Gibran's POV
"Kakak mau jadi pacar Keenan?" kuperhatikan perempuan yang kini sedang dikerjai oleh senior itu.
"Lebih kuat dong suaranya!" kudengar suara senior berteriak. Sepertinya suara perempuan yang aku ketahui bernama Keenan itu sudah kuat, sampai-sampai aku yang berdiri dibarisan belakang bisa mendengarnya.
"Kakak ketua osis yang keliatan pendiam banget, kakak mau jadi pacar Keenan?" hampir saja tawaku meledak saat mendengar suara cempreng Keenan. Benar-benar lucu.
Harap-harap cemas aku menunggu jawaban sang ketua osis. Sampai akhirnya suara bass itu terdengar.
"Maaf, tapi kakak gabisa. Sekarang balik ke barisan kamu." dapat kulihat sebuah cengiran di wajah Keenan.
"Makasih ya kak ketua osis, karna kakak udah mau nolak Keenan." jawabannya ternyata dapat membuat semua yang ada disini tertawa tak terkecuali aku. Lalu kulihat dia kembali ke barisannya.
Dari sini, dari awal mos, aku sudah mengagumi seorang Keenan. Dan ternyata perasaan itu terus tumbuh. Dimanapun aku, aku berharap ada Keenan disana. Berharap suatu saat Keenan bisa menjadi milikku.
Tapi tiba-tiba kenangan 'itu' kembali menghantamku. Kenangan yang membuat kakak kandungku sendiri pergi dari rumah karena ulahku. Membuat seorang perempuan yang bisa dibilang tetanggaku memilih pergi ke luar negri untuk melanjutkan pendidikannya. Semua itu, karena ulahku. Karna sikap liarku semasa SMP. Karna pergaulan yang salah.
-
Aku kembali memandangi Keenan yang sedang sibuk dengan makanannya. Aku selalu melihatnya pergi bersama Remy dan Mikha sahabatnya. Tapi entah kenapa aku merasa aneh dengan tatapan Remy untuk Keenan. Padahal Remy sendiri sudah mempunyai pacar perempuan yang sangat 'pemberani'.
"Mikhaaaaaaa." kudengar teriakan Keenan dan senyumku merekah sempurna.
"Ya Allah, suara cewek lo tu!" kulihat Rio yang sedang sibuk dengan makanannya merasa terganggu dengan suara Keenan.
"Aamiin." jawabku lirih. Ya, semoga Keenan bisa jadi pacarku.
Aku kembali memakan makananku dengan fikiran yang dipenuhi nama Keenan. Kapan aku bisa berkenalan dengannya. Kadang jika kami berselisih jalan saja aku tak sanggup melihatnya, dan aku malah memilih sikap cuek tak peduli.
"Lo yakin mau kayak gini terus? Kita udah kelas 3, bentar lagi lulus. Seenggaknya lo ajaklah dianya kenalan. Masa iyasih selama hampir tiga tahun, lo cuma bisa mandangin dia diam-diam gitu, serius nyet, lo kayak anak cewek yang lagi jatuh cinta diam-diam." ceramah Rio.
"Kampret, ya jangan samain gue sama anak cewek juga dong. Masa lo mau sih, temen lo ntar dikenal sebagai kapten basket kemayu. Kan galucu." ucapku mendumel.
"Ya makanya, lo ajak tu si dia kenalan." kulihat Rio seperti berfikir sebelum mengatakan, "Apa ini ada hubungannya sama kakak lo dan tetangga lo itu?" tanya Rio tepat menohok hatiku.
Tebakan Rio benar, aku tak mau gegabah lagi. Dan ini adalah alasan kenapa aku tak mau mendekati Keenan. Aku takut, jika suatu hari nanti, misalnya aku dan Keenan dekat, dan Keenan mengetahui masalaluku, dia akan pergi menjauh.
"Aduh Gib, kalo lo bener-bener fokus sama hal itu, gue jamin, si cewek nggak akan pernah jadi milik lo." Rio dari tadi sengaja tidak menyebut nama Keenan, ya kalian tau, ini kantin. "Lagi pula, kenapa lo bisa ambil kesimpulan kalo tu cewek bakal ngejahuin elo setelah tau masalalu lo? Sedangkan lo nya aja belum nyoba. Inget Gib, lo nggak akan pernah tau, kalau lo nggak pernah mencoba, buat naklukin tu cewe dan juga buat ngelupain masa lalu lo." ceramah Rio lagi.
