c h a p t e r [16]

1279 Kata
Keenan's POV "Maaf." Kepalaku menoleh ke samping dan menemukan Gibran sedang berdiri dengan ransel yang hanya disandang sebelah. Ku perhatikan dia tanpa kedip. Dapat kulihat dari tempatku berdiri dia sedang tersenyum kikuk. Entahlah karna apa, mungkin karna tatapanku? Aku tak ingin terlibat lagi. Aku sudah berjanji. Dengan langkah berat aku mendekat ke arah Gibran. Kuperhatikan lagi dia tanpa kedip. Dapat kurasakan sesak di dadaku. "Pulang deh Gib, udah sore. Ayam lo pasti butuh lo kasih makan." Ucapku tanpa menutupi muka lelahku. "Kee." "Lo gaperlu minta maaf, Gib. Emangnya lo salah apa sih ampe harus minta maaf ke gue." Oh tidak, sesak yang kurasakan semakin menjadi. Tak dapat kutahan lagi mataku yang sudah memerah. Dengan gerakan cepat, Gibran menarikku ke dalam dekapannya. Dan saat itulah air mataku jatuh. Bolehkah kubalas memeluk pinggangnya? Tapi aku tak berani. "Maafin gue Kee. Maafin sikap cuek gue selama ini." Aku tak bergerak dan hanya menikmati aroma badan Gibran yang khas. Saat itulah dengan sangat terpaksa aku melepas pelukannya. Dengan cepat kuhapus air mataku dan kembali menatap Gibran. "Ya terus kenapa kalo lo cuek? Gue bakal mati?" Nggak mati sih, tapi sakitnya itu. "Gue bakal kelaperan?" Enggaksih kayaknya. "Gue bakal cutting?" Yakali. "Kee. Gue cuma takut lo jijik sama gue, Kee." Astaga, keringat lo aja enak buat di hirup aromanya. "Setelah lo denger gue minta maaf buat kak Adnan karna kesalahan gue dulu." Minta maaf kan mulia kok malah takut sih sama gue. Tapi tunggu, kesalahan apa yang Gibran lakukan? "Kesalahan apa Gib? Kesalahan apa yang lo buat sampe lo takut gue bakal jijik sama lo?" Ucapku tak tahan. "Kalo gue bilang, gue hampir ngebunuh kakak gue sendiri lo percaya?" Bunuh? Gibran pernah hampir bunuh dokter Ferdi. Ni cogan satu serius?! "Lo serius?" tanyaku hati-hati. "Ya, gue serius." jawabnya tambah membuatku kaget. "Kenapa Gib? Karna siapa?" "Karna perempuan yang nggak seharusnya gue suka." *** Malamnya, aku masih memikirkan hal apa yang telah Gibran lakukan. Hanya karna seorang perempuan, Gibran senekat itu? Apa mungkin perempuan yang Gibran maksud itu adalah perempuan cantik kemarin? Lamunanku terpecah saat seseorang memanggil namaku. "Keenan." Kulihat ke depan, dan disana, tepat dari balkon kamarnya dokter Ferdi berdiri sambil memperlihatkan senyumnya. Apa dia baru selesai mandi? Astaga kaos putih yang dia pakai sekarang jelas jelas memperlihatkan dadanya. Dan dia hanya memakai celana hingga lutut?! "Apaan dok?" Jawabku menyembunyikan kegugupanku. Kenapa aku jadi gugup begini. "Hm, besok kamu mau nemenin saya?" Nemenin dokter Ferdi? Kemana? "Emangnya kemana dok?" "Besok saya ke rumah kamu selesai shalat Jum'at ya. Goodnight, Keenan." Lah....kan aku belum bilang iya buat jawab ajakan dia. Astaga ni Dogi emang ngeselin! *** Sepulang sekolah, aku langsung membersihkan diri dan bersiap. Aku tersenyum melihat dokter Ferdi yang sudah duduk di ruang tamu sedang berbincang seru dengan mama. Lalu aku memilih duduk di samping mama, dan dengan cepat mama mendekapku. Kebiasaan mama. "Mau pergi kemana sih, Kee?" tanya mama padaku. "Gatau, tanya dokter Ferdi aja. Kan dia yang ajakin Kee." ucapku santai sambil melepaskan diri dari dekapan mama lalu langsung mengambil setoples kue kering di atas meja. "Lah, tadi waktu mama nanya dokter Ferdi katanya suruh nanyain kamu." ucap mama ikut mengambil kue kering yang ku pegang. Tunggu...kenapa tanya padaku? Tapi supaya aku bisa segera pergi dan terhindar dari pertanyaan mama, langsung saja aku memberi kode pada dokter Ferdi. "Liat ntar deh ma, Kee ama dokter Ferdi pergi dulu ya." lalu dengan cepat aku menutup toples dan berdiri. Kulihat dokter Ferdi pun ikut berdiri. "Kita pergi dulu ya tante, Keenan saya bawa dulu. Ga lama lama kok." ucap dokter Ferdi lembut. "Lama lama juga gapapa kok Fer, tante percaya sama kamu." lah si mama apaan banget. Ckck. "Kalo gitu kita permisi tante, Assalamualaikum." ucap dokter Ferdi. Lalu kamipun berjalan keluar dan langsung memasuki mobil. Selama di perjalanan entah kenapa kami lebih banyak diam. Aku hanya memandang pemandangan diluar jendela sambil bersenandung kecil mengikuti alunan lagu yang berasal dari radio. "Jadi kamu mau kita kemana?" aku tersentak saat dokter Ferdi bertanya padaku. "Loh, kok lo tanya gue sih dok?! Mana gue tau, kan lo yang ngajakin, gue mah cuma ngikut. Kapan lagi lo bakal ngajakin gue jalan dok." "Sebenernya saya bisa aja ngajakin kamu jalan kapanpun kamu mau." perkataan dokter Ferdi ternyata mampu membuat pipiku memanas. "Bisa aja sih lo dok. Lo kan sibuk." ucapku berusaha tenang. "Saya bisa ngurangin kesibukan saya buat nemenin kamu ngapain aja." lagi lagi aku merasakan panas pada kedua pipiku. "Sayangnya gaperlu dok. Gue bisa sendiri kok. Lagi pula kan masih ada mama sama papa." ucapku berusaha bersikap setenang mungkin. "Jadi sekarang kita kemana?" kembali jengah mendengar pertanyaannya. "Terserah lo aja dokter Ferdi, gue ngikut lo aja. Kan semalam lo yang ngajakin gue buat nemenin lo kemana gue gatau." ucapku menahan geram. "Kalo saya ngajakin kamu ke hotel dulu gimana?" langsung saja mataku melotot mendengar ucapannya. "Apa-apaan lo dok, ngajakin gue ke hotel." ucapku menahan perasaan yang campur aduk. "Emangnya kenapa? Salah? Sayakan cuma ngajakin kamu ke hotel buat nemuin temen saya yang sesama rekan dokter, lagipula ga lama kok, bentaran doang paling." jantungku sudah ribut tak jelas sedangkan Dogi ini bisa saja bicara setenang itu. Astaga aku malu. Dia memang pantas kupanggil Dogi. "Ya kalo ngomong jangan di putus putus dong dok, lanjut aja ampe abis, ampe bener-bener abis. Gue-kan jadi gasalah kalo mikir." ucapku, sepertinya ada yang salah daei ucapanku barusan. "Emangnya kamu mikirin apa?" dapat kulihat seringain di wajahnya. "Apaan sih lo dok, jalanin aja ni mobil, gue masih sma, gangerti yang begituan." ucapku lagi. "Begituan apa maksudnya?" sepertinya aku salah lagi. Agar detak jantung ini tak semakin menjadi, aku hanya diam tak mau berkata lagi. Lalu yang terdengar setelah itu adalah derai tawa dari mulut dokter Ferdi yang amat sangat manis. *** Setelah dari hotel, kami kembali ke mobil. Benar apa yang dokter Ferdi bilang, pertemuan mereka hanya sebentar, sangat sebentar. Tak ada basa-basi. Rekan dokter Ferdi tersebut seperti memberi sesuati kepada dokter Ferdi. Tapi aku tak tahu apa karna benda itu sangat kecil. Seperti sebuah flashdisk. Tapi entahlah. Setelah itu kami kembali ke mobil, dan kemudian melanjutkan perjalanan yang entah kemana. Kemudian dokter Ferdi mengendarai mobilnya ke arah sebuah rumah. Dengan pelan mobil ini memasuki halaman yang cukup besar dan rindang. Sangat banyak pohon dan daun berwarna oren yang berserakan di atas rumput pendek-pendek. Rumah ini persis rumah tua, tapi masih dirawat dengan baik. Kulihat dokter Ferdi berjalan ke arah pintu sambil menoleh kepadaku lalu menyuruhku berjalan ke arahnya. "Gue duduk di bawah pohon itu aja deh, dok. Gaenak kalo ikutan masuk." Ucapku pelan. "Gausah. Kamu ikut aja. Ayo." Lalu dengan langkah berat aku mengikuti langkah dokter Ferdi. Lalu kulihat pintu rumah itu terbuka dan memperlihatkan, hmm kurasa seorang pelayan, dengan baju berwarna hitam serta putih. Dia tersenyum ramah melihat kami lalu langsung menyuruh kami masuk. Aku masih mengikuti langkah dokter Ferdi, pun saat dokter Ferdi memasuki sebuah ruangan luas dengan banyak buku, dan juga ada meja dengan sebuah kursi yang sedang di duduki oleh lelaki muda. "Lama sekali." Gerutunya sambil melihat dokter Ferdi. "Gimana? Lo udah dapetkan buktinya?" Ucap lelaki tersebut. "Udah, gue udah dapetin bukti itu. Dan nanti bukan cuma anaknya yang bakal dapet hukumannya, tapi dia juga." Ucap dokter Ferdi terlihat dingin. Shit! Apa yang sedang mereka bicarakan? Siapa yang akan mendapat hukuman? "Oh kenalin, ini tetangga gue, namanya Keenan." Akupun mengangguk lalu menyalami lelaki tersebut. "Keenan." "Zio." Ucapnya sambil tersenyum. Lalu dengan kikuk ku balas senyumannya. "Saya cuma mau berpesan, apapun yang diceritakan Gibran mengenai dirinya, jangan percaya, dia bukan orang jahat, dan dia bukan pembunuh." Ucap kak Zio lagi. Apa maksudnya? Jadi Gibran bukan pembunuh? Lalu siapa yang hampir membunuh dokter Ferdi? Assalamualaikum, hi, hello:)) Semoga pada kepo yaa sama ceritanya wkwkwk:3 Votes & comments kalian aku tunggu yaa:)  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN