8
Privat Room
Ya Tuhan, dimana Kak Zura sekarang?!
Zoffan mengacak rambutnya. Ia tundukkan kepala yang terasa nyeri. Kemana sebenarnya kakak iparnya dibawa? Siapa yang membawanya? Ia sudah mencari hampir seluruh rumah sakit. Zura bagai hilang ditelan bumi. Tidak ada yang tahu kemana Zura pergi. Kekesalannya memuncak saat melihat keadaan abangnya tak kalah parah. Kalau boleh dibilang, Zahfiyyan lebih mirip zombie! Dasar abang yang payah. Istri hilang bukan dicari malah bersembunyi di rumah. Untung abangnya tidak melupakan kewajiban. Zahfiyyan tetap rajin salat dan pergi ke kampus untuk bekerja.
”Gimana dengan Eya? Abang tetap lanjut menikah dengannya?” tanya Zoffan hanya untuk memastikan otak abangnya masih waras atau tidak.
”Kakakmu lebih penting,” jawab Zahfiyyan menatap rimbun bunga mawar di pekarangan rumah Nenek Rafiyah.
”Kalau gitu Abang enggak keberatan aku yang membantu Eya?”
Zahfiyyan tidak memberikan respon.
”Demi rasa kemanusiaan yang Abang junjung tinggi, aku rela menggantikan Bang Fiyyan.”
Zahfiyyan menatap mata Zoffan, menyipit ketika bertanya, ”Maksud kamu apa? Menggantikan?”
Zoffan maju selangkah, berdampingan dengan Zahfiyyan di depan kusen jendela. ”Menikahi Eya,” jawabnya mantap.
”Terserah. Bukan urusan Abang.”
Tangannya pada kusen mengeras. Zoffan kecewa dengan tanggapan Zahfiyyan. Kenapa abangnya hanya berkata seperti itu? Kenapa abangnya tidak marah dengan keputusannya? Kenapa Zahfiyyan tidak mematahkan rencananya? Zoffan yakin, abangnya memang sudah tidak waras. Siapa suruh menyia-nyiakan istri!
”Kalau gitu, bicara dengan Abang selesai. Aku akan bicara dengan abi dan umi.”
***
Sekarang Zoffan dan Eya berada di rumah Runa lagi. Mereka baru saja sampai dan berjalan melintasi halaman menuju teras.
”Main drama seperti anak sekolahan? Gampang, aku master bahasa lho!” kata Eya membanggakan profesinya. Ia mengikuti Zoffan masuk ke rumah.
”Ini dia! Kamu kemana saja, Ya?” Runa berdiri dan memeluk Eya.
Eya merasa kembali pulang. Ia membalas pelukan Runa. Perasaannya campur aduk sekarang: ada senang, sedih, damai, dan takut. Eya, kamu enggak boleh mengharapkan yang bukan-bukan! Tante Runa hanya seorang ibu baik hati yang menganggapmu manusia lemah dan harus ia kasihani. Enggak ada maksud apa-apa, apalagi mengharapkan kamu tetap menjadi menantunya!
”Eya tersesat, Tante.”
Sewaktu Eya selesai mengerjakan salat Asar, Runa mengetuk pintu kamarnya. Terlambat untuk memakai hijab karena Runa sudah menutup pintu dari dalam.
”Kamu yang jujur sama Umi, kemana kamu semingguan ini?” Runa menarik tangan Eya duduk di tempat tidur. Suaranya ia buat pelan. Dipegangnya kedua tangan Eya tepat pada jejak yang ia lihat waktu itu.
Eya tersenyum. Ia mencebikkan bibir. ”Enggak boleh bohong, Tan?”
Runa mengangguk-angguk. Ia perhatikan pergelangan tangan Eya, sudah tidak ada lagi bekas gelang biru di sana. Diperhatikannya juga leher Eya, jejak mengerikan itu sudah hilang pula.
”Eya enggak enak sama Tante dan Om. Semua ini pasti karena aku. Yah, Eya merenung di suatu tempat gitu.”
Runa mengangguk mengerti. ”Terus siapa yang melakukan ini kepadamu?” tanya Runa menyentuh leher Eya. Ia dapat melihat bola mata Eya membesar sebelum akhirnya wanita muda itu tertawa.
”Tante kayak polisi aja sih curigaan banget. Pasti Tante suka baca Sherlock Holmes, ya?”
Runa memerhatikan leher Eya lagi dan mulai ragu dengan penglihatan tuanya. Jangan-jangan memang dirinya yang terlalu berlebihan? Eya terlihat biasa saja.
”Syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa.”
Eya tertawa lagi. Ia bersungguh-sungguh menahan emosinya. Hal yang paling ingin ia lakukan saat ini adalah menangis di pundak Runa. Ia hendak mengadukan semua yang telah terjadi kepada Runa—kalau Tante Runa sudah kecolongan. Tante Runa enggak tahu jika anaknya udah jadi b******n. Ah, enggak! Tante Runa enggak boleh tahu. Ibu Zahfiyyan yang baik hati dan penuh cinta kasih itu pasti akan sangat terpukul jika sampai tahu kebejatan anak bungsunya.
Eya memeluk Runa lebih dulu. Tangisan yang ia tahan akhirnya jebol meski telah ia tahan agar tak lepas. Eya terisak di punggung Runa. ”Makasih Tan, sudah peduli sama aku. Aku senang karena ada yang Tante khawatirin. Aku senang karena Tante tanyain.”
”Sebenarnya Umi ingin marahin kamu!” Runa menolak tubuh Eya. ”Kamu penyebab semua masalah ini. Umi kehilangan menantu kesayangan Umi. Anak Umi sekarang menutup diri dari dunia luar karena istrinya tidak ketemu. Tapi Umi tidak bisa melakukannya. Semua ini terjadi karena kehendak Allah. Umi enggak bisa menyalahkan kamu atau siapa pun. Zahfiyyan mau menikah denganmu bukan karena paksaan dari kamu. Dia sendiri yang memutuskan untuk membantumu lewat pernikahan itu.”
Tante salah, teriak hati Eya. Semua ini terjadi karena dia. Kalau saja Eya tidak pura-pura diteror rentenir. Kalau saja Eya tidak meminta Fakri bicara dan membujuk Zahfiyyan. Zura pasti masih berada di antara mereka. Zahfiyyan pasti masih menjadi lelaki hangat yang senang berbaur dengan masyarakat. Dan yang pasti, Eya pasti masih memiliki harta tertinggi baginya sebagai wanita. Kalau saja, ia tidak memaksa Zahfiyyan menikahinya.
”Makasih, Tante.” Eya tidak berusaha mematahkan pendapat Runa. Akan ia biarkan Runa berpikir positif atas semua yang telah terjadi akibat ulah Eya.
***
Eya mulai mengajar lagi di kampus yang sama dengan Zahfiyyan. Sayangnnya pulang pergi ada supir pribadi yang siap sedia mengantar-jemputnya. Eya belum sempat mencari Zahfiyyan—ia ingin bicara dengannya—selesai kelas. Zoffan sudah menunggu di luar kelas.
”Boleh enggak sehari aja, aku bawa mobil sendiri? Aku masih bisa beli bensin kok!” gerutunya di belakang Zoffan menuju lapangan parkir. Ia masuk ke bangku penumpang dengan mengomel panjang. ”Enggak ada ceritanya tersangka p*********n masih berkeliaran di samping korban! Aku tu ingin membunuh kamu juga. Emangnya cuman kamu yang kesal sama aku?!”
Mobil melaju mulus di jalanan kota. Sampai Eya tidak menyadari kalau mereka tidak menuju rumah. Zoffan memberhentikan mobilnya di sebuah basement. Eya yang sadar dirinya diculik lagi mendesis kesal.
”Kamu mau apa lagi?! Mau jual aku kali ini? Bodoh! Enggak bakalan berhasil! Aku akan obrak-abrik rencana kamu itu nanti. Lihat saja!”
Ia mengikuti Zoffan yang keluar dari mobil. ”Kalau aja bukan anaknya Tante Runa, udah aku pecahin kepala kamu dari kemarin-kemarin!” umpatnya di belakang Zoffan.
Mereka masuk lift menuju lantai tiga. Lift terbuka dan Zoffan menarik tangannya kali ini. Lelaki itu tidak akan membiarkan si iblis lari. Apalagi melancarkan rencananya untuk memecahkan kepala Zoffan.
”Wow! Kamu mau traktir aku makan di sini? Serius?!” Di depan mereka adalah restoran high class. Kejedot pintu mungkin keningnya si Zoffan sampai bawa Eya ke tempat semahal ini.
Zoffan berbicara dengan seorang laki-laki berseragam hitam putih, seperti maid dalam manga yang Eya baca. Lelaki maid itu menuntun mereka ke sebuah pintu lalu membuka pintu itu. Ia mempersilakan Eya dan Zoffan masuk. Ternyata Zoffan memesan privat room. Setelah kontrakan jelek, sekarang privat room, buat apa kira-kira?
”Iiih, mahasiswa bisa ngajak aku ke sini. Kamu keren juga. Aku tambah heran, kamu tuh beda banget dengan Zahfiyyan. Kalau Zahfi itu sederhana, kuliahnya aja naik motor keluaran lama, tetap ganteng sih. Dia juga baik, alim—”
Praank!!
Zoffan melempar vas bunga hingga pecah berderai di lantai. Eya mundur ketakutan. Tangannya mulai bergetar. Mereka saat ini hanya berdua di ruangan tertutup itu. Zoffan akan lebih leluasa menyakitinya tanpa ada yang tahu.
Lelaki itu memegang lengan atas Eya hingga nyeri. Eya memejamkan matanya, panik mulai melanda. Zoffan dalam mode marah sungguh mengerikan. Ia rasa kepribadian Zoffan yang seperti itu tidak ada yang mengetahuinya selain Eya.
”Oleh karena itu, kamu akan tetap mencari cara untuk mendapatkan belas kasih abangku?”
Eya menggeleng dalam pejamnya. Lengannya dicengkeram semakin kuat. Sakit menjalar di sepanjang tangannya. ”Tolong lepaskan, sakit,” pintanya memohon dengan iba.
”Sepertinya yang kemarin enggak bisa bikin kamu kapok!” Zoffan berpindah posisi ke sebelah kanan Eya. ”Baiklah. Aku yang harus turun tangan lagi.” Didekatkan bibirnya ke telinga Eya di balik hijab. ”Ayo, Ey, kita menghabiskan hidup bersama,” pastel wanita itu. bisiknya.
”Enggak mau! Aku enggak mau!”
Zoffan tertawa, tawa yang multitafsir. ”Kamu enggak punya pilihan untuk menolak, bit*h!”
”Kamu yang binatang! Kamu yang paling b***t di sini!” Eya melawan. Tidak, ia enggak akan mau ditindas terus. Siapa Zoffan? Dia hanya orang asing yang kebetulan adik dari lelaki yang sangat ia cintai.
”Ingat, Perempuan, di sini bisa jadi sedang tumbuh anak kita!” Disentuhnya perut Eya.
Eya memukul tangan lelaki kurang ajar itu dari tubuhnya. Ia mundur menjauh.
”Aku enggak akan membiarkan hal itu terjadi! Aku enggak akan memiliki anak dari binatang seperti kamu!”
Plak!
Satu tamparan melayang di pipi Eya. Perih merambat ke seluruh wajah. Air mata menganak di pipi seketika.
”KAMU BUKAN MANUSIA, ZOFFAN!”
”Kamu lebih rendah dariku! Apa? Mau lari? Kamu enggak akan bisa pergi! Kamu harus mendapatkan hukuman atas semua kesialan yang terjadi pada kakak-kakakku!”
”Kamu harusnya berusaha lebih keras menemukan Zura. Kamu enggak bisa menyalahkan aku!”
Zoffan mencekik leher Eya lagi. Perlakuannya membuat getaran pada tubuh Eya semakin dahsyat. Bahkan wanita itu kini tidak bertenaga lagi untuk menginjak lantai. Eya lemas. Ia meluruh ke lantai kalau saja Zoffan tidak memeluknya. Otak Eya merespon perbuatan Zoffan sebagai trauma.
Dengan tangan melingkar di pingging Eya, Zoffan mendekatkan bibirnya ke bibir Eya yang wajahnya tengadah kepadanya.
”Kamu harus menjadi tawananku, Perempuan!”
***