Mengapa Aku Harus Memiliki Istri?

1057 Kata
Setelah kata-kata itu, Kyle berjalan hendak keluar. Rachel yang melihatnya segera menghentikannya. "Kyle…" Kyle terdiam, dia berhenti di jalurnya, berbalik dia manatap Rachel yang duduk di tempat tidur dan menutupi dadanya dengan selimut. Kyle mencibir. "Mengapa?" tanyanya. "Apakah kamu merasa tidak puas? Kau ingin aku melakukannya lagi?" Rachel menggelengkan kepala. "Tidak, itu…. saudaraku…" Rachel menggigit bibir bawahnya dan menatap Kyle tepat di matanya. "Dia dipenjara di tahanan kota. Jika kamu…" Kyle mengangkat sudut bibirnya. Sementara matanya menatap Rachel dengan tatapan menghina. "Ah, kamu sedang menagih bayaran untuk pelayananmu yang buruk itu? Saudaramu? Benar aku mengatakan akan membantumu dan aku merasa sangat rugi. Kita melakukan Itu bahkan belum setengah jam dan aku sudah melepaskan mu." Rachel terperangah dia menunduk karena rasa malu yang datang. "Itu– kau bilang akan melakukannya lagi nanti ketika aku sembuh. Jadi, itu saudaraku… kau sudah berjanji padaku tadi." Kyle tertegun. Melakukannya lagi nanti? Benar, dia akan melakukannya lagi nanti ketika Rachel sembuh, saat itu dia tidak akan bersikap lembut padanya. "Ah benar. Aku memang sudah berjanji padamu, kau terlihat sangat gelisah. Kau pasti takut karena melayaniku dengan sia-sia." Rachel menggelengkan kepala, tiba-tiba tangannya yang tengah memegang selimut untuk menutupi dadanya terlepas. Rachel terkejut, dia buru-buru menutupinya kembali. Tatapan Kyle menjadi goyah begitu dia memperhatikan d**a Rachel yang terekspos sesaat, tubuhnya yang penuh dengan tanda darinya terlihat menarik. Rambut pirang panjangnya terlihat acak-acakanan dan wajahnya terlihat berantakan, anehnya Itu membuatnya ingin menyentuhnya lagi. Jika Rachel tidak sakit mustahil baginya jika dia hanya melakukannya satu kali. "Aku akan mengurusnya." Setelah kata-kata itu, Kyle melanjutkan kembali langkahnya, kali ini dia tidak berbalik, dia menutup pintu dengan kuat seolah menyalurkan amarahnya. Rachel terkejut begitu melihat pintu tertutup, jantungnya berpacu dengan cepat. Kyle terlihat sangat marah. Benar, pelayanannya malam ini sangat mengecewakan, karena dia sakit dan tidak fit Kyle merasa tidak puas padanya padahal dia membayarnya dengan mahal. Rachel hendak turun dari tempat tidur, tetapi tiba-tiba dia mendengar suara deru mobil dari luar, hujan telah berhenti dan sepertinya Kyle memilih pergi. Rachel tertegun, mungkin karena Kyle tidak puas dengannya dia ingin bersama wanita lainnya, Benar, dia mungkin pergi menemui wanita lain yang sehat jadi untuk apa Kyle menghabiskan waktunya untuk orang sakit seperti dia. Rachel terdiam raut wajahnya berubah untuk sesaat. Kesedihan dan rasa malu datang seperti ombak yang menerjang. Pada saat itu ponselnya berbunyi. [Rachel, pengacara suamimu baru saja menelpon, katanya, dia akan membebaskan John, katakan terima kasih kepada suamimu dan layani dia dengan lebih baik lagi.] Rachel menunduk membaca setiap kata demi kata, kesedihan datang padanya, dia menyapu sekeliling ruangan, blouse dan celananya berserakan di lantai begitu juga pakaian dalamnya. Melihat semua itu dengan begitu jelas, Rachel terdiam tiba-tiba air matanya turun. Dia merasa sangat kotor sekarang, pakaian-pakaian yang berserakan itu seakan mengatakan bahwa dia wanita panggilan. 'apalagi yang kamu miliki selain tubuhmu?' Kata-kata Kyle kembali terdengar di telinganya. Benar, apa yang dia miliki selain tubuh ini? Rachel turun dari kasur dan mengambil semua pakaiannya, dia memakainya dengan cepat dan kembali berbaring, dia menutupi dirinya dengan selimut, rasa pusing kembali datang, dia meringkuk sementara air matanya turun. **** Kyle mengemudi dengan kecepatan sedang, pikirannya menjadi kalut seperti benang yang kusut. dia membuka jendela mobilnya membiarkan angin dingin menerpa wajahnya, sepertinya ini adalah satu-satunya cara untuk membuatnya tetap pada kewarasannya. Sebelah tangannya bertengger di jendela mobilnya yang lainnya memegang setir mobil dengan tenang. Kring.. kring.. Panggilan telepon datang pada waktu yang tidak diinginkan, Kyle mengabaikannya hingga akhirnya panggilan berakhir, tetapi tampaknya orang di seberang juga memiliki sikap gigih, setelah panggilan pertama berakhir, panggilan lain kembali datang. Kyle dengan kesal mengangkatnya. "Halo?" "Apa kau tidak ingin bersenang-senang bersama kami?" Suara Leon terdengar begitu antusias diiringi dengan dentuman musik yang keras. "Kau berada di klub?" "Tentu saja, aku di sini bersama yang lainnya, semuanya bersenang-senang kami bahkan membawa wanita-wanita cantik. Jadi datanglah. Mereka memiliki bentuk tubuh, rambut dan wajah seperti yang kamu sukai." Kyle terdiam sesaat, wajah Rachel yang membuatnya kesal kembali teringat di kepalanya, dahi Kyle berkerut sebelum akhirnya menyetujui ajakan temannya. "Baiklah, aku akan datang." Benar, dia tidak puas dengan Rachel, jadi mengapa dia tidak pergi menemui wanita lain? Ketika Kyle tiba, semua orang tengah bersenang-senang. Sebagian dari mereka pergi ke lantai dansa yang lainnya duduk di sofa ditemani para wanita. "Oh Kyle kau sudah datang?" Leon duduk sambil merentangkan tangannya di kepala sofa, dia bersandar dengan nyaman dan melipat kakinya. Di sebelahnya, seorang wanita cantik dengan gaun merah tua tengah duduk dan menempel padanya. Bibirnya berwarna merah darah sementara rambutnya di cat pirang. Bagian atas gaunnya membentuk huruf v dan mengetat di bagian d**a membuat dadanya terlihat begitu menonjol. Kyle duduk di depan Leon, dia membuka jasnya dan menyimpannya di sisinya, kemudian dia membuka satu kancing atas kemejanya dan menggulung lengan bajunya, Tubuh tingginya menyusut saat dia bersandar dengan nyaman. Melihat Leon tengah tertawa dikelilingi berbagai macam wanita, Kyle mencibir, berapa banyak dia melakukannya dengan wanita-wanita ini? apakah dia tidak takut tertular penyakit? "Kau tampak sangat bersenang-senang, baru kemarin kau mengatakan patah hati setelah putus dengan kekasihmu tetapi sekarang kau sudah bersama wanita lain lagi." Kyle mendecakkan lidah diakhir kalimatnya Leon mengerutkan dahi seakan tidak percaya dengan ucapan Kyle. Apa yang baru saja dia dengar? Sebuah nasehat langka dari sang playboy? "Kyle, itu sudah hari lalu, sekarang sudah berganti hari, mengapa aku harus merasa sedih ketika aku dikelilingi oleh wanita-wanita cantik seperti ini?" Setelah Leon mengatakannya, dia tersenyum dan mencubit dagu wanita di sisinya. dia kemudian melanjutkan. "Lagipula. Kau mengeluh mengenai aku yang berganti pasangan, tetapi kau bahkan tidak menyadari dirimu sendiri. Hey, siapa yang playboy di sini? Tidakkah itu kamu?" "Aku? Kapan?" Kyle menunjuk dirinya dengan wajahnya yang polos. Leon mencibir dengan tidak suka. hampir saja sebuah pukulan melayang. "Kau pikir aku tidak tau? Bukankah saat ini kau sedang menjalin hubungan serius dengan seseorang? Setelah selama ini berkencan sana ini, sekarang kau nampak nya menjadi lebih serius. Ini sudah beberapa bulan dan kau masih betah dengannya, bukankah itu artinya kau akan menjadikan dia sebagai istrimu?" Kyle mengerutkan dahi, dia tidak buru-buru menjawab, dia menuang anggur ke dalam gelasnya, warna merah segera memenuhi gelasnya hingga ke bagian atasnya, kemudian dengan jari-jarinya yang ramping dia mulai menggoyangkannya. Jari yang seperti batu giok itu memainkan gagang gelas dengan indah. "Apa maksudmu? tanyanya. "Hah, kau masih berpura-pura, wanita yang menjadi kekasihmu saat ini namanya Claudine, kan? bukankah dia akan menjadi istrimu?" Kyle mengerutkan dahi, "Mengapa aku harus memiliki istri?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN