10
WE: Last or Begining?
Eya mengintip dari kamarnya ke ruang tamu. Ia menjulurkan leher untuk melihat kamar Runa dan Syofiyyan. Orang tua Zahfiyyan itu sudah tertidur. Balik lagi ia melihat ke ruang tamu. Zoffan tengah memegang Al-Quran dan bergumam membaca ayat suci tersebut. Lampu di ruang tamu telah dipadamkan. Zoffan membaca dengan penerangan dari lampu kecil di meja ruang tamu.
Eya berjalan pelan-pelan mendekati pemuda itu. Sesekali ia melihat ke belakangnya untuk meyakinkan kalau Runa dan Syofiyyan sudah tak akan keluar dari kamar. Eya hanya berdiri di belakang Zoffan menunggu pemuda itu selesai dengan ibadahnya.
”Kenapa? Kamu mau bilang ‘batalkan saja Zoffan’, gitu?” Zoffan balik arah ke hadapan Eya. Ditariknya tangan Eya hingga wanita itu menunduk kepadanya. ”Terima saja nasibmu, Perempuan! Syukurilah aku sudah mau menikahimu daripada kamu menunggu Bang Fiyyan yang enggak peduli lagi kepadamu.”
Mata Eya membola. Ia menginjak kaki Zoffan. Saat kaget, Zoffan melepaskan tangan Eya.
”Kamu bakalan menyesal udah maksa aku menikah. Lihat saja, adik kecil!” Eya tersenyum penuh ejekan dengan posisi berlipat tangan. Ih iya, Eya sudah tahu dimana ia bisa melawan Zoffan. Di sini, di rumah ini! Zoffan tidak akan macam-macam selama ada abi dan uminya.
”Oh sudah berani melawan!” Zoffan berdiri. Ditariknya hijab Eya hingga wanita itu menengadah paksa kepadanya. ”Kamu belum kenal Zoffan kalau gitu. Belum cukup kamu lemah di bawahku hah?”
Eya tidak suka kalau Zoffan mengingatkan ia dengan kejadian malam itu. Ia on progress melupakan kejadian malam berpetir mereka.
”Bukan hanya kelakuan kamu yang seperti binatang tapi mulut kamu juga!” ucap Eya meskipun ia dalam posisi tidak menguntungkan.
Zoffan merasa darahnya naik mendengar perkataan wanita itu. ”Wanita menjijikkan! Kalau ngomong seperti buang angin ninggalin bau! Kamu tunggu saja, permainan baru aja kita mulai.”
Eya tertawa, berdecak. ”Menjijikkan? Sebaiknya kamu belajar lagi arti menjijikkan dari KBBI. Ah, aku kasih tahu aja deh pada anak muda seperti kamu. Jijik artinya enggak suka karena kotor, keji. Tapi coba ingat lagi deh siapa yang menyentuh aku? Siapa yang menyetubuhiku?!” Mata Eya melotot waktu mengucapkan kalimat itu. ”Siapa yang menikmati tubuh orang menjijikkan itu haaah ayo bilang! Begitu yang kamu bilang menjijikkan? Iya? Dan sekarang siapa yang memaksa untuk menikah dengan orang menjijikkan itu?!”
Emosi terpancar dari wajah Eya. Lelaki itu tidak menunjukkan rasa sesal apalagi bersalah sedikit pun. Kemana perginya gen kebaikan keluarga Abi Syofiyyan?! Digondol maling?
Eya meringis kala Zoffan lagi dan lagi mencekal dagunya. Mata pemuda itu menatap tajam ke dalam manik mata Eya. ”Kamu memang wanita sialan,” bisik Zoffan, ”karena kamu, kami kehilangan Kak Zura. Karena kamu, abangku mengurung diri. Wanita angkuh dan sombong sepertimu, enggak akan pernah dapat apa yang kamu mau! Ingat itu, Perempuan. Aku akan membalaskan semuanya kepadamu.”
”Apa lagi hah?” tanya Eya dalam geraman tertahan, takut suaranya didengar oleh Runa dan Syofiyyan, ”kamu mau balas dengan cara apa lagi?!” Bibir mereka hanya bersela beberapa milimeter. Wajah mereka mengeras akibat emosi. Mata keduanya saling mengunci.
”ASTAGFIRULLAHAL’ADZIM! ZOFFAN VAIDEN ALI!” teriak Runa.
Umi Zoffan dan Zahfiyyan itu bergerak maju memisahkan Zoffan dan Eya. Ia memukul tubuh Zoffan dengan beringas. Runa salah paham dengan posisi Eya dan Zoffan.
”Belum halal! Belum sah! Tidak boleh macam-macam dengan anak gadis orang! Kamu ini! Sudah Umi bilang, jangan dekat Eya!” Setiap satu kalimat berhadiah satu pukulan untuk tubuh Zoffan.
Setelah itu, Runa mengambil tangan Eya. ”Ayo, Umi temani. Kamu harusnya sudah istirahat. Kamu kurang sehat beberapa hari ini. Kamu mesti banyak istirahat.” Digiringnya Eya ke kamar. Lalu Runa membalikkan tubuh untuk memberikan wejangan terakhir kepada putranya. ”Tidur! Katanya mau nikah?! Besok kalau salah mengucap ijab kabul, Eya batal jadi menantu Umi.”
Zoffan duduk kembali di sofa tidurnya. Mulai besok, semuanya akan berubah. Pernikahan itu ia lakukan demi abang dan kakak iparnya. Ia tidak boleh gagal. Eya harus menjadi istrinya. Hanya cara seperti itu untuk menghentikan Eya mengganggu Zahfiyyan lagi.
***
Kebaya yang dikenakan Eya hanya sepotong kebaya sederhana. Rias di wajahnya juga tidak berlebihan. Riuh di dadanya telah padam. Bukan pernikahan seperti ini yang Eya impikan. Bukan lelaki itu yang Eya inginkan. Karena ia terlalu khawatir, tadi pagi Eya muntah-muntah lagi. Sepertinya perasaan Eya bersangkut paut dengan isi lambung. Kalau dia sedang tertekan, maka mual akan datang.
”Eya sudah enggak mual lagi? Kamu sudah makan anti mual yang Umi kasih?”
Eya mengangguk, menatap wajah Runa dari cermin. ”Tante,” panggilnya. Runa mendekat dan menyentuh kepala Eya. ”Eya hari ini menikah. Sendirian enggak ada yang mengantarkan ke sini. Tante bersedia anggap Eya anaknya Tante juga?”
Runa memutar tubuh Eya kepadanya. Dirangkumnya wajah wanita muda calon menantunya itu. Ditatapnya mata Eya nan mulai mendung. ”Eya dengarkan Umi. Sejak kamu datang ke rumah ini, dalam keadaan mencemaskan dan segala macam masalah yang menimpa kamu—” dipeluknya tubuh Eya, ”di sini tempat kamu mengadu. Keluhkan apa yang Eya rasa pada Umi, bicarakan apa yang Eya suka dan tak suka pada Umi.”
Meskipun semua orang mengatakan Eyalah penyebab hilangnya Zura, bagi Runa bukan. Memang ia sedih telah kehilangan Zura menantunya. Namun, ia sudah pasrahkan semua nasib hidup kepada Yang Maha Mengatur Kehidupan. Kalau Allah berkata Zura selamat, maka dimana pun Zura berada, ia akan baik-baik saja. Tak peduli sebab apa yang melatarbelakangi kecelakaan itu karena kemalangan bisa terjadi kapan pun.
”Terima kasih, Tante.” Ia sentuh tangan Runa yang bertengger di bahunya.
”Umi. Panggil Umi. Sebentar lagi kamu menjadi menantu kedua Umi. Jadi, apa yang suamimu nanti panggil, begitu juga yang kamu ucapkan. Ada Umi, Abi, Bang Fiyyan, Mami Rana, dan Om Heri.”
”Iya, Umi.”
”Umi keluar dulu, sepertinya ada keluarga temannya Zura yang datang. Tadi mereka baru saja turun dari mobil. Tunggu di sini ya, Nak, sebentar lagi akad akan dimulai. Jangan takut, Allah bersama kita. Semuanya pasti lancar atas izin dari-Nya.”
Meskipun ini bukan pernikahan yang Eya mau, tapi ia merasakan cemas juga. Bagaimana nanti hidupnya dengan Zoffan yang begitu jahat kepadanya? Apa setiap hari ia akan digampar, dipukul, atau dicekik? Atau setelah sah menjadi istrinya, Zoffan memaksa Eya untuk minum racun tikus?
***
Hanya Zoffan Vaiden Ali barangkali yang santai sekali menjelang detik-detik ijab kabul. Pakaian sudah rapi memang, kepalanya ditutup peci putih. Lelaki itu sedang bercanda dengan sahabatnya, Radeka.
”Mau dikasih makan apa anak orang hah? Kerja belum, tiba-tiba menikah,” sindir Radeka ”Hah! Dengan Eya lagi, gagal sudah rencanaku menjadikan dia ibunya anak-anak.”
Seburuk-buruknya niat Zoffan untuk menikahi Eya, dia tidak suka mendengar Radeka. Jadi, sang calon pengantin itu memiting kepala Radeka sambil berkata, ”Biar enggak makan, asal jadi bini! Awas kalau berani dekat-dekat!”
”Ampun, ampun. Enggak macem-macem kok. Ah, kamu belum nikah aja udah posesif benar dengan Eya! Dulu siapa yang najis-najisin itu cewek? Siapa yang bilang anjing lebih manis dari itu cewek?!”
Terserah Radeka mau berkata apa soal dirinya. Justru bagus! Orang-orang harus melihat bahwa Zoffan Vaiden Ali menyayangi istri. Itulah drama yang dia maksud.
Mereka berbaur dengan kumpulan para tamu. Kelakuan dua pemuda itu tak luput dari perhatian tamu yang hadir.
”Eloklah si Eya tu Ni Gadih, dari pada dia menikah dengan Zahfi. Zoffan belum ada istri lagi.”
Mendengar nama Eya disebut, Zoffan diam. Radeka pun ikut-ikutan mendengarkan komentar ibu-ibu tukang gosip itu.
”Indak lantak lantiak e, indak kakak adiak e, tak dapat kakak adiknya pun jadi. Hah, sepertilah di dunia ini tidak ada laki-laki lain saja. Mengerti saya anak-anak si Runa itu baik-baik budinya, rupawan pula wajahnya, tak salah kalau banyak gadis tergila-gila. Tapi lihatlah dulu, kita wanita ini punya malu. Jangan kelihatan bana (sekali) kalau kita tasasak (kebelet) kawin. Coba tunggu waktu agak lama dulu. Tunggu kabar si Zura dulu.”
Uni Gadih yang terkenal tukang julid di kampung itu pun angkat bicara. Apa yang dikatakannya, Zoffan maklum. Benar sekali. Tapi ini bukan masalah untuk dirinya. Ini merupakan perjuangan untuk mengerangkeng Eya Driella.
”Jodoh orang, itu Uni. Dianjurkan untuk kita mendahulukan kebaikan. Mana yang mau Uni, mereka tinggal serumah tapi tak menikah atau mereka menikah walaupun terkesan buru-buru?”
Uni Gadih menaikkan bibir kirinya, mencela. ”Ndak ada yang bagus doh, Piak! Aku tak suka dengan si Eya. Runa juga andia bana (bodoh sekali) memilih menantu. Sudah gagal di Zura sekarang Eya pula. Sansailah (menderita) nanti hari tuanya.”
”Sudahlah Uni, jangan dibahas lagi. Menurut saya sudah benar Zoffan menikah dengan wanita baik seperti Eya.”
Melihat temannya datang, Zoffan meninggalkan obrolan tak penting itu.
Pemuda dengan rambut kecokelatan, berwajah manis, dan senyum tengil tertawa menyapa Zoffan. ”Kamu ini! Cepatlah selesaikan kuliah! Gengsi dong nanti uang belanja minta pada istri!”
Zoffan tertawa dengan perkataan temannya. Ia pukul bahu temannya itu dan menggiring ke Radeka. ”Dek, kenalkan teman semasa kecilku, Damelo.”
Radeka mengulurkan tangan dan menyebut namanya. Mereka berbincang akrab sebelum orang-orang dari kantor urusan agama datang.
”Kami ke sana dulu, Fan,” kata Radeka menunjuk kumpulan laki-laki di sayap kiri ruangan, ”mulai nanti kamu sudah bukan Zoffan anak bungsunya Abi Syofiyyan, tapi suami Eya. Kamu telah jadi suami, Fan, masya Allah dan kamu harus jadi suami yang baik untuk istrimu.”
”Thank you, doakan aku lancar.”
Radeka mengangguk. Lalu ia bersama Damelo duduk di tempat yang dia tunjuk tadi.
Petugas KUA duduk dekat meja kecil yang diletakkan di tengah ruangan tamu. Para tamu duduk melingkar mengelilingi meja akad. Fakri yang akan menikahkan Eya telah duduk pada posisi yang diatur petugas. Rumah sederhana Runa mulai hening waktu petugas mulai bertanya kelengkapan data administrasi. Setelah pemeriksaan saksi-saksi dan kesiapan mempelai untuk melakukan ijab kabul, naib mulai membaca ummul kitab.
Zoffan menarik napas setelah semua prosesi pembukaan ijab kabul selesai. Sekarang tangannya telah dijabat oleh Fakri. Kalimat ijab yang diucapkan oleh Fakri dengan jelas segera ia balas dalam satu tarikan napas.
”Saya terima nikah dan kawinnya Eya Driella Fathahani binti Almarhum Muhammad Fikram dengan mas kawin tersebut tunaiii,” ucapnya dengan memanjangkan bunyi kata di akhir kalimat.
Petugas kemudian bertanya keabsahan ijab kabul tersebut kepada saksi, kemudian kepada semua hadirin, lalu memutuskan bahwa ijab kabul sah.
Zoffan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Siapa pun yang melihat wajahnya saat ini tentu dapat melihat kelegaan luar biasa dari sana. Ketegangan yang tadi terpancar meskipun tidak ia sadari kini telah lenyap. Zoffan tidak merencanakan untuk larut dalam semua prosesi ijab kabul. Tapi hati dan pikirannya berkhianat. Ia melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh dan mengucapkan janji kepada Tuhan untuk menjadikan Eya istrinya juga dengan bergelimang tekat.
Aku enggak bisa main-main dengan Tuhan.
***