Our Baby

1402 Kata
12 Our Baby   Pengaturan tidur tidak mengganggu Eya. Asalkan ia tetap tidur di kasur yang empuk, baginya tak masalah walaupun harus tidur bersebelahan dengan Zoffan. Dia yakin Zoffan tak mau lagi macam-macam dalam tanda kutip. Eya sangat percaya akan hal itu. ”Nanti kita ke dokter, siap-siaplah dari sekarang.” Eya menggeliat dari tidurnya. Ia sebenarnya masih ingin tidur, tapi suara dingin Zoffan mengganggu. Beberapa hari ini, lelaki itu tak banyak bicara kepada Eya kecuali di depan abi dan uminya. Kalau mereka hanya berdua seperti sekarang, Zoffan lebih senang tenggelam dalam dunianya sendiri. Lelaki itu mengerjakan sesuatu yang tak ingin Eya ketahui di laptonya. ”Memangnya ngapain ke dokter?” tanyanya. Ia menarik selimut dan tidur membelakangi Zoffan yang berdiri di sebelah tempat tidur. Lelaki itu habis lari pagi, kelihatan dari keringat di dahi dan anak-anak rambutnya. ”Kamu bodoh atau pura-pura b**o?” Zoffan melipat tangan di d**a. Kenapa wanita satu itu lemot sekali? Zoffan saja bisa merasa kalau Eya sudah menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Dia mencari tahu lewat temannya yang bertugas menjadi bidan bantu dengan membeberkan perubahan-perubahan Eya yang tampak oleh matanya. Wanita itu mengalami morning sickness walau tidak setiap pagi. Dia jadi makhluk pemalas. Walaupun biasanya Eya malas, tapi sekarang malas luar biasa. Zoffan juga telah mencari tahu dari fisik Eya. Ia melakukannya diam-diam waktu wanita itu tidur. Hal itu atas anjuran teman sintingnya itu. Katanya, p******a wanita hamil akan mengalami perubahan. Anjuran gila yang membuat Zoffan mengangguk karena memang melihat perubahan itu di tubuh Eya. Oh iya, mengenai hal itu. Mereka sekarang ini suami istri, menyentuh saja disahkan apalagi melihat. Begitulah Zoffan membenarkan tindakan mencurilihatnya itu. ”Apaan sih, pagi-pagi udah ngajak ribut aja?!” ”Mandi cepat, cuci rambut biar kepalamu sekalian otaknya bersih supaya bisa mikir dengan benar!” ”Aku masih mau tidur. Tadi malam Umi bilang mau bantu-bantu masak buat hajatan di rumahnya Uni Halimah. Aku masaknya nanti aja. Kalau kamu mau ke dokter, pergi aja sendiri.” Zoffan memutari tempat tidur ke sisi Eya tidur. Ditariknya selimut wanita itu hingga Eya menjerit. ”Bisa bicara baik-baik enggak sih? Main tarik aja!” Eya duduk dengan merengut sebal. Ah dia ingin setiap harinya santai, tiduran, dan leha-leha. Dia tengah  terserang mager beberapa minggu ini. Dipaksa untuk bangun membuatnya kesal setengah hidup. ”Melawan, ayo melawan terus! Dibilang bangun mandi ya lakukan! Istri macam apa yang enggak nurut sama suaminya! Kamu emang maunya disuruh secara paksa!” Dipanggulnya tubuh Eya berjalan cepat ke kamar mandi. Akibatnya, punggung Zoffan menjadi sasaran kekesalan sang istri. ”Kurang ajar! Turunin! Berhenti, gila!” Empat pukulan untuk satu kalimat mendarat empuk di punggung keras lelaki itu. Hap! Tubuh Eya diturunkan Zoffan di ubin kamar mandi. ”Huuh!” Eya menggeram. Dia sangat cemas tadi. Takut dirinya jatuh dan menyebabkan kepalanya pecah di lantai. Zoffan pasti akan tertawa senang menyaksikan penderitaan Eya. Zoffan mengistirahatkan tangannya di pundak Eya, diremasnya sedikit kuat namun tak menyakitkan. ”Kamu itu, ya kamu!” Zoffan menarik napas. ”Kamu enggak merasa ada yang berubah apa?” Eya menggeleng. Selain status  di KTP menjadi kawin dan Zoffan yang berubah aneh, tak ada yang lain lagi. ”Makanya kita ke dokter. Dengarkan aku sekali ini aja.” ”Kalau kamu mau bikin macam-macam di sana, lihat aja! Aku enggak akan tahan lagi untuk bilang ke Umi kalau kamu udah—” ”Kamu pikir aku takut dengan ancaman? Kita sudah menikah, Ey. Kita sudah suami istri. Enggak ada salahnya kalau aku ’tidur’  sama kamu.” ”Bukan. Tapi yang dulu.” ”Sudah sudah, jangan dibahas.  Malah jadi lama nanti kita ke dokternya. Nanti di rumah sakit kita scan kepala kamu untuk menghilangkan virus jahatnya.” ”Kamu yang jahat, Setan!” ”Mengumpatiku?” tangan Zoffan pindah ke pipi Eya, mengelusnya. Namun matanya berkilat tajam. Eya menunduk dibuatnya. ”Mandi sekarang atau aku yang mandikan?!” Eya menyipit berang. ”Aku belum mati! Enggak perlu dimandikan!” Eya mendorong tubuh Zoffan keluar. Dua jam kemudian pasangan suami istri itu telah tiba di rumah sakit. Mereka duduk di bangku tunggu menunggu nama Eya dipanggil. ”Pengantin baru, ya, Kak?” Wanita kepala dua dengan perut berisi bertanya sopan kepada Eya. Eya tersenyum. Zoffan menekan kepalanya. Dasar, perempuan! Jujur kenapa? ”Iya, Bu. Kita baru menikah.” Zoffan yang menjawab. ”Program kehamilan atau mau—” ”Eeh, itu nama istri saya dipanggil. Kalau begitu kami permisi.” Zoffan menarik Eya ke ruangan dokter. Pemerikasaan yang dilakukan oleh dokter membuat darah Eya memanas. Ia amat takut akan hasilnya. Menit demi menit berlalu. Hal yang ditunggu-tunggu pun disebutkan dokter. Dengan senyuman pula. Eya ingin bunuh diri saja!   ***   Sepatu melayang berhasil ditangkap oleh Zoffan. Eya menarik napas kasar, lalu mencopot sepatu sebelah lagi dan melempar ke arah Zoffan. Gagal kedua kali, Eya menjerit sembari mengumpat apa saja yang berhasil ia loloskan dari bibirnya. Zoffan bergerak maju, membekap mulut Eya. Mereka saat ini di pantai. Beberapa orang memerhatikan mereka. ”Lwephassh!” jerit Eya sambil menggapai-gapai rambut Zoffan. Ia berhasil menjambak rambut lelaki itu dan mengakibatkan Zoffan melepas bekapannya. ”AKU HAMIL! KAMU PUAS, HAH?! KAMU MAU APA LAGI HABIS ITU?! DEMI ALLAH AKU ENGGAK RELA! AKU ENGGAK MAU PUNYA ANAK DARI LAKI-LAKI b******k KAYAK KAMU! SETAN! AKU MAU BUNUH KAMU!” Zoffan membiarkan tubuhnya menjadi samsak kekesalan Eya. Wanita itu tadi diam saja saat dinyatakan hamil oleh dokter. Tapi di jalan, ia bilang mau minum jus jeruk di pinggir pantai. Seturunnya mereka ke pasir, wanita itu mulai mengamuk. ”YA ALLAH! AKU ENGGAK MAU. AKU BELUM SIAP. KENAPA AKU HARUS MENGANDUNG SEKARANG?” Air yang mengolam di mata Eya akhirnya luruh juga.  Lelah dengan aksinya, Eya berjongkok. Ia menyembunyikan wajahnya dalam lipatan tangan di atas lutut. Zoffan menatap orang-orang yang terpana melihat mereka dengan senyuman tak enak. Ia satukan kedua telapak tangan dengan maksud meminta maaf  karena telah membuat keributan yang memalukan. ”Memang kenapa dengan istrinya, Bang?” tanya seorang ibu dengan berani. Sementara orang lain hanya berani melihat. ”Biasa, Uni, sedang masa sensitif-sensitifnya,” ujar Zoffan menggaruk pelipis. Tapi ia pikir itu alasan yang mendekati kebenaran. ”Ndeeh... sebaiknya Abang tenangkan istrinya. Kasihan itu, ikuti aja maunya. Kalau sampai tidak dituruti, takutnya nanti buruk akibatnya ke anak.” ”Iya Uni. Terima kasih.” Zoffan berjongkok di depan Eya. Ia sentuh pundak Eya. Anehnya, melihat Eya dengan kondisi sekarang, kebencian Zoffan meluruh. Ia luluh. Ah, kenapa sih? Jangan bilang karena ada anaknya, Zoffan tidak bisa membenci Eya. Tidak tidak. Eya tetap harus mendapat hukuman atas kejahatannya. Tentunya hukuman yang tidak membahayakan untuk anaknya. Zoffan akan pikirkan hal itu nanti. ”Aku enggak mau balik ke rumah. Aku mau di sini. Jangan sentuh-sentuh aku!” ucap Eya menepiskan tangan Zoffan. ”Kamu berhasil, Zoffan. Kamu berhasil membuat aku hancur sehancur-hancurnya. Kamu lihat saja, kamu akan menyesal udah buat aku begini.” Kemarahan Zoffan yang tadi surut kini bangkit lagi. Lihat, wanita macam Eya memang tidak pantas dikasihani apalagi disayangi. Kalau saja ini bukan tempat umum, Zoffan ingin mencekik Eya dan membuat wanita itu diam. Zoffan menarik tangan Eya hingga wanita itu berdiri. ”Ayo pulang.” ”Lepas! Aku enggak mau! Aku enggak mau! Jangan paksa aku untuk ikut seperti apa yang kamu mau! Aku mau cerai!” Cengkeraman pada tangan Eya mengencang. Pundak Zoffan naik turun dikungkung emosi berlebihan. Wanita sialan memang tak punya otak! Cerai? Zoffan tidak akan pernah mengabulkannya. Menikah dalam hidup Zoffan hanya akan dilakukannya sekali sampai mati. Meskipun ia tidak mencintai Eya, ia tak akan memutuskan pertalian sakral mereka hingga maut memisahkan. ”Kita bicarakan di rumah. Ayo kita pulang.” Suara Zoffan masih lembut namun penuh ancaman. Eya yang dalam keadaan emosi, tak mengindahkan ancaman itu. Dia menggoyang-goyangkan tangannya agar terlepas dari Zoffan. ”Istri Abang manja banget sih. Kamu capek,  ya? Ayo sini Abang gendong ke mobil.” Eya menggoyang dan menendang kaki ke udara saat Zoffan mengangkatnya. Demi kemanisan pemandangan di depan khalayak, lelaki itu menggendong Eya di depan. Kelihatan romantis? Namun, tidak bagi mereka berdua. ”Ey, kalau kamu berani menyakiti anakku sedikit saja, kamu akan merasakan balasan yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidup. Bahkan sampai kulitmu tinggal tulang.” Bisikan itu merasuk ke telinga Eya. Eya membungkam mulutnya. Kengerian yang terselip dalam suara Zoffan membuat d**a Eya gemetar takut. Sementara pegangan Zoffan pada tubuh Eya semakin mengencang. Air mata yang meleleh mengawani ketakutan Eya. Tuhan, kenapa Eya harus merasakan penderitaan ini? Eya takut.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN