Shower, Lips, and You

1991 Kata
14 Shower, Lips, and You   Perpusatakaan perguruan tinggi tempat Zoffan menuntut ilmu saat ini lengang. Beberapa kepala menunduk ke meja pada buku yang terkembang. Ada juga yang memainkan jemari di keybord laptop sambil sesekali mencuri lihat ke buku sumber di sebelahnya. Pun pemuda berkemeja lengan pendek dengan rambut kusut—namun menambah pesonanya itu—tengah menyelami buku-buku sumber untuk penelitiannya. ”Sudah dong Fan, balik yuk! Sore nih, ayo kita olahraga!” Radeka menggerutu di sebelah Zoffan. Sejak sejam yang lalu ia menunggu Zoffan tapi sahabatnya itu tak terusik oleh kehadirannya. ”Selly ngajak aku tolak lho demi kamu! Udah beberapa hari enggak wall climbing! HOY!” Radeka menepukkan buku ke meja mengakibatkan ia medapat tatapan tajam dari penghuni perpustakaan dan delikan tajam dari ibu-ibu pustakawan. Ardinal, satu wadah organisasi dengan Zoffan dan Radeka, mendekat dengan satu buku di tangan. Kaca mata baca bertengger di matanya. Ardinal duduk di sebelah kanan Zoffan. Zoffan mengambil kaca mata Ardinal lalu memakainya. Ia kemudian melanjutkan bacaannya. ”Zoffan sudah punya olahraga pengganti. Olahraga bareng kita mana menarik lagi,” kata Ardinal tak dihiraukan Zoffan. Ia lirik buku yang dibaca Zoffan. Dipukulnya pundak lelaki yang mencuri kaca matanya itu. ”Semangat Bang, kami selalu ada di belakangmu, tamatnya.” Ardinal tertawa sendiri. ”Eh, Deka! Nanti malam nongkrong, yuk!” ”Tumben kamu yang ngajak? Enggak ikut pengajian memangnya malam ini?” Yah alasan seperti itu sering digunakan Ardinal kalau diajak hang out. ”Aku kasihan pada Bang Deka, ditinggal nikah oleh Bang Zoffan, jadi enggak punya teman jalan.” ”Sialan lo, Nal!” ”Bang Dek, apa iya istrinya Bang Zoffan udah kerja? Berapa umurnya?” Ardinal mencondongkan tubuh ke kiri, kepada Radeka yang duduk di sebelah kiri Zoffan. Posisi mereka,  Zoffan berada di tengah-tengah. ”Seumuran dengan Bang Zahfi, abangnya Zoffan. Berarti lebih tua empat tahun.” ”Pantas, ini orang semangat banget ingin tamat! Zoffan pasti enggak mau kalah dari istrinya. Terus sekarang yang kasih jajan Bang Zoffan, Kak Istri atau Umi?” tanya Ardinal pada Zoffan. Akibatnya satu buku melayang menimpuk kepalanya. Pelakunya adalah Zoffan. ”Jangan terlalu dekat dengan Radeka, nanti kamu jadi makin lambe seperti dia. Segalanya diurusi!” peringat Zoffan kepada Ardinal yang sepertinya telah terserang virus jahat dari Radeka. Sebenarnya, Ardinal anak yang sopan dan baik. Dia rajin olahraga, karena itulah mereka akrab, dan setiap diajak keluar malam selalu menolak. ”Bang Zoff, enak enggak nikah muda?” Puk! Sebuah buku melayang lagi di kepala Ardinal. ”Ayo, ayo! Sebelum jam lima udahan!” kata Zoffan memberesi buku-buku, menumpuk jadi satu lalu membawa ke meja peminjaman.   ***   Eya melepaskan sepatu di depan pintu, mengucap salam lalu masuk. Ia mencari Runa ke belakang. ”Assalamu’alaikum, Eya pulang,” ucapnya mencium punggung tangan Runa. Runa tersenyum menyambut sang menantu. ”Gimana di kampus? Kayaknya sudah mulai semangat lagi kerjanya,” kata Runa. Dia mengeluarkan pisang goreng dari lemari lalu meletakkan di atas piring. Ia menyuguhkan makanan itu kepada Eya. ”Semangat lagi dong. Dedeknya enggak buat ulah.” Eya mengelus perutnya. Sebaris gigi menyembul dari bibir yang merah muda. Eya sudah mulai ikhlas jika ia harus mengandung anak Zoffan. Semua telah terjadi, tak mungkin ia tangisi terus. Mungkin seperti inilah takdir yang harus ia jalani. Sebisa mungkin Eya harus tegar dan ikhlas untuk menerima apa pun yang Tuhan berikan. ”Makan gimana?” Eya teringat saat pertama kali mengetahui bahwa dirinya sedang hamil, ia menyiksa diri dengan  tak makan. Bukannya Eya berniat untuk mencelakai anaknya. Bukannya ia berniat membunuh calon anaknya. Ia saat itu belum bisa menerima perubahan yang terlalu besar dalam hidupnya, bahkan perubahan yang akan berdampak sangat jauh dalam perjalanan hidupnya kelak. Perlahan ia sadar, ia tidak mampu menolak takdir Tuhan. Dia memiliki sesuatu yang sangat diidamkan para pasangan di luar sana. Pasangan yang telah menikah sekian tahun namun belum juga dikaruniai buah hati. Di luar sana para pasangan berusaha habis-habisan untuk mendapatkan anak, tapi Eya memilikinya. Anaknya telah tumbuh dan kembang dalam rahimnya. Ia pantas bersyukur oleh anugrah itu. ”Eya suka makan.” Diambilnya satu pisang goreng—sebelumnya Eya telah membasuh tangan dari kobokan yang tersedia di meja. Eya berdeham. ”Mi! Eya tadi bertemu Bang Zahfi.” Eya berdiri mengambil segelas air dari lemari es. Dibawanya gelas itu ke meja dan duduk di tempat semula. ”Dia makin kurus sekarang. Tadinya mau Eya samperin tapi takut.” Takutnya Eya akan susah mengubur perasaan ini. Melihat Zahfiyyan tersiksa, Eya juga ikut sedih. Padahal Zahfiyyan seperti itu karena memikirkan istrinya yang bukan Eya. ”Fiy sudah lama enggak ke rumah ini,” kenang Runa. Semenjak Zoffan dan Eya menikah, anak sulungnya itu tak pernah lagi mengunjungi Runa. Gantinya, Runa yang ke rumah Zahfiyyan untuk membawakan makanan. ”Karena ada Eya ’kan, Umi.” Runa menindih tangan Eya di meja dengan tangannya. ”Bukan kamu. Jangan menyalahkan diri sendiri. Fiy mungkin terpukul karena di rumah ini, dia mendapat telepon hilangnya Zura.” ”Tapi kalau bertemu Eya, Zahfi cuman tersenyum saja. Itu juga kalau sudah dekat banget,  kalau dia sudah enggak bisa menghindar lagi. Zahfi benci Eya, Umi. Semua ini salahku. Tapi Eya masih enggak bisa berhenti mencintai Zahfi, Umi.” Runa menutup mulutnya. Kenapa Eya harus jujur sekarang? Kenapa harus di saat Zoffan bisa mendengar semuanya dari tempat ia berdiri. Anak-anak ini! Runa tahu kalau di antara Eya dan Zoffan, tidak ada perasaan yang berbalasan, begitu juga dengan Eya dan Zahfi. Eya dan Zoffan mencintai orang-orang yang mencintai orang lain. ”Ayo bergabung ke sini, Fan, Umi bikin pisang goreng. Ayo duduk sini, temani Eya.” Eya berbalik ke belakang. Eya menelan ludah melihat Zoffan berdiri kaku di dekat lemari. Suaminya itu menatap Eya tak suka. Ia meremas jari-jemarinya di atas paha di bawah meja. ”Hmmm... Umi... Eya mandi dulu, permisi Umi,” pamitnya lalu bergegas jalan melewati Zoffan menuju kamar mereka. ”Kemari,” kata Runa memerintahkan si bungsunya. ”Ingat, istri kamu sedang hamil. Kalau kamu marah, jangan berlebihan. Umi tahu bagaimana perasaan kalian. Dia juga tidak salah. Tidak ada orang yang bisa menghilangkan perasaan dengan mudahnya. Kamu tidak bisa memaksa Eya berhenti mencintai abang.” Zoffan diam. Erupsi di dadanya mulai mendingin. Runa membujuk lagi, ”Kalau kamu kesal, marah pada istrimu, ingat ada anak kalian yang akan celaka jika sampai kamu bertindak keterlaluan pada Eya. Satu lagi yang perlu kamu tahu, dengan cara baik-baik saja, susah meluluhkan hati perempuan. Apalagi dengan kekerasan. Menyentuh hati perempuan juga harus dengan hati.” Zoffan melipat tangan. Dia tak ingin membantah apa-apa. Kesalahpahaman umi telah terlalu jauh. Ah, biarlah. Biarkan saja umi mengira Zoffan mencintai Eya. Biarkan saja umi mengira Zoffan marah karena Eya mencintai Zahfi tapi tidak mencintai dirinya yang suami wanita itu. Sudah sewajarnya orang-orang berpikiran seperti itu. Namun, hanya dia dan Eya yang tahu kalau sebenarnya kemarahan Zoffan bersumber dari perasaan Eya yang salah kepada Zahfiyyan sejak sebelum mereka menikah. ”Terima kasih, Umi. Zoffan dengarkan. Zoffan mau ke dalam dulu, tadi habis pemanasan.” ”Pegang ucapan kamu, Zoffan, istrimu tidak salah. Kamu tidak perlu memarahi dia selama dia tidak bertindak di luar norma susila.” Kalau hanya perasaan, siapa yang bisa mencegah timbulnya perasaan? Zoffan mengangguk. Lalu ia bergegas ke kamar menyusul sang istri. Pintu ia kunci dari dalam. Eya sedang berdiri menghadap ke jendela luar. ”Ey.” Eya ingin sekali menutup telinganya. Panggilan bernada rendah tapi penuh intrik kejahatan telah menjadi makanan sehari-harinya. ”Kamu ngapain berdiri di sini?” Eya tak berani berbalik badan. Ia diam tanpa jawaban. Zoffan sedang berbasa-basi. Lelaki itu telah berdiri di belakang Eya. Eya bisa merasakan karena punggungnya telah ditempeli d**a lelaki itu. Mereka berdiri tak berjarak. Tangan Zoffan melingkar di leher Eya. d**a Eya memukul genderang: panik, takut, dan ngeri. Zoffan menarik jarum pentul dari leher dan puncak kepala Eya. Setelah itu, ia tarik hijab Eya lalu dia campakkan begitu saja ke lantai. ”Katakan tadi kamu bilang apa sama Umi?” bisik Zoffan, bibirnya menyentuh daun telinga Eya. ”Kamu sudah mendengarnya. Aku enggak perlu mengulangi lagi!” ”Ha... ha... ha...” Zoffan mengetatkan rangkulannya di leher Eya. ”Ini suamimu, Ey, kamu harusnya bilang cinta pada suamimu bukan pada abang iparmu.” ”Enggak usah menceramahi aku! Aku mau suka sama siapa, kamu enggak berhak melarangku!” Eya merasa lehernya mulai sakit. Sebentar kemudian, Zoffan melonggarkan tangannya. Lelaki itu mengelus bibir Eya dengan ibu jarinya. ”Mulut manis ini, milikku. Jadi aku berhak menyeleksi kata-kata yang dikeluarkan oleh bibir ini.” Eya membencinya. Eya sangat membenci lelaki itu. Dengan gerakan tak terduga, Eya menggigit ibu jari Zoffan. Lelaki itu pun beteriak kaget karena sakit. Alhasil Eya bisa bebas. ”EYA!” Zoffan mengejar Eya yang kini sedang berusaha membuka pintu kamar. Namun, gerakan Eya terhenti. Eya tak mungkin memperlihatkan kegaduhan itu kepada mertuanya. Tangannya jatuh ke sisi tubuh. Matanya mulai mengembun. Ia menunduk lesu. Zoffan telah berdiri tinggi di depan Eya. Pemuda itu menjepit dagu Eya dengan ibu jari dan telunjuknya. Mata mereka bertemu. ”Karena kamu enggak bisa melupakan Abang, mari kita buat kamu melupakannya sejenak. Sebentar saja,” ucap Zoffan kemudian menempelkan bibirnya di bibir Eya. Tentu saja wanita itu menolak. Namun, Zoffan justru senang. Wanita itu pasti merasa sangat menderita dipelakukan seperti itu. Itulah yang Zoffan sukai. Sesuai perintah Runa, hal semacam itu tak akan mencelakai anak mereka, ’kan? Ini hanya ciuman. Senyumannya terbit ketika menelusupkan lidahnya ke bibir sang istri. Tangan Eya melayang di pipi Zoffan. ”Aku bukan pelacurmu!” ucapnya geram. Kedua bola mata Eya melotot menatap Zoffan yang shock setelah mendapat tamparan. Zoffan mendinginkan kepala. Dulu mungkin ia akan membalas lebih kejam dari yang ini. Tapi sejak janji sakral ia ucapkan, ia telah berikrar untuk tidak berbuat kasar lagi kepada Eya. Kecuali untuk hal-hal yang berurusan dengan ’kebutuhan’, ia akan berusaha untuk tidak menyakiti Eya. Wanita ini memang benar-benar menginginkan hukuman. ”Aku tidak menganggapmu seperti itu. Aduh Eyku, kamu terlalu banyak pikiran jelek sih. Sini ayo kita bersihkan, yuk. Kita cuci kepalamu dulu.” Dengan sekali sentakan, anak kancing baju baju terusan Eya jatuh ke lantai. Bajunya lalu ditarik dan diloloskan dari ujung tangannya. ”Zoffan kamu mau apa?!” Zoffan tak bicara lagi. Ia membopong tubuh Eya ke kamar mandi. Didudukkannya Eya di atas toilet duduk. Melihat perut Eya, Zoffan pun berjongkok. ”Jangan nakal, ya, di dalam sini. Mami mau dimandikan dulu. Mami kamu enggak bersih mandi sendiri, Dek.” Dikecupnya perut Eya tepat di pusar. Sementara itu, Eya linglung. Di satu sisi ia menyukai saat Zoffan menyapa anaknya, di sisi lain ia mulai takut kalau Zoffan macam-macam. Zoffan tiba-tiba menyiram shower ke kepala Eya. Eya berdiri dengan reflek. Ia menjauh, beringsut mundur. Namun, punggungnya menyentuh dinding kamar mandi. Zoffan mendorong pintu kamar mandi agar tertutup rapat dan menguncinya. Ia menghidupkan keran hingga suara mereka sedikit terkalahkan. ”Jangan pakai celana yang ketat seperti ini, Ey, enggak baik untuk pertumbuhan janin.” Eya memang memakai legging hitam dan ketat sekali. Namun, ia tidak merasa terganggu. ”Buka ya,” kata Zoffan segera menarik paksa legging tersebut. ”Aku benci kamu! Kamu bukan manusia!” teriak Eya. ”Ini juga dibuka, ya, mana ada orang mandi pakai bra.” Dan kini Eya hanya punya selembar kain tipis menutupi kewanitaannya. ”Jangan teriak-teriak dong, enggak enak sama Umi.” Zoffan kembali mengguyur rambut Eya dengan shower. Eya merasa malu sekali. Ia kalah kekuatan. Ia tak ingin memancing kemarahan Zoffan lebih dari ini. Seandainya ia bisa melawan sekali saja. Zoffan benar-benar mempermalukannya. Lelaki itu ’memainkannya’ bukan memandikannya. ”Jangan ganggu, Mami, Dek. Sekarang giliran Mami mandi dengan Papi. Giliranmu masih lama.” Zoffan mengecup perut basah Eya. Digigitnya dengan gemas namun tidak kuat. Tak sampai membuat Eya berteriak kesakitan. Eya saat ini duduk di atas toilet duduk. Zoffan tak ingin Eya jatuh kalau membiarkan wanita itu berdiri. ”Eyku cantik sekali.” Eya mendelik. Kakinya lemah. Napasnya tak beraturan. Matanya berkunang-kunang. Begini cara Zoffan menghukumnya! Serangan berikutnya kembali ke bibir Eya!   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN