Keheningan datang setelah kata-kata keramat yang Rachel ucapkan, guntur yang terdengar sebelumnya telah mereda tetapi hujan datang dengan begitu deras. Rachel menggigil tetapi bukan karena rasa dingin melainkan karena pria di depannya yang menatapnya dengan tatapan dingin.
Suaminya Kyle, sudah seperti predator yang menatap mangsanya. Rachel tertegun untuk beberapa saat, apakah dia salah berbicara? Suaminya selalu mengabaikannya dan pergi dengan wanita lainnya, jika dia tidak tinggal di sini dia mungkin keliru bahwa dia memiliki suami yang sudah tidak pulang ke rumah. Dia mungkin saja berpikir bahwa dia masih seorang gadis lajang.
Lalu, apa bedanya jika mereka bercerai? Lagi pula Kyle tidak menyukainya, jika bukan karena dia diperkosa, bagaimana mungkin pria seperti Kyle mau menikahinya? jika dia dan Kyle bercerai bukankah Kyle akan menjadi lebih bebas?
Dengan pemikiran semacam ini, Rachel kembali berbicara. "Jika kamu bercerai denganku kamu bisa lebih bebas, aku juga tidak ingin kehidupan rumah tangga yang seperti ini, tidak perlu khawatir mengenai hal lainnya, aku tidak akan meminta uang perceraian dan juga kita tidak memiliki anak, aku selalu mencegahnya jadi kamu tidak akan mengalami kerugian apa pun. Di masa depan kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun."
Setiap pasangan selalu ragu ketika mereka hendak bercerai padahal mereka sudah tidak ada kecocokan, dan alasan utamanya adalah anak. Tetapi dia dan Kyle tidak memilikinya, lebih tepatnya dia selalu memastikan bahwa dia tidak akan memiliki anak dengan Kyle.
Bukan tanpa alasan, dia takut anaknya juga akan diabaikan seperti dirinya.
Mata almond Kyle menyusut menjadi lebih tajam, mendengar ucapan Rachel membuat wajahnya yang merah menjadi semakin merah 'aku selalu mencegahnya?' pantas saja Rachel masih tidak hamil setelah satu tahun pernikahan mereka, rupanya wanita licik ini selalu meminum obat pencegah kehamilan bahkan tanpa dia ketahui.
"Oh, begitu?" ucapnya.
Kyle mendekat dia naik ke atas tempat tidur dan duduk diantara kedua kaki Rachel, tubuh besarnya menjulang diatas tubuh Rachel, dia menahan Rachel di tempatnya dan mencengkram dagunya.
"Katakan sekali lagi dengan mulutmu itu."
"Aku–itu…"
Kyle melotot, melihat air mata di pipi Rachel membuat kemarahan Kyle naik berkali-kali lipat. Selama ini Rachel selalu diam sekarang setelah dia kembali Rachel langsung mengajukan perceraian. Bahkan tanpa dia ketahui wanita ini selalu meminum obat pencegah kehamilan, pantas saja, dia selalu bertanya-tanya apakah 'sesuatu yang dia miliki tidak begitu bagus?' dia sudah melakukan hubungan intim berkali-kali dengan Rachel setidaknya selama mereka menikah. Tetapi Rachel masih tidak hamil.
Kemudian, dia berpikir bahwa mungkin Tuhan belum ingin memberinya anak dan juga mereka masih muda jadi tidak apa-apa untuk tidak memilikinya sekarang, tetapi sekarang apa yang baru saja dia dengar?
Betapa bagusnya dia.
Tangan Kyle beralih dan menjepit mulut Rachel. "Kamu selalu mencegahnya? Wah, selama ini kamu sudah melakukan hal yang luar biasa, kamu mencegah kita memiliki anak bahkan tanpa aku ketahui. Sepertinya kamu sudah menyiapkan semuanya untuk berpisah denganku."
"Tidak, bukan seperti itu…" Rachel berbicara dengan susah payah, dia mencoba melepaskan tangan Kyle yang menjepit mulutnya.
"Bukan seperti itu? Lalu apa? Katakan padaku dengan jelas. Kau bahkan mengajukan untuk bercerai denganku?"
"Kyle…" Rachel berbicara dengan tubuhnya yang bergetar. "Pernikahan kita juga bukan pernikahan karena cinta, kita jelas tidak saling menyukai, jadi aku pikir pernikahan ini sia-sia. Mengapa kita tidak bercerai saja? Kamu tidak perlu khawatirkan apa pun karena aku juga tidak akan meminta apa pun. Tidak akan ada anak juga bahkan setelah kita bercerai, jadi tidak akan ada kemungkinan aku datang lagi dengan membawa anak dan meminta kamu bertanggung jawab. Jadi ketika kamu menikah dengan wanita lain kamu tidak akan terganggu oleh apapun."
Kyle terdiam, matanya almond-nya bergejolak sesaat, tetapi kemudian kembali lagi, kemudian dengan tenang mengangguk. "Benar, aku tidak akan khawatir mengenai seorang anak yang tidak perlu."
Sambil berbicara dia membuka kancing baju Rachel.
Rachel terkejut, dia mencoba yang terbaik untuk menyingkirkan tangan Kyle.
"Kyle, apa yang kamu lakukan?"
Kyle mengerutkan dahi, sesaat kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman menyeringai.
"Apa lagi yang aku lakukan selain meniduri mu tanpa takut memiliki anak."
"Tidak…" Rachel menggelengkan kepala. Dia tau dengan pasti ketika Kyle kembali dia pasti akan menidurinya, tetapi saat ini dia sedang sakit dan tidak bertenaga. Jadi Rachel mencoba mendorongnya. "Aku sedang sakit, tolong jangan seperti ini."
"Sakit? Apakah orang sakit akan mengoceh begitu banyak? Kamu jelas orang sehat yang bahkan bisa berbicara omong kosong. Lagi pula, kamu istriku, itu tugasmu untuk melayaniku."
"Aku tidak bisa, aku benar-benar sakit sekarang." Rachel memohon kepada Kyle, bahkan dengan tatapannya yang paling putus asa.
Tetapi, Kyle seperti batu, dia tetap tidak peduli, dia masih membuka kancing baju Rachel yang tersisa.
"Apakah kamu tidak ingin saudaramu dibebaskan dari penjara?" Tiba-tiba Kyle membahas mengenai John yang tengah dipenjara. "Bukankah kamu tadi memohon padaku dengan putus asa? Kau ingin dia dibebaskan bukan?"
Tubuh Rachel menegang seketika. Tangannya yang tengah mencoba memblokir tangan Kyle berhenti di udara.
"Jika kamu ingin dia dibebaskan maka layani aku dengan baik, kau tau sendiri bagaimana nilaimu, selain tubuh apalagi yang kamu miliki?"
"Tapi… aku .."
"Kenapa? Kau tidak ingin? Aku tidak masalah jika kamu ingin saudaramu terus dipenjara, lagipula itu bukan urusanku."
Rachel akhirnya diam, dia ingat ucapan bibinya yang terus-menerus mendesaknya, jika dia menolak dan mencari solusi lain, solusi mana yang bisa dia dapatkan? Kemana lagi dia harus mencari pertolongan?
Pada akhirnya Rachel memilih diam dan pasrah.
"Kalau begitu, tolong lakukan dengan perlahan."
Kyle mengerutkan kening. Sesaat kemudian dia membungkuk untuk mencium Rachel.
Kegiatan mereka berakhir lebih cepat dari biasanya, Rachel bahkan tercengang untuk beberapa saat, biasanya Kyle akan melakukannya hingga dua atau tiga kali dan dalam durasi yang tidak begitu singkat, tetapi sekarang dia lebih cepat selesai dan langsung berpakaian kembali.
Kyle menolehkan kepala dan menatap ke arah Rachel, tubuh polos Rachel kini ternoda dengan warna merah, Kyle meninggalkan jejaknya di berbagai tempat seolah sedang menandai kepemilikannya.
"Mengapa? Kau terlihat sangat kecewa?"
Rachel tertegun untuk beberapa saat, dia menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak kecewa."
"Benarkah?" Kyle menyunggingkan sudut bibirnya, membentuk senyuman mengejek. "Lalu, mengapa wajahmu seperti itu? Kau menatapku seakan kamu tidak puas."
"Tidak…" Rachel menggelengkan kepala merasa sangat malu dengan ucapan Kyle. "Itu karena aku sedang sakit."
Kyle mengangguk. "Benar, kamu sedang sakit. Itu membuat nafsuku cepat hilang, meniduri orang yang sakit rasanya tidak menyenangkan. Lain kali kamu harus berusaha lebih keras, aku merasa seperti tengah tidur dengan kayu. Aku akan menganggap ini belum selesai, aku akan menagih lagi nanti ketika kamu sehat! Saat itu jangan berpikir bahwa aku akan bersikap lembut padamu."