42 Eya ”Ngantuk, Han?” tanya Zoffan. Eya hanya balas mengangguk dengan mata tertutup. Ia menyurukkan wajah pada d**a maskulin lelaki itu untuk mencari kenyamanan tidur. Hangat yang berasal dari kulit suaminya tidak membuat gerah justru ia merasa betah. Eya bisa merasakan detakan jantung Zoffan masih riuh. ”Kamu enggak pake baju dulu?” tanya Eya untuk antisipasi saja. ”Nanggung. Subuh nanti dibuka lagi,” jawab Zoffan terkekeh. Eya menulikan telinga. Sebagai ibu muda yang harus siaga kapan saja, Eya telah memakai pakaiannya kembali. Tidak seperti Zoffan yang ’ngeyel’ dibilangi untuk membenahi diri dulu sebelum tidur. Malam hanya tersisa beberapa jam sebelum pagi. Zoffan benar, hanya tiga jam lagi azan Subuh akan berkumandang. Mereka berdua harus membersihkan diri sebelum

