Last: Bit*h Execution

1578 Kata
5 Last: Bit*h Execution Tuhan telah menunjukkan keajaiban kepada Eya. Bertahun-tahun Eya berharap menjadi istri Zahfiyyan, akhirnya besok ia melangsungkan akad dengan lelaki itu. Zahfiyyan lelaki yang baik. Eya sungguh mencintai lelaki itu. Ia tidak peduli meskipun lelaki itu sudah beristri dan istrinya sedang hamil. Perasaannya malam ini sungguh bahagia sebab penantian lama akan mencapai finish. Alam yang mengamuk berbanding terbalik dengan kebahagiaan dalam hati Eya. Badai  membuat daun dan ranting pohon-pohon bertabrakan. Satu benda jatuh menimpa seng rumah hingga Eya melonjak kaget. Tak berselang lama, terdengar suara hujan jatuh menimpa atap. Eya menarik selimutnya dan berharap esok hari akan cerah. Yah, meskipun hujan, ia harap acara pernikahannya akan lancar. Kilat sampai ke matanya disusul petir yang sangat keras. Eya terpekik bersamaan dengan matinya penerangan di penjuru rumah. Hitam, kelam dan pekat. Netranya tak dapat melihat apa-apa. Ia mencengkeram selimut. Air mata mengalir dari sudut mata. Dalam keadaan itu, ia teringat kepada ayah dan ibunya. Andai mereka masih ada, Eya pasti akan memanggil mereka untuk menemaninya. Pundak Eya bergetar. Ia takut, sungguh takut. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan dengan keadaan alam yang sama seperti sekarang. Ia membayangkan bagaimana mobil ayahnya terguling di tebing yang dalam karena hujan yang sangat lebat. Ibunya pasti menjerit ketakutan dan hanya pasrah menutup mata untuk menghadapi maut. Kabar kematian orang tuanya bagaikan kematian juga untuk Eya. Untung Tuhan masih menyayangi dirinya, memberikan Eya kekuatan untuk bertahan. Hidup sendiri. Sebatang kara. Kini ia tahu tujuan hidup, untuk dicintai oleh lelaki yang ia cintai. ”Kenapa menangis?” Eya duduk dari posisi berbaringnya. Bola matanya membulat saat bahunya dicengkeram dengan kuat. Suara itu begitu dekat dengan telinganya. Bahkan ia rasakan bibir lelaki itu menempel di cuping telinganya, menembus hangat dan sangat intim. Ia menahan napas sejenak, mengumpulkan keberanian untuk bersuara. ”Kamu! Gimana caranya kamu masuk?” Lelaki itu, Zoffan, semakin menguatkan cengkeraman. Eya meringis, melepaskan tangan Zoffan darinya, dan mendorong pundak lelaki itu. Suara bergemerincing terdengar. Sesuatu yang dingin menyentuh ujung hidung Eya. Besi.  ”Aku punya semua kunci rumah ini.”  Ternyata kunci. ”Cepat katakan apa maumu!” Lelaki itu pasti punya niat buruk. Eya bisa menebak apa yang ingin dikatakannya. Pasti tidak jauh-jauh dari membatalkan pernikahan dengan Zahfiyyan. ”Perempuan licik! Kamu pura-pura tidak tahu apa yang kuinginkan!” Meskipun gelap, Eya mampu membayangkan kemarahan dari mata Zoffan. Hujan menggila di luar sana. Suara air yang menimpa atap seng memekakkan telinga, mengaburkan suara-suara lainnya. Eya terpaksa meneriakkan kata-kata yang diucapkannya, ”Aku tidak tahu. Apa yang ingin kamu katakan sebenarnya?!” Eya sengaja berlagak bodoh. Ia sangat tahu apa yang diinginkan Zoffan. Dirasakannya tempat tidur bergerak. Lelaki itu duduk di sebelah Eya kemudian menarik rambut hingga kepala Eya miring. ”Pergi dan batalkan semua rencana busukmu!” Zoffan mengatupkan gigi ketika bicara. Bibirnya terlalu dekat dengan telinga Eya. Terang sekali kalau dia sangat emosi. ”Dalam mimpimu! Aku tidak akan mau melakukannya!” Eya meremehkan kemarahan lelaki itu. Ditekannya pundak Zoffan hingga lelaki itu berjarak. Zoffan mencekik leher Eya. Ia kesulitan bernapas. Lelaki itu murka. Namun, Eya tidak takut. Lelaki itu tidak mungkin membunuhnya. Sisa-sisa gen kebaikan dari Zahfiyyan pasti masih didapatkan oleh Zoffan. ”Lebih baik kamu mati!” Benderang kilat menerangi mereka sejenak. Dalam kalutnya, Eya dapat melihat wajah lelaki itu. Aura menakutkan terbayang jelas di wajah Zoffan. Eya mulai sadar akan bahaya. Ia berteriak meminta tolong. Lelaki itu membekap wajahnya dengan bantal hingga punggung Eya menyentuh tempat tidur. ”Wanita sepertimu pantasnya mati. Tidak akan kubiarkan kamu merusak rumah tangga kakak-kakakku.” Eya menendang. Tangannya memukul-mukul tempat tidur, melampiaskan sakit. Ia memiringkan kepalanya hingga bisa berbicara meskipun suara yang keluar berupa cicitan, ”Bunuh, ayo bunuh! Zahfi pasti bangga punya adik pembunuh. Dia pasti bahagia melihatmu masuk penjara. Ayo lakukan dengan cepat!” Zoffan melepaskannya. Eya terbatuk-batuk. Lehernya serasa putus. Perih. Ia duduk dan tertawa mengejek, tidak ingin terdengar lemah. ”Bahkan jika aku mati, aku tidak akan merelakan rumah tangga Zahfiyyan dan Zura bahagia. Aku bersumpah!” Petir menjawab sumpah tersebut. Eya menutup telinga dan matanya karena terkejut. Kilat kembali datang disusul petir yang lebih dahsyat. Wanita itu meringkuk dalam duduknya. Takut kembali menjalar dalam dadanya. ”Jalang!” Eya menegakkan kepalanya mendengar sebutan itu. ”Kamu tetap akan melanjutkan rencana kotor itu?” Zoffan berdiri sebelum menerima jawaban. Sesekali cahaya kilat menerangi. Ia membungkukkan badannya untuk membuka laci. Tanpa cahaya sekali pun, ia tahu dimana ia menyimpan benda yang ia cari. Ia tarik gulungan kabel anti nyamuk elektrik dari laci itu. Eya diam-diam turun dari tempat tidur. Ia akan bersembunyi sementara Zoffan tidak di dekatnya. Lelaki itu berbeda. Zoffan tidak seperti  Zahfiyyan. Dia setan yang tidak berperikemanusiaan. Eya harus kabur dari lelaki itu. Setelah menginjakkan kaki di lantai, Eya buru-buru berjalan ke arah pintu. Pintu dikunci. Eya memutar-mutar gagangnya namun tidak bisa. ”Mau kemana kamu w************n?” Eya menjerit ketika tangannya dipegang begitu kuat. Jeritan itu menghilang bersama dengan deras hujan yang memekakkan. Ia menjerit namun percuma. Suaranya tidak sampai ke telinga Runa maupun Syofiyyan. ”Aku akan menghentikan semua kegilaanmu!” Lelaki itu mengikat tangan Eya di bawah punggung. ”Mau apa kamu? Lepaskan aku, binatang!” Sebuah tamparan mendarat di pipi Eya. Ngilu hingga ke tulang. Eya masih melawan. ”Kamu binatang, tidak pantas disebut laki-laki! Tidak pantas berbagi darah dengan Zahfiyyan!” ”Lihat apa yang akan dilakukan binatang ini terhadapmu, Jal*ng!” Sreeek! Sebuah jeritan lolos dari bibir Eya. Lelaki itu merobek pakaiannya. Embusan angin menampar tubuhnya yang terpapar.  ”Setan! Mau apa kamu?” Eya mundur hingga punggungnya menabrak pintu. ”Zoffan, kamu pasti menyesal melakukannya!”   ***   ”Simpan suaramu itu, jal*ng!” Zoffan mengikatkan baju Eya ke wajah wanita itu. Ia membuang semua penghalang dari tubuh Eya hingga tak ada lagi yang menutupi kecuali mulut. Mulut wanita itu telah ia amankan dengan mengikatnya menggunakan pakaian untuk membuat Eya tak bisa berteriak. Wanita jalang pantasnya diperlakukan seperti hewan. Ia tampar b****g wanita itu hingga meninggalkan perih bagi si empunya. Parlakuan itu membuat Eya membungkuk. Zoffan membalikkan tubuh Eya hingga memunggunginya. Ia tekuk paksa kaki Eya agar semakin membungkuk. Dalam posisi itulah ia menyatukan miliknya dengan wanita itu tanpa ‘pembiasaan’.   Dia Zoffan. Rasa cinta kepada keluarga mengubahnya menjadi binatang. Seperti yang dikatakan wanita itu, dia saat ini bukanlah manusia. Ia gelap mata. Ia tidak menghiraukan akibat yang akan timbul setelah kejadian itu. Ia memang b******n! Tak mudah baginya untuk masuk lebih dalam. Dijauhkan tubuhnya kemudian ia tarik rambut Eya untuk membalikkan tubuh wanita itu ke hadapannya. Teriakan yang teredam terdengar. Zoffan menarik sebelah sudut bibirnya. ”Kita pindah, manis. Sepertinya agak susah karena kamu menegangkan tubuhmu. Rileks saja, bit*h.” Didorongnya Eya ke sebuah bangku. Didudukkannya Eya di bangku itu. Ditulikannya telinga dari jeritan Eya. Ditutupnya mata hati dari air mata yang telah menganak di wajah Eya. Dibukapaksanya kedua kaki wanita itu. Disatukannya lagi diri mereka. Seperti tadi, ada satu penghalang yang harus ia lewati hingga ia sadar bahwa wanita itu belum ada yang menyentuh. ”Iblis! Jal*ng. Sialan!” Tangannya melayang di pipi Eya. ”Jadi ini yang pertama bagimu. Bagus, kalau begitu kamu tidak akan pernah melupakan pengalaman pertamamu ini. Nikmatilah ini jal*ng!” Ia menghujam begitu kasar hingga Eya menggeleng-gelengkan kepala sebagai bentuk perlawanan. Zoffan mengganti rencana. Awalnya ia memang berniat menghabisi nyawa Eya. Ia sudah berniat membunuh satu parasit itu. Namun, kata-kata pongah Eya membuatnya murka. Ia tidak ingin membunuh Eya, tapi ia akan menyiksa wanita itu seumur hidup. Biarkan Eya mati pelan-pelan. Tak ingin usahanya sia-sia, akhirnya Zoffan bersikap lembut. Dibawanya tubuh wanita itu ke tempat tidur. Dibelai dan disentuhnya tempat-tempat berbukit indah dan berlembah basah. Hingga ia ikut hanyut dalam prosesnya. Merasakan bahwa sang wanita mulai pasrah tanpa perlawanan, ia ajak lagi Eya bersatu. Ia harus membuang banyak benihnya di dalam wanita itu. Eya harus mengandung anaknya supaya tidak bisa mengganggu Zahfiyyan dan Zura. Malam itu, seorang Zoffan Vaiden Ali kehilangan dirinya. Ia tidak hanya menghancurkan hidup seorang wanita tetapi juga hidupnya sendiri. Ia merelakan dirinya harus terikat kepada wanita itu selamanya demi abang dan kakak ipar yang sangat dia cintai. Kilat kembali memberikan sedetik penerangan. Cukup untuknya melihat keindahan tubuh w************n itu. Eya pantas mendapatkannya. w************n harus diperlakukan dengan cara tak hormat. Ketika tenaga Eya telah habis—tidak sanggup lagi untuk berteriak—Zoffan melepaskan ikatan pada mulut Eya. Wajah wanita itu basah oleh air mata—atau bercampur keringat? Zoffan menjilati wajah Eya kemudian menggingit bibir bawah wanita itu hingga berdarah. Tangisan Eya semakin keras dan itu membuat Zoffan senang. Sekali lagi ia menyatukan tubuh mereka dan mengajak w************n itu terbang tinggi bersamanya.   ***   Kehancuran sudah tiba. Eya terisak dalam kelam. Perih di sekujur tubuhnya, tapi yang lebih perih adalah hatinya. Ia hancur, benar-benar hancur. u*****n dari bibirnya telah habis. Linangan air matalah yang mendeskripsikan perasaannya saat itu. ”Lihat apa kamu masih bisa melanjutkan rencana gilamu itu? Ataukah hari pernikahan besok siang berganti menjadi acara pemakamanmu? Hm, maksudku kalau kamu ingin bunuh diri setelah ini, silakan. Atau kamu ingin hidup dalam kubangan kekotoran juga silakan.” Zoffan membuka kabel yang melilit di tangan Eya. Dibereskan tubuhnya sendiri. ”Selamat tinggal, Jal*ng!” Setelah lelaki itu meninggalkannya, Eya mengamuk. Dibantingnya semua benda yang dekat dari jangkauan. Ia tidak akan berhenti! Pernikahan besok harus tetap berjalan! Dengan menahan perih di seluruh badan, terutama pada d**a dan kedua kaki, ia tertatih ke kamar mandi. Lelaki itu memang binatang. Perih gigitan di d**a tak kalah perih dari kewanitaannya. Ia harus membersihkan diri. Ia harus membuang semua kesialan ini.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN