ibu.
"Raga bilang ini sampah?!" Echa menatap Raga penuh kebencian, "bahkan, Echa aja nggak pernah makan makanan sampah kayak begini! Makanan yang dibuat seorang ibu buat anaknya!" Matanya berkaca-kaca.
Hati Raga mencelos. Kali ini dia mengaku salah. Seharusnya dia tidak menyinggung sesuatu tentang seorang ibu. Itu akan membuat Echa marah. "Maaf," ucap Raga lirih.
"Makan." Echa kembali menyodorkan sendok itu. Namun, rasa sakit di hati Raga kembali berkobar dan membuat seluruh rasa penyesalan terhadap Echa menguap, tergantikan lagi oleh amarahnya terhadap sang mama.
"Nggak butuh."
"Ya terus Raga mau apa?!" Echa benar-benar geram dengan kelakuan Raga yang seperti anak kecil. Sungguh, semua jni membuatnya ingin sekali membanting mangkok yang dia pegang. Namun, dia masih punya rasa kasihan pada bubur buatan mama Raga.
"Ya, beliin apa gitu. Yang penting jangan makanan ini!" Raga menepis sendok yang disodorkan Echa begitu saja. Tindakan kasar yang membuat sendok itu berguling indah di lantai. Amarah Echa semakin naik ke permukaan. Raga keterlaluan. Raga tidak punya hati.
Echa menatap sendok yang tergeletak di lantai dengan napas memburu. Batas kesabarannya pada Raga telah habis. "Kamu tahu, Ga? Yang buat semua orang benci sama kamu itu karena kamu egois! Ego kamu terlalu tinggi! Kamu egois! Nggak pernah mau ngertiin orang lain!" Echa meletakkan mangkok di nakas hingga membuat bunyi. Dia memakai tas selempangnya dan melangkahkan kakinya tergesa keluar dari kamar inap Raga.
Kenapa Raga tidak pernah bisa menghargai orang lain? Kenapa? Raga egois. Sangat egois!
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Echa pergi. Suara debaman pintu terdengar, membuat lamunannya buyar.
Apa yang telah dia lakukan pada Echa? Arghh! Dia mengerang kesal. Ada apa dengan dirinya? Biasanya dia bisa mengontrol semua emosinya. Mengontrol perubahan sifatnya. Tapi tadi? Itu keterlaluan.
"Lo apain dia?" Suara Jiwa membuat Raga menoleh ke ambang pintu. Raga menatap Jiwa datar. Ditatapnya penampilan Jiwa dari ujung kaki sampai ujung kepala. Apakah Jiwa juga tidak sekolah seperti Echa dan dirinya?
"Lo apain Echa?" Suara dingin Jiwa kembali menusuk indra pendengaran Raga.
Raga membuang muka "Nggak gue apa-apain," ucap Raga malas.
Jiwa semakin melangkah mendekati Raga. "Bisa nggak, sih? Sehariii aja. Sehari aja lo nggak ngelukain hati seorang cewek? Nggak Echa, nggak mama, kenapa lo selalu kasar?!" Nada bicara Jiwa meninggi, tatapan matanya pun menajam. Jiwa sangat-sangat ingin menghabisi Raga jika Raga bukan adiknya. Jangan sakiti keluargamu, pesan mamanya yang selalu membuat dia tidak bisa apa-apa saat Raga menghajarnya. Dia hanya bisa menghajar Raga dengan ucapan-ucapannya saja.
Raga tersenyum sinis. "Tahu apa lo soal gue?"
Jiwa membuang napas kasar. Ditariknya kerah baju pasien Raga dengan kasar. Ditatapnya adik satu-satunya penuh amarah. "Lo tahu gue suka Echa?" tanyanya penuh penekanan.
Raga menepis tangan Jiwa yang mencengkeram kerahnya. "Apa urusannya sama gue?" Raga membuang muka.
Jiwa mundur beberapa langkah. Dia membalikkan tubuhnya dan berlalu dari hadapan adiknya. "Lo jauhin Echa setelah hukuman konyol lo. Gue nggak mau cewek yang gue sayang sakit lagi. Dan itu semua karena lo. Adik nggak tahu diri."
Jiwa membanting pintu. Meninggalkan Raga yang bermenung.