6
That Wedding...
Rumah Runa telah didatangi para kerabat dan tetangga dekat. Akad nikah kedua Zahfiyyan dengan Eya akan dilangsungkan ba’da Asar. Itu artinya sejam dari sekarang. Kalau didengarkan lebih teliti, kebanyakan dari manusia dalam rumah itu menggosipkan pernikahan putra pertama Syofiyyan Yusuf. Runa tengah menyapa tetamu yang baru datang dengan senyuman separuh. Kelihatan sekali kalau ibunda Zahfiyyan itu terpaksa ikhlas. Tak banyak yang diundang, kini Runa bisa duduk sambil menatapi mahar yang tergeletak di atas meja kecil.
Di kamarnya, Eya menatap pantulan wajahnya melalui cermin. Bibirnya yang terluka telah dipoles lipstik dan dalam prosesnya Eya ingin menangis. Luka pada bibirnya begitu pedih ketika bahan kimiawi itu menyentuhnya. Riasan sederhana pada wajah menonjolkan kecantikan alami wanita itu. Namun sayang, kecantikan serta wajah yang terlihat berseri hanyalah kamuflase belaka. Jauh di dalam lubuk hatinya, wanita berkebaya gold itu hancur. Jiwa dan raganya sedang tidak sehat. Nyeri pada tubuhnya hanya dia yang mengetahui. Hari ini ia ingin tidur seharian, tak ingin bangun. Hanya karena ini hari yang paling ia tunggu-tunggu, Eya menggerakkan hati dan raganya untuk kuat.
Diulurkan tangannya ke depan, menyentuh bayangan matanya pada pantulan cermin. Perias pengantin yang dibawakan Tante Runa berhasil menghilangkan bengkak pada matanya. Semalam ia tidak tidur. Ia menangis hingga Subuh tiba. Pandangan matanya pun jatuh pada pergelangan tangannya. Jejak pengikat semalam telah membentuk gelang biru di nadinya. Ditariknya lengan manset untuk menutupi jejak tersebut.
Di balik hijab yang meliliti lehernya, ada jejak tangan yang telah keunguan. Jika ia tidak mengenakan hijab, tentu saja semua orang akan menyadari ada yang tak beres dengannya. Dia hampir saja mati kehabisan napas oleh kekejaman lelaki itu.
”Zahfi, apa kamu masih mau terima aku?” tanyanya dengan suara lirih, tanpa ada yang mendengar. Sebutir air mata lolos dari sudut matanya. ”Aku udah kotor. Aku hancur, Zahfi.”
Lain halnya dengan Eya, Zoffan justru mengkhawatirkan kakak iparnya. ”Kak Zura kemana sih? Sudah jam tiga masih belum balik.” Ia mondar-mandir seperti setrikaan di ruang tamu.
Satu jam kemudian semua orang sudah berkumpul di ruangan itu. Zoffan masih sibuk melihat jam tangannya.
”Zura kemana kok enggak kelihatan?” Uminya bertanya dengan cemas. Zoffan ingat kata-kata Zura sebelum pergi bahwa ia ada di sekitar sini dan baik-baik saja. Pesan itu Zoffan teruskan kepada Runa meskipun dalam hati kalut luar biasa. Setelah itu, Runa kelihatan lebih tenang.
”Kakak kamu kemana?” Abang pembuat masalah akhirnya juga merasa kehilangan istri.
Zoffan berbalik menghadap Zahfiyyan. ”Tadi katanya mau jalan-jalan dekat sini, tapi sampai sekarang belum pulang. Coba Abang telepon.”
Zahfiyyan meraba kantong celana, tidak ada ponselnya di sana. Ia kira ponselnya ada di kamar. Zahfiyyan masuk ke kamar untuk mengambilnya.
Zoffan menengadah mengusir kecemasannya. Saat itulah terdengar teriakan Zahfiyyan dari kamarnya, ”YA ALLAH, MAAFKAN AKU. TOLONG LINDUNGI ISTRI DAN ANAKKU.”
Zoffan segera berlari ke kamar Zahfiyyan. Zahfiyyan bersimpuh di lantai dengan bahu terkulai.
”Kenapa, Bang?”
”Kakakmu kecelakaan. Ya Allah.” Zahfiyyan menutup wajah dengan telapak tangan.
Satu hal yang Zoffan pikirkan saat mendengar kalimat itu adalah ingin mengetahui di mana lokasi kecelakaan. Tidak seperti abangnya yang duduk sambil menangis dengan penuh penyesalan, Zoffan mengambil ponsel Zahfiyyan. Ia menghubungi nomor terakhir—nomor Zura—yang mengabari Zahfiyyan tadi. Polisi yang tadinya berbicara dengan Zahfiyyan dengan ponsel Zura kini menjelaskan ulang kabar Zura kepada Zoffan.
”Saya akan segera ke sana, Pak. Terima kasih.” Zoffan melempar ponsel Zahfiyyan ke lantai hingga pecah.
”Tangisi saja kesalahan Abang!” Setelah itu ia segera keluar untuk menuju rumah sakit.
Runa mengejarnya. ”Ada apa, Fan? Kenapa kamu buru-buru?”
Zoffan menggeleng-geleng. Mengambil napas, ia berbicara lantang kepada seluruh hadirin. ”Maaf sekali kepada ibu-ibu dan bapak-bapak. Acara ini dibatalkan. Baru saja kami mendapatkan kabar bahwa kakak ipar saya kecelakaan. Sekarang dibawa ke rumah sakit. Saya mohon doanya untuk kebaikan kakak ipar saya. Maaf, sudah merepotkan bapak dan ibu semuanya.”
”Zura kecelakaan?” Eya yang mendengar berita itu segera menyeret kebaya panjangnya keluar kamar. Pundak kecilnya naik turun. Dadanya berdentum hebat. Ia gelengkan kepalanya menolak berita itu. Sayang tatapan benci Zoffan menyiratkan bahwa berita itu memang benar. Tak lama, Zoffan meninggalkan segala kekacauan itu.
Eya luruh di lantai. Kenapa semuanya bisa sekacau ini?
***
Semua tamu telah pulang. Runa mengantarkan mereka dengan pikiran bercabang. Ia tidak enak kepada mereka semua. Di atas semua itu, ia sangat khawatir dengan kondisi Zura dan calon cucunya. Suaminya bersama Zoffan telah bertolak ke kota untuk mencari keberadaan Zura. Di rumah sakit yang pertama kali disebutkan oleh polisi, mereka tidak menemukan Zura. Zahfiyyan juga telah menyusul mencari istrinya.
Andai hari ini tidak ada.
Runa menahan emosi di dadanya. Ia harus sabar menerima segala cobaan. Ia tidak boleh menyalahkan siapa-siapa. Semua ini sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Tapi... dimana Eya? Bergegas ia ke kamar Eya. Ia ketuk pintunya beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Pintu itu juga dikunci. Runa memanggil-manggil dengan suara keras.
”Umi masuk pakai kunci lain, ya?” tanyanya namun tak ada tanggapan. Pikirannya bertambah kalut. Ia memang tidak terlalu memperhatikan Eya sejak pagi ini. Ia sibuk memelihara hatinya sendiri untuk menyambut pernikahan Zahfiyyan yang kedua.
Dibukanya pintu dengan kunci cadangan. Runa melepaskan napas lega melihat Eya berbaring miring membelakangi pintu. Ia hampiri wanita itu.
”Ya?” Ia sentuh lengan atas Eya. ”Tidur? Kamu sudah makan?” Ia tepuk pelan lengan atas wanita itu. Ditariknya pundak Eya hingga Runa dapat melihat wajah tidur wanita itu. ”Eya?” Runa mulai cemas. ”YA! EYA!” Walaupun telah ia guncang tubuh wanita itu, Eya masih terlelap.
”Ya Allah, kamu kenapa ini, Nak? Jangan buat Umi tambah cemas.” Dipukul-pukulnya pipi Eya. Masih tak ada reaksi.
Runa mengambil tangan Eya untuk merasakan kekuatan nadinya. Tapi yang ia dapatkan justru membuatnya semakin kaget. Nadinya normal tapi Eya tidak bergerak setelah dipanggil-panggil.
”Ini, kamu kenapa?” Diambilnya tangan Eya yang satu lagi. ”Astagfirullah. Ini kenapa?!”
Runa mengambil minyak angin. ”Ayo, Ya, jangan buat masalah lagi!” omelnya menciumkan minyak angin ke hidung Eya, ”cepat bangun! Jelaskan sama Umi kenapa kamu pingsan! Apa karena luka itu?” Runa menggeleng menjawab pertanyaannya sendiri. ”Enggak mungkin.”
”Kamu masih punya kami! Kamu enggak boleh berpikir pendek!” Karena gusar Eya tidak bangun-bangun, padahal wanita itu merespon bau minyak angin, Runa membuka hijab Eya. Ia membebaskan wanita itu dari belitan kerudung. Dibukanya kancing teratas kebaya Eya lalu mengambil kipas yang seharusnya dipegang Eya saat acara. Dikipasnya wajah Eya. Runa melihat jejak aneh di leher Eya seperti cekikan. Ah, siapa yang berani melakukan itu? Runa menggeleng-geleng membuang pikiran buruk tersebut.
”Kamu tidur, ’kan? Kenapa enggak bangun-bangun? Ayo! Bangun! Temani Umi melewati kekacauan ini!” Runa hampir saja menjadi gila menghadapi wanita satu itu. Kenapa tidurnya bisa nyenyak begini?
Sebuah pikiran buruk melintas di kepalanya. ”Kamu minum obat tidur, Ya?” Runa mengelilingi kamar itu dengan matanya. Ia pindai lamat-lamat setiap sudut hingga nampaklah benda itu di atas meja rias. Runa segera mencapai botol itu dan membaca kemasannya. Benar. Itu obat tidur.
***
Eya membuka matanya pukul sebelas malam. Tadinya ia tidak bermaksud bunuh diri tapi kalau obat itu membawanya mati ia akan terima dengan lapang d**a. Namun, ada kesadaran yang membisikkan bahwa bukannya Eya ingin hidup untuk Zahfiyyan? Kalau Zura tidak kembali, ia memiliki lebih banyak kesempatan untuk bersama Zahfiyyan bukan?
”Sudah bangun?”
Eya membalikkan tubuhnya ke asal suara. Di sana Zoffan berdiri dengan berlipat tangan di d**a. Dengan cepat Eya duduk. Refleks ia memeriksa tubuhnya. Kebaya masih melekat di badan. Ia menarik napas lega. Hanya saja, kerudungnya telah lari entah kemana. Siapa yang melepaskannya? Ah, bagaimana jika orang yang membuka kerudungnya melihat ada jejak tangan setan di sana?
Eya berdiri dan menarik satu kerudung instan dari gantungan di belakang pintu. Dipakaianya dengan cepat lalu menghadap Zoffan.
”Mau apa lagi kamu hah?”
Zoffan mendekat, dicekalnya tangan Eya. Dia berbisik di telinga wanita itu, ”Mau memusnahkanmu!”
Eya memberontak. ”Aku bukan serangga!” Satu ringisan lolos dari bibir Eya saat Zoffan mencekal dagunya.
”Malam ini juga kamu harus hilang dari muka bumi!” Zoffan membekap mulut Eya kemudian membawa wanita itu keluar lewat jendela.
”Lephasiin!” Eya menarik tangan Zoffan tapi usahanya tak membuat tangan Zoffan bergeser sedikit pun.
Mobil itu menuju jalanan sepi, hutan di kanan dan kiri. Tidak ada lampu jalan, tidak ada perumahan, yang ada hanya hitam dan kelam. Hanya mobil merekalah satu-satunya yang memberikan penerangan.
”KAMU MAU BAWA AKU KEMANA?”
Angin kencang menampar pipi mereka saat Zoffan membuka pintu mobil. ”Tinggallah di sini selamanya!” Ia tarik paksa tangan Eya keluar dari mobil.
”Kamu! Aku enggak mau! Di sini enggak ada siapa-siapa.”
”Bodo amat!” Zoffan menggeret tubuh Eya semakin masuk ke hutan.
”Tolong, jangan lakukan ini. Tempat ini gelap sekali. Aku takut.” Eya membuang harga dirinya untuk memohon. Ia tidak berani sendirian di hutan itu. Apalagi tak ada bulan bintang, sangat gelap. Sepertinya hujan akan turun seperti semalam.
”Itu juga yang dirasakan Kak Zura. Dia sekarang entah berada dimana! Itu semua karena kamu, Iblis! Kamu harus hilang seperti yang dialami Kak Zura!” Zoffan melempar tubuh Eya ke depan.
Saat keseimbangannya hilang, kaki Eya tersandung akar pohon. Akibatnya, tubuh Eya jatuh bergulingan ke tanah yang curam.
”AAAH! ZOFFAN TOLONG AKU!!!
TOLONG! IBU AYAH!” Eya kini berada di tempat yang gelap sekali.
”ZOFFAN KAMU MAU KEMANA?!” Jauh di atas sana, lampu mobil Zoffan menjauh.
”Ibu... Eya takut! Ayah, bantu Eya.” Tangisannya dimulai ketika alam juga menangis. ”Eya takut, Ayah.” Ia meringkuk di tanah. Kilat datang menerangi hutan membuatnya semakin takut.
”JADI BEGINI? AKU ENGGAK BOLEH BAHAGIA WALAU HANYA SEBENTAR? LALU UNTUK APA AKU MASIH HIDUP?!” Kilat menyinari hutan sedetik.
Benar kata Zoffan, buat apa dia hidup? Ia tidak mungkin bisa kembali ke rumah dengan selamat. Ia tidak mungkin bertemu dengan Zahfiyyan. Ah iya, ia harus minta tolong Zahfiyyan. Ia masih ada harapan. Zahfiyyan yang baik itu pasti akan mencari Eya di sini.
Ia tidak membawa ponsel.
”AAAH!!”
Beberapa saat setelah Eya diam, pasrah akan keadaannya saat itu, hujan pun reda. Ketika tak ada suara hujan, suara lain pun menggantikan. Bulu kuduk wanita itu merinding. Ia jongkok semakin rapat. Terdengar olehnya langkah-langkah berat seperti berlari. Ada dengusan yang menandakan makhluk itu adalah hewan. Eya menengok kanan dan kiri yang gelap. Ia takut.
Lalu matanya ditembak oleh cahaya. Eya memejamkan matanya yang silau.