Kenapa hidupku menjadi serumit ini Ya Allah? Kenapa aku harus terjebak dalam situasi yang sangat sulit. Aku memang mencintai mas Iqbal dan tak bisa aku pungkiri aku memang ingin bersamanya, meraut ikatan pernikahan yang damai dan harmonis. Tetapi tidak dengan menyakiti orang lain, apalagi anak kecil. Aku tidak bisa seperti ini. Tetapi aku kenapa tak mau untuk memberikan jawaban Ya atau Tidak. “Nduk,” Panggilan Mama membuatku menoleh ke ambang pintu. “Iya Ma,” “Ada tamu di depan, ayo keluar.” “Siapa?” aku merasa bingung ada tamu di jam segini. Ini sudah pukul 8 malam dan aku tak pernah menerima tamu. “Iqbal.” Deg Seketika aku merasa seluruh darahku surut mendengar namanya.

