c h a p t e r [15]

985 Kata
"Keenan" teriakan itu kembali terdengar. Kuangkat kepalaku dan langsung silau dengan pemandangan di depanku. Kepala indah milik pak Dedy dan wajah yang menatapku tajam dan mungkin juga lelah karna hampir setiap pelajarannya dia selalu berteriak memanggil namaku. "Kenapa pak?" Tanyaku pura-pura tidak tahu tentang kesalahanku. "Udah untuk yang keberapa kalinya ha kamu selalu berulah di jam pelajaran saya?!" Pertanyaan yang sering kudengar. "Saya gatau, pak. Karna saya ga ngitungin." Ucapku santai.  "Keluar atau--" langsung saja aku berdiri dan berjalan keluar kelas. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku seperti orang yang memiliki banyak beban padahal kewajibanku hanya satu, belajar. Kulangkahkan kakiku pelan. Kali ini aku tidak memilih kantin melainkan sebuah tanah kosong di belakang sekolah. Disana ada sepasang bangku yang dibatasi oleh meja berwarna coklat usang. Aku memilih duduk disana. Angin lebih terasa disini. Beban pikiranku kembali bertambah. Entah sudah untuk yang keberapa kalinya mama atau papa datang ke sekolah atas panggilan pak Dedy. Baru menutup mata, sebuah suara terdengar. "Lo bener, seharusnya gue berhenti dari dulu." "Gue cuma ngingetin, percuma lo maksa, tapi dia gak pernah liat lo." Ucapku tak melihat seorang di belakangku dan tetap melihat ke depan merasakan angin. "Dia nggak liat gue, karna dia milih buat liat lo. Walaupun lo gapernah liat dia." Ucapnya, dan kurasakan getaran dari nada suaranya. Aku tau, aku sudah lama tau. Jujur, aku merasa kasihan pada Rachel, itu kenapa aku menyuruhya meninggalkan Remy. Tapi disatu sisi, aku berterima kasih karna Rachel mau berusaha mengubah perasaan Remy. Walaupun tak pernah berhasil. Aku tak bisa dengan Remy. Bersahabat dengannya selama ini telah menjadikannya sosok kakak kedua buatku. Dan membayangkan apabila kami memiliki hubungan khusus saja sudah membuat leherku geli. Hmm, maksudku membuat perasaanku tak enak. "Jadi sekarang? Lo mau mundur?" Tanyaku pun ikut bergetar. "Gue ga sekuat elo Kee! Dan ya, gue mundur!" Ucapnya membuat kepalaku menoleh untuk melihatnya. Disana, ternyata Rachel sudah berdiri dengan air mata mengalir dan hidungnya yang memerah. "Selama beberapa hari ini emangnya lo berdua ngapain?" Tanyaku penasaran. Bukankah yang aku lihat mereka tambah dekat. "Kadang yang lo liat gasama kayak yang kita berdua rasain, Kee. Disaat gue sama dia emang deket banget, hati kita malah makin jauh." Ucapnya masih menangis. "Chel." "Ntar, tadi gue bilang apa? Hati kita malah semakin menjauh? Emang hati gue ama hati dia pernah nyatu? Emang dasar gue aja yang bandel. Gue yang terlalu banyak ngarep." Ucap Rachel kemudian pergi meninggalkanku. Biarkan, Keenan. Jangan mengejar. Rachel butuh berfikir. *** "Kee, ampe kapan sih lo mau begini terus? Ga kasian sama diri lo? Ga kasian sama orang tua lo?" Ucapan Mikha saat aku baru saja duduk di meja kantin dengan tangan memegang semangkuk bakso. "Mik gue laper." "Bentar lagi kita bakal ujian akhir. Lo emangnya gamau masuk ke universitas yang lo impiin?" Tutur Mikha lagi. "Mik biarin gue makan." "Siapa, Kee?" Kepalaku langsung mendongak mendengar pertanyaan yang tak jelas ini. "Siapa yang buat sahabat gue kayak gini? Lo bukan Keenan yang dulu! Lo aneh akhir-akhir ini. Dimana Keenan gue?" "Mik gue mau makan serius." "Dan gue mau lo belajar serius. Gue mau kita sama-sama lulus. Masuk universitas yang udah kita impiin mulai dari SMP!" "Iya Mikha iya." "Kee, kalau lo kayak gini cuma karna Gibran, lo salah. Mendingan lo berhenti, Kee." "Dan buat berhenti itu ga semudah lo ngomong, Mikha." "Gue tau. Tapi lo harus bisa. Seenggaknya buat 3 bulan ini. Lo bisa liatkan, terakhir lo ketemu Gibran di acara pesta ulang tahun dokter Ferdi. Dan seterusnya, waktu kalian ketemu di koridor, lo bisa liat dia yang milih buang muka dan ga peduli sama lo." Ya, semenjak aku melihat Gibran yang tertawa di pesta dan bersambung di teras rumah Dokter Ferdi kami tak pernah terlibat apapun lagi. Gibran seperti memilih menjauh dan tak peduli. Dan yang aku bisa? Banyak yang bisa aku lakukan tapi sayang, aku bukan siapa-siapa. Memperjuangkan seorang Gibran mungkin hanya akan membuang waktuku. Ya! Saatnya aku mulai serius. Akan kubuat pak Dedy tak percaya akan perubahan sikapku. Tunggu permainan Keenan, botak licin sombong. Aku mengangkat kepalaku lalu menatap Mikha sambil tersenyum. Dan yang kudapatkan malah tatapan aneh darinya untukku. "Lo bipolar, Kee?" Kulihat raut wajah cemas di wajahnya. "Kampret lo. Gaklah. Jangan sampai. Astagfirullah." Ucapku cepat. "Nah terus lo kenapa? Perasaan tadi lo jutek, sekarang malah senyum najong begitu." "Gue bakal buktiin ke si botak licin sombong kalau gue bisa jadi anak baik." Dapat kulihat mata bola Mikha membesar mendengar perkataanku barusan. "Bukannya dulu lo berterima kasih banget sama pak Dedy?" Tanya Mikha dengan muka menggoda. "Dih paan. Seharusnya gue itu berterima kasih sama papa mama kan, bukannya sama si botak." "Lo masih ingetkan, kalau pak Dedy itu wali kelas kita?" Ucap Mikha membuatku bigung. "Ya terus?" "Gak." *** Bel pulang sekolah berbunyi, tapi aku tidak pulang karna hari ini adalah jadwal trobosan. Alhasil aku hanya duduk di kelas sambil membuka buku IPS, sementara Mikha pergi ke kantin. Aku mencoba membaca materinya lalu mengisi soal-soal. Tidak terlalu sulit sepertinya jika aku mau mempelajarinya. Alhasil selama 15 menit waktu istirahat, beberapa soal sudah terisi olehku. Saat trobosan akan dimulai aku langsung saja menyimpan buku IPS tadi dan mengeluarkan buku matematika. Mikha yang baru saja masuk dan duduk di sampingku melihatku dengan tatapan yang tak bisa k****a. *** "Gue balik duluan yaa." Ucapku pada Mikha. Ya hanya Mikha, Remy tak masuk hari ini karna ada urusan penting dan mendadak katanya. "Yap, tiati ya." Aku hanya mengangguk sambil tersenyum lalu mulai berjalan keluar kelas. Saat di perjalanan pulang, aku sibuk memikirkan tiga manusia super keren. Gibran, Remy, dan Rachel. Apa yang terjadi pada Gibran? Apa yang terjadi pada Remy dan Rachel? Aku sibuk berfikir sampai akhirnya tanganku sudah membuka pintu pagar. Lalu berjalan ke arah rumah, baru ingin mengetuk pintu, sebuah suara terdengar. "Maaf!" Lagi? Maaf lagi? Ya Allah, Kee bakal gila! *** Haii:')) Udah lama ga update. Ada yang nungguin?? Semoga ada:')) Gimana part ini?? Maaf kalo jelek yaa, vomment kalian selalu aku tunggu:) All the Love, xx -d  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN