Author's POV
"Lemy, lemy, lemy main yuk." panggil seorang gadis kecil berusia sekitar 5 tahun di depan pintu pagar sebuah rumah yang cukup besar.
"Lemy mana sih, Kee kan capek manggilin lemy kayak gini, Kee haus tau." ucapnya lalu berjongkok sambil masih memanggil.
"Eh Kee ngapain disini?" gadis itu langsung mendongak saat melihat Roland, ayah dari lelaki yang ia panggil sedari tadi tapi tak juga kunjung keluar.
"Assalamualaikum om Loland." ucapnya sambil memperhatikan kantung belanjaan yang dibawa oleh Roland.
"Walaikumsalam Keenan. Masuk yuk, Remy ada di dalem." Keenan hanya mengangguk lalu menerima uluran tangan Roland.
"Lemyyyyyyyy." ucap Keenan berlari ke arah Remy yang sedang fokus dengan legonya.
"Ih Kee, jangan teriak, gabagus tau cewe cantik teriak teriak." ucap Remy masih fokus pada lego ditangannya.
"Lemy tau darimana?" tanya Keenan penasaran.
"Dari guru Remy." setelah mendengar jawaban Remy Keenan hanya ber-ooh sambil menganggukkan kepalanya.
Seperti teringat sesuatu, Keenan langsung saja memanggil Roland yang kebetulan memang ingin bergabung dengan mereka.
"Kenapa, Kee?" tanya Roland saat dia sudah duduk di depan kedua bocah lucu itu.
"Om Loland abis beli apaan tadi? Kok jalan kaki." tanya Keenan dengan raut wajah menggemaskan.
"Om cuma beliin eskrim buat Remy."
"Buat Kee ada ga?"
"Ih ngapain ngasih Kee eskrim, Kee aja jahat. Orang jahat gaboleh dikasih eskrim." langsung saja Keenan menoleh saat mendengar Remy mengeluarkan suaranya.
"Kee ga jahat kok. Lemy jangan sok tau deh, tanyain aja mama sama papa Kee, sama kak Lyan juga." ucap Keenan dengan raut sendu karna takut tak akan mendapatkan eskrim.
Sedangkan Roland, baru saja ingin melerai, suara Remy kembali keluar. "Buat apa Remy tanyain, emangnya penting buat Remy?!" ucapan lelaki itu ternyata mampu membuat mata Keenan memerah.
"Lemy kok jahat sih sama Kee?" tanya Keenan dengan suara bergetar.
"Kee yang jahat, kenapa kemarin Kee gamau ngasih pinjeman pensil buat Ayumi?!" langsung saja Keenan mengingat kejadian kemarin.
"Kee ga minjemin Ayum pensil karna pensil Kee yang dulu gapernah dibalikin sama dia." teriak Keenan lalu berlalri ke arah belakang rumah.
Remy langsung saja kaget, dan tiba tiba lego yang dia pegang tergantikan oleh dua buah eskrim yang baru diambil Roland dari lemari pendingin.
"Minta maaf, terus kasih eskrimnya, papa gamau anak papa jadi orang jahat." ucap Roland mengacak rambut putranya.
"Remy-kan cuma---" perkataannya langsung saja di potong Roland.
"Asal Remy tau, buat cewe nangis itu termasuk perbuatan jahat. Kalo Remy besar nanti, jangan pernah biarin ada cewe yang nangis, apalagi kalo cewenya nangis karna Remy. Mama juga jangan dibiarin nangis." seperti langsung mengerti, Remy beranjak dari sofa tempat dia duduk dan berjalan ke arah taman belakang.
"Nih, eskrim buat permintaan maaf dari Remy. Remy janji ga akan buat Kee nangis lagi. Maafin Remy ya Kee." ucap Remy sambil mengulurkan eskrim pada Keenan.
"Lemy janji?" tanya Keenan dengan hidung merahnya.
"Iya Remy janji." lalu terkaitlah dua jari kelingking kecil itu.
Mereka duduk sambil bercerita apa saja. Eskrim yang sudah habis malah membuat mereka bersemangat untuk terus mengobrol santai satu sama lain.
"Kee." panggil Remy.
"Ya?"
"Kee mau janji ga?" ucap Remy.
"Janji apa?" tanya Keenan saat jiwa penasarannya kembali keluar.
"Janji kalo kita gaakan pernah pisah. Janji kalo kita bakal terus sama-sama." ucap Remy sambil memainkan jarinya.
"Iya Kee janji." dan sekali lagi, dua jari kelingking kecil itu kembali bertaut.
Begitulah janji itu terucap dengan mudahnya. Entah mereka masih mengingat janji itu, entah mereka mengabaikan janji itu karna berfikir itu hanya janji yang dipenuhi omong kosong yang terucap dari sepasang anak anak yang masih berumur 5 tahun.
***************
Pendek banget yaa?? Gapapalah, flashback dikit, hehehheeh;) keep vomment yaa:))
Yang directioners mana suaranya, kalian juga bisa isi wish buat the boys di kolom komentar yaa;))