c h a p t e r [14] GIBRAN'S

867 Kata
Gibran's POV "Oh iya dok, kenalin nih, temen gue, namanya Gibran. Kapten basket loh dok di sekolah gue. Hebatkan gue, bisa temenan sama kapten basket." Aku masih saja menatap kak Adnan yang sedang sibuk dengan mainannya. Setelah tadi di perjalanan aku berusaha bertanya tentang kak Adnan pada Keenan, ya, walaupun jawaban yang aku dapatkan kurang memuaskan. Dan sekarang disinilah kami —aku dan Keenan—. Aku berusaha tenang disini walaupun rasanya aku ingin segera pulang. Akhirnya Keenan menarik tanganku memasuki halaman rumah kak Adnan. Dengan ragu aku mengikuti langkah Keenan. Lalu dengan cengiran di wajah, Keenan meminta kami berkenalan. "Ferdi." dapat kudengar nada gugup dari gaya bicaranya. "Kenapa---" kakak bisa disini? please pulang kak. Maafin An. Baru ingin mengatakan kalimat tersebut, tapi ternyata suara lain yang terdengar memanggil Keenan. "Keenan!" teriakan yang ternyata berasal dari tante Nanda "Pulang dulu, Kee. Bajunya diganti dulu. Itu kak Ryan mau pamit sama kamu." Keenan tampak mengerucut sebal. Tapi akhirnya memilih pulang. "Lebih baik kamu pulang. Oh iya, jangan kabur waktu acara besok." Kenapa aku tak pernah bisa bertahan dihadapannya. Kata-kata maaf yang berasal dari mulutku sendiri memang tak pernah ia dengar. Karna selama ini mama selalu membantuku. Dan besok aku bertekad untuk minta maaf langsung padanya. Di depan semua orang aku harus mengakui kesalahanku. Aku tidak bisa bersikap sebagai seorang pengecut terus-terusan. *** Kalian tau bagaimana perasaanku sekarang? Begitu lega. Seperti semua beban terangkat dari bahuku. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa meminta maaf pada kak Adnan. Saat sedang berpelukan dengan kak Adnan, suara seseorang yang sangat aku kenal terdengar lantang. "An! Adnan!" "Kak Nindy." Gumamku pelan. Langsung saja aku berlari ke arahnya. Memeluknya erat. Meminta maaf atas semua kesalahan yang telah aku lakukan dan membuatnya memilih melanjutkan pendidikan di luar negri. Saat kami sedang asyik bicara, mataku menangkap sosok Keenan. Ingin sekali aku menyapanya, tapi malu masih menguasaiku. Akhirnya, aku hanya bisa melihatnya sibuk dengan makanan di depannya. "Jadi gimana, An?" "Kenapa, kak?" Tanyaku kaget. "Ngeliatin siapa sih? Gebetan ya? Sampe ucapan kakak aja ga kamu dengerin." "Eh enggak, kak." Jawabku kikuk. "Jadi gimana? Kamu bisakan 3 hari ini kalo kita liburan dulu bareng Adnan. Maaf deh kalo permintaan kakak buat sekolah kamu keganggu. Tapi hari minggu kakak harus balik lagi ke Seattle. Kakak kangen banget sama kalian." "Aku usahain, kak." Ucapku lalu kembali melihat Keenan. *** "Allah!" Candaan dari kak Adnan sanggup membuat kami tertawa. Bagaimana tidak, kak Adnan bercerita tentang seorang pasien yang pergi ke rumah sakit senin lalu. Tapi ternyata saat sudah diperiksa, si pasien tidak sakit apapun. Akhirnya kak Adnan hanya menulis sedikit pesan pada kertas resepnya. "Perempuan apa laki, kak?" Tanyaku penasaran. "Perempuan. Lucu." "Apanya?" Kulihat wajah kak Nindy tampak takut-takut. "Semuanya! Wajah dan sikapnya." Jawab kak Adnan tenang. "Kamu suka?" Kembali ku lirik kak Nindy. Kak Adnan diam, tersenyum menatap kak Nindy. "Lo suka ama pasien sendiri, kak? Cantik gak? Kenalin ke gue, kak." Ujarku sembari tertawa. "Gak akan!" Setelah itu tampak kak Adnan yang tertawa kecil. "Kenapa? Lo takut gue suka sama inceran lo? Gaakan lah kak, lagipula gue udah jatuh duluan di Keenan." Ucapku sambil lanjut mengipas jagung. "Mungkin." Jawabnya pelan. Sangat pelan. Tapi aku masih sanggup mendengarnya. "Semoga lo bisa dapetin dia deh." Hening... "Oh iya, besok kakak pulangnya pagi. Ada pasien yang harus kakak periksa. Kamu sama Nindy jadi juga pulang sore?" Tanya kak Adnan mengambil alih tugas mengipas. "Yaudah. Gapapa." Jawabku santai. "Aku ke toilet sebentar." Ucap kak Nindy lalu berlalu pergi. "Lo masih cinta kak sama kak Nindy?" Tanyaku dengan raut wajah serius. "Kakak gatau, An. Kamu tau, liat dia pergi waktu itu tanpa pamit sama kakak buat kakak mikir kalau dia gapernah nganggep kakak." Ya aku tau, kak Nindy memang tak pamit pada kak Adnan. Namun sekarang, dengan mudahnya dia kembali. Karna tak ingin mengusik masalah kak Adnan lebih dalam, aku akhirnya memilih diam. *** "Masih cinta kak?" Tanyaku pada kak Nindy saat kami berada di mobil. "Ya, kakak gapernah bisa berhenti, An." "Walaupun kakak mau?" Tampak bahunya terkulai lemas. "Ya, walaupun kakak mau buat berhenti, tapi kakak gapernah bisa. Walaupun udah menjauh, rasa itu gapernah bisa kakak buang." Kenapa aku merasa janggal pada perkataan kak Nindy. "Tunggu, jadi kakak pergi buat jaga jarak dari kak Adnan? Bukan karna aku yang waktu itu nyatain perasaan ke kakak?" Kulihat senyum tipis menghias wajahnya. "Bukan, bukan karna kamu. Tapi karna kakak sendiri. Mungkin menjauh lebih baik." Aku masih bingung masalah apa yang sedang terjadi di antara mereka. "Kenapa gak pamit kak?" "Kakak gabisa pamit, karna kakak tau, saat itu, mata itu selalu buat kakak jatuh. Kakak takut kalau cuma natap Adnan, keinginan kakak buat pergi itu gagal." Aku tak bisa membalas apapun. Tapi mungkin aku bisa sedikit membantu mereka. *** Kami sekarang sedang duduk di teras rumah kak Adnan. Sedang menunggu kepulangannya dari rumah pasiennya. Tawa kami kembali pecah saat aku kembali mengulang cerita kak Adnan tadi. Beberapa saat kemudian aku sadar, suara derap kaki seseorang seperti berlari menjauh. Ku tegakkan kepalaku lalu melihat Keenan berlari memasuki rumahnya dengan tas masih berada di punggungnya. Lalu pandanganku teralih pada kak Adnan. Sejak kapan dia datang? Kenapa suara mobilnya tak terdengar? "Ayo masuk." Ucap kak Adnan menyadarkanku. Senin nanti, aku akan menjelaskannya. Atau, aku harus menjelaskan pada Keenan sekarang juga? —tbc  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN