USG

1435 Kata
13 USG     Eya dan Zoffan pulang dalam silent mode. Eya lelah menangis, juga takut. Kalau ia bicara, Zoffan akan mengamuk lagi. Apa yang ia pikir sebelumnya terbukti sudah. Hidup sebagai istri macan tutul yang tidak memiliki hati akan tersiksa lahir batin. Sekarang dia tanya, wanita mana yang tak akan takut diancam terus menerus? Setiba di rumah, Eya langsung masuk kamar. Ia butuh tidur untuk mengosongkan pikiran dari masalah. Ketika baru saja menutup pintu dari dalam, langkahnya terhenti. Ia ingat alasan kenapa ia marah-marah. Itu semua karena ia hamil. Eya hamil! Bagai ada yang menggerakkan tangannya, kini tangannya telah menempel di perutnya yang rata. ”Aku hamil? Mengandung anak b******n itu?!” Eya segera menjatuhkan tubuhnya menelungkup di tempat tidur, membenamkan wajahnya di bantal dan berteriak di sana. Kenapa semua ini harus dia alami? Tak cukupkah ia berusaha ikhlas selama ini? Mengapa peristiwa menjijikkan itu harus membuahkan makhluk baru di tubuhnya? Apa yang harus ia lakukan sekarang? Dengan begitu Zoffan pasti lebih leluasa menekannya seperti yang lelaki itu ucapkan tadi! ”Ey, kalau kamu berani menyakiti anakku sedikit saja, kamu akan merasakan balasan yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidup. Bahkan sampai kulitmu tinggal tulang.” Eya memeluk diri sendiri. Eya tidak rela berbagi kepemilikan dengan lelaki itu. Terlebih lagi sesuatu yang hidup dan akan tumbuh di rahimnya sendiri.   ***   ”Kalian dari mana saja?” Zoffan melebarkan sudut bibir, menegakkan punggung, dan menyatukan kesepuluh jari di atas paha. Dia memperbaiki duduk dan meraba poni sejenak lantas mengeluarkan sesuatu dari map di atas meja. ”Apa itu?” tanya Runa. Segera ia ambil lembaran kehitaman yang diulurkan Zoffan kepadanya. Runa melihat keterangan pada lembaran putih di atas map. Keningnya mengernyit. Debaran di d**a mendahsyat. Getaran emosi berusaha ia tahan akibat penampakan pada selembar kertas tersebut. Dia tatap bungsunya lekat. Lelaki itu kelihatan santai tanpa beban, justru dari wajahnya tersirat kebahagiaan. Runa meletakkan lembaran kertas dan foto USG tersebut kembali ke atas map. Ia tabuh-tabuh dadanya pelan kemudian berdiri. ”Ikut Umi ke belakang,” perintahnya sebelum berjalan ke dapur. Getar di tangan Runa membuat ia kesusahan menarik besi pengunci pintu dapur. Zoffan menyadari itu segera membantu sang umi. Runa mendahului Zoffan menuju tepian hutan cengkeh miliknya. Tangan Runa melayang begitu saja ke pipi sang putra. Air mata mengalir menuruni pipi halus itu. Hati Zoffan terenyuh. Ia tidak tahu kenapa umi menamparnya. Namun melihat linangan air mata di wajah ibunya, membuat Zoffan ikut bersedih. Ia ingin mengusap wajah Runa dan memeluknya, tapi wanita yang paling ia sayangi itu menjauhkan diri. ”Jawab Umi, apa benar itu anak kamu?” Zoffan meragu. Dia tak paham kenapa pertanyaan itu meluncur dari bibir ibunya. Memangnya ia harus jawab apa? Anak itu memang anaknya, bukan? Sebuah anggukan ia berikan untuk Runa. ”Jawab dengan benar, anak kamu atau bukan?!” ”Kenapa Umi tanya begitu?” Oh iya, kenapa dia bertanya seperti itu? Ya Tuhan. Runa beristigfar pelan. Teganya dia. Demi anaknya, si bungsunya, ia meragukan Eya. Pertanyaan tersebut seolah menuduh Eya tidur dengan laki-laki lain. ”Benar?” ”Anak Zoffan, Mi.” Jawaban Zoffan menyebabkan satu tamparan lagi. Zoffan meraba pipinya sambil melotot tak percaya kepada Runa. ”Kenapa Umi mukul Zoffan?” ”Siapa yang mengajari kamu jadi seperti ini, Nak?” Runa menghirup udara pelan, mengembuskannya lalu melanjutkan, ”Kamu kami besarkan dengan ilmu-ilmu agama sejak kecil. Kami kenalkan ibadah sejak dini. Tapi apa yang membuat kamu seperti ini hah? Kamu sudah membuat Umi dan Abi kecewa.” ”Mi, Umi lagi ngomong apa sih?” ”Umi sudah tua, tidak bisa kamu bohongi! Kamu dan Eya baru menikah tiga minggu, belum cukup satu bulan! Paling tidak Eya mengandung dua minggu. Tapi kenyataannya, usia kandungan Eya tujuh minggu! Tujuh minggu, Zoffan, kamu mau jelaskan apa pada Umi?! Ayo katakan!!” ”Umi itu—” ”Kamu sudah bikin Umi kecewa.” ”Zoffan minta maaf, Umi.” ”Ini semua salah Umi. Umi yang tidak berhasil mendidik kamu.” ”Umi, maafkan Zoffan. Itu bukan salah Umi. Aku yang salah. Aku yang bersalah.” ”Jangan sampai Abi tahu. Umi tak ingin abimu bertambah pikiran. Setelah Eya melahirkan, kalian harus mengulang akad. Bicara baik-baik dengan Fakri untuk mewalikan lagi.” Zoffan menunduk. Mereka kembali ke rumah setelah mendinginkan kepala. ”Zoffan ke tempat Deka, ada janji mau manjat,” pamitnya kepada Runa. ”Hmm... jangan pulang larut malam. Kamu sudah ada istri di rumah. Oh iya, cepat selesaikan skripsimu. Cari kerja yang benar untuk nafkah anak dan istri. Kamu sudah menikah, tidak boleh terlalu santai lagi. Jangan mengandalkan Eya yang bekerja. Dia hanya istri yang uangnya untuk tambahan. Apalagi Eya sedang hamil, dia enggak boleh kecapekan.” Zoffan memeluk ibunya. Ia cium pelipis wanita itu lalu kabur ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ketika masuk ke kamar, pemandangan yang ia temui adalah Eya yang tengah tidur nyenyak. Wanita itu tidur dalam posisi menelungkup dengan wajah miring di atas bantal. Zoffan mengganti kemejanya dengan kaus putih dengan cepat. Ia mengambil jaket dari gantungan dan memakai topi. Sebelum keluar ia melihat lagi ke tempat tidur. ”Lihat wanita ini!!” Dia mendekat ke Eya lalu menunduk sedikit. Ia cabuti satu per satu jarum pentul yang menancap di hijab Eya. ”Enggak takut kena tusuk apa?! Main tidur aja, enggak mikir nyabut benda tajam ini dulu!” Terakhir ia buka bros besar dari hijab Eya. Dicubitnya telapak tangan wanita itu sebelum benar-benar pergi.   ***   Eya terbangun saat azan Asar berkumandang dari pengeras suara masjid. Mual kembali datang menggulung dalam perutnya. Segera ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan. Jelas saja hanya cairan karena Eya belum makan apa-apa sejak pagi. Pipinya terasa hangat karena air mata berlomba keluar dengan isi perutnya. Isakannya semakin keras. Ia merasa menderita. Kenapa kehamilan yang tak ia harapkan begitu menyiksa dirinya? Ia tunaikan kewajiban dalam sedu sedan. Di balik pintu kamar Eya, Runa mengintip. Ketika salat tadi, Runa mendengar Eya muntah-muntah lagi. Segera ia selesaikan ibadahnya dan datang ke kamar itu. Ia mendapati Eya tengah menoleh salam ke kanan. Runa masuk tanpa bicara apa-apa. Ia duduk di sisi tempat tidur di sebelah Eya salat. Dilihatnya Eya menangis. ”Eya kenapa menangis?” tanya Runa tak tahan lagi mengeluarkan isi kepalanya. Ia pun duduk di sebelah sang menantu. ”Apa kata dokter tadi? Kandungan Eya sehat?” Eya menyeka matanya sebelum menghadap Runa. Sebelum bicara, ia berdeham. ”Sehat. Ada apa, Umi?” Eya berusaha kelihatan ceria lagi. Sebuah senyum terkulum dari bibirnya. ”Umi sudah solat?” tanyanya berbasa-basi. Runa mengangguk. ”Kamu nangis kenapa? Sakit juga?” tanya Runa mengingat Zura beberapa waktu yang lalu juga kelihatan murung seperti ini saat awal-awal kehamilan. Runa menyadari anak-anak itu mungkin belum siap dengan kehamilan. ”Cuman mual aja, perut Eya enggak enak.” ”Eya sudah makan?” Eya menggeleng. ”Sudah sore! Kamu belum makan?!” Sadar jika suaranya naik, Runa menurunkan nada suaranya, ”Ayo makan sedikit aja, nanti kamu enggak ada tenaga kalau tak makan. Kasihan bayinya,” ucap Runa lembut. Sebutir air mata Eya jatuh. Dengan cepat ia menunduk dan mengusap wajahnya. ”Eya enggak nafsu makan, Umi,” jawabnya pelan. Runa menarik napas kasar lalu membuangnya cepat. ”Sedikit aja, paksakan ya,” ujarnya lembut. Eya menggeleng. Ia sama sekali tidak ingin memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Ia tak lapar. ”Umi masakkan ayam bakar, mau? Makan sedikit aja, biar kamu enggak lemas lagi.” ”Enggak usah repot-repot, Umi. Eya belum lapar. Nanti kalau sudah lapar, Eya makan.” Runa menumpuk tangannya di atas tangan Eya di balik mukena. Eya mengangkat wajahnya lalu segera berpaling ketika Runa menatap matanya. ”Eya mau cerita dengan Umi kamu kenapa?” Eya berkedip-kedip menghalau air mata yang akan mengalir lagi. Melihat kelakuan aneh menantunya, Runa semakin mendesak. Ia bisa melihat perubahan Eya. Wanita itu biasanya selalu bercanda. Baru kali ini ia melihat Eya begitu murung. Ia hanya tak ingin Eya merasa tertekan. Ia ingin Eya membagi beban, jika ada, kepadanya. Air mata jebol. Namun, yang ia ucapkan dari bibirnya justru dusta. ”Beneran enggak kenapa-kenapa, Umi.” Eya melupakan bahwa ’enggak kenapa-kenapa’ perempuan adalah kebalikan dari ’ada apa-apa.’ Runa berdeham. Menyadari bahwa Eya tak ingin terbuka, ia mulai menyerah. ”Kalau begitu, katakan pada Umi, Eya ingin makan apa nanti, supaya Umi masakkan sekarang.” Eya menubruk tubuh Runa dan melingkarkan tangannya di tubuh mertuanya itu. Tangisnya tak dapat ia tahan lagi. ”Kenapa Umi baik banget sama aku?” Runa mengusap-usap punggung Eya tanpa komentar. Ia izinkan Eya menuntaskan sedihnya dalam sebuah pelukan. Jujur saja, sejak kedatangan Eya, ikatan batin itu mulai ada. Ia sangat menyayangi Eya.   ***        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN