Let’s Play the Game

1208 Kata
11 Let’s Play the Game “Eya menikah karena udah enggak ada pilihan lain, Bu. Eya udah enggak suci lagi. Eya enggak bisa jaga diri sendiri.” Menelan ludahnya, Eya melanjutkan, ”Eya enggak bisa laporin dia ke polisi karena Eya enggak mau keluarga Zahfi berantakan. Udah cukup Eya bikin rumah tangga Zahfi hancur. Eya udah bikin istri Zahfiyyan menghilang. Kalau Eya jujur kepada semua orang tentang p*********n itu, keluarga ini mungkin akan perang, Bu. Itu juga kalau ada yang percaya. Eya takut enggak akan ada yang mendengarkan pengaduan Eya. Terus kalau Eya bilang yang sejujurnya, mereka pasti akan menikahkan kami juga, iya ’kan Bu?” ”Eya waktunya keluar. Ayo!” Lamunan Eya terputus karena Runa datang mengajaknya keluar. Eya menarik napas, lalu bertanya, ”Sudah selesai, Umi?”  Ini nih akibat dari melamun! Eya tidak mendengar bagaimana Zoffan menjawab ijab kabul. Haaih! Berarti doa Eya tadi enggak ngaruh dong. ”Sudah. Alhamdulillah cuman sekali lalu. Kamu sekarang sudah jadi menantunya Umi, istrinya Zoffan anak Umi.” Tangan Eya berkeringat. Ia menarik sehelai tisu lalu meremasnya. Dirinya gugup dan takut. Walau tahu tekat Zoffan sangat kuat untuk pernikahan ini, yang artinya kecil kemungkinan akan gagal, tapi Eya masih berharap semuanya tidak selancar ini. Mengusahakan dirinya untuk tenang, Eya berjalan mengikuti Runa ke ruang tamu. Wajahnya menunduk. Kakinya bagai diseret, ingin memperlambat durasi sampai. Kedua tangannya dia satukan di depan saling meremas takut. Eya! Angkat kepalamu! Kamu enggak boleh kelihatan lemah di depannya! Dia akan semena-mena kepadamu kalau awal-awal pernikahan saja kamu udah ketakutan begini. Kamu harus hadapi dia! Bikin dia menyesal dan menceraikanmu segera! Tapi aku enggak mau jadi janda. Amit-amit! Jadi janda juga tidak apa-apa asal orang tahunya beneran janda! Beneran janda? Maksudnya apaan? Janda ya janda! Ngapain mesti dipikirkan. Bodoh! Kamu sudah tidak perawan. Kalau kamu belum menikah lalu kamu menikah dengan orang lain, ketahuan dong. Tapi, kalau kamu menikah lagi setelah jadi janda, orang enggak akan sadar kalau perawan kamu hilangnya sebelum menikah. Dan aku kehilangan ‘itu’ bukan karena aku mau! Lagian, enggak enak ditindas macan tutul itu! Kok jadi macan tutul sih? Eh, iya dong! Zoffan sukanya nerkam! Taringnya kepanjangan! Enggak punya hati! Suka gigit. Kasar lagi! Trus gimana dong? Pusing! Udah jadi istrinya macan tutul juga! Eya mengangkat wajahnya. Ia pindai dulu ruangan, memerhatikan suasana. Lalu dengan suntikan banyak semangat dari batinnya, Eya menatap lelaki yang kini telah menjadi suami. Senyuman ia lontarkan. Jarak mereka kini hanya dua meter. Ia bisa melihat kilat cahaya tak menyenangkan dari mata Zoffan.   ***   Akad nikah berlangsung lancar. Zoffan menampungkan kedua tangan mengamini doa. Tepat saat itu Eya keluar kamar dengan wajah menunduk. ”Akhirnya! Bahkan untuk berpikir dengan otak licikmu untuk merebut Bang Fiy dari Kak Zura, kamu sudah enggak punya kesempatan.” Zoffan bertutur dalam diamnya. Eya mengangkat wajah lalu pandangan mereka bersirobok. Zoffan menatap lurus kepada wanita yang kini telah sah menjadi pendamping hidupnya. Wanita itu tersenyum! Jadi dia masih bisa tersenyum? Zoffan mengepal tinjunya di atas pangkuan dan berusaha untuk tenang melihat kesantaian Eya. Eya kini duduk di sebelah Zoffan atas intruksi sang ibu. Wanita itu melipat kakinya seperti posisi duduk antara dua sujud dalam salat. Kedua tangan ia satukan dan istirahatkan di atas paha. Wajah ia tundukkan. Debar mulai melanda. Eya tak mengerti hatinya sedang memainkan drama apa. Kenapa ia harus merasa canggung saat ini? Ia tarik napas, menahannya beberapa detik sebelum ia loloskan hingga lega melanda. Bibir ia kulum dan pejam menjadi tempat persembunyiannya. Dirasakan Eya kepalanya disentuh, mau tak mau Eya mengangkat wajahnya. Zoffan! Lelaki itu meletakkan tangannya di atas kepala Eya. Eya menunduk lagi karena ingat posisi apakah itu. Rupanya dalam ke-awkward-an tadi, Eya tidak mendengarkan intruksi Runa pada Zoffan untuk mengucapkan doa pengantin baru. Eya menengadah saat Zoffan menyentuh kepala wanita itu. Namun hanya sekejap, Eya kembali menunduk. Ada yang membuncah dalam d**a yang berbentuk desiran tak begitu kentara. Zoffan mengabaikan perasaan itu. Ketika tangannya bertopang pada kepala Eya, doa ia ucapkan. Mungkin semuanya akan mengira Zoffan cuma berdoa. Bahkan wanita itu pun tak sadar kalau Zoffan meminta maaf penuh sesal. Zoffan sadar dia telah melakukan kesalahan besar kepada Eya. Selesai itu, kedua pengantin bersalaman. Eya tak berani melihat Zoffan saat tangan mereka berjabat. Genggaman tangan Zoffan bagaikan ancaman. Beda jika ia menikah dengan Zahfiyyan, mungkin ia akan merasakan perlindungan meskipun bukan cinta.   ***   Rumah telah sepi lagi. Kini yang tinggal hanya Syofiyyan, Runa, Zoffan, dan Eya. Mereka duduk melingkari santapan di atas meja makan. ”Ajak Abang makan bersama, Fan!” perintah Syofiyyan ketika Runa mengambilkan nasi ke piringnya. Mendengar nama Zahfiyyan disebut, Eya menunduk takut. Desiran untuk lelaki itu masih ada. Bahkan kini bercampur perih yang menyiksa. Eya putus asa, bagaimana caranya dia membuang perasaan itu? Pun kepalanya terlalu mengkhawatirkan keadaan Zahfiyyan. Semenjak ditinggalkan Zura, Zahfiyyan mengasingkan diri dari umum. Zahfiyyan yang datang ke rumah ini hanya karena undangan Runa untuk acara akad. Itu pun ia berkurung dalam kamar. Zoffan berdiri. ”Iya, Abi.” Zahfiyyan baru saja menutup pintu kamarnya saat Zoffan tiba. ”Abang mau kemana? Abi ngajak makan malam.” ”Pulang.” ”Makan dulu, Bang, nanti di rumah enggak ada makanan. Di sini banyak malahan berlebih. Abang bisa bawa ke rumah.” ”Enggak apa-apa. Abang pulang dulu, ya, bilang pada Abi dan Umi. Assalamu’alaikum.” Zahfiyyan meloyor pergi. Suara pintu yang ditutup menyadarkan Zoffan untuk membalas salam. ”Itu orang maunya apa sih! Mulai enggak sopan kepada Abi Umi. Huh!” Zoffan kembali ke meja makan tanpa Zahfiyyan. ”Mana Fiy?” Runa bertanya. Dicarinya ke belakang Zoffan namun tidak ada. ”Mana Abang?” ”Sudah pulang, Mi, enggak sempat minta izin dulu.” Zoffan duduk di tempatnya tadi, berhadapan dengan sang istri. ”Ey kenapa enggak makan? Enggak suka dengan lauknya?” Eya mengangkat kepalanya yang dari tadi menunduk. Itu kenapa jadi baik banget si macan tutul? ”Istri kamu ini nunggu suaminya. Ayo, kamu juga makan.” ”Oh gitu. Ayo ayo. Bilang dong dari tadi. Abang kira Ey enggak suka masakan Umi.” Eya melotot. Abang?! Gila! Itu mulut Zoffan kenapa lemas benar? ”Kok enggak diambil-ambil nasinya? Mau Abang ambilin? Duuh istri Abang manja banget. Mi, lihat menantunya tuh, enggak mau makan kalau bukan Zoffan yang ambilin.” Runa tertawa geli. Ya, memang benar begitu. Meskipun secara usia Zoffan lebih muda, tapi sekarang dia adalah suami. Kepala keluarga dalam rumah tangga mereka. Eya harus membiasakan hormat kepada suami lewat hal kecil dalam bentuk panggilan. Eya segera menyanduk nasi sebelum Zoffan. Cepat sekali hingga sebagian nasi jatuh ke meja. Iiih dirinya kenapa?! ”Ey mau makan dengan apa? Ayam balado—” Zoffan melihat-lihat hidangan di meja, ”gulai padeh, atau rendang? Mau yang mana?” ”Ayam—eh enggak usah, aku bisa sendiri.” Terlambat! Sepotong ayam telah mendarat di piring Eya. ”Dasar pengantin baru!” Runa menggeleng-geleng. ”Hangatnya jangan di awal aja, Fan, sampai tua juga harus begini. Iya ’kan, Bi?” tanyanya minta dukungan sang suami. Syofiyyan mengangguk. Lelaki itu tak ingin bicara selama makan. Jadilah makan malam pertama mereka sebagai satu keluarga dipenuhi derai tawa oleh Runa dan Zoffan. Eya sendiri rasanya canggung, sangat tak nyaman. Kepalanya kini full memikirkan tingkah aneh Zoffan. Sementara Abi Syofiyyan hanya akan mengangguk kalau ditanyai.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN