3. Bercinta Dalam Mobil?

1296 Kata
Sudah satu minggu ini pria itu tak dapat berkonsentrasi dengan baik. Bayangan malam itu masih terekam jelas di ingatannya. Ia tersenyum kecut, benar saja, wanita itu telah pindah sehari setelah kejadian yang mereka alami. Dan sayangnya, ia belum bisa mendapat jejak dimana wanitanya itu tinggal sekarang. Mungkin ika pria lain tidak akan memikirkan hal semacam ini, tapi tidak dengannya, ia masih memikirkan Ara bahkan nyaris tak bisa tidur setiap kali memikirkannya. Rasa bersalah dan ambisinya bertangung jawab sangat kuat terlebih dengan dorongan dan harapan bahwa Ara memang akan mengandung anaknya kelak. Saska melihat tumpukan berkas di atas meja dan mendecih kecil. Ia harus mendapat sekretaris pengganti secepat mungkin. Karina telah ia pecat sejak malam itu, meski ia sedikit bersyukur karena ulah Karina, ia bisa melampiaskan siksaan yang menyiksa jiwanya pada wanita yang juga baru pertama kali melakukannya. Ia memutar kursi dan menatap ke luar jendela besar di hadapannya. Tangannya mengepal lemah menutup mulutnya saat suaranya menyebut nama wanitanya, "Ara, Kianara Pradisti." Nama itu akan terus ia ingat meski takdir tak mempertemukan mereka kembali. "Woy, Saska!" Seketika ia kembali memutar kursi saat suara cempreng seseorang menyadarkannya. "Apa kau tak punya tangan untuk mengetuk pintu?" makinya saat pria yang berdiri di depan mejanya hanya nyengir kuda dan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Hehe, maaf. Aku hanya tidak sabar memberitahumu kabar baik," papar pria itu hingga menggebrak meja kerja Saska. Saska hanya menatap teman yang juga merangkap sebagai sahabatnya jengah bahkan tanpa ekspresi. Pria berkulit sawo matang itu bertepuk tangan sebanyak dua kali sebagai isyarat memanggil seseorang yang telah menunggu di luar ruangan. "Hehe, kau harus berterimakasih padaku. Tidak mudah mencari sekretaris berkualitas dengan cepat sepertiku. Jika bukan aku, kau tak bisa menemukannya sebagai pengganti Karina. Hahaha." Pria itu tertawa lebar dengan bangga sementara Saska menatap ke arah pintu yang telah terbuka sebagian. Tatapannya mengarah pada kaki jenjang berbalut sepatu hak 5cm yang lebih dulu terlihat, kemudian semakin ke atas pada rok span selutut dan kemeja formal berwarna putih dihiasi renda di bagian d**a. Lekuk tubuh itu, lekuk tubuh yang jelas ia ingat karena telah menjelajahi setiap incinya dan benar saja, tatapannya seketika jatuh pada wajah wanitanya yang ia rindukan. Ia menyeringai tipis, instingnya selalu tepat. "Selamat pagi, Tuan Sas--" suara Ara tercekat di tenggorokan saat melihat dengan jelas siapa bos barunya yang dapat ia lihat dari singgasananya. Ia menelan ludah kasar, hingga kakinya selangkah mundur ke belakang saat pria itu bangun dari duduknya dan menghampirinya. "Selamat datang, Kianara Pradisti." Saska berdiri tepat di hadapan Ara yang terjebak pada tatapannya yang seakan sanggup menyeret Ara untuk melihat masa depannya. Dan seketika ucapan Ara saat itu kembali berputar layaknya CD, bahwa Ara akan memikirkan mengenai menikah jika mereka bertemu kembali. "Heee? Kau sudah tahu? Sudah saling mengenal? Bagaimana bisa?!" teriak Tian yang merupakan pria yang Ara anggap seperti kakaknya, juga pria yang merangkap sebagai sahabat Saska. Saska mengabaikan teriakan pertanyaan bodoh dari Tian. Ia meraih tangan Ara dan menyeretnya ke luar ruangan. "Woy, Saska! Apa yang kau lakukan?! Hei jelaskan padaku?! Apa yang tidak aku ketahui …." teriak Tian hingga menjambak rambutnya frustasi saat Saska telah menghilang di balik pintu. *** Banyak pasang mata yang tak mengalihkan pandangan dari adegan seret menyeret yang bosnya lakukan. "Bos kenapa? Siapa wanita itu?" bisikan para karyawan Saska dihiraukannya sama sekali. Dan tidak ada yang berani bertanya, atau menolong wanita yang bos mereka seret meski meronta dan memintanya melepaskannya. Saska tetap menyeret Ara hingga parkiran dan memasukkannya ke dalam mobil sport berwarna navy miliknya. "Lepaskan aku! Apa kau gila?!" teriak Ara yang berusaha melepaskan diri juga berusaha keluar dari mobil. Namun percuma karena Saska telah mengunci pintu. "Dasar pria sinting! Tidak waras! Kurang ajar! b******k! Psikopat!" Segala makian Ara lontarkan pada Saska yang tak melepas tangannya dan sekarang justru menatapnya lapar. "Kita bertemu lagi, dan kau harus menepati janjimu," ucap Saska diiringi senyum tipis di sudut bibirnya. Glek! Ara menelan ludah kasar. Mimpi apa dia semalam hingga bisa mengalami hal ini? Rasanya, ia hanya bermimpi didatangi seekor burung elang. Dan kini ia benar-benar bertemu elang yang sesungguhnya. Ia benar-benar bodoh, seharusnya ia meminta foto calon bosnya pada Tian. Jika saja ia tahu bahwa calon bos barunya adalah Saska, tentu ia tak akan sudi melamar atau bekerja di sana. "Jangan mengada-ada, aku tak mempunyai janji apapun padamu!" Tak mau kalah, Ara tetap memberontak bahkan memberikan tatapan tajam pada Saska. Namun hal itu tentu percuma karena tatapan mata Saska justru lebih menakutkan. "Sial!" batin Saska. Melihat Ara yang memberontak justru mengingatkannya pada malam panas mereka. Seketika dicengkeramnya kedua tangan Ara dengan satu tangannya sementara satu tangannya menarik kepala Ara agar diam dan berhenti meronta. Ia mencondongkan tubuhnya hingga menghimpit Ara dan tanpa permisi mengecup bibir kenyal yang membuatnya candu. Jujur saja ia belum pernah berciuman dan ciuman pertamanya adalah bersama Ara saat kejadian waktu itu. Ara ingin menolak, ah, tidak, ia menolak namun percuma karena Saska menahan kepalanya. Tiba-tiba air matanya menetes dan mengalir melewati bibirnya dan bibir Saska yang masih terpaut. Seketika itu juga Saska membuka mata saat rasa asin terasa oleh Indra perasaanya. Melihat wanitanya berlinang air mata, Saska segera melepas tautan bibir mereka dan menyeka saliva di sudut bibirnya. Perlahan cengkraman tangannya mulai mengendur. Ia telah kehilangan kesadaran dan pertahannya. Ara segera menarik tangannya yang memerah dan menyeka air matanya kasar. Sial! Ia menangis. Padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri apapun yang terjadi ia tak akan menangis. Tapi apa yang Saska lakukan benar-benar membuatnya sakit. Saska menyisir rambut emonya ke belakang dan mendesah frustasi. Padahal ia bisa menahan diri selama ini, tapi kenapa saat melihat Ara rasanya begitu sulit? Mungkin karena bayangan yang mereka lakukan malam itu berputar-putar terus dalam ingatannya layaknya DVD. "Aku akan melaporkanmu pada polisi!" teriak Ara saat telah membersihkan wajahnya yang basah karena air mata. "Dan aku akan senang hati bertanggung jawab," jawab Saska dengan ekspresinya yang datar. Saska tengah berusaha menekan emosi. Emosi pada dirinya sendiri karena tak bisa mengendalikan diri. "Aku tidak sudi jika harus menikah denganmu!" teriak Ara hingga menunjuk tepat pada wajah Saska dengan telunjuknya. Mungkin jika Saska tidak b******n, ia akan mempertimbangkannya melihat wajah Saska yang tampan bak dewa Yunani. Dan Ara selalu merasa kalah dengan sorot mata tajam Saska yang seakan mampu menyeretnya ke dalam manik obsidiannya. Sayangnya wajah saja tidak cukup karena apa yang Saska lakukan telah membuat kesan yang buruk, amat sangat buruk. Brum … "Kau mau membawaku kemana, hah!" teriak Ara saat Saska menghidupkan mesin mobil. Tak mendapat jawaban bahkan Saska justru melajukan mobilnya, Ara mulai mengamuk dengan menggedor pintu mobil juga sesekali memberi Saska pukulan kecil. "Diamlah! Jika tidak, kita akan bercinta disini," ancam Saska dengan sorot matanya yang dingin. Dan hal itu ia lakukan semata hanya agar Ara duduk dengan tenang. "Dasar pervert! Psikopat! Sebaiknya turunkan aku!" Menghiraukan ancaman Saska, Ara kembali berteriak. Ckit … Mobil berhenti seketika dan dengan gerakan cepat Saska meraih tangan Ara dan menguncinya di atas kepala. "Kau yang memintanya, Nona," bisik Saska di telinga Ara hingga sanggup membuat Ara meremang saat lidah tak bertulang itu menyentuh telinganya. Ara hanya bisa menggeram marah, kekuatan Saska terlalu besar baginya. Ia ingin menangis bahkan memohon namun tidak, ia tidak akan menangis di hadapan pria b******k ini bahkan tak akan memohon. Saska melihat tepat pada netra jernihnya yang berkaca-kaca. Wanitanya sama sekali tak gentar walau dalam keadaan terpojok. Saska tak tega tapi, ini ia lakukan agar wanitanya berhenti memberontak. Hingga selama beberapa menit mereka masih saling tatap seakan tak ada yang mau mengalah. Akhirnya Saska mengalah saat Ara tak juga menurunkan tatapan tajamnya. Jika dibiarkan semakin lama, ia yakin, mobilnya akan bergoyang dan mengundang perhatian banyak orang. "Buat saja ini mudah. Aku tahu kau tentu tak lupa dengan janjimu. Jika kita bertemu lagi kau akan mempertimbangkannya. Tapi bagiku, saat kita bertemu lagi maka kita harus bersama. Dan itu adalah sebuah pernikahan.” TBC ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN