Layani Aku Dengan Baik

1204 Kata
Matahari masuk melalui tirai jendela kamar dan jatuh tepat di wajah Rachel, kulit putih pucatnya tampak bersinar dengan warna keemasan dan rambut pirangnya berkilau menjadi lebih terang. Rachel bergerak dalam tidurnya mencari posisi yang lebih nyaman. Dia beringsut menghindari sinar matahari dan masuk lebih dalam, saat itulah wajahnya menyentuh sesuatu yang hangat dan nyaman, suara detak jantungnya bahkan terdengar. Tunggu, detak jantung? Suara detak jantung terlalu nyata jika itu hanya seperti mimpi, dan jika itu detak jantungnya mengapa terdengar begitu jelas? Rachel membuka matanya dengan linglung, dan saat itulah tatapannya jatuh pada d**a bidang pria di depannya, Rachel tertegun untuk sesaat, dia mengangkat wajahnya, dan mata birunya bertemu dengan mata almond milik pria di depannya. Pria yang saat ini juga menatap ke arahnya. Mengapa? Mengapa pria di depannya terlihat seperti Kyle. Mengapa Kyle di sini? Bukankah semalam dia pergi? "Kyle… mengapa kamu kembali?" Kyle mendengus menatap Rachel yang bertingkah seperti orang bodoh di pagi hari. "Mengapa aku kembali? Ini rumahku, apa kau berharap pria lain yang datang padamu?" "Tidak, bukan seperti itu." Rachel hanya bingung, Kyle yang seakan jijik untuk hanya sekedar berbaring dengannya tiba-tiba tidur di sebelahnya. Kyle mendecakkan lidahnya. "Sampai kapan kau akan memelukku seperti ini? Kau bahkan melilit tubuhku seperti gurita. Sepertinya kau merasa tidak puas dengan apa yang kita lakukan semalam, haruskah aku melakukannya lagi sekarang?" Rachel terkejut, dia menatap ke arah tangannya kemudian menatap ke arah kakinya. Anggota tubuhnya melilit tubuh Kyle dengan sempurna, bagaimana bisa? Mengapa seperti ini? Rachel buru-buru melepaskan Kyle. Kebingungan masih terlihat di matanya. Dia bertanya-tanya mengapa Kyle ada di sini dan bahkan tidur dengannya? Dan mengapa dia memeluknya seperti itu? Mengapa? Kyle yang selalu meninggalkannya dengan lembaran uang setelah hubungan intim tiba-tiba berbaring di sebelahnya. Terlebih di saat dia sakit? Bukankah Kyle sangat takut tertular penyakit? Apa yang terjadi? Kyle mendorong Rachel dan bangkit berdiri, dia merasakan sebelah tangannya yang dijadikan bantal oleh Rachel menjadi kebas dan mati rasa, bahunya terasa pegal dan tidak nyaman. Rachel yang didorong terkejut, dia menatap Ke arah Kyle yang saat ini membuka bajunya. Rachel buru-buru memalingkan wajah, apakah Kyle berpikir untuk melakukannya lagi sekarang? "Kyle… ini masih pagi sepertinya tidak praktis untuk kita melakukannya lagi, dan aku juga masih belum sehat. Aku ingin beristirahat lebih lama. Setelah itu, kamu bisa melakukan apapun." Kyle yang tengah membuka kancing baju terakhirnya terdiam, gerakannya terhenti seketika, dia menolehkan kepala dan menatap ke arah Rachel. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringaian. "Apa yang kamu katakan di pagi hari seperti ini?" Kyle memiringkan kepala saat dia berbicara. Kedua tangannya terlipat di depan d**a, dia menyapu tubuh Rachel sesaat kemudian senyuman mengejek muncul di sana. "Sepertinya kau sudah memiliki bayangan tentangku di kepalamu, sayangnya kamu salah paham mengenai sesuatu, aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak tertarik dengan tubuhmu, aku tidak tertarik dengan orang yang sakit." Setelah kata-kata itu, Kyle berjalan ke arah kamar mandi dan itu sukses membuat Rachel malu. Wajah Rachel memerah dan itu sampai ke telinganya. Dia telah salah paham karena melihat Kyle melepas bajunya dan berpikir jika Kyle ingin melakukannya lagi, tetapi ternyata dia hendak pergi mandi. Kyle menghentikan langkahnya, dia berbalik dan menatap Rachel yang terlihat salah tingkah. "Kamu terlihat sangat kecewa, haruskah aku mengabulkan keinginanmu?" Rachel terkejut, dia menggelengkan kepala. "Bukankah kita sudah sepakat?" Rachel mencoba mengingatkan Kyle mengenai kesepakatan mereka. "Aku bilang kita bisa melakukannya nanti ketika aku sembuh. Saat ini aku masih tidak enak badan." Kyle berjalan dan mendekat ke arah Rachel. "Kamu melilit tubuhku semalaman seperti gurita bukankah artinya kamu sudah sehat." "Tidak, aku tidak menyadari apa yang aku lakukan, aku masih belum sehat. Tolong beri waktu sedikit lagi." "Mengapa?" Kyle menarik dagu Rachel dan menatapnya tepat di matanya. "Bahkan jika aku ingin melakukannya sekarang, itu sudah tugasmu sebagai istri untuk melayaniku." Rachel menggelengkan kepala dan mendorong Kyle. "Aku sungguh tidak bisa, aku sangat lelah." Kyle menarik kembali tangannya, dia berjalan dengan kakinya yang panjang dan masuk ke dalam kamar mandi. Rachel mendesah, ditatap seperti itu oleh Kyle dia merasa nafasnya seakan tercekik. Rachel kemudian menoleh ke arah samping, dia melihat sisi kasurnya yang merosot, jejak Kyle masih berada di sana, sprei yang kusut dengan selimut yang berantakan. Rachel menatap sisi kasurnya untuk waktu yang lama, dia mencoba mencerna situasi tetapi tidak mendapat jawaban, dia masih bingung mengapa Kyle kembali padahal saat itu dia terlihat marah ketika dia pergi, saat itu dia bahkan berpikir Kyle mungkin tidur dengan Claudine. Tidak lama setelahnya, pintu kamar mandi terbuka, Kyle keluar dengan rambutnya yang masih basah. Air turun dari ujung rambutnya turun ke bawah hingga mencapai pinggangnya dan menghilang di balik handuknya. Pada saat itu Rachel ingat kata-kata bibinya. 'Rachel, pengacara Kyle datang dan dia sudah membebaskan saudaramu, katakan terima kasih pada suamimu.' Rachel dengan ragu-ragu berbicara. "Biarkan aku mengeringkan rambutmu" Kyle menatap Rachel sekilas, dia tidak menjawab, kaki panjangnya membawanya duduk di depan meja rias. "Mengapa? Kau bilang ingin mengeringkan rambutku, apakah rambutku akan kering jika kamu mengeringkannya dari sana?" Rachel terkesiap, dia buru-buru bangkit berdiri, mengambil pengering rambut, dia kembali pada Kyle dan berdiri di belakangnya. Sebelum Rachel menyalakan pengering rambut, dia berbicara. "Kyle, terima kasih, bibiku bilang pengacara mu sudah datang untuk membebaskan saudaraku." Saat Rachel mengatakannya, jari-jarinya masuk ke dalam rambut Kyle. Aroma shampo tercium dengan jelas bercampur dengan aroma sabun mandi. Aroma itu menggelitik hidungnya. Dia berharap waktu berhenti di sini saja, ketenangan yang menenangkan membuat dia dan Kyle terasa seperti pasangan suami istri biasa yang saling mengeringkan rambut untuk satu sama lainnya. Seandainya dia dan Kyle menikah karena cinta, mungkin percakapan mereka juga akan berbeda. Setiap hari dia akan melihat Kyle tidur di kasur yang sama dengannya, berbicara dengannya dan tersenyum ke arahnya. Mungkin dia harus sedikit lebih berusaha seperti wanita lainnya. "Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk melayani mu di masa depan. Jadi…." Rachel berhenti dari ucapannya. Kemudian melanjutkan di dalam hatinya. "Tolong…. jangan mencari wanita lain lagi." Kyle tidak tau apa yang dipikirkan Rachel, dia terdiam dan berada dalam lamunannya. John adalah pria tidak berguna, bahkan ketika dia masih di sekolah menengah, dia sudah melakukan banyak kejahatan, tidak hanya membuat seseorang koma setelah memukulinya, dia juga menindik telinganya dan bahkan membuat tato di belakang punggungnya. Dia adalah seorang pembuly yang sering menindas orang-orang lemah di sekolah dengan bertingkah seperti preman pasar. Karenanya dia dikeluarkan dari sekolah, dia bisa saja mendisiplinkan John dengan membiarkannya tinggal dipenjara. Tetapi tidak ingin melakukannya. "Kamu harus melayaniku dengan lebih baik. Kamu masih berhutang padaku Rachel." "Aku tau." Rachel menjawab dengan cepat. Kyle menutup matanya merasakan jari-jari Rachel menyentuh kepalanya. Pikirannya menjadi sedikit rileks, dan kemudian suara pengering rambut terdengar. Setelah selesai mengeringkan rambut Kyle, Rachel pergi untuk mandi air hangat, Ketika selesai dia bergegas keluar kamar dan Kyle sudah tidak berada di sana, mungkin saja dia sudah pergi bekerja. Rachel keluar dari kamar dan betapa terkejutnya dia ketika melihat sosok seorang pria dari belakang, pria itu tengah duduk di meja makan sambil membaca koran. Rachel menuruni tangga kemudian duduk di meja makan tepat di depan Kyle. Melihat Kyle yang duduk dengan pakaian santainya Rachel mengerutkan dahi. "Kyle, kamu tidak pergi bekerja?" Kyle menurunkan korannya dan melipatnya, kemudian menyimpannya di sisinya. "Mengapa? Sepertinya kamu sangat tidak senang karena aku berada di rumah, memangnya siapa yang membuatku terlambat bangun dan mengacaukan jadwal pagiku dengan melilit tubuhku?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN