"Aku…"
Kyle mendelik ke arah Rachel. "Tsk, aku tidak tau jika kamu memiliki kebiasaan tidur seperti itu, atau kamu sengaja melakukannya karena ingin merayuku?"
"Tidak, tidak mungkin…!" Rachel buru-buru membantah. "Sebelumnya aku benar-benar tidak memiliki kebiasaan tidur yang buruk seperti itu, itu sebuah kesalahan."
"Kesalahan?"
"Benar, itu hanya sebuah kesalahan."
Kyle terdiam sesaat, dia menatap wajah cantik Rachel, wajah sang istri yang dia lihat di pagi hari tampak segar, wajah polos tanpa riasan. Itu sepenuhnya berbeda dari wanita yang dia lihat tadi malam, wanita-wanita yang dikenalkan Leon padanya. Mereka terlalu mencolok bahkan parfumnya terasa menyengat, baunya persis seperti truk ayam yang lewat di sebelah mobilnya.
"Apakah ada kesalahan yang seperti itu? Kamu terlihat sangat putus asa tadi malam, aku mendorongmu berkali-kali tetapi kamu terus menempel padaku, Kamu berusaha sangat keras untuk merayuku dengan tubuh sakitmu itu, sayangnya aku bahkan tidak tertarik."
"Aku tidak." Rachel membantah.
"Tidak apa? Jelas-jelas kau merayuku seperti itu bahkan tidak membiarkan aku pergi, kau pasti merasa sangat lapar karena aku meninggalkanmu selama satu bulan."
"Tidak, saat itu aku bahkan tidak tau apa yang telah aku lakukan."
Kyle bersandar dan melipat kedua tangannya di depan d**a, dia memiringkan kepalanya saat dia berbicara.
"Tidak tau? Kau melilit tubuhku dengan penuh semangat, dan kau bilang tidak tau? Kau persis seperti pencuri yang telah melakukan kejahatan tetapi tidak ingin mengaku."
"Aku sungguh tidak ingat apapun, saat itu aku sedang tidur jadi aku melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Aku mungkin mengigau." Rachel merasa malu hingga wajahnya memerah, apakah dia benar-benar memeluk Kyle semalaman tanpa dia ketahui? Dia yakin dia memiliki perilaku yang baik ketika tertidur, tetapi mengapa dia tiba-tiba melilit tubuh Kyle?
Kyle mengambil cangkir kopinya dan menyesapnya perlahan, dia menatap Rachel yang memasang wajah memerah karena malu dan terlihat salah tingkah. Sudut bibir Kyle terangkat membentuk kurva yang samar.
"Jadi kamu melakukannya dalam keadaan tidak sadar? Jadi maksudmu kau bisa melakukan apapun padaku karena kamu tidak sadar? Tidakkah itu sangat merugikan? Kau ingin mengambil keuntungan dariku sedangkan aku tidak mendapatkan apapun? Apa kau seorang pencuri, diam-diam memeluk tubuhku bahkan tanganmu tidak bisa diam, kau terus meraba tubuhku tetapi pada akhirnya kamu tidak mengakui kejahatan mu. Kau pikir perilakumu dapat dibenarkan?"
Semakin Rachel mendengarnya, semakin malu dirinya. "Tidak, tidak seperti itu. "Aku mungkin keliru dan berpikir bahwa kamu itu guling."
"Guling? Kau menyamakan aku dengan benda mati itu? Kau sangat konyol Rachel."
"Bukan seperti itu, lagi pula aku tidak tau jika kamu kembali. Aku tidak tau jika kamu tidur di sebelahku, aku pikir kamu akan menginap lagi di luar."
"Memangnya kenapa jika aku kembali? Kamu terdengar sangat kesal, apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku? Apakah kamu berharap aku pergi lagi dari rumah ini sehingga kamu bebas melakukan apapun di luaran? Sayangnya, ini rumahku, bukan rumahmu. Aku bebas tinggal dan pergi kapan pun aku mau."
"Tidak, maksudku bukan seperti itu." Rachel jelas tau bahwa ini rumah Kyle dan dia hanya menumpang.
Kyle mendecakkan lidahnya. "Jadi, apa maksudmu? Katakan padaku apa yang kamu sembunyikan dariku?"
"Aku tidak menyembunyikan apapun. Saat itu aku mungkin tengah bermimpi dan keliru hingga aku memelukmu."
"Benarkah?"
Rachel terdiam sesaat, berpikir kembali Kyle tidak akan berhenti sampai dia mengaku, pada akhirnya Rachel meminta maaf. "Aku bersalah, maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Lagi pula, mengapa Kyle yang enggan berbaring dengannya tiba-tiba tidur di sebelahnya?
"Tidak akan mengulanginya lagi? Apakah kau yakin dengan kata-katamu? Kau yakin ucapanmu dapat dipercaya?"
"Tentu saja. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Kyle tidak menjawab, matanya terus menatap ke arah mata Rachel, mata biru yang tampak seperti laut, jernih dan indah.
"Berjanji? Apakah janjimu bisa dipercaya? Aku tidak yakin kamu tidak akan melakukannya lagi terlebih kita akan tidur bersama setiap hari. Hari ini kamu melilit tubuhku, besok-besok bisa saja kamu mencekik leherku karena dendam."
Rachel tertegun, apa maksudnya itu? Mengapa mereka tidur bersama setiap hari?
"Apa maksudnya itu?"
"Apa maksudnya? Memangnya apa lagi? Aku akan tinggal di rumah ini mulai sekarang."
"Apa? Kamu akan tinggal?"
Kyle mengerutkan dahi merasa reaksi Rachel terlalu berlebihan. Apa yang salah dari suami yang tinggal di rumah, bukankah lebih aneh karena dia terus-menerus tinggal di luaran?
"Mengapa kamu sangat terkejut? Ini rumahku tentu saja aku akan tinggal di sini, mengapa reaksimu seperti itu? setelah aku meninggalkanmu selama satu bulan nampaknya kau mulai berpikir bahwa ini rumahmu."
Kyle mengedarkan pandangannya dan menatap sekeliling ruangan. Dia yakin ruangan ini dulunya polos dan hanya memiliki perabotan yang klasik, lukisan yang dipajang juga merupakan lukisan klasik, rumah ini memiliki nuansa elegan dengan cat berwarna abu dan putih, tetapi sekarang muncul warna-warna lain yang lebih hidup. Seperti bunga warna-warni yang berada di dalam pas dan terletak di sudut-sudut rumah.
Kyle tidak pernah membayangkan akan ada satu hari di mana rumahnya diambil alih oleh seorang wanita. Dia bahkan mendekorasi ruangan sesuai keinginan nya. Seakan menunjukkan bahwa ini adalah wilayah kekuasaannya.
"Aku hanya terkejut, aku juga tidak pernah berpikir bahwa ini rumahku."
"Begitu? Lalu apa yang kamu lakukan dengan bunga-bunga itu? Kau bahkan menempatkan hal-hal lain yang tidak berguna di sini."
Rachel menolehkan kepala dan menatap ke arah garis pandang Kyle. "Rumah ini terlalu polos, jadi aku menaruh vas bunga di berbagai sudut. Ini membuat rumah menjadi lebih hidup." Rachel tersenyum tipis di ujung kalimatnya.
"Siapa yang memberimu izin?" Tiba-tiba suara dingin Kyle terdengar. Rachel terdiam. Apakah Kyle marah?
"Aku tidak pernah memberimu izin untuk mendekorasi ruangan." Sekali lagi, Kyle menekan ucapannya.
Rachel menunduk. Kata-kata Kyle terdengar seperti dia harus menyadari posisinya. Di rumah ini dia bukan siapa-siapa jadi dia tidak berhak untuk mendekorasi rumah.
"Maaf.. aku pikir itu tidak akan menjadi masalah, karena itu hanya bunga dan hal-hal lain yang biasa saja. Aku akan membuangnya sekarang."
Rachel bangkit berdiri, dia hendak pergi tetapi Kyle menghentikannya.
"Duduk, siapa yang menyuruhmu berdiri?"
"Tapi .."
"Duduk!"
Rachel akhirnya duduk kembali. Dia menatap Kyle yang saat ini tengah menyantap buburnya dengan serius. Rachel mengambil sendok dan mengaduk-aduk bubur tetapi tidak memiliki keinginan untuk memakannya.
"Apakah kamu menjadi orang bodoh setelah sakit?" Tiba-tiba Kyle dengan mulut tajamnya kembali berbicara. "Kamu mengaduk-aduk bubur tetapi tidak memiliki niat untuk memakannya? Apa kau pikir aku akan meracunimu?"
"Tidak, bukan seperti itu."
Kyle dengan sengaja meminta pelayan untuk membuat bubur, Rachel masih sakit jadi dia harus memakan sesuatu yang ringan dan lembut. Tetapi Rachel hanya mengaduk-aduk makannya seperti itu.
"Cepat makan, kau membual ini dan itu, mengapa kamu tidak memakan makananmu?"
"Oh? Ah…" Rachel buru-buru memakannya, dia bahkan tersedak.
Kyle mengerutkan dahi, dia menatap Rachel seakan Rachel adalah wanita bodoh. Dia makan dengan terburu-buru seakan takut orang lain mengambil buburnya.
Keheningan datang setelahnya, tetapi tidak bertahan lama, tiba-tiba Kyle berbicara.
"Ayah dan ibu meminta kita kembali."
Kali ini Rachel benar-benar terbatuk.
Kyle mengerutkan dahi, dia menatap Rachel dengan bingung. "Jika kamu merasa tubuhmu masih lemah, aku akan pergi sendiri."
"Tidak, aku akan datang bersamamu, aku sudah lebih baik sekarang."
Kyle menatap Rachel yang memucat. "Jangan memaksakan dirimu. Aku tidak ingin menjadi duda padahal baru satu tahun menikah "