c h a p t e r [17] FLASHBACK

1990 Kata
Keenan's POV "Jadi? Apa yang sebenernya terjadi antara lo sama Gibran?" Tanyaku setengah gemas. Kini kami sedang berada di sebuah tempat makan. Ternyata alasan dokter Ferdi mengajakku hari ini karena ingin di temani makan siang. Dia tidak enak bila sendiri. Jomblo sih! Tapi entah mengapa, aku merasa dokter Ferdi ingin menunjukkan sesuatu padaku. Seperti ingin menceritakan sesuatu yang penting padaku. Dan hal itu bersangkutan dengan Gibran. "Gibran udah cerita sama kamu?" Tanyanya. Cerita? Cerita tentang apa? Tentang dia yang ingin membunuh dokter Ferdi? "Masa lalunya! Dia sudah cerita sama kamu?" Yap! Sepertinya memang tentang itu. "Belum." Jawabku pelan. "Bersabarlah, dia pasti akan bercerita sebentar lagi." Ucap dokter Ferdi sambil tersenyum lalu meminum minumannya. "Dan gue diminta buat gapercaya sama apa yang bakal Gibran ceritain tentang dia? Terus kenapa gue harus dengerin Gibran ceritain masa lalunya?" Ucapku semangat. "Sampai sekarang, Gibran tidak tau kalau sebenarnya, dia itu bukan pembunuh. Yang dia tau, dia hampir membunuh saya. Yang dia tau, dia pantas di penjara. Saya hanya ingin kamu membantu saya untuk membuat Gibran sadar kalau dia bukan pembunuh." Kenapa tiba-tiba salivaku susah untuk ditelan? "Kenapa mesti gue?" Tanyaku gugup. "Karna saya, saya percaya sama kamu, Keenan!" Kenapa jantungku begini? Oh God! Dokter Ferdi percaya sama aku? Tapi kenapa? "Hmm, kalau boleh tau, kenapa Gibran ga sadar kalau sebenernya dia itu ga pernah ngelakuin sesuatu buat bunuh lo, dok?" Tanyaku akhirnya. Ini yang membuatku penasaran sedari tadi. "Dia mabuk! Mabuk berat!" Jawaban dokter Ferdi sangat-sangat mengejutkan. "Mabuk? Alkohol? Club--" ucapanku langsung saja di potong oleh dokter Ferdi. "Bukan, Gibran ga akan pernah ke club malam. Dia dijebak. Oleh orang yang dia anggap teman."  "Jebak? Jadi maksud lo Gibran di jebak sama temennya sendiri? Temennya yang buat dia mabuk berat terus ga inget apa-apa sampe sekarang? Dan, temennya juga yang hampir bunuh lo, dok?" Ucapku menggebu. Entah kenapa aku kesal. Aku benci penghianat. Teman? Ya apalagi dengan seseorang yang mengaku dirinya teman ternyata menusuk dari belakang. Dapat ku lihat dokter Ferdi mengangguk kecil. "Ada seseorang yang membenci saya. Dan orang itu memanfaatkan anaknya untuk bisa menghabisi saya. Saya fikir anaknya akan menolak, ternyata saya salah. Ternyata anaknya juga sangat tidak menyukai Gibran. Dan dari masalah Gibran, dia ternyata mendapatkan cara mudah agar bisa mengikuti permintaan orang tuanya untuk menghabisi saya. Hanya dari masalah Gibran, dia langsung mendapatkan apa yang dia inginkan. Orang tuanya senang saya tidak ada lagi, sedangkan dia senang Gibran menghabiskan waktunya di penjara." "Ok, gue ngerti sekarang. Orang itu punya anak, dan dia tau kalau anaknya itu temenan sama Gibran. Dan dia tau kalau Gibran itu adik lo. Dan lewat anaknya, dia tau masalah Gibran. Gue tebak, masalah yang dimaksud itu tentang cewek cantik itukan?" "Nindy? Ya, dia!" "Ok, dan dari masalah itu, orang yang benci sama lo langsung nyusun rencana gimana caranya lo bisa mati, dan mereka dapetin cara supaya orang itu, dan juga anaknya ga di pikir sebagai pembunuh. Dan mereka sengaja ngebuat Gibran mabuk, terus pas Gibran sadar, mereka langsung cerita omong kosong kalau sebenernya Gibran yang udah hampir bunuh lo." Ucapku makin kesal. "Ternyata kamu pinter juga." Ucap dokter Ferdi sambil tersenyum tipis lalu mengacak rambutku pelan. --- "Makasih dok, besok di sekolah gue coba jelasin ke Gibran!" Setelah itu mendapat anggukan dari dokter Ferdi, lantas aku langsung masuk ke dalam rumah. "Cewek." Kudengar siulan mama saat aku baru memasuki ruang keluarga. "Gimana sama dokter Ferdi? Dia nembak kamu? Kamu tolak dong, Kee? Kan kamu nunggu yayang Gibran." Ya Allah si mama, kebanyakan nonton gossip gapenting ni makanya jadi begitu. "Dah ah ma, Kee mau mandi. Dahh ma." Lalu dengan cepat aku berlari ke kamar. --- "Gib?" Panggilku saat melihat Gibran di kantin. Senin ini aku berniat berbicara pada Gibran. Jantungku berdetak cepat seperti biasa. Kulihat Gibran yang berjalan ke arah ku. "Kenapa, Kee?" "Ikut gue yuk, ke belakang sekolah." Ucapku lalu menarik tangan Gibran. "Ngapain Kee kebelakang sekolah, berdua doang?" Astaga, kayaknya kakak sama adek nggak ada bedanya. "Ikutin aja dulu." Lalu ku tambah kecepatan dalam jalanku. "Ok, sebelum gue cerita, lo duluan yang cerita. Maafin gue sebelumnya rada maksa lo, tapi ini penting buat gue sampein ke elo." "Emang lo siap?" Aku mengangguk cepat. "Sebenernya---" Gibran's POV -beberapa tahun sebelumnya- "Lakuin ajasih, emangnya lo mau kalah dari kakak lo? Kalo gue sih ogah, selagi masih ada kesempatan, lo harus manfaatin." ucap temanku bernama Gio. "Ya tapi bukan berarti gue harus buat rem mobilnya jadi blongkan?" Ucapku menegaskan. "Biasa aja kali. Rem blong doang. lebay lo, Gib." ucap temanku yang satunya bernama Rizy. "Lo suka kan sama tetangga lo, yaudah lakuin aja apa yang gue saranin. Sebelum kak Adnan yang dapetin dia." Ucap Gio. "Tapikan..." "Stop ngeluh kayak gini, gue yakin kalo kak Adnan udah gaada tu cewek pasti bakal liat lo." Ucap Gio dengan santainya. "Nggak, Yo. Gue gabisa. Gue gamungkin bunuh kakak gue sendiri demi cewek. Gue juga masih smp, Yo." "Kalau lo gamau, biar gue yang lakuin. Kita itu temenan Gib." Ucap Gio lagi sambil mengeluarkan rokok dari saku celananya. "Nggak. Gausah. Gaperlu." Ucap Gibran. Lalu dengan cepat aku pergi meninggalkan tempat itu. Teman? Apa itu namanya teman? Membantu teman yang lain untuk membuat kejahatan. Itu tak mungkin aku lakukan. Aku bukan orang seperti itu, mengorbankan saudara sendiri hanya demi perempuan. Oh God! Aku bahkan masih SMP. Tapi kenapa aku harus menyukai tetanggaku sendiri. Disaat aku tau perempuan itu dan kakakku saling menyukai. Bukankah lebih baik jika aku melupakan perempuan itu? Mungkin akan sakit, tapi ini harus aku lakukan. Ku ambil hape dari saku celanaku. Membuka file berisi foto yang selama ini ku simpan. Kulihat sebentar, lalu beberapa saat kemudian, langsung saja ku hapus foto itu. Tapi satu yang kusimpan, saat aku berfoto berdua dengannya tepat di taman kompleks. Ya saatnya aku melupakan kak Nindy. --- Keadaan di rumah sepi. Mama dan papa masih berada di luar kota, sedangkan kak Adnan pasti sibuk dengan urusannya. Langsung saja aku melangkah ke kamar, mandi, dan tak lupa shalat. Saat ingin mengambil buku pelajaran dari meja belajar, ku lihat handphone ku bergetar. Satu pesan dari Rizy. From: Rizy "Gib, lo dimana njing? Kesini cepetan, Gio ni, bahaya!" Gio? Gio kenapa? Dengan cepat aku membalas pesan tersebut dengan menanyakan dimana mereka sekarang. Sambil menunggu Rizy membalas pesanku, aku langsung bersiap-siap. Kaos polos warna hitam ditambah jacket dan jeans, hanya itu. Selesai semuanya aku langsung menuju motorku, dan saat itulah pesan dari Rizy masuk. Ku kendarai motorku ke alamat yang Rizy kirimkan. Sesampainya disana, dapat kulihat Gio dan Rizy sedang tertawa bersama. Lalu dengan bingung aku bergabung dengan mereka. "Apa-apaan ni? Lo berdua bacot tau ga! Buang-buang waktu gue. Mending lo di rumah, belajar, kita kelas 9, ntar lagi ujian." Ucapku lalu berbalik berniat pergi. "Eiit, satu ini doang, Gib. Lo rasain sensasinya. Jamin, lo pasti bisa ngelupain tu cewek kalo begini. Lepasin yang buat lo stress. Satu malem ini doang." Dan entah setan darimana aku menyambut botol yang diberi oleh Gio. Meminumnya dengan kalap. Entah berapa botol yang aku minum sampai yang aku rasakan aku ambruk ke tanah. --- Aku bangun dengan kepala yang sangat sakit. Ini tak pernah ku alami sebelumnya. Dimana aku? Kamar? Bukankah ini kamar Gio? Lalu dari arah pintu kulihat Gio berlari tergesa ke arahku. "Gib, gue minta maaf, Gib. Maafin gue karna gak nyegah lo tadi malem. Gue minta maaf, Gib. Lo brutal banget tadi malem, Gib." "Gue kenapa emangnya? Gue ngelakuin apa?" Tanyaku sambil menahan sakit di kepala dan mual. "Kak Adnan, dia koma, karna lo." Ucapan Gio seperti tak bisa kupercaya. "Karna siapa? Gue? Emangnya gue ngapain?" Tanyaku makin bingung. "Lo buat kak Adnan babak belur tadi malem, Gibran. Dia hampir aja mati kalo gak segera dibawa ke rumah sakit." Astaga, apa yang tadi malam aku lakukan? "Gue gayakin." "Gue punya videonya." "Lo videoin? Buat apaan?" Dapat kulihat Gio yang gugup seperti tak bisa menjawab. "Kali aja lo butuh, Gib." "Lo bego ato gimana sih? Ngapain lo pake videoin segala." Dengan cepat Gio mengeluarkan hp-nya dan memperlihatkan video tersebut padaku. Akukah itu? Akukah yang ada di dalam video tersebut? Kak Adnankah yang sedang kuhajar tersebut? "Den, ada polisi nyariin den Gibran." Kudengar pembantu Gio berbicara dari depan pintu kamar. Shit!! Lalu kulihat seorang polisi berada di belakang pembantu Gio dan masuk ke dalam kamar, lalu membawaku ke mobil mereka. Shit!! Apa yang sebenarnya telah aku perbuat? Benarkah itu aku? Hingga lelah aku berfikir aku tak bisa mengingat apapun. Yang aku tau, aku mulai minum dan berteriak tak jelas. Lalu setelah itu aku tak ingat apapun. Dengan geram ku acak rambutku sendiri. --- "Beruntung kamu masih di bawah 17 tahun, masih bisa di beri jaminan, lagipula orang yang kamu hajar baru saja sadar dari koma." Entah sudah hari keberapa aku disini. Aku tidak menghitung. Dua hari? Tiga? Seminggu? Aku tidak tau. Yang aku lakukan hanya berdoa agar kak Adnan cepat sadar dan sangat bersyukur sekarang karna kak Adnan sudah sadar dari komanya. Aku keluar dari tempat ini, disambut okeh kedua orang tuaku. Langsung saja mama memelukku erat sambil menangis. Aku sangat sangat merasa bersalah. Kelakuan ku sepertinya tak pantas mendapat maaf. "Kita pulang ya, An? Atau An mau liat kak Adnan?" Tanya mama, langsung saja aku menggeleng keras. Tidak. Aku tidak bisa. Aku malu. Aku tak pantas berada disana. Aku memang orang gila. Di sekolah, aku tak melihat Gio dan Rizy. Aku tak peduli dengan mereka. Lebih baik aku sendiri. Sepulang sekolah, dapat kulihat kak Nindy yang sudah siap dengan kopernya. Mau kemana dia? Membuat kakak sendiri koma! Dan sekarang aku membuat tetanggaku pergi. Apa yang salah denganku? Mencoba untuk tidak memikirkan hal tersebut, aku lebih memilih belajar. Sepi. Biasanya jam segini aku akan mengobrol seru dengan kak Adnan, tapi sekarang, bahkan kak Adnan memilih pindah rumah seperti keinginannya. Aku mau dia disini. Tapi aku malu mengingat kelakuanku. Aku sudah tidak memikirkan kak Nindy. Satu SMA, ini akan menjadi tiga tahun terbaik. Masa SMA yang tidak akan aku lupakan. Sampai disaat MOS, aku mendengar suara cempreng miliknya. ***** Keenan's POV Sedikit kaget, kenapa temannya rela berbuat seperti itu pada Gibran. Kulihat Gibran yang menunduk. Lalu langsung saja kuraih pipinya dan matanya kembali menatapku. Aku tau aku nekat, tapi aku rasa ini keren. "Gib. Gue ga kaget. Dan gue rasa, sekarang saatnya lo tau." Dapat kulihat kebingungan dari mata tajam tersebut. "Tau apaan?" "Kalau lo bukan pembunuh. Kalau lo sebenernya di jebak." "Jebak? Maksud lo apaan?" "Gio? Ya Gio yang jebak lo. Gio dibantu Rizy. Lo gapernah bikin dokter Ferdi babak belur. Dokter Ferdi koma, karna rem mobilnya blong, dan yang ngelakuin itu, Gio sama Rizy." Dapat kulihat alisnya bertaut, sangat kental kalau Gibran sedang berfikir. "Video? Tapi Gio punya videonya!" "Itu bukan lo. Itu antara Gio sama Rizy. Mereka make baju lo Gib! Dan mereka sewa orang yang mirip dokter Ferdi, terus makein baju dokter Ferdi ke orang yang disewa." "Ha? Tapi kenapa Gio ngelakuin itu?" "Gue gatau pasti, tapi yang jelas Gio benci lo, dan bokap Gio benci dokter Ferdi. Gue gatau apa alasan bokap Gio benci dokter Ferdi, tapi yang jelas, LO BUKAN PEMBUNUH, GIBRAN!" Ucapku sambil menatapnya penuh keyakinan. Setelah itu, dapat kulihat hembusan napas lega lolos dari mulutnya. "Kenapa lo yang jelasin ke gue?" "Karna dokter Ferdi percayain hal ini ke gue." Kulihat Gibran mengangguk dan menatapku sambil tersenyum senang. Lalu dengan cepat Gibran menarikku ke dalam pelukannya. Dan dengan senang hati, kubalas pelukan tersebut. "Makasih, Kee. Dan gue, gue sayang sama lo." Mataku yang sedari tadi tertutup karna sedang menikmati aroma Gibran langsung terbuka lebar. Apa katanya tadi? Sayang? Ya Allah, Kee bahagia ya Allah. Makasih karna udah nyiptain hari senin buat Kee ya Allah. Baru ingin membalas ucapan Gibran, sebuah suara Herat membuatku membeku. "Keenan! Dan kamu? Gibrankan? Kalian berdua sedang apa disini? Kenapa berpelukan ha? Ikut bapak ke ruangan siswa sekarang. Dan kamu Keenan, orang tua kamu juga akan datang hari ini." Shit! Dasar botak licin ga pengertian, gangguin aja sih. Haii!!!!! Gimana part ini? Comment kalian aku tunggu buat part ini ya, kalau gangerti bisa ditanyaa;)) jangan lupa buat nekan lambang bintang yaa:3:3  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN