7
Detention
Hujan turun saat Zoffan telah lumayan jauh dari lokasi dirinya meninggalkan Eya. Kilasan cahaya putih seperti blitz kamera menyinari jalan. Dentuman petir memekakkan telinga. Lelaki itu berdecak kemudian memutar balik mobilnya. Zoffan menyetir gila-gilaan.
”Uuuh hati, kenapa begini?!” rutuknya kesal.
Zoffan Vaiden Ali memang bukan manusia sempurna. Ia bukan manusia baik. Bahkan ia menggerutu kesal karena hatinya meminta ia untuk menjemput Eya. Seharusnya ia senang, wanita itu akhirnya kena batunya. Namun, hati lelaki itu memaksa tubuhnya untuk membawa Eya kembali. Eya takut dengan hujan dan petir. Hanya karena alasan itulah Zoffan kini memberhentikan mobilnya di tempat tadi.
Hujan telah reda saat ia tiba di lokasi. Ia kembali ke mobil untuk mencari senter.
”EY!”
***
”A tu, urang kasa urang aluih (Apa itu, manusia atau hantu)?” Laki-laki dengan topi kerucut menyenter tubuh gemetaran Eya Driella. Ia mendekati Eya sambil menunduk penasaran.
Eya membuka matanya dan menatap lampu senter. Karena silau, ia tidak bisa melihat siapa sosok pemegang cahaya. Hanya karena bibirnya diprogram untuk menyelamatkan diri, maka ia pun menjawab, ”Urang (Manusia).”
”Manga kau di siko, Piak (Ngapain kamu di sini, Neng)?” tanya si bapak, mengarahkan senter ke tanah.
”Bapak manusia apa hantu?” Eya memastikan. Kalau dia manusia, maka Eya ingin minta antarkan ke atas. Kalau dia hantu, maka Eya akan kabur.
”Kau nan bantuak antu (Kamu yang seperti hantu)!” kesal si bapak.
”Eeeh hehe ampun, Pak. Saya juga manusia. Kalau gitu, sesama manusia wajib saling menolong, ’kan?”
”EY!”
Mereka berdua menoleh ke arah cahaya senter di atas sana.
”Pak. Bantu saya pulang. Pak ayolah cepat, Pak.” Eya merangkul lengan si bapak. Ia sembunyi di balik badan kurus bapak bertopi.
”Ee eeh bekolah! Aden ka mangaja jawi den lapeh pautan tu ha (Ee eeh nanti! Aku mau mengejar sapiku yang lepas!)” Si bapak menepiskan tangan Eya.
”Pak, tolonglah awak (aku) Pak!” Eya memohon.
”EY!” Zoffan tiba dengan napas tak beraturan.
”Sia lo paja e ko ha? Malam-malam sanang bana main di parak (Ini siapa lagi sih? Sudah tahu malam senang sekali main di hutan)!”
”Tolong Pak, inyo urang jaek (dia orang jahat)!” Eya semakin merapat ke tubuh sang bapak sapi.
Bapak sapi menyembunyikan Eya di belakangnya lalu berkata dengan galak, ”Ka manga ang, Yuang (Mau ngapain kamu, Cong)?!” kepada Zoffan.
Zoffan mendekat. ”Mau bawa wanita itu.” Ia mengacungkan telunjuknya ke arah badan bapak sapi.
”Keceknyo ang indak elok doh! Jan mangicuah muncuang gadang ang tu lai (Katanya kamu enggak baik! Jangan menipu mulut besarmu itu)!”
Zoffan meringsek maju. Biar bagaimana pun, ia harus membawa Eya. Jangan sampai iblis satu itu kabur. Bisa-bisa dia menyusun rencana ulang. Apalagi saat ini kakak iparnya hilang, mungkin sang iblis sedang merasa di atas angin.
”Inyo urang rumah awak, (Dia istriku,) Pak. Tadi kami foto-foto di atas sana. Terus dia lari ke bawah ini mengejar tikus.”
”Mancik? Kana dek inyo mancik (Tikus? Untuk apa dengannya tikus)?”
Zoffan menepuk kepala dan membenari kesalahannya, ”Kucing, Pak. Salah bukan tikus!”
”Ondeh iyo! Jawi den! Aden ka mangaja jawi! Alah tu pulanglah kau jo laki kau, Piak (Waduh! Sapiku! Aku mau mengejar sapi! Sudah pulanglah kamu dengan suamimu, Neng)!” Didorongnya Eya kepada Zoffan. ”Lakeh baliak, lah jam bara ko ha! Aah, jawi den (Cepatlah pulang, sudah jam berapa ini! Ah iya, sapiku)!” Sang bapak berlari meninggalkan pasangan gila itu.
”Mau lari hah?” bisik Zoffan.
Eya menelan ludahnya serba salah. Ikut Zoffan, bahaya. Tidak ikut juga bahaya di hutan ini sendirian. Si bapak yang tadi mungkin enggak balik lagi ke sini.
”Enggak. Ayo pulang!” Giliran Eya menarik tangan Zoffan saat naik ke jalanan.
***
”Jadi, gimana Zura? Udah ketemu?” tanya Eya waktu mereka sudah berada dalam perjalanan ke rumah. Pakaian basah Eya telah lumayan kering. Ia merasakan dangdut sekali, baju satu kering di badan.
Abaikan, Eya tidak dalam suasana hati yang riang untuk berdangdut.
”Masih berani menyebut nama kakak iparku? Mau kupotong kamu punya lidah?!” ancam Zoffan dengan nada santai. Tahan, Fan, jangan emosi! Kalau emosi bisa-bisa mobil ini ia masukkan ke jurang. Jalanan Sumatra memang esktrem. Mereka sedang melewati jalanan yang dibangun di bibir jurang.
”Sekalian aja kamu bunuh aku! Kenapa pakai balik lagi?!”
Zoffan yang tidak tahu mau jawab apa hanya diam. Enggak mungkin dia jawab karena kasihan!
”Aku enggak nyangka, adiknya Zahfiyyan seperti setan! Kenapa bisa sih? Jangan-jangan kamu bukan anak kandung Om Syofiyyan.”
Rasanya Zoffan ingin menyumpal mulut iblis di sebelahnya itu.
”EH! KAMU MAU KEMANA LAGI? RUMAHMU BUKANNYA BELOK KANAN?! KENAPA LURUS?!”
Selama satu jam perjalanan dengan sindiran demi sindiran dari bibir wanita itu, kini mobil dibelokkan Zoffan ke pekarangan rumah petak tiga. Tahu rumah kontrakan yang kembar tiga atau lebih dengan pembatas semen di terasnya? Nah, ke sanalah Zoffan membawa Eya.
”Mau mengasingkan aku ke sini? Ketebak banget.”
Zoffan membuka seatbelt. Ia turun dari mobil lalu membuka pintu di samping Eya. Ditariknya tangan wanita itu keluar.
”Aku teriak nih kalau kamu kasar-kasar lagi!” ancam Eya. Berhasil. Zoffan melepaskan tangannya.
Eya berusaha melupakan perbuatan laknat lelaki itu. Kalau ia ingat-ingat, hanya menambah down saja. Semua telah terjadi, ‘kan?
Lelaki itu berjalan di muka, ke rumah tengah dari rumah petak tiga itu. Setiba di pintu, Zoffan mengeluarkan kunci dari saku celananya.
”Ini rumah siapa?”
Eya melihat ke dalam rumah yang pintunya sudah dibuka Zoffan. Di dalam lumayan gelap, tapi masih bisa melihat karena ada cahaya dari rumah di sebelah. Ditekannya sakelar yang berada di dinding kanan dari pintu.
”Kalau kamu berani kabur, aku akan cari kamu dan enggak akan ada ampunan lagi untukmu,” ucap Zoffan, memegang daun pintu.
Dari gelagatnya, Eya sadar bahwa lelaki itu akan meninggalkannya di sana.
”Kamu mau kemana?”
Zoffan menutup pintu lalu menguncinya. Sebelumnya, ia telah memastikan kalau rumah itu aman. Eya tidak akan bisa kabur dari jendela atau celah mana pun.
”ZOFFAN! KAMU NINGGALIN AKU DI SINI?! BUKA PINTUNYA, WOY! DASAR BINATANG JAHAT! p*******a DAN PENCULIK, LENG—” teriakan Eya tenggelam di kerongkongan waktu pintu terbuka. Eya terdorong ke belakang oleh pintu. Hidungnya terasa nyeri akibat terantuk.
”Ayo teriak lagi!” Zoffan mencekal rahang Eya. ”Teriak sekali lagi, kubuat berhenti teriak untuk selamanya!”
”Lwephas, shakit!” Eya mencubit pinggang Zoffan hingga lelaki itu melepaskannya.
”Ini sudah jam setengah tiga pagi. Masuk dan tidur! Atau kamu mau tidur untuk selamanya?”
Eya mengepal kedua tinjunya lalu balik badan. Ia belum tahu mau kemana malam ini. Ia tidak ingin luntang lantung di hutan. Malam ini saja, ia akan menuruti Zoffan, hanya sebelum ia menyusun rencana baru. Terlebih dahulu ia harus menyelamatkan diri.
Pintu kembali dikunci Zoffan dari luar. Tidak ada lagi teriakan Eya. Zoffan menarik napas lega. Tiba-tiba pintu di sebelah kiri menjeblak terbuka. Sebuah kepala dengan rambut jabrik melongo keluar dari pintu itu
”Sudah?” Lelaki itu adalah Radeka. Ia yang menyewa salah satu rumah petak itu. Zoffan meneleponnya sekitar pukul satu untuk menanyakan rumah kosong di sebelah.
Zoffan mengangguk. Ia segera masuk ke kediaman Radeka dan menjatuhkan tubuhnya pada kasur yang menempel di semen—tanpa ranjang. Hari ini sangat melelahkan baginya. Kembali lagi pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan dimana kakak iparnya Zura berada?
”Gila gila gila!” Radeka berjalan bolak balik di depan Zoffan. Tangannya di dagu dan di pinggang. ”Itu orangnya? Cantik banget! Pantesan aja Bang Fiyyan mau nikah lagi!”
”Stop! Aku istirahat. Kamu pasang telinga, jangan sampai tuh iblis kabur.” Zoffan memejamkan matanya. Ah, besok ia akan kembali mencari Zura.
”Kalau gitu aku jaga dia di sana aja gimana? Aku bisa lihatin kalau dia mau kabur.”
***
Eya benar-benar menjadi tawanan. Untungnya teman Zoffan yang wajahnya mirip Rio Stockhorst membelikannya makanan, mengantarkan baju ganti, dan mengajaknya bercerita lewat jendela.
”Zura belum ketemu?”
Di balik pintu Radeka menggeleng. Lelaki itu menjedukkan dahinya ke pintu lalu bergumam kata ’belum’. ”Semua orang sibuk mencari Kak Zura. Tapi Bang Fiyyan enggak. Dia terpukul banget karena kehilangan istrinya. Katanya, dia enggak keluar-keluar kamar.”
”Gitu ya,” gumam Eya. Ia jadi sangsi, apakah Zahfiyyan akan bunuh diri kalau sampai Zura enggak selamat?
”Kalau Zura enggak ketemu, apa aku bakalan dikurung di sini terus? Makan aku siapa yang bayar kalau aku enggak kerja?!”
Radeka terkekeh. Ia mulai menyukai Eya ketika melihat wajah cantik wanita itu dengan baju kebaya kumal malam itu. Semakin suka kala mereka sering bercerita. Menurutnya, orang seperti Eya cukup unik. Wanita itu hanya ingin dikasihi.
”Ngomong-ngomong soal teriakan kamu malam itu.” Radeka mencari kalimat yang pantas. Eya menunggu di balik pintu. ”Soal Zoffan,” potongnya, ”benar dia p*******a?” Radeka mencubit bibirnya habis bertanya begitu. Tapi mau bagaimana lagi, Eya memang meneriakkan kata itu.
”Tanya aja sendiri!” jawab Eya dengan ketus.
Radeka menyatukan kedua alis. ”Enggak mungkin dia memperkosa orang. Dia cium cewek aja belum pernah,” komentarnya. ”Nah itu, orangnya datang. Udah dulu, ya. Jangan lupa makan, nanti sakit.”
Eya melemaskan tubuhnya dan merebahkan punggungnya ke lantai keramik. ”Mau sampai kapan aku di sini? Tanpa hape tanpa tahu di luar kayak gimana? Kenapa aku enggak kabur aja?”
Hiks...
”Aku enggak tahu lagi apa alasannya aku tetap di sini. Untuk apa lagi aku hidup? Enggak ada juga yang peduli. Aku disekap di sini, enggak ada yang nyariin. Ibu Ayah, udah boleh Eya ikut kalian?”
Eya menutup matanya dengan tangan kanan. Satu-satunya tujuan ia hidup sudah tak ada harapan. Zahfiyyan sudah tak mungkin menikah dengannya. Lelaki itu pasti terpukul sekali karena kehilangan Zura. Eya sadar Zahfiyyan sangat mencintai Zura. Ia saja yang memaksakan diri untuk mendapatkan lelaki itu. ”Eya sendirian di dunia ini, Bu. Eya juga udah hancur. Ini karma untukku, ya? Aku akan bawa pergi rahasia ini.”
Pintu dibuka dari luar. Eya menurunkan tangannya melihat siapa datang. Berdiri tinggi di atas kepalanya, Zoffan si penculik kecil.
”Pasti kamu punya akal-akalan baru? Kali ini apa lagi?” Eya duduk dan menengadah kepada Zoffan.
Semenjak dikurung, Zoffan belum menengok sekali pun ke sini. Lelaki itu menjadikan Radeka sebagai perantara. Kalau sekarang dia datang, lelaki itu pasti punya rencana baru. Yang jelas akan selalu merugikan bagi Eya.
”Ayo kita main drama!” Zoffan berjongkok di hadapan Eya mencekal dagu Eya dengan sangat kuat.
***