Keenan's POV
"Kamu ga bosen di marahin guru gitu? Ini udah yang keberapa kalinya mama ke sekolah kamu?!"
"Mama, Kee udah berubah kok ma. Mama percaya sama Kee, ini terakhir kalinya mama ke sekolah buat nemuin pak botak, eh pak Dedy maksudnya, dengan judul 'Anak ibuk buat masalah lagi'. Ini terakhir kali, ma." Kulihat mama menghela nafas. Maafin Kee, ma.
"Terus yang masalah di belakang sekolah itu?" Tanya mama sambil menyipitkan matanya. Tapi aku tau dia sedang menahan senyumnya.
"Idih, pak Dedy aja yang alay bilang Kee ngapa-ngapain sama Gibran. Padahal cuma pelukan temen doang. Juga lima detik palingan, pak Dedy aja yang ngelibih-lebihin, iri kali karna gapernah pelukan." Ucapku santai. Kini kantin sedang sepi jadi aku bisa bicara leluasa dengan mama.
"Hush. Ok kalau masalah ini mama percaya sama kamu." Langsung saja kurasakan keningku berkerut.
"Kenapa mama bisa percaya gitu sama, Kee?" Tanyaku penasaran.
"Karna kamu anak mama."
"Gapercaya."
"Kamu gapercaya kamu anak mama? Jelas jelas kamu mama yang bikin bareng papa." Idih si mama. Maafin mama Kee ya, mama gitu, kalau ngomong ceplas-ceplos.
"Hishh bukan itu maksud, Kee. Maksudnya kenapa mama bisa percaya tentang kejadian belakang sekolah itu?" Tanyaku lagi memperlihatkan wajah serius.
"Karna mama juga pernah ngelakuin itu. Bahkan lebih dari sekedar pelukan." WTF!! eh Astaghfirullah. "Gaklah, mama pelukan juga. Itupun cuma sedetik, ga seberani kamu yang lima detik. Ga seberani anak sekarang yang mungkin udah ada yang ga--" sebelum aku mendengar lanjutan cerita mama, langsung saja aku memanggil Gibran yang baru memasuki kantin.
"Gib." Panggilku.
"Eh, hai, Kee. Hai tante." Ucap Gibran sambil mengeluarkan senyumnya.
"Halo Gibran. Mau makan bareng Keenan? Yaudah tante pulang ya, kamu jagain Keenan tante ya." Kulihat mama merapikan barang-barangnya. Tapi sebelum itu..
"Gosah tante, tante disini aja makan bareng kita." Gibran melarang mama pergi.
"Kamu yakin?" Tanya mama memastikan.
"Yakinlah tante. Kan tante mamanya Keenan, kenapa harus ga yakin."
Sehabis makan, tepat bel istirahat berbunyi. Langsung saja kantin ini penuh dengan umat kelaparan. Aku, mama, dan Gibran langsung berjalan keluar dan pergi ke depan sekolah. Dapat kurasakan perhatian semua murid ke arah kami, tapi aku lebih memilih untuk tidak peduli dan terus memilih berjalan.
Sesampainya di parkiran, aku memperhatikan Gibran yang sedari tadi sibuk berbicara dengan mama. Tapi aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Mama pulang ya, inget janji kamu! Ini terakhir kalinya." Aku mengangguk sambil cengar-cengir tak jelas.
"Gibran jagain Keenan ya." Ucap mama pada Gibran dan itu membuatku malu.
"Pasti tante!" Dapat kurasakan pipiku memanas. Dan saat mataku menatap mama, langsung saja kudapatkan kerlingan mata dari mama.
"Yaudah, dah yaa. Belajar yang bener kalian berdua." Ucap mama lalu memasuki mobil.
Setelah mama pergi, aku dan Gibran mulai memasuki gedung sekolah. Kami berbicara seperti biasa tanpa canggung dan aku bersyukur karna hal itu.
"Lo percayakan sama gue?" Tanya Gibran.
"Apaan?"
"Kalo gue sayang lo?!" Dan aku hanya mengangguk tak berani menjawab.
"Kee." Kulihat ke arah belakang dan mendapatkan Remy. Dia kenapa? Kenapa babak belur begini.
"Lo kenapa, Rem?"
"Gue mau ngomong sama lo, berdua doang." Dapat kulihat tatapan tajam Remy ke arah Gibran. Remy kenapa?
***
"So, siapa yang mutusin?" Tanyaku sesudah mendengar cerita Remy.
"Rachel."
"Baguslah. Lagipula lo udah terlalu jahat. Gue tau kalau buat sikap lo ke Rachel, lo emang paling baik, Rem. Tapi sayang, lo gapernah mau buka hati lo buat dia." Dapat kulihat tatapan bingung dari Remy.
"Rem, gue bukan buat lo." Untuk sekarang, ya jodoh siapa yang tau. "Sama kayak lo, gue gabisa buka hati gue. Tapi bedanya, lo ngasih Rachel kepercayaan supaya dia bisa buat lo jatuh cinta sama dia. Dan gue, gue gapernah ngasih lo kepercayaan ataupun harapan, Remy." Maafin gue, Rem. Maafin! Maaf karna gue udah terlalu jahat selama ini.
"Tapi gue sayang sama lo, Keenan. Gue cinta sama lo, Kee."
"Rem, jangan kayak gini, Rem. Lo tau kalau gue udah nganggap lo kayak sodara sendiri."
"Kenapa harus Gibran, Kee?"
"Kenapa harus gue, Rem?" Tanyaku tenang melawan emosi. Sebenarnya emosiku sudah naik sejak tadi. Tapi aku berusaha mati-matian menahannya.
"Kee please."
"Rem lo tau gue gabisa. Dan sesuatu yang dipaksa itu gabaik. Lupain gue pelan-pelan. Kita temenan lagi kayak dulu. Lagipula kayaknya Kiko masih nungguin elo." Ucapku sambil bercanda.
"Besok gue ke Bandung. Minggu depan kemungkinan gue udah ga disini lagi."
"What? Apa-apaan sih, Rem. Gosah kayak anak kecil gini deh. Lo tau kan, diantara kita bertiga cuma lo yang paling bener, gue ama Mikha mah gesrek gapernah ilang." Kini emosiku pecah. Remy tidak akan pindah. "Lagipula bentar lagi kita bakal ujian. Lo pikir sekolah mana yang mau nerima lo di akhir semester begini ha?" Ucapku menggebu.
"Pasti ada! Kan gue pinter."
"Gaakan! Lo gaakan pernah pindah!"
"Serah deh, Kee. Pokoknya besok gue bakal ke Bandung."
"Besok ada try out, dugong."
"Pulang sekolah."
"Macet, ntar lo lama nyampenya. Buat capek doang."
"Sok tau lu."
"Bodo! Kalo mau pergi minggu aja gue ikutan."
"Kalian lagi ngomongin apaan?" Baru ingin bersuara lagi, suara Gibran membuatku dengan cepat menoleh.
"Kepo banget sih, lo." Ucap Remy memandang tajam Gibran.
"Ya wajar dong gue kepo. Lo bawa pergi pacar gue lama banget."
"Ha? Pacar? Ngaku-ngaku lo?!"
Aku yang melihat mereka satu sama lain hanya bisa menggaruk leher. Aku pusing hari ini. Perasaan baru tadi aku memuji hari senin. Sekarang rasanya aku menyesal. Lebih baik aku bolos hari ini.
"BISA DIEM GA SIH? GUE CAPEK DENGER KALIAN DEBAT GAPENTING."
"Ini penting, Kee. Karna ini tentang lo."
"Semua yang bersangkutan sama lo itu penting, Kee."
Yang pertama bersuara itu Gibran dan langsung disambut Remy. Apa yang salah dengan mereka berdua?
"Bodo deh ya. Gue gapeduli. Serah lo berdua mau lanjut debat ato bubar."
Langsung saja aku pergi, baru beberapa langkah, dapat kurasakan tangan seseorang berada dibahuku. Gibran.
"Tenang aja. Remy cuma butuh waktu."
Ya, aku tau kalau Remy memang butuh waktu.
***
Haiii:)))
Gimana part ini? Maaf banget kalo datar ya:''
Tapi makasih banget buat 500+ votesnya ya, ya Allah ganyangka banget:") tetep vomment cerita ini ya
All the food, xx.
-d