Gelar Istri

1140 Kata
Rachel mengedipkan matanya berkali-kali, tangannya yang hendak menyendok bubur terhenti di udara, dia mendongak untuk menatap Kyle. Suaminya yang tidak dia mengerti, apa yang baru saja Kyle bicarakan? Apakah dia khawatir padanya? "Jika kamu mengalami sakit yang lebih parah itu akan sangat merepotkan. Kau masih memiliki hutang padaku yang masih belum kau bayar, jika kau jatuh sakit hingga tidak bisa bangun dari tempat tidur menurutmu siapa yang akan dirugikan? Aku tidak suka melakukan pertukaran yang tidak relevan, lagipula aku tidak berniat memiliki istri yang kemudian mati dalam hanya dalam satu tahun." Rachel terdiam, baru saja dia berpikir Kyle mengkhawatirkannya, ternyata dia salah. Kyle hanya tidak ingin direpotkan jika dia sakit. Dia sungguh tidak mengerti Kyle, kadang-kadang kata-katanya seperti pisau yang tajam kadang-kadang kata-katanya juga bisa membuat salah paham. "Aku bisa menjaga diriku tidak perlu khawatir." "Khawatir?" Kyle mengerutkan dahi seolah jijik, dia menyimpan sendoknya dengan gerakannya yang elegan. "Mengapa aku harus khawatir padamu? Apa kau salah paham mengenai sesuatu?" Rachel menggelengkan kepala, dia selalu salah di mata Kyle, apapun yang dia katakan akan selalu salah di matanya. Dia mengerti ketika seorang pria mencintai seseorang bahkan jika orang itu salah jika orang itu merepotkan tetap saja di matanya akan terlihat menggemaskan. Tetapi jika pria itu membenci seseorang, apapun yang orang itu lakukan di mata pria itu akan tetap salah, jangankan melakukan sesuatu, bernafas pun salah, itu seperti dirinya, apapun yang dia katakan dimata Kyle akan selalu salah. "Aku akan ikut denganmu, aku juga sudah lama tidak bertemu ayah dan ibu." Kyle menatap Rachel yang bersikap keras kepala hingga Kyle kehilangan kata-kata. Tidak peduli apa yang dia katakan, Rachel tidak patuh padanya. "Baiklah, jika kamu sekarat jangan salahkan aku dan jangan berharap aku merawatmu." Kyle kemudian bangkit dan meninggalkan meja makan, ketika dia hendak menaiki tangga, dia berbalik dan menatap Rachel yang masih duduk di meja makan. "Persiapkan dirimu, aku akan memberimu waktu setengah jam." Setelah kata-kata itu, Kyle kemudikan naik ke lantai atas. Rachel segera menyelesaikan makannya dan pergi ke dapur untuk menyimpan piring kotor. "Nyonya, biar saya yang melakukannya." Rachel menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, aku hanya membawa piring kotor. Omong-omong kamu tidak perlu membuat makan siang, aku dan Kyle akan pergi ke rumah keluarganya. Masak lah untuk dirimu sendiri." Setelah menyampaikan pesan kepada pelayan, Rachel kemudian pergi, dia naik ke lantai atas dan pergi ke kamarnya. Saat dia membuka pintu, dia melihat Kyle yang berdiri dan sepertinya baru saja selesai mengganti pakaiannya. Kyle menatap Rachel sesaat kemudian menatap ke arah arlojinya. "Kamu sudah menghabiskan waktu sepuluh menit dengan sia-sia, masih tersisa dua puluh menit hingga kita pergi, jangan terlambat atau aku akan meninggalkanmu." Rachel mengangguk, dia buru-buru pergi menuju lemari dan mengambil pakaian acak yang sekiranya nyaman dan sopan, Rachel kemudian merias dirinya dengan sedikit bedak dan menyemprot sedikit parfum. Kyle masih berdiri di sana seperti mandor dia menatap dan mengamati gerakan Rachel dari awal hingga akhir. Kedua tangannya terlipat di depan d**a dan sesekali dia menatap arlojinya. "Lima menit." Rachel yang tengah menyanggul rambutnya merasa tertekan, ditatap dan diperhatikan oleh Kyle membuatnya gugup. Kyle mengawasinya dengan ketat benar-benar tidak ingin waktu berharganya hilang meski hanya satu menit saja. "Waktumu sudah habis." "Ah.." Rachel menghentikan tangannya yang hendak menyingkirkan rambutnya yang tersangkut. Kyle berjalan mendekat dan membantu Rachel melepas rambut dari resleting gaunnya, tidak sampai disitu dia bahkan pergi ke lemari Rachel dan mengambil satu mantel tebal. "Apa yang kamu kenakan ini ketika tubuhmu lemah seperti itu? Pakai ini. Kau harus membungkus dirimu, jangan biarkan ibuku berpikir bahwa aku menelantarkan mu." Rachel tertegun untuk beberapa saat, dia berdiri kaku di tempatnya, tidak yakin dengan apa yang baru saja terjadi, dia menatap mantel bulu yang kini membungkus tubuhnya. Rasanya sangat hangat dan nyaman. Kyle berjalan lebih dulu dan ketika dia mencapai pintu dia menyadari bahwa Rachel tidak mengikutinya, dia berbalik dan menatap Rachel yang berdiri dan melamun. "Apa yang kamu lakukan di sana? Kau pikir aku pengangguran yang memiliki waktu luang untuk terus menunggumu melamun? Jika kamu berubah pikiran maka tidak perlu pergi." "Ah? Oh!" Rachel buru-buru pergi dan menyusul Kyle. Dia berjalan di belakangnya dengan jarak satu meter tidak berani mendekat ke arahnya. Pada saat yang sama ponsel Rachel terus bergetar dan berbunyi, awalnya dia ingin mengabaikannya tetapi orang yang menghubunginya bersikap gigih, teleponnya terus berdering hingga Kyle yang berjalan di depannya merasa terganggu dan menghentikan langkahnya. Kyle berbalik hendak berbicara, tetapi tiba-tiba Rachel menabrak dadanya. "Maaf… aku tidak sengaja." Rachel mundur perlahan dan menjauh dari Kyle. Kyle mengedipkan matanya berkali-kali. terkejut karena Rachel menabrak dadanya. Tetapi segera, raut wajahnya kembali seperti semula. "Mengapa kamu tidak mengangkat panggilanmu?" "Ah.." Rachel kemudian mengambil ponselnya yang dia simpan di dalam tas. Melihat jika panggilan itu berasal dari bibinya, raut wajahnya berubah seketika. Dia khawatir bibinya menelponnya hendak meminta uang lagi, dia khawatir John, saudaranya kembali berbuat ulah padahal baru saja keluar dari penjara. Melihat Rachel yang memegang wajah tidak nyaman, Kyle mengerutkan dahi. "Siapa? Mengapa kamu tidak mengangkatnya?" "Ah, itu bibi." "Bibi?" Kyle terdiam, sudut bibirnya tiba-tiba terangkat. "Kalau begitu angkat." Rachel hendak menghubungi bibinya kembali, tetapi sebuah pesan dari bibinya dengan cepat datang, "Tidak, panggilannya sudah terputus, bibi mengirim pesan padaku." Kyle mengangguk dengan tenang menunggu Rachel membalas pesannya. Entah mengapa suasana hati Kyle tiba-tiba berubah secara signifikan, raut wajahnya terlihat lebih cerah. [Rachel, Kyle sangat baik padamu dan keluarga kita, itu suatu keberuntungan karena kamu bisa menikah dengannya. Karena itu berterima kasihlah padanya, bersyukurlah setiap hari dan layani dia dengan baik. Tidak peduli bagaimana dia bersikap di luaran tugasmu adalah melayaninya dan membuatnya puas.] Rachel memasang wajah masam saat dia membacanya, bersyukur setiap hari? Mengapa dia harus bersyukur karena orang yang memperkosanya menikahinya? Rachel hendak menyimpan kembali ponselnya, tetapi pesan lain datang. [Lihatlah yang lain, mereka begitu mengantri Hanya untuk menjadi kekasihnya. Tetapi, lihat dirimu, dia menikahimu tanpa harus berbuat apa-apa. Mereka tidak akan bisa mencapai tingkat yang lebih tinggi selain gelar kekasih, mereka tidak akan bisa mencapai gelar istri gelar itu tetap jatuh padamu, karena itu bersyukurlah setiap hari kepada Tuhan. kamu tidak memiliki apa-apa untuk kamu berikan tetapi Kyle masih melirik wanita yatim piatu sepertimu.] Raut wajah Rachel memucat, hatinya terasa seperti ditekan sesuatu yang berat. Benar, dia anak yatim piatu. Jika bukan karena bibinya merawatnya dia pasti sudah mati di jalanan. Rachel hendak membalas tetapi pesan lain datang seolah tidak puas, Asela masih melanjutkan. [Dia pria kaya meskipun dia memperkosamu pada awalnya, tetapi dia masih bersedia bertanggung jawab, sekarang saudaramu sudah dibebaskan dan dia sudah berpikir untuk mencari uang. Semua ini berkat Kyle, jadi perlakukan dia dengan baik. Omong-omong aku mendengar wanita itu akan kembali, bahkan jika Kyle memilih wanita itu untuk menjadi kekasihnya kamu jangan cemburu, seperti yang aku katakan kamu istrinya dan statusmu akan tetap menjadi istrinya, selama kamu bertahan dan patuh padanya, Kyle tidak akan membuangmu. Biarkan yang lain berusaha menjadi kekasih tetapi gelar istri, kamu harus mempertahankannya dan jangan biarkan orang lain merebutnya.]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN