Keenan's POV
Pagi ini minggu, aku sudah rapi dengan kaos putih bergambar abstrak dan sedikit kebesaran, jeans dan converse menambah kelengkapan penampilanku. Aku keluar dari kamar dan melihat Remy yang sudah duduk dan asyik dengan tv di depannya.
Langsung saja aku mengambil snapback yang berada di kepala Remy lalu aku pasangkan ke kepalaku. Rambut yang tidak ku ikat membuat snapback tersebut terpasang dengan mudah.
"Dah sarapan?" Tanyaku pada Remy.
"Belom, gue lagi baik." Jawabnya membuatku bingung.
"Baik apaan?"
"Baik karna mau nungguin elo. Yodah ayo sarapan." Lah, apaan si kunyuk satu.
"Idih, bilang aja lo gamau sarapan sendiri, jomblo sih." Ucapku santai sambil berjalan ke meja makan.
"Jomblo ga usah teriak jomblo woi!"
"Enak aja." Jawabku cepat sambil mengambil nasi goreng.
"Emang Gibran udah nembak?" Jedwarr!! Pertanyaan Remy membuatku tak bisa berdebat lagi.
Ya, sampai sekarang Gibran memang belum menyatakan perasaannya secara resmi. Tapi seminggu ini kami dekat, sangat dekat. Dan bukankah Gibran sudah mengatakan sayang padaku? Apa setelah mendengar kata sayang tersebut, aku masih membutuhkan acara tembak menembak?
"Apasih, Rem. Bodo ah." Ucapku memakan nasi goreng dengan fikiran melayang.
Kalau aku dan Gibran pacaran, kapan kami memulainya? Senin kemarin? Saat di belakang sekolah? Saat itukah?
"Lah kok gue? Gue kan cuma nanya, kapan lo ama Gibran mulai pacaran? Kalo si Gibran ga nembak elo, yakan gue bisa nembak lo lagi. Ya kali aja lo berubah pikiran abis itu nerima gue." Ucapan panjang Remy tak ku pedulikan dan terus memikirkan Gibran.
"Berisik, nying!"
"Idih dasar sensi."
"Bodo."
"Ewh"
"Paansih, jomblo diem aja ya."
"Songong amat, kayak udah beneran di tembak."
"Hish, ngomong lagi gue cucuk lo pake ni garpu." Ucapku sambil mengangkat garpuku ke arah Remy. Bukan wajah ketakutan darinya yang aku lihat tetapi malah mendapat Remy yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Kenapa lo senyum-senyum? Jangan bilang lo udah move on dari gue? Cepet amat." Ucapku sambil merebut hape milik Remy.
"Tante Nola?! Kirain." Ternyata Remy hanya sedang chat dengan mama tercinta.
"Lo kira?" Tanya Remy dengan mata melotot.
"Rachel." Oh tidak, sepertinya aku salah bicara. Ini tidak baik. Dapat kulihat perubahan Remy yang mendadak lesu.
"Gue kangen dia, Kee." Ucapan Remy membuatku seratus persen kaget.
"Apa?"
"Gue kangen dia. Gue kangen Rachel."
"Ya, selalu kayak gitu. Sesuatu bakal terasa lebih berharga pas dia udah ga ada."
"b******k gak sih gue kalo ngajak Rachel balikan?" Pertanyaan Remy membuatku bingung bagaimana cara menjawabnya.
"b******k! Kalo lo ngajak balikan cuma mau nyakitin dia lagi. Tapi gue bakal bantu kalo lo emang bener-bener yakin sama perasaan lo sekarang."
"Gatau, seminggu ini hampir setiap malem gue mikirin dia. Berasa jahat banget pas gue inget moment gue bareng dia. Dia tu udah sempurna banget buat gue, tapi gue malah jahat ke dia."
"Selalu ada kesempatan kedua kok, Rem!"
"Dan menurut lo orang jahat kayak gue pantes dapetin kesempatan kedua?"
"Gue rasa begitu."
***
Di mobil aku dan Remy tak henti-hentinya berbicara. Apa saja kami bicarakan termasuk ukuran sepatu Harry Styles. Lalu berlanjut pada istri Pak Dedy yang memiliki sifat ramah kemudian tentang orang-orang yang sering membakar hutan. Sedikit random memang. Atau ini memang sangat random.
Saat sedang membuka bungkus makanan, langsung saja Remy bertanya tentang Gibran. Bagaimana sikap Gibran padaku?
"Dia baik kok. Baik banget malah. Tapi pagi ini kok dia ga ada ngechat gue ya. Terus chat gue juga ga di read."
"Lagi sibuk kali." Ucap Remy mengambil makanan di tanganku.
"Eh tadi juga gue liat rumah dokter Ferdi sepi. Mobilnya juga ga ada."
"Dokter Ferdi? Tetangga lo itukan?! Kenapa lo nanyain tu dokter?"
"Kenapa emang? Salah? Nanyain doang elah."
"Lo suka?" Ok mungkin Remy mulai gila.
"Apaan kok gue? Gaklah. Gamungkin."
"Yakan bisa jadi. Lo kan sering curhat ke gue ama Mikha kalo lo sering gugup misalnya deket ama tu dokter."
Aku tak menjawab. Benarkah aku suka dokter Ferdi? Ya aku akui jika aku memang sering gugup jika dekat dengan dokter Ferdi. Tapi, bukankah itu hal biasa? Lalu untuk apa aku bertanya tentang dokter Ferdi? Tentu saja itu bukan urusanku.
Astaga! Benarkah aku menyukai dokter gila itu? Aku menyukai kakak Gibran? Tidak! Tidak! Tidak!
"Napa lo?" Pertanyaan Remy membuatku kaget dan dengan cepat aku meminum air mineral yang berada di tangan Remy.
"Gak, kepo lo!" Ucapku berusaha membuat debaran jantungku kembali normal.
***
"Keenan! Ya ampun tante kangen sama kamu. Gimana masih sering pura pura sakit?" Ya Allah tante Nola malah buka kartu di depan Remy.
"Ih tante mah, jangan gitu, itukan rahasia kita berdua." Ucapku mengedipkan mata pada tante Nola.
"Ma." Ucap Remy pelan sambil berjalan ke arah tante Nola.
"Hai jagoan mama." Ucap tante Nola dengan cepat menarik Remy ke dalam pelukannya.
Kenapa jadi Kee yang mau nangis?
"Remy kangen mama." Dapat ku dengar nada bergetar tersebut.
"Mama disini sayang. Selalu. Buat Remy."
"Balik, ma."
"Kalau mama bisa, mama pasti lakuin itu."
"Remy gasuka liat mama nangis." Ucap Remy sambil menyeka air mata tante Nola.
"Mama gapernah nangis sayang. Mama kuat." Dan saat kalimat itu terucap, bulir bulir air mata kembali jatuh.
Karna tak ingin menangis di tempat, aku lebih memilih keluar. Ku cek hapeku, dan tak ku temukan satupun pesan masuk dari Gibran. Kemana dia?
Hapeku bergetar, dengan cepat kulihat siapa yang mengirim pesan padaku. Ternyata LINE dari Mikha. Dia sedang marah sekarang. Dengan cepat aku membuka chat di group 'jomblo bahagia' ya, kuakui ada yang salah dengan nama group tersebut.
Mikha: hoyy!!
Mikha: woii!!
Mikha: taii emang ya lu berdua, pergi ke Bandung ga ngabarin gue.
Mikha: hishhh, cepetan balik jemput gue gamau tau. Gue selesai mandi lo berdua mesti dah nyampe.
Kiko: kenapasih Kamik gaje banget! Orang Karem sama Kakee pergi ke Bandung deket sini doang.
Mikha: bodo ahh gamau tau gue kesel.
Mikha: btw, read by 2. Keluar lo Kee ato Remy?
Keenan: bodo ah, Mik! Bye, mau makan.
Aku tersenyum membayangkan wajah kesal Mikha. Baru ingin berjalan memasuki rumah, hapeku kembali bergetar. Dia yang sedari tadi aku tunggu akhirnya membalas.
Gibran: maaf, gue lagi sibuk.
Hanya itu? Oh God.
Hullaaaa:)))
Woahh ganyangka votesnya cepet makasihh yaa buat yang udah nyempetin baca. 600+ dan itu berharga:')) ok mungkin part ini rada gimana, tapi keep vomment yaa, all the food. Xx. -d