Aku hanya bisa menghelas nafas panjang. Tepat aku berdiri bel masuk pun berbunyi. Dengan segera aku dan Rio berjalan menuju kelas.
-
Sore ini aku sedang sibuk menonton televisi ---yah sebenarnya menonton tv bukan kesukaanku, tapi aku benar-benar lelah untuk melakukan aktivitas di luar rumah--- sampai terdengar suara bel. Kulihat bi Diah berlari kecil ke arah pintu utama. Tak peduli, aku melanjutkan acara nontonku.
Kudengar suara langkah kaki diruangan ini menggema. Siapa yang datang? Kenapa harus kesini? Kenapa nggak duduk di sofa ruang tamu aja?
Dengan malas aku menoleh ke samping dan sangat kaget dengan kedatangannya. Ya Tuhan, aku tidak mungkin bisa masuk ke kamar lagi sekarang. Tak ada waktu.
Jas putih khas kedokteran tersebut sangat cocok di badan tegapnya. Aroma parfum yang sedari dulu tak pernah berubah memenuhi ruangan ini. Tiba-tiba rasa malu kembali menguasai diriku. Aku tak pantas berdiri di depannya. Aku tak pantas. Aku yang menyebabkan kakak kandungku sendiri keluar dari rumah ini. Aku memang pengacau. Seharusnya aku yang keluar dari rumah ini. Seharusnya aku dipenjara dari dulu.
Tiba-tiba sebuah senyum tulus diberikannya untukku. Rasanya aku ingin memeluknya layaknya yang seorang saudara lakukan pada saudaranya sendiri. Tapi rasa malu dan gengsi itu lebih dari sekedar besar.
"Mama sama papa dimana, An?" tanyanya padaku, ya, keluargaku memang memanggilku 'An', ini dikarenakan saat aku kecil aku tak pernah bisa menyebut namaku sendiri.
"Adnan, ya ampun, kenapa ga bilang mau dateng. Kami kan bisa siapin makanan kesukaan kamu." kudengar teriakan mama lalu memeluk kak Adnan dengan erat.
"An, ini kakaknya disalamin dulu." dengan canggung aku berjalan ke arah kak Adnan. Menyalaminya dengan pelan lalu kembali ke tempat asalku tadi berdiri.
"Hai!" kulihat papa yang seperti habis mandi. "Gimana kerjaanmu?" tanya papa setelah melepaskan pelukannya dari kak Adnan.
"Alhamdulillah lancar, pa." lalu kami berjalan ke arah ruang tamu dengan mama yang menggandeng tanganku.
"Semangat sayang. Kami semua sayang sama kamu." bisik mama pelan di telingaku.
-
"Jadi apa alasan kamu mau ngerayain ulang tahun kamu dirumah? Biasanya kan kamu lebih milih ngerayain bareng temen-temen kamu." ucap mama dipertengahan obrolan kami yang ternyata membahas tentang acara ulang tahun kak Adnan beberapa hari lagi.
Kulihat kak Adnan memandangku sambil tersenyum. Lalu dengan canggung kubalas senyum tersebut.
"Yaudah kalau kamu maunya gitu." ucap mama pada kak Adnan.
"Jadi sekarang mau pergi kerja atau pulang?" tanya papa.
"Pulang, pa."
"An." panggil papa padaku.
"Ya, pa." jawabku sambil merapikan dudukku.
"Besok kalau udah lulus kuliah jadi nerusin perusahaan?" tanya papa yang langsung kuangguki dengan mantap.
Dari dulu aku memang ingin bekerja sebagai pengusaha. Sebenarnya aku sudah berencana membuka usaha sendiri, tapi saat papa meminta aku untuk meneruskan perusahaannya, aku tak punya pilihan lain. Kak Adnan memang tak pernah berminat meneruskan perusahaan. Dia lebih ingin menjadi dokter dan mengobati orang-orang.
"Ok, karna kamu juga bakal ujian sebentar lagi, papa bakal ngurusin kelanjutan kamu buat kuliah di London. Semuanya bakal papa urus. Jadi kamu harus bener-bener serius disana." aku hanya bisa mengangguk tanda terima kasih.
Ya, dari dulu aku memang ingin melanjutkan pendidikanku di salah satu Universitas ternama di London. Aku harus sukses. Aku harus bisa membahagiakan kedua orang tuaku. Masalah Keenan? Entahlah. Aku bingung. Mungkin meninggalkan Keenan tidaklah mudah, tapi mengingat dia tak mengenalku, mungkin itu bisa sedikit membantu.
-
Senin pagi. Aku melirik jam di kamarku dan langsung saja berlari dengan cepat ke kamar mandi. Ayo, jangan sampai telat! Semenjak kejadian itu, aku sudah berusaha merubah perilaku menjadi lebih baik. Tak ada kata telat seperti di SMP yang hampir tiap hari aku lakukan.
Aku berpamitan pada mama dan papa, lalu dengan cepat berlari ke arah motorku dan setelah itu pergi ke sekolah. Sedikit lagi, gerbang akan di tutup. Ku gas hondaku dengan cepat sampai terdengar suara seperti memanggil seseorang.
Aku berhenti untuk melihat ke arah belakang. Mungkinkah aku yang dipanggil? Pasalnya disini tak ada siapapun kecuali aku. Dan disana, aku menemukan lelaki, mungkin berumur empat puluhan, dia melambaikan tangannya padaku.
"Bang, gerbangnya jangan ditutup dulu. Gue dipanggil tu." teriakku pada bang Simon, dan kulihat dia menaiki ibu jarinya.
Aku berjalan ke arah bapak yang memanggilku tadi. "Ada yang bisa saya bantu om?" tanyaku sopan.
"Begini, om punya anak, tapi dia gamasuk sekolah hari ini, om seharusnya masuk ke sekolah buat ngizinin anak om ke guru piket, tapi om bener-bener gasempet. Jadi om minta tolong sama kamu buat ngizinin anak om ya. Namanya Keenan Adelia." setelah itu aku tak mendengar apa-apa lagi tentang penjelasan si om. Keenan? Jadi ini papanya Keenan?
"Gimana, kamu bisa bantu om?" aku tersadar dari lamunanku lalu dengan cepat aku mengangguk. Pasti! Aku tentu bisa! Aku tak mungkin menolak hal ini.
"Pasti om."
"Kalau begitu terima kasih---"
"Gibran om. Nama saya Gibran."
"Ok Gibran, terima kasih banyak ya. Kalau begitu om permisi dulu." aku mengangguk sambil melihat mobil papa Keenan menjauh, lalu dengan cepat menjalankan motorku ke dalam sekolah.
Seelah itu, aku langsung berjalan ke arah meja piket dan memberitahukan kalau Keenan tak bisa hadir karna sakit.
-
"Seriusan lo?" kulihat Rio sangat-sangat kaget saat aku menceritakan kejadian tadi pagi.
Kini aku sedang berada di rumah Rio untuk numpang makan siang. Seperti biasa, kami sekarang sedang main basket di halaman belakang rumahnya.
"Iya beneran, somplak." jawabku sambil memasukkan bola ke dalam ring, dan yap, masuk dengan sempurna.
"Gue punya ide." kulihat mata Rio yang berbinar sempurna.
-
Dikamarku, aku sedang memikirkan ide Rio tadi. Ya, mungkin bisa dicoba. Kemudian yang aku rasakan, mataku bertambah berat dan akhirnya aku jatuh tertidur.
Pagi ini aku bangun sangat awal. Ya itu harus. Setelah melakukan semuanya, aku langsung keluar kamar dan menuju meja makan. Aku makan dengan tenang sambil sesekali melirik jam.
"Kenapa, An? Kok kayaknya mau buru-buru gitu?" ucap mama yang sepertinya sadar akan kelakuanku.
Aku hanya bisa nyengir dan menjawab, "Iya nih ma, kan An harus jadi contoh yang baik buat adik kelas An."
"Bagus itu, An." kulihat papa yang baru selesai siap-siap dan langsung menduduki kursinya seperti biasa.
"Hehe, iya dong pa." lalu dengan jantung yang sedari tadi berdetak kencang, aku melanjutkan sarapanku.
Setelah selesai sarapan, aku langsung pamit dan pergi ke sekolah. Saat sudah sampai di sekolah, langsung saja aku memarkirkan motorku ke tempat parkir. Aku melirik kanan kiri, masih sangat sepi.
Lalu dengan langkah santai aku berjalan keluar gerbang dan berniat melihat kedatangan Keenan dari sebuah pondok kecil tempat orang-orang biasa sarapan. Aku tau kebiasaan Keenan yang pergi dan pulang sekolah dengan jalan kaki. Dan akan sampai ke sekolah 10 atau 5 menit sebelum bel masuk berbunyi.
Kulirik jam tangan, bel akan berbunyi 10 menit lagi. Dan saat mataku beralih dari jam tangan dan melihat ke depan, disanalah aku melihat Keenan dan Remy. Ya, aku juga sudah tau kebiasaan Remy yang sering pergi bersama dengan Keenan. Lalu kulihat salah satu teman Keenan yang bernama Mikha menghampiri mereka.
Dengan sedikit berlari aku menyebrang jalan raya ini dan langsung berlari mengejar Keenan yang akan masuk gerbang. Kutepuk pelan pundaknya dan dia langsung berbalik dengan tatapan kaget yang terlihat jelas di matanya.
"Keenan Adelia?" ucapku berusaha tenang, karna sedari tadi jantungku tak pernah tenang.
"Gibran?" kudengar dia mengucapkan namaku pelan. Jadi dia tau namaku? Ya Tuhan. Kupikir selama ini Keenan sangat tidak peduli dengan keberadaanku. Terbukti saat aku sedang bermain basket, dan Keenan tak pernah melihat itu.
"Lo tau nama gue?" kenapa aku harus menanyakan hal ini?!
"Eh. Itu, hehe." cengiran polos yang dikeluarkan Keenan ternyata sanggup menambah debaran keras pada jantungku.
"Oh iya, kemarin, gue ketemu bokap lo di gerbang. Dia minta tolong sama gue buat bilang sama guru kalo lo sakit. Nah guenya ngangguk-ngangguk aja. Tapi waktu udah di dalem sekolah, gue bener-bener lupa buat ngasih tau ke guru lo, kalo lo sakit." ya, modus dimulai.
"Oh, yaudah." hanya itu tanggapan Keenan?
"Lo nggak papa??" tanyaku berusaha memanjangkan obrolan diantara kami.
"Nggak kok, gue nggak apa-apa. Juga bukan salah lo kan kalo lo lupa. Udahlah, lupain aja, santai! Kayaknya dibikin alfa juga ngga buruk-buruk amat deh." mendengar jawabannya entah kenapa membuatku tersenyum.
"Oh iya, gue masuk duluan ya. Sekali lagi maaf." ucapku, sebenarnya aku sangat ingin membawa Keenan masuk bersama-sama denganku. Tapi itu sangat-sangat tidak mungkin.
Aku memasuki kelas dan langsung menunjukkan cengiran lebarku pada Rio.
"Kenapa lo?" kulihat dahi Rio berkerut menatapku.
"Ide ciptaan lo berjalan sempurna, bapak Rio. Thanks bro." ucapku sambil mengajak Rio ber-highfive.
"Serius lo? Bukannya kemarin lo nolak ya?" ya, kemarin aku memang sempat menolak ide Rio. Tapi jika dipikir-pikir lagi mungkin tak ada salahnya mencoba.
Baru ingin menjawab pertanyaan Rio, bel jam pertama pun akhirnya berbunyi. Dan dengan segera aku mengganti bajuku dengan baju olahraga, dan setelah itu pergi menuju lapangan.
Karna sudah lama berolahraga, akhirnya aku berlari ke pinggir lapangan berniat mengambil minumku. Tapi aku baru sadar saat mataku melihat ternyata botol air mineral milikku sudah tak berisi.
Setelah permisi, aku langsung berlari ke arah kantin. Saat sampai aku langsung mengambil dua botol air mineral dan langsung membayarnya. Baru akan melangkah pergi, aku seperti mendengar sesuatu dari arah sudut kantin, dan reflek, aku melihat kesana.
Kupandangi perempuan yang sedang memakan makanannya dengan serius itu. Sepertinya aku kenal. Lalu dengan langkah pelan aku mendekat, dan tersenyum ternyata aku tak salah orang.
"Kok disini?" tanyaku yang ternyata mampu mengalihkan tatapannya dari makanannya.
"Eh, lo?" sepertinya dia kaget dengan keberadaanku disini.
"Dihukum ya?" tanyaku sambil tersenyum geli. Ya, sebenarnya aku tau Keenan yang sudah sering diusir dari kelas Pak Dedy. Tapi biar percakapanku dan Keenan tambah panjang, aku sengaja menanyakan hal ini.
"Hehe, habisnya, nggak ngerti deh sama jalan pikiran Pak Dedy, tadi dia nanya, udah berapa kali gue hampir ketiduran pas jam dia, nah gue jawab aja, kayaknya belum sering deh pak. Lah dia malah usir gue." jelasnya panjang lebar sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ckck, kalo pertanyaan kayak gitu mending lo diemin aja deh." ucapku lalu memilih duduk di kursi di depannya.
"Oh iya, kita belum kenalan secara resmi. Gue Keenan Adelia, dan lo bisa manggil gue Keenan." apa aku bisa menyebut ini keberuntungan? Ya tentu saja.
"Gue Gibran, Gibran Athalla." ucapku sambil menunjukkan senyum terbaikku.
-
Sekarang aku sedang berada dihalaman belakang rumah sambil bermain basket. Senyumku kembali merekah saat memikirkan hal tadi. Saat aku makan bersama dengan Keenan. Ah, sangat indah. Melihat dia yang gelagapan saat kami saling tatap. Sebenarnya jantungku hampir jatuh saat itu.
Lalu aku memilih duduk di sebuah bangku dan mengecek hp-ku. Satu pesan dari Rio. Langsung saja kubuka tanpa fikir panjang.
Kayaknya kalo besok lo jemput Keenan bagus tu. Tapi usahain cepet, jangan sampe keduluan sama Remy.
Isi pesan singkat dari Rio ternyata mampu membuat senyumku kembali merekah. Ya, akan kucoba. Demi dekat dengan Keenan.
-
Pagi ini, aku sudah berada di ruang makan keluarga Keenan. Aku duduk di salah satu kursi dengan papa dan kakak lelaki Keenan di kursi lainnya. Mama Keenan? Barusan saja aku baru mendengar teriakan mama Keenan yang sepertinya sedang berusaha keras membangunkan Keenan.
15 menit aku menunggu dan akhirnya Keenan muncul. Setelah berpamitan kami langsung memilih pergi. Kuperhatikan cara Keenan mengucapkan salam sambil berteriak. Kebiasaan Keenan
Ajakan Keenan untuk pergi ke sekolah dengan jalan kaki langsung saja kuterima dengan senang hati. Saat aku melewati tetangga Keenan langsung saja mataku terpaku kaget luar biasa, bukankah dia tinggal di apartemen?
"Eh, itukan?" aku kaget saat melihat ternyata orang yang dulu begitu dekat denganku ternyata tinggal disamping rumah Keenan. Dan kemudian, rasa bersalah itu kembali menghantuiku. Seharusnya dia bisa tinggal di rumah bersama kami.
"Pagi, dok." aku kaget saat mendwngar suara Keenan menyapa kak Adnan. "Gue manggilnya d-o-k, kok. Bukan d-o-g. Ya walaupun lebih cocok Dogi sih. Tapi kan gue baik. Mau kemana dok?" Dogi? Ada apa dengan mereka berdua?
"Rumah sakit." kudengar jawaban itu. Lalu kaget saat dia melihat ke arahku. Tolong, tatapan yang diberikan kak Adnan hanya membuat rasa bersalah itu tambah besar.
"Gib." panggilan Keenan membuatku kaget dan langsung saja menoleh padanya. Keenan menatapku cukup lama sebelum akhirnya dia menarikku untuk segera pergi ke sekolah.
"Gue pergi dulu ya dok. Assalamualaikum, lo hati-hati, dok" ucapan Keenan membuatku tersenyum tipis. Benar benar lucu.
"Walaikumsalam, hati-hati dijalan. Belajar yang bener." kudengar kak Adnan berteriak membalas salam Keenan. Tapi kalimat terakhir yang diucapkannya membuatku mengingat masa masa dulu.
Disaat seharusnya aku belajar dengan baik, aku malah melakukan hal sebaliknya bersama teman temanku.
Kami kembali berbicara tapi topik yang dipilih Keenan malah tentang Remy. Aku berusaha tenang saat merespon ucapan Keenan sampai akhirnya kami terdiam cukup lama. Lalu tiba tiba pertanyaan Keenan selanjutnya malah membuatku gugup.
"Lo beneran udah ngelaporin tentang gue ke guru piket atau belum sih?" oh Tuhan, apa aku harus jujur sekarang?
"Eh itu---" aku berusaha menyusun kalimat yang bagus sampai akhirnya kudengat teriakan seseorang. Baru kusadari kalau kami ternyata sudah tiba di depan gerbang.
"Eh, gue kirain Remy. Pantesan agak aneh. Ternyata Gibran." aneh? Maksudnya aku yang aneh atau gimana?
"Aneh gimana?" tanya Keenan seperti mewakilkanku.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah perkelahian kecil antara mereka yang sudah sering kulihat.
"Gue duluan ya." ucapku pamit. "Nanti pulang sekolah gue jemput di kelas lo." lalu aku langsung melangkah menuju kelas.
Saat sampai di kelas aku langsung mencari Rion dan menceritakan tentang apa yang terjadi pagi ini. Tentang pertanyaan Keenan mengenai hadirnya senin itu.
"Mending lo jujur." lalu yang terdengar setelah itu adalah bel tanda masuk.
Sebelum guru memasuki kelas, aku sempat memikirkan pandapat Rio untuk jujur. Ya, jujur akan lebih baik.
---
Saat ini aku dan Keenan sedang duduk di kantin. Ya, aku sudah menyiapkan diri untuk jujur.
"Gib, sebenernya lo udah bilang belum sih sama guru piket??" dan pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut manisnya.
"Ekhem, gini deh. Sebelumnya gue minta maaf sama lo. Gue bakal ceritain semuanya dari awal." ucapku sambil merapikan dudukku.
"Dari awal masuk sekolah, waktu kita mos, waktu lo dikerjain kakak kelas, dan disuruh nembak ketos, dari situ gue udah kagum sama lo." dapat kulihat ekspresi kaget dari wajah itu.
"Semenjak itu gue terus merhatiin lo. Sampe ternyata perasaan itu dateng. Gue nggak mau gegabah, jadi gue milih buat nunggu. Nunggu saat yang tepat buat kenalan sama lo, buat deket sama lo. Sampe papa lo nyuruh gue buat lapor ke guru piket kalo lo itu sakit. Pertamanya gue kaget, gue tanya sama diri gue sendiri, ini nggak mimpikan? Yang minta tolong sama gue ini beneran papanya keenan, kan?? Setelah itu gue buru-buru ke meja piket. Buat bilang kalo lo nggak bisa hadir karna sakit." kutarik nafas perlahan sebelum melanjutkan penjelasanku.
"Terus gue cerita ke Rio, sahabat gue, tentang hal itu, dan dari situ dia dapetin ide gimana gue bisa deket sama lo. Dia nyuruh gue buat minta maaf ke elo dengan alasan karna gue lupa bilang ke guru piket tentang lo yang nggak hadir. Dan ternyata berhasil. Dan yang paling buat gue seneng, ternyata lo tau nama gue. Tapi gue tau, gue nggak akan bisa sembunyiin kebohongan gue itu selamanya. Dan buktinya, kebohongan gue udah kebongkar hari ini." ucapku menunjukkan senyum lega karna sudah jujur.
"Jadi lo modus ni ceritanya?" mendadak aku gugup tapi tetap berusaha tenang.
"Yap, kurang lebih begitu." jawabku santai.
"Dengan alasan?" aku tau Keenan itu tipe orang yang bakalan cari tau tentang sesuatu yang buat dia penasaran setengah mati.
Tapi kali ini aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Dan yang aku keluarkan hanya senyum semanis mungkin.
Ok, gimana partnya?? Semoga suka yaa:))
Keep vomment guys:)